logo text

Bab 19 Akting yang Sangat Buruk

"Beli saja semua keperluan selama disana," jawab Alvan saat mendapati pertanyaan dari sang istri.
Zara mengangguk. Lengkap dengan senyum manis yang menghiasi bibir ranumnya. Ia lantas melangkahkan kaki menuju rak khusus makanan ringan.
Saat ini, untuk pertama kalinya, Zara berbelanja ditemani oleh Alvan. Meskipun tidak hanya berdua saja, melainkan ada Halfi yang juga turut andil. Tetapi, bagi Zara ini sudah sangat membuat hatinya dipenuhi bunga.
Halfi terus saja mengekori Zara sembari ikut memilih snack yang akan mereka bawa sebagai bekal perjalanan. Bocah itu terlihat begitu bersemangat.
Sudah pasti begitu. Bocah manapun juga pasti akan seperti Halfi jika diberi kebebasan membeli jajanan.
"Ininya dua ya, Bun," tanya Halfi mendongakkan kepalanya. Menatap Zara yang jauh lebih tinggi.
Zara lantas menganggukkan kepalanya, setelah sebelumnya ia melirik jenis makanan yang dipegang Halfi. Rupanya sejenis wafer dengan rasa cokelat dan keju.
Mendapat anggukan persetujuan, sontak saja membuat sudut bibir Halfi tertarik lebar. Kemudian memasukkannya ke dalam keranjang belanja.
"Bunda Halfi mau samperin papa ya," ucapnya meminta izin.
Pandangan Zara teralihkan, mengikuti arah jari telunjuk kecil milik anak sambungnya. Tampak Alvan yang mengenakan kaos hitam dengan celana bahan cream sedang berdiri di depan lemari pendingin, khusus minum-minuman.
"Boleh, Sayang." Zara tersenyum sambil mengusap puncak kepala Halfi dengan lembut.
Detik berikutnya, bocah itu sudah berlari menghampiri Alvan.
Seulas senyuman bahagia kembali muncul. Melihat pemandangan di depan sana, antara Alvan dan Halfi, memunculkan berbagai bayangan dan harapan. Harapan bisa melihat buah hatinya nanti berbincang penuh senang dengan ayahnya. Dan mendapatkan kasih sayang yang begitu tulus.
Namun sebuah pertanyaan seketika terlintas.
Apakah mungkin, ia memiliki buah hati seperti bayangannya, sementara Alvan saja masih belum bisa bangkit dari luka masa lalunya.
Sekuat apapun Zara mencoba memasuki hati lelaki tersebut, tetap saja akan sulit jika sang tuan rumah enggan membuka pintu. Dan ingat, Zara tidak handal menjadi seorang pencuri.
Iya, pencuri hati Alvan yang sedang dilanda trauma.
"Kalau sudah ayo pulang, jangan malah kayak orang linglung disini."
Dinginnya suara yang menelisik indera pendengaran, membuat Zara seketika tersadar. Tidak hanya itu, gerakan seseorang yang menarik trolli yang dipegang Zara, membuatnya sedikit terhenyak.
Ia menggelengkan kepalanya saat kedua netranya menangkap sosok tegap dengan bocah perempuan berusia 4 tahun yang menggandeng tangannya. Mereka berjalan menuju kasir.
Tanpa menunggu lama, Zara menyusul mereka.
***
"Mas, jangan lupa mampir ke apotek ya," ujar Zara ditengah keheningan dalam perjalanan.
"Mau beli apa?" sahut Alvan tanpa menoleh sedikitpun.
"Beli obat-obatan dong, Mas. 'Kan nggak ada yang tahu apa yang terjadi disana," jawab Zara.
Terdengar sebuah embusan napas kecil yang meluncur dari mulut lelaki yang tengah mengemudi itu.
"Iya," katanya kemudian. Singkat, padat, dan jelas.
Jelas sekali memancing emosi dalam diri Zara. Untung saja wanita itu mudah mengendalikannya.
Beberapa menit kemudian, mobil hitam itu berhenti tepat di depan apotek. Zara langsung melepas sabuk pengaman, lalu keluar untuk membeli obat-obatan yang dibutuhkan.
Setelah menyelesaikan urusannya, Zara lantas kembali memasuki mobil.
Tak lama, mobil kembali melaju. Menuju apartemen yang mereka tinggali dengan kecepatan sedang.
Kening Zara mengernyit, dengan alis yang saling bertautan ketika Alvan memarkirkan mobilnya di depan sebuah restoran bernuansa jepang.
Alvan keluar, setelah sebelumnya membantu Halfi melepaskan sabuk pengaman.
"Ayo, Bunda."
Panggilan Halfi membuat lamunan Zara buyar. Ia mengangguk dan segera turun dari kendaraan roda empat yang ia tumpangi.
Berjalan dengan senyuman yang sulit sekali dikendalikan. Tak menyangka jika lelaki dingin itu memiliki perasaan yang peka.
Selayaknya seorang suami yang pengertian, Alvan berhenti di sebuah restoran disaat perut Zara mendemo minta segera diisi. Andai saja sikapnya ini konsisten, maka Zara akan sangat bahagia.
"Kenapa senyum-senyum? Jangan geer ya, aku mampir ke sini karena Halfi bilang lapar."
Senyum yang sedari tadi bertengger dengan indah, seketika memudar begitu mendengar nada bicara Alvan yang dingin dan ketus. Bahkan ada penekanan yang seolah menegaskan maksud dari ucapannya.
Zara mengembuskan napas kuat-kuat, setelah beberapa saat lalu lelaki yang berstatus suaminya itu berjalan lebih dahulu dengan menggandeng putri semata wayangnya.
Iya, hanya status yang tidak ada artinya bagi lelaki itu. Sekali lagi, ia telah dibutakan oleh luka yang membekas di hatinya. Dan Zara baginya hanyalah orang asing yang saat ini memiliki tanggung jawab menjaga anaknya.
***
Jadwal penerbangan masih esok hari, tepat pada jam sepuluh pagi. Tetapi kini, Elma sudah mengemasi semua keperluan untuk menantu dan putranya. Lengkap dengan cucu kesayangan.
Iya, malam ini Elma berniat untuk menginap.
"Ma, ini masih sore. Kenapa buru-buru sekali dipacking?" Alvan memprotes saat Elma meringkus beberapa pakaian di lemarinya.
Elma menatap tajam pada putra yang selalu menguras habis kesabarannya. Beberapa saat kemudian, ia meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya.
"Sssttt, jangan banyak bantah. Lagian kamu tinggal terima beres saja kok ngomel!"
Alvan menghela napasnya. Salahnya memang yang sudah tahu, kalau wanita satu ini tidak bisa dikritik. Alhasil, ia kembali mendapat semprotan. Untung saja kali ini tidak sampai meluber kemana-mana, seperti biasanya.
Baiklah, memang harusnya Alvan diam saja.
"Ya Allah, Ma." Zara tergopoh-gopoh memasuki kamar. Ia lantas mengambil alih baju yang tengah dilipat kecil oleh sang mertua.
"Ini tugas Zara, Ma. Kenapa Mama yang melakukan?" ujar Zara merasa sangat bersalah.
Elma tersenyum dan menyentuh lembut tangan Zara.
"Kamu itu sudah capek ngurusin Halfi. Mama cuma bantuin kamu kok."
"Tapi, Ma. Ini 'kan–"
"Akting yang sangat buruk!" sela Alvan, kemudian beranjak pergi.
Ia merasa sangat muak melihat sikap Zara yang menurutnya sok baik di depan orang tuanya. Padahal Alvan sudah sangat paham dengan maksud terselubungnya. Dia hanya bersikap baik untuk mengambil hati keluarga Alvan. Lalu dia akan menghilang, setelah tujuannya tercapai.
Sangat mudah ditebak.
Disisi lain, Zara merasa terhenyak mendengar perkataan sadis yang baru saja keluar dari mulut suaminya. Dadanya kembali terasa sangat sesak. Sampai ia kesulitan untuk bernapas.
Siapapun pasti akan merasa sakit, ketika ketulusannya hanya dianggap sandiwara.
Namun, yang saat ini bisa ia lakukan hanyalah mengulas senyum tipisnya. Berusaha kuat dan baik-baik saja di depan mertuanya. Meskipun rasa nyeri di dada dan kedua matanya memanas tak tertahankan.
Sejurus kemudian, sebuah sentuhan hangat menyentuh kulit punggung tangannya. Membuat Zara sontak menatap pada sang empunya.
Tatapan sendu itu seolah sedang mencoba menyalurkan kekuatan untuk Zara. Iya, mertuanya itu pasti bisa merasakan perasaan Zara lewat mimik wajah wanita tersebut.
"Maafin sikap Alvan ya, Sayang," lirih Elma.
Zara mengangguk lemah. Apa lagi yang bisa ia lakukan selain diam dan menerima dengan lapang dada.
Zara kembali melanjutkan aktivitasnya. Meski saat ini perih mendera hatinya, namun tak bisa dipungkiri, ada rasa menggebu-gebu saat bayangan liburan esok hari terlintas dalam kepalanya.
Mungkinkah Alvan akan bersikap sedikit lebih hangat dari sebelumnya?
Iya, biarlah itu tersimpan dalam angan dan harapan Zara. Siapa yang tahu, kalau Tuhan mengabulkan doanya.

Komentar Buku (121)

  • avatar
    BawellDieza

    lanjutttt kK

    17/07

      0
  • avatar
    Nurhayeni 03

    Mantap

    06/03

      0
  • avatar
    SyuheHendra

    keren alur ceritanya, bikin penasaran membaca nya. good poko nya..

    01/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru