logo text

17. Gangguan Mantan

"Kenapa, sih, Yu?"
Pertanyaan itu akhirnya terlontar setelah Aji terdiam begitu lama. Ia sejak tadi heran dengan sikap Ayu yang tampak seperti sedang emosi. Aji tak langsung bertanya karena takut Ayu akan meledak. Ia menunggu Ayu kelihatan lebih tenang barulah bertanya.
"Kenapa apanya?" Ayu malah balik tanya.
Aji mendengkus. "Lo kenapa? Ada masalah? Kesel karena stafnya pada telat?"
Syuting iklan kali ini tak berjalan lancar. Tidak hanya Ayu saja yang telat datang ke lokasi, tetapi masih banyak lagi dari pihak brand yang menggaet Ayu sebagai bintang utama. Mereka beralasan macet, ada urusan mendadak, dan lain-lain. Namun, bukan itu yang membuat Ayu tampak tak bersahabat. Ia masih kesal dengan Kian. Baru kali ini ia tidak profesional begini. Sungguh, Ayu frustasi.
"Nggak," balas Ayu singkat. "Habis ini kita ke mana?"
"Ke lokasi syuting buat film lo sama Ersa. Agak siang, sih. Masih ada waktu, lah, kalau lo mau tidur."
Sebuah anggukan menjadi jawaban bagi Aji. Lalu setelah itu tak ada lagi percakapan yang terjalin. Ayu memilih diam dan kembali terhanyut dalam pikirannya yang penuh tentang Kian. Ada berbagai pertanyaan dalam kepala wanita itu. Namun, mereka semua masih belum mendapat jawaban pasti.
Dua jam berlalu. Tidak terasa lamunan Ayu sudah selama itu. Ia segera bergegas membenahi make up-nya dan pergi ke tempat syuting selanjutnya. Sendiri lagi karena Aji membawa mobil pribadi. Tentu ia tak bisa meninggalkan mobilnya begitu saja dan ikut dengan Aji. Lagi pula tidak ada yang mempermasalahkan kalau Ayu menyetir mobil sendiri. Walaupun Aji masih was-was, takut kecelakaan tempo hari terulang kembali.
"Astaga, Kak Ayu!" Salah satu staf menyapa Ayu ketika sampai di lokasi syuting.
Ayu kontan melebarkan senyum tipis. Lalu memeluk sekilas sosok yang menyapanya. "Apa kabar, Mbak? Udah lama banget kita nggak ketemu."
"Alhamdulillah, baik. Kak Ayu sendiri gimana? Katanya habis kecelakaan kemarin. Lukanya udah sembuh?"
"Belum sembuh total, Mbak. Tapi udah nggak sakit dan nggak terlalu keliatan. Jadi nggak akan ngaruh ke pekerjaan aku di depan kamera."
"Wah, bagus kalau gitu. Semoga Kak Ayu sehat-sehat terus, ya."
"Aamiin. Makasih banyak, Mbak."
Selesai berbasa-basi ria, Ayu segera menghampiri lawan mainnya dalam film ini. Yap, Ersa. Lelaki yang setahun lebih tua dari Ayu itu duduk di dekat tiang penyangga lampu sambil mengenggam sebotol air mineral. Kelihatan sudah cukup lama di sini.
"Halo, Ersa." Ayu menyapa sembari ikut duduk di kursi kosong sebelah Ersa.
"Eh, hai, Yu. Baru banget dateng?" balas Ersa diiringi senyuman manis.
"Iya. Lo udah lama?"
"Lumayan. Baca naskah dulu sebentar. Soalnya gue payah banget nginget dialog," kata Ersa, curhat.
Ayu hanya membalas dengan kekehan singkat. Lalu kembali diam dengan pikiran yang melayang ke mana-mana. Ersa menyadari kalau Ayu tampak berbeda dari biasanya. Hadir pertanyaan dalam kepala laki-laki itu. Wajah Ayu juga tampak tak secerah yang biasa ia lihat. Seperti telah terjadi sesuatu pada Ayu.
"Lo lagi nggak mood, ya?" Pertanyaan itu terlontar dari lisan Ersa. Menghentikan lamunan Ayu dalam sekejap.
"Hah? Kenapa?"
"Lo ... lagi nggak mood? Keliatan nggak bercahaya gitu."
Sebuah kekehan lantas terurai. "Bisa aja."
"Lagi berantem sama orang?" tanya Ersa lagi.
"Enggak, kok. Cuma ada masalah aja dikit tadi pagi. Ketemu orang nyebelin."
"Oh, ya? Nyebelin kenapa?"
Ayu diam lagi. Menimang-nimang apakah ia harus menceritakan kejadian tadi pagi atau tidak. Pasalnya Ersa bukanlah orang asing bagi orang yang bermasalah dengan Ayu tadi pagi. Ia takut, kalau bercerita nanti malah membuat chemistry di antara mereka jadi berkurang.
"Gue nggak tau, deh, boleh cerita ini ke lo atau nggak. Tapi kejadian tadi pagi itu secara nggak langsung masih berhubungan sama lo," kata Ayu jujur.
"Hubungan apa?"
"Adik lo namanya Kian, ya?" Ayu kini malah bertanya. Membuat sebuah kerutan muncul di dahi mulus Ersa.
"Iya. Kok lo kenal? Ada sesuatu sama dia?"
"Tadi pagi ada kecelakaan kecil. Gue nggak sengaja nabrak mobil dia waktu mau keluar dari basemen. Serius, nggak sengaja. Mobil dia tiba-tiba lewat dengan kecepatan tinggi dan akhirnya kena mobil gue. Kita berdua nggak kenapa-napa, sih. Tapi bodi mobil penyok. Berantem, deh."
"Astaga. Ada-ada aja itu anak. Lo beneran nggak pa-pa, kan? Lo baru aja keluar dari rumah sakit, Yu. Lain kali lebih hati-hati." Ersa malah tampak lebih khawatir pada Ayu. Sebuah reaksi yang berada di luar dugaan. Ia kira Ersa akan marah karena Ayu menabrak mobil Kian.
Senyum Ayu mengembang. "Nggak pa-pa, kali. Santai aja. Harusnya lo khawatirin adek lo, bukan gue."
"Ngapain gue ngekhawatirin anak aneh kayak dia?" balas Ersa seraya mendengkus.
"Aneh gimana?"
"Ya, aneh. Gue nggak heran, sih, lo nyebut dia nyebelin. Gue yang abangnya aja ngerasa demikian. Dia bocah paling nyebelin yang pernah gue temuin. Udah aneh, nyebelin lagi. Kesel banget gue."
Ayu tertawa renyah. "Kayak love-hate relationship gitu, ya, lo sama dia?"
"Mungkin. Soalnya mau gimanapun dia, ya dia tetep adek gue." Ersa diam-diam menarik sudut bibirnya. Terbayang dalam benak lelaki itu bagaimana tingkah Kian yang selalu membuat ia kesal. "Kalau gitu gue minta maaf soal kejadian tadi pagi. Ntar marahin aja dia kalau ketemu lagi. Kagak jelas amat jadi orang."
"Nggak, deh. Mungkin tadi pagi jadi berantem karena lagi sama-sama panas. Udah telat, eh malah ada kecelakaan segala. Dia keliatan buru-buru gitu. Gue lagi marah-marah, dia malah telponan sama bosnya. Terus ditinggal pergi. Mau marah lagi, tapi gue juga ada jadwal yang harus dikejar. Jadilah gue berangkat dengan emosi. Gak profesional emang. Tapi udah terlanjur."
Pembicaraan mengenai Kian itu harus terhenti di sana karena mendadak lokasi syuting menjadi gaduh. Baik Ayu maupun Ersa, sama-sama mencari sumber kegaduhan yang tercipta. Dahi Ayu berkerut dalam. Tak jauh dari tempat ia duduk, ada seseorang tengah beradu mulut dengan beberapa orang staf. Seseorang yang familiar bagi Ayu.
Ayu memilih untuk bangkit. Mendekat ke sosok yang sangat tidak ia harapkan kedatangannya. Ia mengepalkan tangan kuat. Lalu membelah kerumunan staf yang menahan Danu agar tak menerobos ke lokasi syuting. Ia memberi isyarat pada mereka untuk tak khawatir dan menyerahkan Danu padanya.
"Yu, aku kangen banget sama kamu," ujar Danu sembari hendak memeluk Ayu. Namun, Ayu terlebih dahulu menghindar sehingga Danu tak bisa meraih tubuhnya. Lantas dibalas dengan tampang masam oleh lelaki tersebut.
"Yu ..., jangan gini terus, lah. Aku kemarin khilaf. Tolong maafin aku sekali ini aja. Aku janji nggak akan mengulangi hal kayak gini lagi. Kamu bisa pegang omongan aku."
"Lo nggak malu, ya?" Ayu sungguh tak habis pikir dengan Danu. Bisa-bisanya Danu datang kemari dengan sangat percaya diri. "Kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Kita udah putus. Gue nggak akan kasih kesempatan kedua buat lo. Nggak akan pernah. Lebih baik lo lanjutin aja hubungan lo sama cewek murahan itu."
"Ayu!" Danu memekik kencang.
"Nggak usah bikin keributan di sini. Lo bikin malu gue, sialan," desis Ayu tajam.
"Aku cuma kita balik kayak dulu lagi, Yu. Aku janji akan jadi lebih baik lagi. Aku juga nggak akan mengulangi kesalahan yang pernah aku perbuat. Aku bisa dipercaya, Yu. Jangan biarin hubungan kita kandas begitu aja."
Ayu memejam sambil menarik napas panjang. Menahan gejolak emosi dalam dada. Danu sepertinya tak mengerti bahasa manusia. "Lo pergi aja dari sini. Gue nggak peduli sama kata-kata lo yang receh itu."
"Nggak bisa gitu, Yu. Kita pacaran bukan baru sebulan dua bulan. Aku juga udah bawa kamu ke depan orang tua aku."
"Ya, itu salah lo. Suruh siapa selingkuh?" sahut Ayu enteng. Kalau Danu tak kunjung sadar diri, maka Ayu harus membantunya. Ia harus menyadarkan Danu kalau lelaki itu telah berbuat sebuah kesalahan fatal. Kesalahan yang tak bisa Ayu toleransi.
Kesempatan kedua yang Danu minta, tak bisa Ayu berikan. Bukan karena ia tidak lagi memiliki perasaan pada Danu. Namun, karena kesempatan kedua tidak akan menjamin bahwa Danu akan berubah. Perbuatan dosa biasanya akan menimbulkan efek kecanduan. Kalau Danu sudah melakukannya sekali, bisa saja ia mengulangi hal itu lagi.
Selain itu, sekarang Ayu lebih fokus pada Kian. Laki-laki yang baru ia kenal beberapa hari kebelakang ini, cukup menyita perhatian.
"Udah, ya. Gue udah nggak mau berurusan sama lo lagi. Biarin gue hidup tenang. Mulai sekarang kita hidup masing-masing aja," pungkas Ayu. Menambahkan sedikit sebelum berbalik dan membiarkan security menarik Danu menjauh dari lokasi syuting.

Komentar Buku (19)

  • avatar
    EvianaEricha

    baik

    18/11/2024

      0
  • avatar
    AriantoDesi arianto

    mantap...

    19/05/2024

      0
  • avatar
    MuhamadArkana

    Kamu nanyak

    19/04/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru