logo text

Bab 32. Wajahmu mengalihkan duniaku

"Hubungi, enggak, hubungi, enggak. Duh pusing, gak usah dulu deh," Aisyah kembali meletakkan ponselnya di nakas.
"Abang kau kemana, jangan sampai aku mencintai orang lain selain kamu." gumam Aisyah dalam hati.
"Cinta abang dan cinta dia sangatlah besar untuk Aisyah, Aisyah tak mau terjebak dalam dua cinta,"
"Ya Allah, tolong hamba. Pertemukanlah dengan cinta sejati hamba," harapan yang terlontar dari hati Aisyah.
Seminggu sudah Damar berada di Paris untuk bisnisnya dan seminggu lagi dirinya baru bisa menemui Aisyah. Senyum menggelitik ketika melihat rekaman video Aisyah yang sering melamun karena kesepian bahkan tak jarang dirinya mengerjai pembantu yang ada di rumahnya sekedar mengusik rasa kesepian dan rindu pada Damar.
"Aisyah, apakah kau rindu? ingin sekali abang menikmati kebersamaan kita di Paris," gumam Damar yang menatap malam di Appartmennya. Pemandangan tengah kota yang sangat menyenangkan.
'Aisyah! abang rindu,' Damar memejamkan kedua matanya dan membayangkan wajah Aisyah.
Pagi sekali Damar menyempatkan ke jogging track di sungai Seine Prancis. Dipandanginya sungai Seine sebagai salah satu wisata di negara Paris.
'Cantiknya sungai Seine mengingatkanku pada kecantikanmu, Aisyah. Kecantikan hati dan wajahmu membawa keteduhan dalam hatiku,' gumam Damar sembari memandangi pengunjung di sekitar sungai.
'Andai kau tahu, Aisyah! aku ingin sekali kau segera ingat padaku,' air mata tak terasa mengalir begitu saja. Terlihat beberapa anak muda yang sedang asik berpacaran, bahkan ada beberapa keluarga yang menyempatkan untuk piknik di lokasi sungai Seine, sungguh pemandangan yang cukup indah.
'Aisyah, abang ingin seperti mereka. Berwisata bersama keluarga kecil kita, sungguh harapan terbesar yang abang inginkan,'
*
"Kenapa tak mengabariku seminggu ini, apa kau lupa jika aku istrimu," Aisyah terlihat kesal karena seminggu ini Damar tak mengabarinya
"Apakah kau marah padaku karena ucapanku?"
"Kau jahat, kau membawa separuh hatiku namun tak mengabariku. Abangku sudah membuatku patah hati, sekarang kamu," Aisyah berbicara sendiri di taman belakang.
"Apa kau tak rindu padaku?"
"Apa kau masih menganggapku sebagai istrimu?"
"Apakah ibuku memberitahumu jika perceraian kita akan diurus setelah kau kembali sehingga kau tak menghubungiku sama sekali?"
"Apakah kau di sana sudah bersama wanita lain yang lebih cantik sehingga tak mengabariku, minimal tanya kabarku atau apa gitu," Aisyah sesri tadi nicara sendiri karena suasana hatinya yang sedang kesal.
"Aisyah! ada apa, mengapa menangis?" bu Rinda memergoki Aisyah yang sedang menangis di taman belakang rumah.
"Ah tidak ada apa - apa ibu," Aisyah segera mengusap air matanya agar ibunya tak melihat air matanya.
"Aisyah anak ibu, jadi ibu tahu jika Aisyah sedang sedih, ceritakanlah pada ibu," bu Rinda membelai Aisyah yang tiba - tiba tidur di pangkuan ibunya.
"Ibu,"
"Iya,"
"Apakah ibu akan mengurus perceraian setelah dia kembali?" pertanyaan yang mengejutkan dari Aisyah.
"Bukankah itu yang Aisyah inginkan?" tanya bu Rinda.
"Ibu,"
"Iya,"
"Dia pergi seminggu dan dia pula membawa separuh hati Aisyah. Aisyah sendiri tak mengerti ibu, mengapa Aisyah bisa jatuh cinta secepat itu dengannya," air mata lolos begitu saja.
"Dia seperti abangku yang mampu meluluhkan hati Aisyah dalam sekejab, apakah Aisyah harus meninggalkan abangku dan mengabdi padanya, bu?"
"Ikuti kata hatimu, Nak! jika Aisyah mencintainya, maka kita akan ke Paris besok," ucapan bu Rinda sontak membuat Aisyah bangun dari pangkuan ibunya.
"Bu, Aisyah mencintainya bu!" tatapan meyakinkan dari Aisyah.
"Aisyah merasa hampa jika tak ada dirinya, bu!" air mata kembali menetes begitu saja.
"Entahlah bu, Aisyah lelah sudah torombang ambing dengan dua cinta seperti ini. Cinta yang sama - sama sangat kuat sekali, bahkan Aisyah tak mampu berpaling lagi darinya," Aisyah menangis sesenggukan di pelukan bu Rinda.
"Apa Aisyah sudah yakin dengan cinta ini?" bu Rinda memastikan isi hati Aisyah.
"Tak mendengar gurauannya membuatku rindu, sangat rindu ibu,"
"Baiklah! besok kemasi barangmu dan kita susul suamimu ke Paris," keputusan dari bu Rinda adalah mempertemukan Aisyah dengan Damar.
[Rekaman sudah ibu kirim] bu Rinda mengirim pesan kepada Damar.
[Damar sudah mendengarkannya ibu, terimakasih sudah mengembalikan cinta Aisyah pada Damar]
[Damar adalah kebahagiaan Aisyah, jadi ibu harus ikut andil dalam kebahagiaan kalian berdua, besok berpura - puralah tak rindu pada Aisyah] rencana yang di ucapkan bu Rinda.
[Siap] balas Damar
'Apa yang harus aku lakukan ketika Aisyah kemari? Aisyah, abang rindu. Tak mampu lagi abang menahan rindu ini,' gumam Damar, air mata bahagia lolos begitu saja ketika mendengar sendiri jika Aisyah msncintainya.
"Cintaku telah kembali, terimakasih ya Allah!" sujud syukur yang dilakukan Damar ketika mendengar Aisyah rindu padanya.
"Aisyah! abang akan menunggumu di sini." gumam Damar.
"I Love You Aisyah," teriakan di balkon apartemennya.
"Aisyah! apa kau tahu, abang sangat rindu padamu, rindu dengan ocehanmu, rindu dengan semua yang ada pada dirimu,"
"Aisyah! hadirmu menjadi kisah terindah dalam hidupku," tak henti - hentinya Damar mengungkapkan isi hatinya tentang Aisyah. Rindu bergejolak menjadi satu dengan rasa bahagia yang menyelimuti hati Damar.
"Abang tak bisa tidur jika ingat dirimu," ditatapnya foto Aisyah bahkan di Appartemennya terdapat foto Aisyah yang tercetak cukup besar sebagai obat rindu Damar.
Pagi sekali Aisyah sudah bersiap berkemas untuk berangkat ke Paris. Dia membawa pakaian terbaiknya untuk bertemu suaminya.
"Suamiku, aku akan datang bertemu denganmu. Suamiku, aku rindu padamu," gumam Aisyah di depan cermin.
"Aisyah, apakah sudah siap? ayo kita pergi," Aisyah segera menyeret kopernya menuju ke mobil.
"Aisyah, kenapa tegang sekali!" celetuk bu Rinda yang melihat Aisyah begitu tegang.
"Aisyah takut jika dia sudah punya wanita lain di sana, ibu. Setahu Aisyah seperti di tivi, pergaulan disana sangat bebas, Aisyah takut jika dia bersama wanita - waiita itu," bu Rinda mengerti dengan kekhawatiran Aisyah.
"Apa kau percaya dengan suamimu?" bu Rinda menatap Aisyah.
"Sangat,"
"Berdoalah yang terbaik, jangan memikirkan hal yang buruk," tukas bu Rinda. Aisyah dan bu Rinda sudah sampai di Bandara, mereka berdua segera cek paspor dan tiket keberangkatan.
'Suamiku, sebentar lagi aku sampai. Akan Aisyah ungkapkan semua kerinduan Aisyah padamu,'
"Aisyah, tenanglah! tetaplah santai, perjalanan kita akan memakan waktu yang lama, sekitar 21 jam," bu Rinda menenagkan Aisyah yang terlihat begitu tegang.
"Selama itukah, bu?"
"Iya, istirahatlah selama di pesawat. Ibu rasa Aisyah tak tidur semalam," tebakan ibunya membuat Aisyah malu.
"Ah ibu, selalu tepat jika menebak Aisyah," Aisyah merubah posisi duduknya menjadi posisi yang nyaman untuk istirahat. Perjalan yang cukup lama dan melelahkan akhirnya terlalui. Berangkat pukul 07.50 Bandara Soekarno Hatta pagi dan sampai di Paris pukul 09.25 sudah sampai di Bandara Charles de Gaulle dengan menggunakan maskapai Air Berlin.
"Aisyah! bangun sudah sampai," Bu Rinda membangunkan Aisyah yang tidur lelap setelah dia pergunakan untuk mengaji di pesawat.
"Sudah sampai ya, bu!"
"Iya, ayo kita segera turun," Aisyah terlihat bersemangat sekali ketika sudah sampai di Paris.
"Yey! Aisyah akan bertemu dia," Aisyah begitu gembiranya sampai menjadi perhatian orang yang berjalan.
"Aisyah, sudah! dilihat orang banyak," bu Rinda menegur sikap Aisyah yang aslinya sangat manja.
"I, iya ibu!" Aisyah begitu sangat malu karena teguran ibunya. Mereka berdua segera berjalan untuk memesan taxi dan menuju ke Appartmen Damar.
"Ibu, apakah ini tempat tinggalnya?" Aisyah takjub dengan tempat tinggal Damar yang ada di depannya. Apartemen yang berada di tengah kota dengan pemandangan yang indah.
"Aisyah!" sapa seorang lelaki bersama rekan kerjanya yang merupakan bule Paris.
Deg
'Dia bersama wanita bule, benar dugaanku dia mempunyai wanita lain di sini,' wajah Aisyah merah padam ketika melihat Damar berjalan berdua bersama wanita bule.
"Ma, maaf! sepertinya Aisyah mengganggu," Aisyah berbalik dan menyeret kopernya menjauhi Damar.
"Aisyah, tunggu!" Damar mengejar Aisyah yang lari darinya. Bu Rinda hanya memperhatikan mereka berdua terutama anaknya yang dilanda cemburu. Bu Rinda memutuskan membiarkan mereka menyelesaikan urusannya dan mengobrol dengan rekan Damar.
"Jadi ini yang bikin suamiku tak menghubungiku selama seminggu?" tatapan nyalang ke arah Damar.
"Aisyah, rekan kerjaku! biar aku ajak kamu berkenalan dengannya," Damar menggandeng tangan Aisyah namun Aisyah mengelak.
"Silahkan kesana sendiri, aku gak mau!" Aisyah masih marah dengan kebersamaan Damar bersama wanita itu.
"Riana, come here!" bule wanita itu kemudia berjalan ke arah Damar sambil tersenyum ramah.
"She is my lovely wife, her name is Aisyah," Riana mengulurkan tangan kepada Aisyah untuk berjabat tangan.
"Hallo, I'm Riana." Riana memperkenalkan dirinya pada Aisyah. Aisyah ikut mengulurkan tangannya pada Aisyah.
"Saya adalah rekan kerja mister Damar, but not girlfriend," Riana menjelaskan kesalah pahaman Aisyah padanya. Aisyah cukup malu di depan Riana dan Damar.
"I'm sorry," ucap Aisyah pelan dan menunduk malu.
"Maaf, mister Damar. Saya akan pulang karena my mom is sick," Riana menggunakan bahasa indonesia bercampur logat bahasa inggris. Sudah lama Riana menyukai negara Indonesia sehingga dia mulai belajar sedikit - sedikit bahasa Indonesia.
"Oh oke, be carefull," sahut Damar ketika Riana berpamitan dengan Damar.
"Jadi dia teman kerja?" Aisyah ragu untuk menanyakannya.
"Aisyah, jangan selalu mengedepankan emosi dalam mengatasi masalah. Rugi sendiri kan?" Bu Rinda kembali menegur Aisyah.
"Ayo bu, kita masuk," Damar mengajak mertua dan istrinya masuk ke Appartemnya.
"Ini kamar ibu, dan ini kamar---
"Kita," sahut Aisyah ketika Damar menunjukkan tempat istirahat untuk ibu mertuanya.
"Damar sudah siapkan untuk kedatangan wanita - wanita cantik ini," Damar mengeluarkan steak lengkap dengan smash potato juga sayuran buatannya kepada Aisyah dan ibu mertuanya.
"Wow, sepertinya enak sekali," bu Rinda begitu antusias dengan makanan yang ada di depannya.
"Aisyah! nanti ibu mau mengunjungi wisata bersama rekan ibu di Paris, lama sekali tak bertemu mereka," bu Rinda sengaja bergabung dengan teman - temannya sesama pengusaha yang ada di Paris.
"Ibu,
"Sudah bersuami kok masih minta temenin ibu terus, katanya kangen," bu Rinda sengaja menggoda Aisyah di depan Damar dan berhasil membuatnya malu.
"Sudah, jangan ganggu kesenangan ibu! ibu juga mau bersenang - senang di Paris," jawab bu Rinda.
"Damar! tolong pesankan taxi untuk ibu,"
"Siap, ibu ratu," Damar segera memesan taxi untuk ibu mertuanya. Bu Rinda memang sering sekali ke Paris untuk memajukan usahanya, mulai dengan membuka gerai makanan instan asli indonesia bahkan restoran menu autentik khas Indonesia.
"Jadi, ibu juga sering ke sini?" tanya Aisyah pada bu Rinda yang mulai bersiap - siap berjumpa dengan rekannya.
"Sebenarnya lain kali ibu akan mengenalkan bisnis ibu pada Aisyah, tapi lain kali saja. Aisyah sekarang fokusnya hanya dengan suami dan program buat cucu. Sudah ya, pesanan taxi sudah di depan. Ibu mau lergi dulu," Aisyah mencium tangan ibunya begitu pula Damar. Sekarang tinggal mereka berdua di dalam apartemen.
"Abang," Damar pura - pura tak mendengar dan melanjutkan makanannya.
"Bolehkah aku memanggilmu, abang?" seketika Damar menghentikan kegiatan makannya dan menatap Aisyah.
"Maafkan aku jika kau tidak mau," Aisyah merasa tak enak hati.
"Aku ke toilet dulu," Aisyah berdiri akan beranjak ke toilet, alasan cukup tepat bagi Aisyah untuk menghindari Damar.
"Apa kau masih mau menghindariku lagi?" Aisyah berbalik ketika mendengar ucapan Damar.
"Maafkan aku, selama ini aku bukan istri yang baik," Aisyah memeluk Damar, Damar merespon pelukan Aisyah.
"Aisyah rindu. Seminggu tak ada abang, hati Aisyah terasa sepi," Aisyah tergugu dalam pelukan Damar.
"Aisyah! abang bahagia, cinta abang telah kembali," Damar mendekap Aisyah.
"Abang sangat rindu, seminggu tak mendengar suara Aisyah, hidup abang terasa hampa," sahut Damar pula.
"Apakah Aisyah sudah melupakan abang kekasih Aisyah?" Damar kembali menyebut nama abang yang dicintai Aisyah.
"Cinta kalian berdua begitu besar, abangku juga tak tahu kemana. Biarlah abang menjadi sandaran terakhir Aisyah," jawab Aisyah.
"Abang siapkan air hangat ya, setelah itu Aisyah bisa berendam untuk merilekskan badan Aisyah setelah perjalan yang lama," Damar melepaskan pelukannya dan menuju ke kamar mandi untuk mempersiapkan ritual mandi Aisyah.
'Terimakasih, Ya Allah,' batin Damar tak hentinya bersyukur atas rasa bahagianya

Komentar Buku (41)

  • avatar
    ElsyaLidya

    sangat bagus

    05/11

      0
  • avatar
    Sarah

    bagus suka sama novel nya

    07/06/2025

      0
  • avatar
    Asri Achii

    blm membaca TPI kaya nya ini seru

    17/01/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru