Jantung Kanaya berdegup kencang ketika memegang ponsel. Apakah dugannya benar jika yang akan bicara adalah Ahmad ayahnya. Perlahan dia menempelkan ponsel di dekat telinga. Dia bersiap mendengar siapa di seberang sana yang akan bicara. "Halo, Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." "Apa benar ini dengan Kanaya?" Kanaya terdiam sesaat apakah harus menjawab jujur atau tidak. Ah benar, aku harus bertanya lebih dulu dia siapa. Kanaya membatin dan berpikir keras. "Kamu siapa?" "Saya, Ahmad." "Ahmad siapa?" "Ahmad Ishomuddin." Bapak! Kanaya memekik tapi ditahannya di tenggorokan. Dia tidak ingin cepat menyimpulkan. "Iya, Pak. Bagaimana?" "Kanaya, saya ingin bicara dengan ibumu. Apa dia di rumah?" Kanaya tidak menjawab. Dia pergi dari halaman rumah dan menuju jalanan ke sekolah. Dia tidak ingin ibunya mendengar dia menerima telepon. "Maaf, Pak. Ibu sedang tidak ada." "Baiklah, Kanaya. Saya ingin bertemu kalian dan keluarga di situ. Apa kamu bisa memberikan nama dan alamat rumahnu, Nak?" Kanaya hampir melompat kegirangan mendengar ucapan ayahnya. Dia menahan diri dengan mengepalkan tangan lalu meremas ujung kaus. "Iya, Pak. Nanti saya kirimkan alamat dan nama kami." "Apa kalian di situ sehat-sehat semua?" "Iya, kami sehat." "Syukurlah, Nak. Sampai ketemu nanti ya." Suara di seberang melemah dan terharu. Usai mengucapkan salam mereka saling menutup telepon dan melepaskan tangis. Kanaya tidak kuat lagi menahan diri usai ditelepon oleh ayahnya. "Ya Tuhan, kemarin semua orang menghalangiku mencarimu, sekarang malah dia yang menelpon." Kanaya menyelesaikan langkah menuju halaman sekolah yang gerbangnya tidak terkunci. Dia duduk di bangku taman, di bawah pohon mangga yang belum berbuah. Tempat duduk paling menyenangkan buatnya untuk menenangkan diri. Dia mengetik alamat dan nama lengkapnya kemudian mengirim pesan singkat itu. Ada perasaan haru, lega, sekaligus cemas. Dia tidak menyangka jika ayahnya benar-benar menelponnya. Bahkan sekarang dia mengatakan akan datang menemuinya. Kanaya berpikir untuk merahasiakannya dulu dari keluarga di rumah. Dia tidak ingin bertengkar sebelum ayahnya datang. Dari adiknya juga, Nur. Dia tidak ingin dia membocorkannya dan bicara kepada ibu. Sudah hampir magrib, Kanaya bergegas pulang. Dia harus mandi dan menyelesaikan memasak makan malam. "Kakak dari mana sih? Menelponnya jauh sekali." "Ish, dasar bawel." "Dicariin sama ibu dari tadi." Nur mengomel di depan pintu karena Kanaya terlalu lama. Gadis itu lebih cerewet dari ibunya. Kanaya sering merasa kesal mendengar ocehan Nur daripada ibu. "Naya, selesai mandi rebus kan air panas di tungku ya. Ibu rasanya dingin sekali, tidak bisa mandi air biasa." "Iya, Bu. Naya mandi duluan." Ayahnya sudah pulang sejak tadi, tetapi sibuk di pekarangan belakang. Dia mencangkul beberapa lahan untuk menanam pohon lombok. Dia mengajarkan anak-anak agar rajin menanam di sekitar rumah. Selain menghemat belanja sayur, bertani juga bagus untuk menjaga kesehatan tubuh. "Naya, uang komite kamu bagaimana, berapa tagihannya?" "Sudah tidak ada, Pak. Naya dikasih beasiswa dari sekolah." "Benarkah?" Kanaya mengangguk menjawab pertanyaan ayahnya. Dia memang berusaha mempertahankan prestasi di sekolah agar mendapat beasiswa. Se Setidaknya dia meringankan sedikit beban orang tua. Kanaya sudah menyiapkan makan malam di meja. Mereka semua akan makan bersama. Tumis kangkung, ikan rebus dan perkedel jagung. Menu kesuksesan Kanaya. Hatinya sangat senang mendapat telepon tadi. Pikirannya terus teringat kepada ayahnya, Ahmad. ** Kanaya sedang duduk di teras membaca. Minggu lalu dia memenangkan lomba review novel karya Kartika yang berjudul Kekasihku Bukan Jodohku. Buku itu dia Terima kemarin dari kurir. Karena serius membaca dia tidak tahu jika di sampingnya ada ibu sudah duduk sejak tadi. "Kanaya, kamu baca buku apa?" "Ini, Bu. Kanaya dapat hadiah." Saidah duduk di kursi plastik. Dia menghela napas panjang. Kanaya mendengar jelas gelisah ibunya. Pasti soal lanjut mau kuliah. "Naya, selesai kelulusan, apa kamu ingin kuliah?" "Tidak, Bu. Naya mau ke kota cari kerja saja." "Kerja? Kamu mau kerja apa baru lulus SMA." "Kerja apa saja, Bu. Banyak kok yang masih menerima lulusan SMA. Kanaya cuma butuh restu ibu sama Bapak. Kalian jangan khawatir." Saidah duduk termenung di hadapan anaknya. Dia ingin sekali menyekolahkan anaknya ke manapun mereka sukai. Dia tidak ingin anak-anak sepertinya, tanpa tamat sekolah SD. Menjadi bodoh adalah hal yang paling menakutkan bagi Saidah. Kebodohan adalah hal yang paling fatal. Karena kebodohannya dulu dia, Naya, dan Nur, menjadi terlantar di terminal. Tanpa memegang uang, tanpa tujuan entah ke mana. Kembali ke kontrakan juga tidak mampu membayarnya. Mencari suaminya, Ahmad. Dia juga tidak tahu di mana kampung tempat dia tinggal. Satu titik air mata jatuh tanpa permisi. Kanaya melihatnya jelas terkena sorot lampu di teras. "Bu, kenapa nangis?" "Maafkan, Ibu, Nak. Karena belum mampu menyekolahkan kamu dengan benar." "Sudah cukup kok, Bu. Naya termasuk beruntung bisa tamat sampai SMA. Teman Naya, Naisya malah berhenti. Karena setiap sekolah dia harus naik perahu dia tidak pernah datang ketika perahu ayahnya rusak. Sampe sekarang sudah tiga bulan dia tidak masuk." "Kenapa dia tidak tinggal di dekat sekolah biar tidak jauh." "Tinggal di mana, Bu. Mana ada rumah kos di sini. Kalau tinggal sendiri juga urusan makannya bagaimana." "Kasih tinggal dengan kamu di sini, Nay." Naya mendelik mendengar ucapan ibunya. Dia tidak yakin ibunya bicara seperti itu. "Kita masih mampu kasih makan anak orang, Bu?" "Anak orang juga punya rezeki sendiri dari Tuhan, Nay. Kenapa kamu khawatir." Naya sangat girang mendengarnya. Besok Naya akan bicara kepada guru dan kepala sekolah agar mengizinkan Naisya sekolah lagi. Dia akan membantu temannya itu. Mereka memang tidak begitu akrab, tetapi Naya tahu bagaimana rasanya ingin sekolah tetapi tidak mampu biaya. "Bu, Naya mau kasih tahu teman-teman dulu. Mereka pasti suka dan setuju." Saidah percaya jika kebaikan yang akan mereka lakukan mendapat restu dari Tuhan. Semoga juga kebaikan Kanaya membuka jalan lain baginya untuk bisa lanjut kuliah. Kanaya masih duduk di ruang tamu ketika mengirim WA di group kelas dan meneruskan ke semua temannya. Mereka cepat merespon. Beberapa malah mengatakan akan bergantian membawakan bahan makanan untuk Naisya. Kanaya begitu gembira dan terharu mendapat jalan keluar dari masalah Naisya. Telponnya tiba-tiba berdering lagi. Panggilan dari Ahmad. Kanaya gelapan melihat layar ponsel dan hampir saja menjatuhkannya. Karena dia takut ayahnya melihat dia menerima telepon. Gadis itu bergegas ke kamar sebelum panggilan berakhir. Kanaya tekejut beradu pandang dengan ayahnya di samping kamar. "Siapa yang menelpon, Naya?" "Em, anu, em... teman Naya, Pak. Naya ke kamar dulu ya." Dia buru-buru masuk lalu menutup pintu menerima telepon dari ayahnya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (128)
Rina Lemu
jalan cerita yang sengat menarik. mengisahkn tentang sebuah anak murid yang maseh bersekolah dan jalan ceritanya sangat menyedihkan , walau bagaimanapun dia tetap semangat walaupun hatinya sedang tidak tenang
02/09/2023
0
ajIksan
sangat seruhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh dan sangat baguss. sssssssssssssssssssssssssssssss3 ssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssss ssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssss ssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssss ssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssss ssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssss ssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssss ssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssss sssssssssssssssssssssssssssss
jalan cerita yang sengat menarik. mengisahkn tentang sebuah anak murid yang maseh bersekolah dan jalan ceritanya sangat menyedihkan , walau bagaimanapun dia tetap semangat walaupun hatinya sedang tidak tenang
02/09/2023
0sangat seruhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh dan sangat baguss. sssssssssssssssssssssssssssssss3 ssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssss ssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssss ssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssss ssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssss ssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssss ssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssss ssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssss sssssssssssssssssssssssssssss
20h
0Wahh seru banget di episode inii nyaa
20d
0Lihat Semua