Beranda/Kisah Cinta Damar/
Bab 35. Abang, I love you
'Abang, Aisyah bahagia sekali bisa ingat semuanya. Maaf jika selama beberapa waktu Aisyah melupakan semuanya,' tangis Aisyah pecah mengingat perlakuannya kepada Damar.
"Sudahlah! jangan menangis lagi, sekarang berdoalah semoga Damar segera sembuh dan kalian bisa kembali bersama," bu Rinda menepuk pundak Aisyah yang masih tergugu dalam tangisnya.
"Ibu, Aisyah harus minta maaf pada abang, Aisyah sering menyakiti abang." operasi pengangkatan peluru cukup memakan waktu selama tiga jam. Dalam tiga jam pula, Aisyah dan bu Rinda setia menunggu di depan ruang operasi.
"Roby! ternyata kau masih sangat ambisi untuk mendapatkan sesuatu yang kau inginkan," Aisyah sangat marah ketika Roby menembak Damar.
'Kau harus mendapatkan hukuman yang setimpal Roby,' ingin rasanya Aisyah merobek - robek Roby.
"Aisyah, lihatlah! Damar dibawa keruang perawatan, ayo kita kesana," selesai operasi Damar di bawa ke ruang perawatan.
"Abang," di genggamnya tangan Damar yang tidak diinfus. Air mata terus mengalir ketika melihat suaminya terluka karena melindunginya.
"Jangan menangis terus, kasihan suamimu harus melihatmu menangis seperti ini, Aisyah!" Aisyah terus saja menangis di samping Damar.
"Aisyah tak mampu melihat abang terluka, ibu. Lebih baik Aisyah yang terluka dari pada abang," suara Aisyah samar - samar terdengar oleh Damar. Damar menangis dalam keadaan tak sadar. Bu Rinda yang melihatnya segera mengusap air mata Damar.
"Lihatlah, suamimu menangis setelah mendengarkan ucapanmu, Aisyah! jangan seperti itu lagi, jangan buat hati Damar sedih seperti ini karena ucapan Aisyah," bu Rinda tak tega melihat Damar menangis di alam bawah sadarnya.
"Aisyah sangat mencintai abang lebih dari diri sendiri ibu," Aisyah menyandarkan di bahu Damar.
"Iya, ibu sangat paham jika Aisyah sangat mencintai Damar. Jangan tunjukkan rasa sedihmu seperti ini. Sifatmu seperti ayahmu, tak mampu melihat orang yang dicintainya terluka." bu Rinda menerawang ke masa lalu. Masa lalu yang sangat kelam sekali.
"Benarkah itu, bu?"
"Benar sekali, melihatmu seperti ini membuat ibu ingat dengan sifat ayahmu. Hanya saja, ayahmu--," air mata menetes ketika mengingat perlakuan ayahnya Aisyah padanya. Menikah tanpa persetujuan, dan meninggalkannya setelah bu Rinda hamil.
"Bu, sudahlah! biarkan menjadi masa lalu, masa depan adalah milik kita bersama, bu! semua pasti mempunyai masa lalu, entah itu kelam atau tidak," Aisyah menenangkan ibunya yang tengah bersedih mengingat masa lalu yang cukup menyakitkan.
"Kau juga, Aisyah! sebanyak apapun orang menceritakan masa lalu suamimu, jangan pernah kau ambil hati. Masa lalu biarkan berlalu, masa depanmu adalah bersama suamimu,"
"Iya, ibu! Aisyah mengerti, Aisyah tak akan menanggapi orang bercerita masa lalu abang," sahut Aisyah.
"Tidurlah! ibu juga akan tidur di sofa," bu Rinda berpindah ke sofa untuk sekedar istirahat setelah kejadian yang menimpanya. Aisyah membelai tangan Damar, hingga akhirnya dia tertidur di samping lengan Damar dengan tangannya yang memegang tangan Damar.
'Aisyah, kau dimana?' Damar bermimpi jika Aisyah tak berada di sampingnya.
'Aisyah! abang tak mampu hidup tanpamu,'
'Aisyah, jangan tinggalkan abang,'
"Aisyah!" Damar membuka kedua matanya dan melihat di sekelilingnya. Ditatapnya ruangan serba putih, bu Rinda terlihat tidur nyenyak di sofa sedangkan Aisyah tidur di kursi dan bersandar di lengannya. Tangis haru melihat Aisyah tidur nyenyak di sampingnya.
"Ternyata kau tak meninggalkanku, Aisyah. Abang takut sekali," gumam Damar dalam hati.
"Kau sudah bangun, Nak!" bu Rinda bangun dan melihat Damar sudah sadar.
"Biar ibu bangunkan--
"Jangan, bu. Biarkan seperti ini, biarkan Aisyah tidur nyenyak di samping Damar. Damar bahagia jika Aisyah berada di samping Damar." Damar melarang ibu mertuanya membangunkan Aisyah.
'Kau cantik sekali ketika tidur, Aisyah!'
"Bu, terimakasih sudah merestui kami sejak awal. Damar sangat bersyukur sekali bisa mendampingi Aisyah." bu Rinda duduk dan mengusap pundak Damar.
"Kalian berdua tulus dalam mencintai satu sama lain, justru ibu sangat iri padamu, Aisyah lebih mencintaimu melebihi ibunya sendiri,"
"Ibu akan sangat bahagia jika Aisyah bahagia bersama orang yang tepat," tukas bu Rinda.
"Roby sudah masuk ke dalam penjara negara ini. Tentu hukum di sini sangatlah ketat, jadi kalian jangan khawatir. Apalagi sekarang kondisi kejiwaan Roby terguncang hebat setelah menembakmu. Entahlah apa yang akan terjadi padanya, semua karena keegoisan orang tuanya. Ada baiknya juga Aisyah tak menjalin hubungan dengan Roby, keluarganya bisa dibilang serakah. Mereka menyingkirkan semua saudaranya agar tak mendapat hak dari perusahaan leluhurnya." terang bu Rinda pada Damar.
"Damar akan berhati - hati jika bekerja sama dengan orang tua Roby, ibu. Apalagi setelah tahu dia menembakku dan pernah menyakiti Aisyah yang ternyata anak dari ibu. Mereka tak tahu seberapa kuatnya ibu di dalam bisnis ini," pungkas Damar yang ikut membahas keluarga Roby.
"Biarkan mereka tahu dengan sendirinya siapa Aisyah sebenarnya. Mungkin suatu saat mereka akan malu sendiri pada ibu karena pernah menghina Aisyah," pungkas bu Rinda.
"Bagaimana bisnismu yang ada di Paris?"
"Alhamdulillah, mulai berjalan lancar, ibu. Awalnya hanya ingin mencoba saja, tetapi ternyata banyak sekali peminatnya di sini. Bahkan peningkatannya dalam setahun ini meningkat tajam," jawab Damar.
"Lebarkan sayap bisnismu ke penjuru dunia Damar. Dulu kau dipandang rendah, saatnya sekarang kau harus terlihat hebat dalam melakukan bisnis. Tenang saja, ibu akan membantumu," senyum tersungging dari bibir Damar.
"Kalau bisa, tolong ajari Aisyah dalam berbisnis. Atau kamu bisa menjalankan bisnis ibu juga, ibu tak punya siapa - siapa lagi selain kalian berdua. Kalian anak menantu yang sangat ibu banggakan," air mata haru menetes dari pelupuk mata bu Rinda.
"Abang," Aisyah terbangun ketika mendengar obrolan antara ibunya dengan suaminya.
"Aisyah, kau sudah bangun?" Damar mengusap wajah Aisyah.
"Abang, apakah masih sakit? apakah luka tembak di kaki itu juga masih sakit?" Aisyah menanyakan luka tembak yang pernah Damar dapatkan. Aisyah segera menyingsingkan celana bagian mata kaki untuk melihat kondisi luka tembak dulu.
"Aisyah, abang ditembak di punggung, bukan di kaki," sengaja Damar tak ingin Aisyah melihat luka itu.
"Luka ini sudah mengering, maafkan Aisyah yang sudah membuat abang seperti ini," Aisyah ingat kejadian menyakitkan ketika ditembak dua kali didepan kedua matanya.
"Aisyah, ini cuma luka kecil," Damar mencoba mengalihkan kekhawatiran Aisyah.
"Ini luka tembak, abang! dua kali ditembak gara - gara Aisyah melawan penjahat itu!" Aisyah seperti ada rasa trauma dengan luka tembak.
"Aisyah, sudahlah abang tidak apa - apa. Lihatlah, abang sudah bangun dan mungkin sebentar lagi akan segera pulang," namun Aisyah tak bergeming dari kaki Damar yang terdapat luka itu. Dengan perlahan, Damar berusaha duduk dan mengusap kepala Aisyah.
"Aisyah, kemarilah! duduklah dekat abang," Aisyah menurut dengan ucapan Damar. Aisyah kembali duduk di samping Damar.
"Jangan menangis, abang tak suka melihat Aisyah menangis karena abang sakit." diusapnya air mata Aisyah yang mengalir deras.
"Istriku cengeng," Damar mencubit hidung Aisyah.
"Abang, kenapa semua orang jahat dengan kita?" Aisyah tergugu dan memeluk erat Damar.
"Biarkan saja, asalkan kita tak berbuat jahat dengan orang. Yang rugi nanti mereka sendiri, Aisyah," Damar mencium kening Aisyah.
"Abang juga ingin Aisyah berjanji,"
"Janji apa dan kepada siapa, abang?" Aisyah penasaran dengan janji apa yang akan diminta oleh Damar.
"Berjanjilah, jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri atas apa yang menimpa abang. Jujur abang tak suka jika Aisyah menyalahkan diri sendiri. Semua abang lakukan karena abang sangat mencintai Aisyah melebihi diri abang sendiri." Aisyah hanya menatap Damar tanpa mampu berkata apapun.
"Tapi, abang--
"Aisyah harus janji," Damar menautkan kelingkingnya pada kelingking Aisyah.
"Aisyah akan berusaha, abang,"
"Nah! gitu dong, itu namanya istri abang," Damar menoel hidung Aisyah dan membuat Aisyah tersenyum.
"Abang selalu sukses membuat Aisyah tersenyum," celetuk Aisyah.
"Ibu akan mengurus administrasinya dulu, setelah itu ibu akan istirahat ke Appartmen ibu," bu Rinda sengaja memberikan mereka waktu untuk berdua. Bu Rinda sangat yakin jika Damar adalah sosok suami dan bisa menjelma menjadi sosok ayah bagi Aisyah. Damar mampu membimbing Aisyah dalam kebaikan dunia akhirat.
"Hati - hati, ibu," ucap Damar kepada bu Rinda.
"Kalian berdua, jaga diri baik - baik," pesan bu Rinda sebelim pergi meninggalkan mereka berdua.
"Aisyah, brankar ini masih muat. Aisyah tidurlah di samping abang," Damar sedikit menggeserkan badannya agar Aisyah bisa tidur di sampingnya.
"Apa tidak dimarahi, bang?" Aisyah terlibat begitu ragu dengan permintaan Damar.
"Tenang saja, kalau dimarahi kan Aisyah yang turun," sahut Damar.
"Yee abang," Aisyah menepuk pundak Damar, gemas kalau sudah mulai jahil.
"Memberi rasa bahagia padamu adalah hal yang paling menyenangkan bagi, abang,"
"Benarkah, apa masih ada rekan wanita di sana yang nantikan akan memeluk dan cipika cipiki tanpa rasa malu di depan Aisyah? " Aisyah cemburu atas sikap Damar yang biasa saja pada mereka yang memeluk wanita selain istrinya.
"Abang akan mulai menjaga jarak, sayang!" sahut Damar. Damar bahagia sekali ketika Aisyah merasa cemburu dengan teman wanita Damar.
"Janji?"
"Abang, janji!" Damar menautkan jari kelingking pada jari kelingking Aisyah.
"Abang tidak tidur?" Aisyah memandang wajah Damar dengan posisi miring.
"Abang tidak mengantuk, biarkan abang terjaga seperti ini demi memandang wajah Aisyah," seketika wajah Aisyah memerah karena malu.
"Aisyah!"
"Iya,"
"Tidurlah!"
"Abang,"
"Iya,"
"I Love You," Aisyah mencium kening Damar dan kemudian tidur di sampingnya.
Drrttt drttt
Ponsel Aisyah berdering, panggilan dari bu Rinda.
"Assalamu alaikum, ibu," Aisyah menerima panggilan dari bu Rinda.
"...."
"Apa, innalillahi wainnailaihi rojiun," suara Aisyah begitu serak saat mendengar kabar antara sedih dan bahagia.
"..."
"Baiklah, bu. Terimakasih informasinya,"
"Ada apa, sayang?" Damar penasaran atas kejadian yang menimpa seseorang sehingga Aisyah terlihat begitu sedih.
"Roby, dia tewas bunuh diri pagi tadi," jawab Aisyah.
"Innalillahi wainna ilaihi rojiun," Damar terkejut dengan berita yang disampaikan Aisyah.
"Dia meninggal sebelum bertaubat, kasihan dia," sahut Aisyah dengan raut wajah sedih.
"Kita doakan saja, semoga amal baiknya diterima di sisiNya," Damar memeluk Aisyah dan membaringkannya di sampingnya.
*
Dini hari terlihat keramaian di ruang tahanan Roby, semua terkejut atas kejadian di depannya. Roby tewas gantung diri di ruang tahanannya. Segera pihak sipir mengevakuasi jenazah Roby yang tergantung. Segera sipir meminta polisi untuk mencari keluarga Roby. Kebetulan saat itu juga bu Marta dan suaminya sudah samlai di Paris. Sengaja mengikuti Roby agar bisa memantau ulah Roby agar tak membahayakan orang lain.
"Roby, ini ibu Nak!" bu Marta menggoyang - goyangkan tubuh Roby yang terbujur kaku akibat perbuatannya sendiri. Roby melakukan aksi bunuh diri di dalam tahanan. Tekanan yang besar serta penyesalan yang teramat dalam berhasil mengguncang kejiwaan Roby. Ditambah lagi penghianatan yang dilakukan Stela padanya dan juga keluarganya.
"Roby, jangan tinggalkan ibu, Nak!" bu Marta histeris kala mengingat perbuatannya yang membuat Roby lupa dengan dirinya sendiri.
"Roby, bukalah matamu, Nak!"
"Sudahlah, bu! biarkan Roby tenang, ini pelajaran untuk kita sebagai orang tua," suami bu Marta mencoba menenangkan istrinya yang terpukul atas kematian anak semata wayangnya.
"Tapi, Roby anak yang baik! kitalah orang tua yang jahat!" bu Marta memukuli dadanya sendiri.
"Sudah, bu! sudah, hentikan! jangan sakiti dirimu seperti ini." suami bu Marta mencoba menghentikan tindakan istrinya.
"Ayo kita bawa pulang jenazah Roby, kita kuburkan di negara kita sendiri," bu Marta luluh dengan ucapan suaminya. Rencananya jenazah Roby akan diterbangkan nanti sore ke Indonesia.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (41)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
sangat bagus
05/11
0bagus suka sama novel nya
07/06/2025
0blm membaca TPI kaya nya ini seru
17/01/2025
0Lihat Semua