logo text

Bab 33. Apakah ini nyata, cinta?

Damar selesai menyiapkan air hangat untuk Aisyah.
"Aisyah! air hangat sudah siap," Damar tersenyum melihat Aisyah yang sepertinya kelelahan dan tertidur di sofa.
"Aisyah! kau cantik sekali," Damar mengelus pipi Aisyah. Damar segera memindahkan Aisyah ke tempat tidur agar bisa beristirahat dengan nyaman, sedangkan Damar duduk di samping Aisyah sembari terus saja menatap wajah cantik Aisyah.
"Abang! kau kembali," Aisyah mengigau dan tersenyum. Damar bahagia melihat senyum Aisyah.
"Abang, maaf Aisyah sudah mencintai suami Aisyah! abang kemana saja sih, kenapa Aisyah ditinggal?" Aisyah terus saja mengigau tentang abangnya.
"By, abang," sepertinya Aisyah mengucapkan kata perpisahan pada abangnya lewat mimpi.
"Tak mampu sekalipun abang bisa berpaling darimu, Aisyah!" gumam Damar yang terus saja menatap Aisyah sedang tidur.
"Aisyah! sungguh, abang tak menyangka jika ini nyata,"
"Aisyah, apa kau tahu betapa bahagianya abang," dua jam berlalu dan dihabiskan dengan menatap wajah istrinya.
"Sudah waktunya makan siang, aku harus menyiapkan makanan untuk istriku yang paling cantik," gegas Damar ke dapur dan mempersiapkan maakan siang. Hanya menu sederhana untuk dinikmati bersama istri tercinta.
"Abang, abang!" suara Aisyah seperti sesnag mencari sesuatu.
"Iya, Aisyah!" Damar menghampiri Aisyah yang seperti kehilangan.
"Ah, ternyata abang di situ, Aisyah pikir abang meninggalkan Aisyah," Aisyah terlihat lega karena Damar sudah ada di depannya.
"Ayo cepat mandi, setelah itu kita makan siang. Abang sudah menyiapkan makan siang untuk kita,"
"Wah! suamiku ternyata bisa masak, hebat!" Aisyah mengacungkan jari jempolnya ke arah Damar.
"Aisyah!"
"Iya,"
"Abang sangat bahagia sekali, entahlah abang kira ini cuma mimpi," Damar duduk di samping Aisyah yang sedang menyiapkan baju ganti.
"Jadi, Aisyah di sini cuma bayangan?" Aisyah mulai mengeluarkan jurus merajuknya pada Damar.
"Aisyah," Damar memegang kedua pundak Aisyah. Aisyah hanya mampu menatapnya tanpa mampu berkata sepatah kata.
"Aisyah, apakah abang boleh menciummu sekali saja,"
"Biasanya juga gak pakai izin," sahut Aisyah. Damar hanya tersenyum dan dengan cepat melumat bibir ranum Aisyah, Aisyah pula membalas ciuman Damar.
"Aisyah, terimakasih!" Damar tersenyum pada Aisyah yang tersipu malu.
"Begini rasa berciuman dengan istri saat diizinkan, nikmat sekali," Aisyah semakin malu pada Damar.
"Ayo cepat mandi, abang akan menunggu Aisyah untuk salat dhuhur berjamaah. Sudah mau masuk waktu dhuhur," Damar meminta Aisyah agar segera mandi dan melaksanakan salat dhuhur berjamaah.
"I, iya," Aisyah gegas menuju ke kamar mandi untuk berendam sebentar.
'Aku berciuman dengan suamiku,' gumam Aisyah dalam hati.
'Kenapa perasaan ini sangat bahagia sekali,'
'Entahlah! akupun merasakan kebahagiaan yang sangat besar,' Aisyah bergumam sendiri di dalam kamar mandi.
"Aisyah! sudah hampir satu jam Aisyah berada di kamar mandi. Apa tidak kedinginan?" suara Damar membuyarkan Aisyah dalam lamunannya.
"Iya, abang! tunggu sebentar," Aisyah mempercepat mandinya.
"Ma, maaf abang! jika Aisyah mandinya lama," Damar gugup melihat Aisyah keluar dari kamar mandi menggunakan handuk kimono.
'Melihatnya memakai handuk membuatku semakin gugup begini,' Damar mengalihkan pandangan untuk menghindari hasratnya bercinta dengan Aisyah. Damar tak jngin merasa kecewa karena takut jika Aisyah menolak keinginannya.
"Abang kenapa?" Aisyah melihat rasa canggung pada Damar.
"Oh, tidak apa - apa," Damar menutupi kegugupannya dengan menata kembali makanan yang sebenarnya sudah tertata rapi.
"Abang yakin?" Aisyah memegang pundak Damar dan membuat mabuk kepayang ingin segera menerkam Aisyah.
"Aisyah, maafkan abang," Damar menarik tangan Aisyah dan kembali melumat bibirnya begitu pula Aisyah yang ikut merespon ciuman Damar.
"Aisyah, abang ingin--
"Ingin apa," sahutan dari Aisyah membuat Damar dengan cepat menggendong Aisyah ala bride style ke kamar.
"Kelamaan," Damar terlihat tak sabar sekali dengan godaan Aisyah.
"Abang, berdoa dulu," Damar memimpin doa untuk ritual mereka. Malam pertama yang sekian lama tertunda karena banyaknya rintangan.
"Aisyah, I love you," bisikan Damar di telinga Aisyah.
"Aisyah! apa kau kesakitan?" Damar melihat Aisyah yang kesakitan setelah ritual yang mereka lakukan.
"Iya abang," Aisyah tertunduk malu di hadapan Damar.
"Abang, lihatlah! bad covernya kotor karena bercak darah," Aisyah menunjukkan bercak darah di bad covernya.
"Tak apa, biar abang yang cuci. Aisyah bisa mandi lagi sekarang," Damar memakaikan handuk kimono pada Aisyah dan menggendongnya ke kamar mandi agar tak kesakitan.
"Abang mau kemana?"
"Abang mau mencuci bad covernya, Aisyah," jawab Damar. Damar menutup kamar mandinya dan membiarkan Aisyah berendam air hangat di dalam.
'Abang, Aisyah bahagia sekali,' Aisyah senyum - senyum sendiri mengingat ritual pertama kali dia lakukan bersama suaminya.
"Aisyah, jangan lama - lama. Nanti masuk angin," suara Damar kembali membuyarkan lamunan Aisyah di kamar mandi.
"Iya," sahut Aisyah dari dalam kamar mandi. Aisyah segera keluar dari kamar mandi dan memakai gamis serta jilbab instannya.
"Abang, ayo salat berjamaah," Aisyah memanggil Damar yang tenga sibuk merendam bad cover.
"Iya, abang mandi dulu," gegas Damar mandi junub sebelum melakukan salat dhuhur berjamaah bersama Aisyah.
'Alhamdulillah Ya Allah, hamba beryukur atas kembalinya sang istri. Semoga kami menjadi keliarga yang sakinah mawaddah warahmah. Amin,' Harapan yang dilantunkan Damar ketika sedang berdoa usai salat berjamaah.
'Terimakasih, Ya Allah,"
"Aisyah, ayo kita makan! setelah itu kita jalan - jalan," Aisyah segera menuju ke meja makan dan melayani suaminya makan siang.
"Bisa tidak, jika besok saja jalan - jalannya? Aisyah capek, abang," Damar mengerti dengan kondisi Aisyah yang sepertinya kelelahan.
"Baiklah! jadi hari ini Aisyah cukup istirahat saja, besok pagi kita jalan - jalan ke sungai Seine," Damar menunda keinginannya mengajak Aisyah jalan - jalan.
"Apa abang tidak capek perjalanan ke Paris memakan waktu hampir dua puluh satu jam, Aisyah aja bosan sekali selama perjalanan," pungkas Aisyah.
"Abang sudah terbiasa, ada hal yang akan abang lakukan untuk mengusir kejenuhan selama perjalanan,"
"Apa itu?" Aisyah penasaran.
"Memandang foto Aisyah," Aisyah semakin malu dengan jawaban Damar.
"Memandang terus apa tak bosan?"
"Memandangmu tak akan pernah bosan, entahlah Aisyah! semua yang ada pada diri Aisyah sanggup mengobrak abrik isi hati dan pikiran abang. Seminggu bersama Aisyah membuat abang seperti ingin---
"Ingin, apa?"
"Ingin menerkam Aisyah lagi seperti tadi," sahut Damar dengan tatapan nakal pada Aisyah.
"Mulai lagi, deh," Aisyah mencebik ke arah Damar.
"Apa masih sakit, Aisyah?"
"Masih, tapi sudah mendingan," jawab Aisyah.
"Setelah makan segera minum obat penghilang rasa sakit, Aisyah," Damar mengambilkan obat penghilang rasa sakit untuk Aisyah.
"Terimakasih abang, perhatian sekali sama istri," Aisyah mencubit pinggang Damar.
"Jangan menggoda abang, Aisyah! kalau abang tergoda bisa bahaya," tukas Damar. Perasaan bahagia menyelimuti kebersamaan mereka berdua.
Ting nung
Suara bell berbunyi tanda ada seorang tamu. Damar segera membukakan pintunya.
"Ibu, ayo segera makan, Damar sudah siapkan makan siang. Aisyah sedang makan di ruang makan," bu Rinda sudah kembali ke Appartmen Damar.
"Ibu sudah makan siang tadi, ibu lelah ingin istirahat Damar," jawab bu Rinda.
"Kok bau sampo ya?" penciuman bu Rinda tajam juga, mereka berdua terlihat salah tingkah ketika bu Rinda mencium semerbak wangi sampo.
"Emm, itu bu--
"Ya, semoga segera dikaruniai cucu," jawab bu Rinda dan berlalu ke kamarnya.
"Oh ya, nanti sore ibu mau istirahat di apartement ibu sendiri, apalagi ada beberapa yang harus ibu kerjakan dalam seminggu ini." ucap bu Rinda ketika membuka kembali pintu kamarnya.
"Baiklah! nanti Aisyah dan abang mengantar ibu kesana," sahut Aisyah.
"Bahagia sekali hati ibu melihat kalian berdua kembali bersama," bu Rinda mengelus pundak Aisyah dan Damar bersamaan.
"Semua juga berkat bantuan ibu, metode rindu sangat ampuh untuk mengembalikan Aisyah padaku," Aisyah hanya bengong tak mengerti maksud suaminya.
"Maksudnya apa?" Aisyah mulai ingin tahu rencana di antara mereka berdua.
"Rahasia," sahut Damar dan meninggalkan Aisyah.
"Abang," Aisyah mengejar dan mencubit pinggang Damar.
"Aisyah, sudah Aisyah! abang geli. Jangan sampai abang menerkammu lagi!" Aisyah mencoba menghindari dari cubitan Aisyah.
"Biarin, Aisyah tak peduli," sahut Aisyah. Damar segera menjatuhkan Aisyah ke ranjang lagi.
*
"Apa? Aisyah menikah dengan Damar! lelaki yang dulu pernah menjalin dengan banyak wanita?" Roby meremas foto kebersamaan Aisyah dan Damar.
"Iya, kau kenapa Roby. Bukankah kau dan keluargamu yang membatalkan acara pertunangan kalian karena latar belakang Aisyah?" Riko mengungkit kejadian yang pernah Roby dan keluarganya lakukan pada Aisyah.
"Tidak! Aisyah harus kembali bersamaku," Roby meremas dan membuang foto Aisyah dan Damar ke tong sampah.
"Kau jangan egois Roby, dia sudah bahagia," Riko mencoba memberi pengertian pada Roby.
"Tapi hatiku sakit Riko, sakit sekali. Aku menyesal sekali sudah mencampakkan dia." Roby menyesali apa yang telah dia lakukan pada Aisyah.
"Kau selalu menuruti kata orang tuamu tanpa memperdulikan kebahagiaan dirimu sendiri," sahut Riko sembari menepuk pundak Roby.
"Aku menyesal, Riko. Wanita yang dijodohkan denganku tak lebih dari seorang pelacur. Sebelum pertunangan kami digelar, ternyata dia kepergok cek in hotel bersama lelaki lain," Roby ingin sekali berteriak atas kebodohannya.
"Sudahlah! move on dan biarkan Aisyah berbahagia bersama suaminya. Kau jangan ikut campur dengan rumah tangganya,"
"Tidak! aku ingin Aisyah kembali padaku," Roby mengepalkan tangannya.
"Aku sudah menasehatimu, jika kau nekat maka aku tak akan tinggal diam untuk memukulmu agar kau sadar! merusak rumah tangga orang itu dosa besar, Roby!" Riko mencengkram kerah Roby yang tersulut rasa egois.
"Aku tak peduli, kau memusuhikupun tak masalah! asalkan Aisyah kembali padaku," Roby melepas cengkraman Riko dan berlalu meninggalkan Riko berdiri terpaku atas sifat teman baiknya.
"Sifat egois selalu saja menguasaimu, Roby! aku pun sangat tidak suka dengan sifat egoismu, aku harus mengawasimu dari jauh Roby, agar kau tidak terjerumus lebih dalam," gumam Riko.
"Aisyah! dimanakah kau?" Roby memukul setir mobilnya dan terus saja merutuki kebodohannya.
*
"Aisyah! kau bidadariku yang paling sempurna," Damar membelai pipi Aisyah ketika Aisyah tengah tidur kelelahan setelah bergelut di ranjang bersama Damar untuk kedua kalinya.
"Masa laluku memang terlalu kelam, tetapi engkau menjadikan masa depanku secerah matahari," gumam Damar yang terus saja membelai pipi Aisyah.
"Semoga kelak kita segera dikaruniai seorang buah hati agar bisa melengkapi keebahagiaan kita," Damar membaringkan tubuhnya di samping Aisyah yang terbungkus selimut.
[Tolong jaga Aisyah! jauhkan dari lelaki yang pernah menjalin hubungan dengannya] nomor tak dikenal mengirim pesan pada Damar.
[Siapa kamu?]
[Hanya mengingatkanmu saja, semoga kau bisa menjaganya. Tolong jaga rahasia ini]
"Apakah dia membicarakan lelaki yang pernah membuat Aisyah patah hati sebelum bertemu denganku?" gumam Damar seorang diri.
"Aku harus meminta Dika menjadi pengawal istriku, aku tak ingin jika istriku dicelakai orang lain lagi," gumam Damar lagi.

Komentar Buku (41)

  • avatar
    ElsyaLidya

    sangat bagus

    05/11

      0
  • avatar
    Sarah

    bagus suka sama novel nya

    07/06/2025

      0
  • avatar
    Asri Achii

    blm membaca TPI kaya nya ini seru

    17/01/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru