Beranda/Kisah Cinta Damar/
Bab 34. Penyesalan Roby
Prang
Suara barang pecah di kamar Roby.
"Aisyah! aku menyesal sudah mencampakkanmu," tangis Roby pecah disertai barang - barang yang dihancurkan Roby.
"Aisyah, apakah kau tak tahu masa lalu Damar! dia bukan pria yang baik, dia dulu sering menjalin hubungan dengan wanita. Bahkan dia fitnah menyebabkan seorang wanita bersuami meninggal karena ulahnya." Roby semakin geram ketika mengingat masa lalu Damar.
"Roby! buka pintunya, apa yang kamu lakukan?" bu Marta menggedor pintu kamar Roby, khawatir jika Roby melakukan sesuatu yang membahayakan.
"Karena kalian, aku mencampakkan Aisyah! lihat wanita yang hendak ibu jodohkan padaku, dia tak lebih dari seorang pelacur!" teriakan Roby disertai tangisan penyesalan.
"Maafkan ibu, Roby! ibu tak tahu apa yang dilakukan Stela di luar sana," bu Marta mencoba memberi pengertian kepada Roby.
"Maaf tak bisa mengembalikan Aisyah padaku, ibu! dia sekarang sudah menikah dengan lelaki lain," suara Roby semakin terdengar serak menahan tangis.
"Keluarlah, Nak! ayo kita bicarakan di luar," bu Marta berusaha membujuk anaknya yang perasaannya telah hancur.
"Pergilah! aku tak mau melihat ibu," bu Marta merasa sedih ketika anak lelakinya sangat membencinya.
"Aku harus mencari cara agar bisa bertemu dengan Aisyah, aku harus menjelaskan jika Damar bukan suami yang baik," Roby mulai mencari keberadaan Aisyah melalui teman - temannya.
Ting
Sebuah pesan dari salah satu teman Roby yang mengatakan jika Aisyah sedang berada di Paris bersama suaminya.
"Aku akan menyusulnya ke Paris," Roby mulai mengemas keperluannya dan memesan tiket untuk pergi ke Paris. Roby memilih penerbangan malam ini juga.
"Roby! kau mau kemana, Nak?" bu Marta berjalan mengikuti Roby.
"Mau menjemput Aisyah, bu! aku akan membawa Aisyah kembali bersamaku," Roby berjalan cepat menuju ke mobilnya.
"Roby, ingatlah! dia sudah bersuami, jangan ganggu dia," uacapan bu Marta tak dihiraukan oleh Roby.
"Halo, mas! Roby nekat untuk mencari Aisyah! dia sedang menuju ke Bandara sekarang, segera suruh anak buah untuk membawa Roby pulang, atau mengikuti Roby ke Paris agar tak mengganggu kehidupan Aisyah di sana," bu Marta terlihat panik dan segera menghubungi suaminya untuk mengurus Roby.
"....."
"Baiklah! ikuti Roby, jangan sampai dia membuat ulah dengan Damar, suami Aisyah! jika tidak, bisa - bisa perusahaan kita bangkrut akibat keegoisan anak itu,"
"..."
"Iya, baiklah!" bu Marta mengakhiri panggilannya.
"Semoga tak terjadi apa - apa di sana, bisa kacau jika Roby membuat ulah. Perusahaan Damar sangatlah besar, bisa - bisa terjadi pemutusan kerjasama jika kekacauan ini terjadi dan aku bangkrut," bu Marta merutuki nasibnya kini.
Selama perjalanan, Roby hanya sibuk memandang foto Aisyah. Roby hampir gila ketika mengetahui jika Aisyah menikah dengan Damar. Lelaki yang menurutnya sangat jahat, padahal dirinya sendiri yang lebih jahat pada Aisyah. Roby tak tahu jika dirinya dalam pengawasan bu Rinda, ibunya Aisyah.
"Aisyah, maafkan kebodohanku! aku terlalu mengikuti kata orang tuaku,"
"Aisyah, jika saja aku tak mendapatkanmu maka Damar juga tak boleh bersamamu," rencana buruk sudah direncanakan Roby jika Aisyah menolak keinginannya.
Sekitar dua puluh satu jam Roby sudah sampai di Paris. Dipesannya hotel untuk dirinya menginap.
"Aisyah! aku seperti ini karena aku sangat menyesal, penyesalanku hampir membuatku gila," Roby duduk bersandar di kursi dan mengambil sebuah pistol untuk memasukkan pelurunya.
"Stela, kau wanita gila! kau menipuku dengan kepolosanmu," Roby memandang foto Stela dan membakarnya di asbak.
"Stela! kau membuatku mencampakkan Aisyah," Roby membanting foto Stela yang masih tersisa dalam dompetnya. Roby mencari tempat tinggal Damar selama di Paris.
"Ketemu, secepat ini aku menemukanmu, Aisyah!"
"Aku akan menemuimu dan membawamu kembali bersamaku, akan ku bantu perceraianmu dengan Damar. Damar lelaki brengsek, Aisyah!" Roby mulai berkutat dengan rencana kegilaannya. Ditenggaknya minuman beralkohol hingga membuatnya merasa tenang.
"Aku akan menemuimu, Aisyah!" Roby beranjak keluar dari hotel dengan keadaan pengaruh minuman keras. Roby berjalan dengan gontai ke Appartmen Damar. Jarak hotel yang ditinggali Roby dan apartemen Damar tak terlalu jauh.
"Aisyah!" gumam Roby ketika melihat Aisyah tengah keluar dari Appartment bersama bu Rinda dan Damar dan menuju ke parkiran mobil.
"Aisyah!" suara Roby membuat mereka bertiga terkejut dengan kehadiran Roby.
"Siapa dia, abang? kenapa dia seperti itu ketika memanggil Aisyah?" Aisyah bersembunyi di balik punggung Damar karena merasa takut pada Roby.
"Dia orang jahat, Aisyah! ayo kita pergi," bu Rinda mengajak Aisyah dan Damar untuk tak menghiraukan Roby.
"Mau kemana kalian, mau bawa Aisyahku kemana?" teriak Roby pada mereka bertiga.
"Aisyah! jika kau melangkah maka suamimu akan mati di tanganku," Roby mengambil pistol yang sudah dia siapkan. Roby mengarahkan pistol kepada Damar.
"Jangan lukai abangku!" teriak Aisyah.
Deg
'Jangan tembak abang!' suara yang mengingatkan Aisyah akan kejadian sesuatu yang pernah menimpanya.
'Abang,' ditatapnya wajah Damar yang kepalanya sudah berada di depan pistol Roby.
'Dia, abangku! kejadian itu, aku ingat sekarang!' ingatan Aisyah mulai pulih secara perlahan.
'Dia, abangku! abang terbaikku, suami tercintaku!'
"Abangku!" suara lirih Aisyah disertai air mata kebahagiaan atas ingatannya yang mulai kembali secara perlahan.
"Abang, kau ternyata abangku!" Aisyah menatap Damar dan memeluknya.
"Abang! aku ingat, kau abangku!" Aisyah membenamkan wajahnya dalam pelukan Damar.
'Alhamdulillah! dia ingat Ya Allah,' hati Damar bergerimis melihat Aisyah sudah ingat siapa dirinya.
"Aisyah, dia lelaki jahat!" teriakan Roby membuyarkan lamunan Aisyah. Pistol semakin dekat ke kepala Damar.
"Apa yang akan kau lakukan, Roby? kau sudah menyakitiku, kau sudah mengina dan mencaciku karena aku seorang anak yang berasal dari panti asuhan!" Aisyah mulai ingat dengan lelaki di hadapannya. Lelaki yang hanya mampu menuruti apa kata orang tuanya saja tanpa berfikir lebih matang.
"Ya, aku menyesal sudah mencampakkanmu! aku ingin kau kembali padaku dan bercerai dengan Damar!"
"Sekalipun aku mati dengan pistol itu, aku tak ingin hidup bersamamu!" sahut Aisyah dengan tatapan nyalang ke arah Roby.
"Jadi begitu maumu, baiklah! Jika aku tak mendapatkan dirimu maka Damar juga tak akan mendapatkanmu!" Roby mengarahkan pistol ke kepala Aisyah, bersiap untuk menembak Aisyah.
"Ayo tembak jika kau berani, kau memang seperti itu kan?" Aisyah menantang Roby untuk menembakmya. Damar ingin sekali menghajar Roby tapi situasi tak tepat.
Dorr Dorr
Hening
Aisyah tak merasakan apapun, bahkan dia sudah dalam pelukan Damar.
Brugh
Damar limbung ke tanah, dua peluru mengenai punggung Damar saat melindungi Aisyah.
"Abang!" Aisyah histeris melihat Damar berlumuran Darah.
Dorr
Seorang polisi menembak tangan Roby sampai pistol terlempar jauh darinya. Polisi juga berhasil membawa Roby ke kantor polisi. Tak lama ambulan pun datang untuk membawa Damar ke rumah sakit.
"Abang, bertahanlah!" Aisyah mendampingi Damar dalam mobil ambulan.
"Aisyah! tenanglah, Damar adalah lelaki hebat dan kuat. Dia pasti baik - baik saja," bu Rinda mencoba menenagkan Aisyah yang histeris melihat keadaan Damar.
"Abang, ibu. Lihatlah abangku, sudah berapa kali dia kena tembak ibu! kenapa bukan Aisyah saja," Aisyah mulai ngelantur kemana - mana. Damar menggenggam erat tangan Aisyah.
"Aisyah, jangan bicara seperti itu. Abang tak suka," Damar berusaha menegur Aisyah dalam rasa sakitnya. Tak lama mobil ambulance yang membawa mereka sudah sampai di rumah sakit. Damar segera mendapat tindakan cepat untuk mengeluarkan peluru di punggungnya.
"Tenanglah, Aisyah! ibu yakin, Damar akan baik - baik saja," bu Rinda mencoba menenagkan Aisyah yang terus saja menangis.
"Aisyah ingat siapa Damar?"
"Iya, bu! abang Damar adalah abangku, suamiku. Suami tercintaku, bu!" Bu Rinda memeluk Aisyah dengan erat. Tak ingin terus - terusan melihat anak kesayangannya merasa sedih.
Sebelum kejadian
"Aisyah, bangun! sudah waktunya salat ashar," Damar membangunkan Aisyah dari tidurnya, namun Aisyah hanya menggeliat dan membungkus tubuhnya dengan selimut.
"Aisyah, abang gendong nih jika belum bangun, biar ibu tahu jika kita habis--
"Iya, iya! Aisyah bangun," Aisyah berusaha membuka kedua matanya yang masih ingin tidur lagi. Aisyah segera memakai handuk kimono dan ke kamar mandi.
"Ehem," suara bu Rinda mengejutkan Damar yang berdiri di depan kamar mandi.
"I, ibu!"
"Iya, bagaimana? apakah kau sudah merasa bahagia?"
"Sangat, ibu. Kembalinya Aisyah sama saja dengan mengembalikan hidupku," jawab Damar.
"Tapi mungkin ada masalah setelah ini, aku dengar dari orang tuanya Roby bahwa Roby akan menyusul Aisyah ke Paris. Roby lelaki masa lalu Aisyah, lelaki dan keluarganya mencampakkan Aisyah," bu Rinda mengetahui dari kedua orang tua Roby sendiri jika Roby dalam perjalanan ke Paris.
"Mereka tidak tahu jika Aisyah adalah anakku, jika sampai lelaki itu mengusik kalian maka semua bisnis mereka akan berakhir. Dan kamu, kau bisa putus kerja sama dengan perusahaan orang tua Roby," ucap bu Rinda sembari menyesap teh hangat.
"Apa seberbahaya itu kah dia?"
"Dia sudah mengetahui masa lalumu, ibu juga sudah tahu semua masa lalumu, Damar. Awalnya ibu sangat membencimu saat tahu siapa dirimu. Tetapi melihatmu bertobat dan tak mengulanginya, membuat ibu yakin jika kau adalah imam terbaik untuk Aisyah. Ketulusanmu membuat ibu berubah pikiran, itulah mengapa ibu sangat mendukungmu jika bersama Aisyah," Damar merasa malu pada bu Rinda atas masa lalunya yang kelam.
"Maafkan atas masa lalu Damar yang kelam, ibu," Damar meminta maaf atas masa lalunya yang memalukan.
"Sudahlah! itu masa lalumu, jika ada yang mengungkitnya biarkan saja. Tak usah kau hiraukan, yang penting sekarang adalah pertahankan Aisyah. Genggamlah erat dia, terlebih lagi jangan sampai dia bertemu dengan Roby," pesan bu Rinda pada Damar.
Ceklek
"Abang, Aisyah sudah selesai mandi. Abang bisa mandi sekarang," sahut Aisyah ketika keluar dari kamar mandi.
"Kenapa abang dan ibu seperti kelihatan sedih?" Aisyah melihat raut wajah khawatir ibu dan suaminya.
"Tidak ada apa - apa, Aisyah! ibu dan abang sedang berfikir untuk menyatukan perusahaan kita," Damar mengalihkan perhatian Aisyah dengan menjawab sekenanya.
"Oh begitu, ya sudah kalau begitu. Abang, Aisyah pengen makan nasi goreng. Apa di dekat sini ada yang jual?"
"Ibu akan membawa kalian berdua ke restoran milik ibu, Aisyah! kelak restoran ini juga akan menjadi milik Aisyah," jawab bu Rinda.
"Terimakasih, ibu! ibu memang terbaik," Aisyah memeluk ibunya layaknya anak yang manja. Damar bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
'Roby! jadi kau lelaki yang pernah menyakiti Aisyah. Untung aku sudah mendapatkan fotomu, jadi aku bisa lebih waspada,' gumam Damar di bawah guyuran air.
'Kau sepertinya mau main - main denganku! sepertinya kau juga akan membuka masa laluku pada Aisyah. Tapi apakah kau tahu jika Aisyah sedang hilang ingatan?'
'Jika kau berani menemui dan menyakiti Aisyahku, lihat saja apa yang akan aku perbuat padamu,"
Mereka bertiga kemudian keluar dari apartemen dan menuju ke parkiran.
*
"Aku menembak suami Aisyah! ya aku menembaknya, dia akan mati," Roby tertawa dalam sel tahanan.
"Aisyah! aku seperti ini karenamu!"
"Ayah, ibu dan stella! kalian semua jahat sudah memisahkanku dari Aisyah!"
"Aisyah! suamimu akan mati. Hahahaha," Roby tertawa seperti tidak waras.
"Damar, kau pantas mendapatkan itu! kau lelaki bajingan! kau sampah!"
"Kau tak pantas untuk Aisyah!"
"Kau mati, Damar!
"Aku membunuh Damar, aku membunuhnya!
"Aku merusak rumah tangga Aisyah!"
"Aku pembunuh! aku pembunuh. Hahahah
Teriakan Roby saat dalam sel tahanan. Kejiwaan mulai terguncang atas apa yang telah dia lakukan.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (41)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
sangat bagus
05/11
0bagus suka sama novel nya
07/06/2025
0blm membaca TPI kaya nya ini seru
17/01/2025
0Lihat Semua