logo text

Bab 9 Rasa Terpendam

“Pagi,” sapa Andre tepat di depan wajahku. Aku sedikit terkejut, dia membangunkanku dengan mengecup keningku, tapi lebih terkejut lagi, aku tak menolaknya. 
“Pagi juga, sudah jam berapa?”
“Sudah jam sembilan, kau tertidur sangat lelap, tadinya aku tak ingin membangunkanmu, tapi aku sudah berjanji akan membawa kau pergi jalan-jalan. Mandilah, aku akan menunggumu di bawah.”
“Mau ke mana?”
“Terserah kau, aku akan mengajakmu ke mana kau mau.”
“Aku tak ingin ke mana-mana, bagaimana kalau kita pergi ke tempatmu bekerja?”
“Kau yakin mau melihat tempatku bekerja? Anak-anak teamku ada di sana, aku akan memperkenalkanmu pada mereka.”
“Iya, aku ingin ke sana. Di mana tempatnya?”
“Tak jauh dari sini, Klapa New Kuta Resort, sedang ada pembersihan gedung yang dikerjakan oleh teamku. Pemandangan di sana cukup bagus, mungkin kau mau ke pantainya?”
“Iya aku mau, aku mandi dulu.”
Andre keluar dari dalam kamar, membiarkanku untuk mandi sebelum jalan bersamanya.
Aku masuk ke dalam kamar mandi, melucuti seluruh pakaian yang kukenakan, menyalakan kran, dan merasakan dinginnya air dari shower membasahi tiap inci lekuk tubuhku. Aroma yang kurasakan semalam tak pergi begitu saja dari hidungku, masih sangat terasa. Aku larut dalam lamunan terjaga, membuatku teringat masa lalu.
*
“Jadi ini tempat kerjamu?” Sebuah area dengan bangunan bermacam-macam resort dan hotel di dalamnya, tempat itu benar-benar besar. Andre mengajak ke tempat bekerjanya, memperkenalkanku dengan beberapa anak team miliknya, kemudian mengajakku pergi ke pantai yang tak jauh dari resort.
“Kita duduk di tepi pantai saja, mungkin di sana kita bisa cerita ini itu sambil santai.” 
Andre menarik tanganku dan menggandengnya, tanganku terasa kecil di dalam genggamannya, lagi-lagi aku tak menolak perlakuannya. 
Dari kejauhan, sebuah bangunan dengan bentuk piramid berwarna putih terlihat begitu jelas, itu sebuah gedung untuk pertemuan, ada juga area terbuka di mana biasa diadakan resepsi pernikahan, Andre dan teamnya sedang mengerjakan bagian tersebut. Meski hari sudah beranjak siang, matahari sedang terik-teriknya, aku tak merasakan panas yang menyengat, angin laut menutup segalanya, membuatnya menjadi lebih sejuk.
Aku dan Andre turun ke pantai, aku melepas sandal yang kukenakan—aku tak tahu besok bekerja harus pakai sepatu siapa, karena semua keadaan darurat tanpa persiapan—menentengnya di tangan. Kubiarkan pasir pantai yang lembut menyentuh kedua kaki dan jari-jari.
“Kau senang?”
“Iya, aku suka pantai,” jawabku singkat seraya melayangkan pandang ke segala arah. 
Aku suka, sangat suka pantai, tetapi saat aku berada di pantai, aku teringat oleh dirinya, seseorang yang tak pernah bisa lari dari pikiran dan ‘perasaan’ku, yang membuatku terjebak di masa depan.
“Seperti ada yang kaupikirkan?” tanya Andre tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
“Iya, memang ada yang kupikirkan. Kau pernah menyayangi seseorang, Ndre?” tanyaku tanpa basa basi, dia pasti menganggapku aneh, tiba-tiba saja aku bertanya hal yang tak jelas seperti itu.
“Pernah, bahkan bukan hanya menyayangi seperti pada umumnya, aku menyerahkan seluruh hidup, atau lebih tepatnya seluruh keberadaanku. Kenapa?”
“Seperti apa rasanya?”
“Menyakitkan,” jawab Andre singkat, kemudian diselingi senyum pahit.
“Aku ingin bercerita,” kataku. Iya, aku ingin bercerita, sesuai janjiku semalam, aku ingin menceritakan tentangku. Sepertinya laki-laki yang berjalan sambil menggandeng tanganku ini, seorang laki-laki yang bisa kupercaya. Kenapa aku berkata demikian? Entah, aku sudah bilang aku tak tahu jawabannya, tapi aku tahu dia bisa kupercaya.
Andre menarik napas perlahan, pandangannya lurus ke depan, rambut panjang sebahu miliknya dibiarkannya tergerai dipermainkan angin, menutupi sebagian wajahnya. Kali ini dia terlihat menarik di mataku. “Aku akan mendengarkan, kau bisa mempercayaiku.”
“Benar katamu, mencintai seseorang itu menyakitkan.”
“Sangat menyakitkan, seandainya aku bisa mengubah waktu, aku tak ingin menjadi aku yang dulu, aku ingin aku yang sekarang, Sam. Aku yang dulu terlalu naif, menembus hujan badai hanya untuk mendapatkan rasa sakit karena diacuhkan seseorang setelahnya, dianggap tak berharga sama sekali dengan pengorbananku.”
“Hmmm.”
Kenapa menyakitkan?
Seperti apa cinta yang menyakitkan?
Kalian akan tahu, kalian akan mendengarnya, mungkin setelahnya kalian akan tertawa, menertawai kebodohan yang kulakukan.
Aku memang pernah mencinta dan merindu setengah mati pada seorang laki-laki, dia … Arya. Aku mengenal Arya, sewaktu aku masih SMA, aku memang menyukainya, dia populer di kalangan perempuan, sosoknya dengan rambut gondrong, tubuh tegap, tinggi, kulit coklat yang menggoda, serta wajah yang terbentuk sempurna dengan bibir tipis dan membentuk tajam, mata sayunya yang tak pernah bisa membuatku lupa hingga hari ini, aku masih bisa mengingatnya dengan jelas.
 “Kita duduk di sini, sambil bercerita, bagaimana?” tanya Andre, lalu duduk di atas hamparan pasir putih, dia menarik tanganku, memintaku duduk di sampingnya, aku menurut dan mengikutinya.
“Mau kulanjutkan?”
“Lanjutkan saja ceritamu, aku akan mendengarnya, bahkan sampai nanti senja datang, jika masih belum selesai, aku akan sabar mendengarkan.”
Aku mencintai Arya, sewaktu aku berusia 19 tahun, aku tak mampu mengatakan isi hati, hanya bisa memandangnya dalam diam setiap saat dia melewati depan rumahku. Aku berteman dengan Arya, usianya terpaut empat tahun dariku, dia bukan teman satu sekolah, hanya tetangga satu komplek yang sering bertemu di setiap acara RT, dan bertemu saat aku duduk di lapangan yang tak jauh dari rumahnya, di mana dia bisa dengan jelas melihatku jika aku sedang duduk di sore hari memandangi lapangan bulutangkis yang luas menikmati suasana di sore hari, hanya hal sederhana saja, tak ada yang istimewa.
Bukan, dia bukan laki-laki pertama yang mengisi hidupku, aku bukan seorang playgirl, meski aku sering berpacaran dengan banyak laki-laki, tapi itu semua hanya sekadar pengisi kekosongan, daripada merasa jenuh, berpacaran dengan mereka pun tak berbuat lebih dari hanya jalan-jalan, berbincang-bincang, dan aku juga mengenal batasan-batasan yang sengaja kubatasi. Berpacaran dengan laki-laki pun adalah bentuk dari pelarian perasaan yang kurasakan terhadap Arya. Aku menyukai Arya, mencintainya, tapi saat itu aku merasa lelah, yang aku yakini, dia tak akan berpaling padaku sedikit pun, mengingat banyak sekali pengagumnya saat itu, bahkan dia berpacaran dengan teman baikku, kemudian putus, lalu berpacaran lagi dengan gadis lain, selalu seperti itu, jadi aku merasa aku tak mungkin memilikinya, hanya bisa memendam rasa yang terlanjur ada dan semakin membesar dari hari ke hari.
Aku pun sering mendengar banyak isu tak sedap tentang Arya, seorang playboy yang seenaknya berpacaran dengan perempuan hingga hamil, lalu meninggalkannya begitu saja, seorang pengedar ganja juga pemakai narkotika, uang yang dihasilkannya dari bekerja habis begitu saja untuk hal-hal tak berguna. Anak seorang terpandang di Belitung, karena ayahnya adalah seseorang yang sangat santun dan religius, keluarganya yang ramah kepada siapapun, itu yang aku tahu. Aku menutup mata tentang segala hal buruk tentang Arya, tak membuat perasaanku surut sedikit pun, aku tetap mencintai dalam diamku saat itu. Dia adalah cinta pertamaku.
“Jadi … kau mencintai dia? Masih mencintainya sampai hari ini?” tanya Andre sambil melihat wajahku, aku membalas tatapannya.
“Entah, aku sudah tak paham lagi seperti apa rasa cinta.”
“Sungguh?”
“Mungkin.”
Setahun, dua tahun, hingga empat tahun berlalu, perasaan yang aku miliki masih sama tak ada yang berubah. Hingga pada akhirnya, yang tak kusangka juga tak pernah kuduga, Arya menyatakan perasaannya padaku, rasanya seperti orang yang ingin mati kegirangan, betapa tidak, kau menunggu bertahun-tahun seperti keledai bodoh, dan pada akhirnya kau mengetahui perasaanmu sebenarnya tak sia-sia.
Arya meninggalkan segalanya, meniggalkan ipar perempuan yang menjalin hubungan tak pantas selama bertahun-tahun, demi aku. Arya juga berusaha mengatasi ketergantungan narkotika, mengurangi kebiasaan berjudi, semua demi aku. Dia jujur tentang segala hal kepadaku, mengenai perselingkuhannya dengan kakak ipar, istri dari sepupunya yang sebenarnya mantan sewaktu dia masih SMA, dia mengatakan jika dia menyadari semua perbuatannya adalah sebuah kesalahan, dan dia ingin mengubah segalanya.
“Lalu?”
“Dia bilang padaku, selama empat tahun dia memendam rasa yang sama, hanya saja malu jika dia mengatakan yang jujur tentang perasaanya, aku akan menolaknya karena segala hal buruk ada pada dirinya. Tetapi, aku bukan orang seperti itu, Ndre. Aku mencintai dengan segala kekurangannya, bukan kelebihan yang dimilikinya.”
“Aku bisa merasakan perasaan yang kuat saat kau bercerita sekarang.”
“Apa itu, perasaan seperti apa?”
“Kau masih mencintainya.”
“Mungkin ya.”
Hubunganku dengan Arya berjalan seiring waktu, dia benar-benar berubah, dari pribadi yang dikenal orang sangat buruk, menjadi pribadi yang lebih baik. Hingga bulan keenam hubungan kami, ayahnya meminta Arya kembali ke Belitung untuk bekerja di sana, aku tak melarang, aku membiarkannya pergi dan pada akhirnya kami menjalin hubungan jarak jauh. Dia membuatku sempurna sebagai perempuan, bersyukur karena bisa mencintai laki-laki aku yakin akan menjadi pendampingku.
“Kau masih kuat bercerita?”
“Iya, aku—“
“Matamu berkaca-kaca seolah ada penyesalan yang kAurasakan, Sam?”
“Memang, memang ada penyesalan yang kurasakan, penyesalan yang membuatku merasa sebagai orang paling tolol. Aku—“
“Kemari,”Andre menarik bahuku, mengajakku duduk lebih dekat dengannya, dan menyuruhku menyandarkan kepala di bahunya. “Bersandarlah, agar beban hati lebih tenang.”
“Thanks, Ndre.”
“Tak perlu berterima kasih, kau mau tahu sesuatu?”
“Apa?”
“Aku nyaman berada di dekatmu, hanya dengan melihatmu saat tertidur seperti semalam, memainkan tiap helai rambutmu, kemudian merasakanmu berada di dalam dekap dan tertidur di lenganku, itu sudah cukup bagiku, meski aku lelaki normal aku tak munafik, aku menginginkan lebih, tapi aku sudah berjanji, aku tak akan melakukan apapun padamu.” 
“Aku juga merasakan nyaman yang seperti kAurasakan.”
“Lalu, kau mau mengatakan padaku, penyesalan seperti apa?”
“Penyesalan yang membuatku tak pernah bisa membunuh masa lalu, Ndre.”
“Kenapa?” tanyanya pelan, seolah takut menyakiti perasaanku.
“Aku meninggalkannya, aku meniggalkan Arya menjelang satu bulan menuju hari pernikahan kami. Aku—“
“Kenapa kau meninggalkannya?”
“Saat itu, saat dia berada di Belitung dan aku di Jakarta ….”
Saat dia berada di Belitung dan aku di Jakarta, aku selalu berusaha menjaga diriku. Terkadang saat aku sempat, aku mengunjunginya ke Belitung. Kedua orangtuanya menerimaku. Arya sering mengajakku jalan-jalan ke pantai, sering berkicau saat bangun pagi, memangkuku di atas pangkuannya, sambil berkata, jika dia ingin menceritakan kepada anak cucu kami, bahwa dia mencintai setengah mati seorang gadis tolol, yang membuatnya percaya bahwa cinta itu memang benar adanya. Arya yang dulu keras kepala, dan hancur karena suatu peristiwa membuatnya berubah seratus persen menjadi seseorang yang berbeda, lembut, dan penyayang.
“Kenapa kau meninggalkannya?” ulang Andre.
“Aku akan menceritakannya seluruhnya.” Meski aku tahu, aku tak akan kuat melanjutkannya, tapi aku akan menceritakannya.
Arya yang sempat tak mempercayai cinta, karena ditinggal mati kekasihnya saat dia berusia 18 tahun, cinta pertama yang menyakitkan. Kekasihnya meninggal saat Arya berada di Belitung, kekasihnya meninggal karena over dosis sabu-sabu. Itu alasan yang membuat Arya akhirnya menjadi seorang pemakai berat, dia ingin menyusul Ade, mantan kekasihnya yang sudah meninggal, tapi apa daya, Tuhan masih belum mengijinkannya pergi menjenguk-Nya juga kekasihnya. 
Kemudian Arya melihatku, alasan yang dikatakannya memang membuatku pada awalnya berpikir, aku hanya pengganti Ade, tapi aku menerimanya, karena aku tak ingin kehilangan Arya. Dia berkata, wajahku dan Ade sama, tetapi Arya memilihku bukan karena kemiripan tersebut, karena dia ingin menjadi manusia yang berbeda, tak ingin lagi bermain-main dengan hidup, dan ingin melanjutkan hidup bersamaku.
Kepada Arya, kuserahkan segalanya, karena aku percaya dialah yang menjadi pendampingku untuk selamanya. Hingga hari itu, sebuah hari naas yang menghancurkanku, harga diri, juga cinta, menjadikanku seorang perempuan yang tak tahu lagi seperti apa cinta yang pernah kurasakan, dan membuatku lelah menjalani hidup, meski tak akan lama, tak lagi lama seperti yang kukatakan sebelumnya.
“Apa yang terjadi, Sam? Kenapa kau meninggalkannya?”
“Karena aku tak pantas baginya, Ndre. Aku memilih menjauh, memilih menyakitinya, setelah dia mengubah segala keburukan di dalam dirinya untukku, meski aku tahu dia tetap akan menerima keadaanku saat itu, tapi aku tak bisa mengkhianati tubuhku yang bagiku hanya untuk Arya. Aku pergi meninggalkannya, adalah sebuah kesalahan besar di mana aku tak pernah bisa memaafkan diriku sendiri, aku sulit memaafkan diriku, sangat sulit.”
“Apa maksudmu?”
“Aku … aku tak tahu harus mengatakan apa,” aku menjawab dengan ragu, apakah aku harus melanjutkan ceritaku atau tidak. Bagian tersulit yang tak pernah ingin kuingat lagi, bagian yang membuatku merasa tak lagi utuh, bahkan hancur menjadi kepingan dan aku tak bisa menyatukan lagi kepingan itu menjadi utuh, tak pernah bisa. “Aku … aku takut, aku tak sanggup melanjutkannya!”
“Sam, aku di sini, bahuku masih bisa kau andalkan untuk meletakkan kepalamu, jika kau ingin menangis, tanganku masih sanggup menghapusnya, jadi tumpahkan segalanya, luapkan apa yang kAurasakan, aku … ada untukmu,” jawab Andre, membuat detak jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Entah kenapa, aku merasa aku memang membutuhkan Andre saat ini, ketergantungan yang kusadari dengan benar, aku membutuhkannya.
“Aku meninggalkannya, karena aku diperkosa teman kampusku!”
Demi Tuhan, perasaan yang kutahan, meledak begitu saja, aku tak tahu seberapa sembab kedua mataku. Apa yang kalian rasakan, jika kalian berada di posisiku? Tak ada yang bisa mengubah waktu, tak ada yang bisa mengubah takdir, tidak ada, hanya rasa sakit yang tersisa dari sebuah kesalahan diri yang tak mungkin mampu ditebus.
“Cukup, Sayang. Kau tak perlu melanjutkannya, jika kau tak mampu melanjutkannya,” ujar Andre menyentuh daguku dan menatapku dalam. “Aku tak bisa membiarkanmu membuka luka itu lebih dalam.”
“Aku akan melanjutkannya.”
Aku diperkosa seorang laki-laki di kampusku, dia teman satu kelas, kuakui itu kebodohanku. Saat itu alih-alih merayakan ulang tahun di rumah salah satu kawan perempuan, kami berenam, aku, tiga perempuan kawan baikku, dan dua orang laki-laki, satu di antaranya adalah kakak dari teman perempuanku, dan dia. Mereka menawarkan minuman beralkohol yang dicampur dengan orange juice, rasanya memang terasa sangat enak. Kami minum sampai tak sadarkan diri, aku tak ingat kejadian secara detail, yang aku tahu aku dan laki-laki itu berada di dalam satu kamar tak sadarkan diri, kemudian terbangun di pagi harinya, tanpa sehelai benang pun, di mana aku merasakan nyeri di sekujur tubuh juga di bagian kemaluanku. Tidak, tidak ada bercak darah, seperti yang kukatakan, aku menyerahkan segalanya pada Arya, yang kusesali, aku tak bisa menjaga diri saat jauh darinya. 
“Lalu apa yang terjadi?”
“Aku hamil.”
“Hamil?”
“Lalu keguguran, dan Arya tak pernah tahu itu, yang Arya tahu, aku meninggalkannya karena aku memilih laki-laki lain, di mana Arya telah mengorbankan segalanya untukku; kesenangannya, masa lalu, juga dirinya, demi diriku.”
“Kau meninggalkannya, apa kau pernah jujur padanya, mengatakan yang sebenarnya?”
“Tidak pernah, aku tidak ingin lagi menyakitinya, tidak mau. Arya terlalu baik untuk kusakiti dan mendapatkan perempuan sepertiku yang tidak bisa menjaga diri saat jauh darinya, aku yang memilih pergi, meninggalkannya dengan seluruh perasaan bersalah yang tak mungkin bisa dimaafkan sampai kapanpun, Ndre. Aku meninggalkannya, saat di mana satu bulan lagi, pernikahan akan dilaksanakan. Arya menyumpahi dan mengutukku, jika sampai kapanpun aku tak akan pernah mendapatkan laki-laki sesempurna dia, dan aku menerimanya. Setelah itu, aku tak tahu lagi kabar tentang Arya, mungkin dia sudah menikah sekarang dan bahagia, sedangkan aku masih dengan perasaan bersalahku, tak mampu melupakannya. Hingga akhirnya aku menutup segala akses yang bisa membuatku sadar jika aku masih memiliki hati untuk mencintai seseorang, menjadi aku yangs sekarang, tak peduli dengan perasaan orang lain.”
“Jika kau bisa bertemu lagi dengan laki-laki yang mampu membuatmu merasakan perasaan seperti yang kAurasakan pada Arya, bagaimana?”
“Aku tidak akan membuka hati yang sudah terkunci rapat dan membeku, aku tidak ingin lagi merasakannya, sekali sudah cukup bagiku,” jawabku dengan senyum tertahan.
“Biar kupeluk kau, Sam.”
“Sampai hari ini, aku tak pernah bisa memaafkan kesalahanku,” ujarku pelan, Andre tak akan pernah tahu betapa sakit yang kurasakan, bahkan dua kali terasa sakit ketika aku yang kini seharusnya menginjak masa depan dengan kedua mata lurus tertuju ke depan, kembali berpaling ke arah masa lalu yang tak mungkin bisa meninggalkanku.
Andre memelukku, kedua tangannya seolah membungkus hangat hati yang masih terluka hingga hari ini.
“Mengapa kau tak coba memaafkan dirimu sendiri, Sam? Terimalah kenyataan itu, seperti yang aku lakukan, setidaknya mampu mengurangi rasa sakitmu, mampu mencairkan sedikit hatimu yang membeku.”
“Tidak akan pernah mampu,” jawabku.
“Menerima kesalahan diri sendiri memang susah, setidaknya aku bisa berkata seperti ini, karena aku sudah pernah melakukannya.”
“Aku tahu itu.”
“Tapi setidaknya kau masih lebih beruntung, bagiku kau tak sehancur diriku. Ada bagian dari hatimu yang masih utuh, tak sempat hancur berkeping-keping, karena kau membiarkan es menyaput dan membalutnya, menjadikannya bagian utuh, menunggu waktu yang tepat untuk menyairkannya kembali. Kau lebih beruntung dariku, Samantha.”
Aku lebih beruntung?
Hatiku tersaput es?
Mungkin laki-laki ini benar, aku memang merasakan sakit, merasakan terluka, tapi aku menjadi tak peduli setelahnya, karena memang hatiku masih utuh, meski menjadi dingin dan membatu.
“Bagaimana jika tak bisa mencair?”
“Kau masih memiliki kesempatan untuk menyairkannya, aku masih merasakan perasaan yang sangat kuat ketika kau menceritakan segala hal tentang Arya-mu. Sebuah penyesalan yang sangat kuat, yang kau simpan jauh di dasar kotak, dan hanya kau yang tahu bagaimana membukanya. Jika aku dulu seberuntung kau, mungkin aku tak akan terlanjur hancur seperti sekarang, aku memandang segalanya terbalik dari caraku berpikir dulu, aku lebih mementingkan bersikap rasional, mengutamakan logika, mengesampingkan hati. Kau butuh seseorang untuk memaafkan kesalahanmu? Tak akan pernah ada orang itu, selain dirimu.”
Iya, aku yang memilih jalanku, meninggalkan orang yang kucintai dengan alasan tak ingin membuatnya terluka dengan kebenaran yang tak pernah dia tahu, meski pada akhirnya tercipta luka lain yang tanpa kusadari pun membuatku terluka dan aku tak tahu bagaimana membasuh luka yang ada hingga bisa sembuh seperti sediakala. Kau juga benar, Andre, tak ada orang lain yang bisa membantuku memaaafkan diriku sendiri, selain aku. Tapi bagaimana aku mampu memaafkan saat pikiranku berusaha menolak permintaan hati? Tak akan mampu, entah hingga kapan.
*

Komentar Buku (7)

  • avatar
    RostianarostianaRostiana

    bagus banget

    30/08/2022

      0
  • avatar
    MaduraRiski

    bagus

    10/08/2022

      0
  • avatar
    AyudiaBaihaqi

    kak,,novel yg RAHASIA SANG CEO kok tiba2 ga bisa aq buka ya?aq udah baca sampe bab yg terakhir diupload.pengen buka ada lanjutannya apa ga,tp muncul tulisan **buku sudah dikeluarkan dari rak** padahal msh ada didalam rak buku q..kenapa ya kak?

    23/06/2022

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru