logo text

Bab 14 Bercak Merah?

Mata-mata itu masih terus memandangi Adriana, mereka berbisik-bisik sambil menunjuk ke arah Adriana. Dia benar-benar tak bisa berkutik. Andre berdiri di depan dengan tubuh yang sudah tak mampu lagi tegak, dia tertawa kemudian terus mengoceh-ngoceh tak jelas.
"You know, Adri, aku sudah mengira, kalau kamu pada akhirnya akan menolak. Life is a bitch for me, and I was trying to fuck with it, dan pada akhirnya, aku kalah. Kamu tahu, seberapa tersiksa apa yang kurasakan selama bertahun-tahun menahan perasaan yang terasa seperti penyakit menahun," ujar Andre masih berbicara menggunakan mikrofon. Satu tangannya menunjuk ke arah Adriana, tak ayal para tamu di dalam bar seperti mendapatkan tontonan gratis dan lupa dengan tujuan semula untuk datang ke bar adalah untuk bersenang-senang bukan menyaksikan drama percintaan orang lain seperti yang sedang terjadi seperti sekarang.
Seorang pemuda bule bangkit dari tempat duduk dan menghampiri Andre, kemudian menepuk bahu Andre. "Dude, so whom that you gonna fuck with? Life or bitch?"
"Both were dealing with me, and I was the bitch."
"Hey, Adri, he loves you, why did you do that to him? Dia cinta kamu!" teriak bule tersebut, membuat wajah Adriana semakin memerah menahan amarah dan rasa malu.
Adriana berdiri dan menggebrak meja, wajahnya sudah benar-benar kusut dan kesal. "Hey, ANDRE UTAMA!" teriak Andriana, membuat Andre melotot, kesadarannya seolah kembali, "Loe itu, manusia yang paling nggak punya otak! Loe nyalahin gue?!"
"Adri ..., pahamkah kamu seperti apa rasanya yang aku rasakan sekarang? Aku hancur, sehancur-hancurnya. Aku ... berusaha mencintai, di awal aku terpuruk, aku merangkak untuk bangkit, kemudian melangkah tertatih, di saat aku merasa aku menemukan tiang penyangga untuk harapanku, tiang itu retak dan patah kemudian jatuh menimpaku. Kamu bilang aku nggak punya otak? Apa cinta harus bertanya pada otak?"
"Please ...," Adriana memohon agar Andre menghentikan ucapannya.
"Seandainya aku bisa menyamakan kamu dengan seseorang, kamu itu sama seperti Hitler! Nggak punya perasaan!" tunjuk Andre sambil menatap dengan pandangan sinis. "Kamu gila! Gila karena sudah mengusik hatiku!!!"
"Diam!!!"
"Aku ... sayang kamu. Hehe ...," Andre tertawa terkekeh, pemuda bule di sampingnya berusaha menahan tubuh Andre yang mulai kehilangan keseimbangan. Adriana melangkah maju ke arah Andre, dengan satu kali tamparan yang diberikan di wajah Andre saat itu, membuat Andre lagi-lagi seolah tersadar dari tidur panjang meski kedua matanya semakin sayu. "Kenapa tampar aku?!"
"Satu tamparan buat kebegoan kamu, karena kamu bikin malu aku!"
Sekali lagi ditamparnya Andre.
"Heh, kok ditampar lagi?!"
"Tamparan kedua karena kamu mencintai aku!"
Ketika Adriana hendak menampar wajahnya untuk kesekian kali, Andre menahan satu tangan Adriana, dilemparnya mikrofon ke lantai, sehingga satu tangannya yang terbebas, segera meraih rambut Adriana dan menariknya sehingga kepala Adriana tertarik ke belakang, "Bisa nggak usah pakai kata 'bego'? Tamparan pertama dan kedua kamu sudah memberikan alasan, lalu jika kamu menamparku sekali lagi, alasan apa yang kamu akan berikan?" kedua pipi Andre semakin merah akibat tamparan Adriana.
"Karena aku sayang sama orang 'bego' kayak kamu!"
"Jangan tampar aku lagi. Kita pulang sekarang, aku belum pernah merasakan sesakit ini. Kalau sayang sama aku, kenapa kamu nggak mau menerimaku?"
"Sudah kukatakan, aku butuh waktu berpikir. Aku sudah tahu segalanya, Andre. Masa lalumu, dari Rey. Hal itu yang membuatku harus berpikir kembali, dan sekarang yang aku tahu aku memang menyayangi kamu, tapi untuk mencintai ... hati ini masih belum siap."
Berang dengan jawaban Adriana, Andre segera menyeret tangan Adriana keluar dari dalam bar.
***
"Apa-apaan kamu, Ndre?!"
Andre mengempaskan tubuh Adriana ke atas ranjang, keduanya sudah sampai di villa, bau alkohol dari mulut Andre membuat Adriana menutup hidungnya. "Diam di situ! Bilang kalau kamu benci sama aku, jangan menyayangi aku, biar aku bisa tenang!"
"Aku sayang sama kamu! Tapi aku belum bisa mencintai kamu, paham?!" teriak Adriana. Jawaban Adriana membuat Andre semakin jengkel, pikirannya sudah mulai tak sinkron, dia berjalan mendekati Adriana kemudian berlutut di hadapan Adriana. "Mau apa kamu?"
"Kamu tahu, dadaku sakit, banget," kedua tangan Andre terkepal, tubuhnya meluruh dengan kedua tangan mengepal di lantai, wajah Andre tertunduk, bahunya bergetar, "kenapa sih ..., kenapa aku harus mencintai kamu? Jawab aku, Adri, kenapa?"
"Maaf ..., aku minta maaf. Aku takut, aku belum siap. Aku nggak mau jadi bayang-bayang Anggi!"
"Jadi, kamu sudah tahu semua? Rey yang dengan embernya memberitahu kamu? Siapa yang menganggap kamu sebagai bayang-bayang Anggi? Aku memang mencintai Anggi, itu dulu, dan sekarang yang aku cintai itu kamu, bukan Anggi yang jelas-jelas sudah meninggalkan aku dengan cowok lain. Apa aku perlu, memaksa kamu untuk menyerahkan hatimu?"
"Ma-maksud kamu?"
"Aku memang gila, aku terlalu gila. Aku nggak pernah mengemis seperti ini, nggak. Kalau kamu memang harus aku paksa untuk bisa mencintai aku, maka aku akan melakukannya."
"Kamu mabuk, Ndre. Kamu nggak perlu memaksa apa pun, aku hanya butuh waktu, itu saja."
Andre bangkit berdiri kemudian mendekati Adriana dengan langkah terhuyung-huyung. "Cinta itu bener-bener kayak penyakit, dan orang yang dicintai itulah penyebab penyakit itu." Andre memegang kedua bahu Adriana, direbahkannya tubuh Adriana di atas ranjang. "Kenapa, Adri? Kenapa kamu jahat sama aku? Apa karena masa lalu aku, seorang bajingan yang terlalu baik, kemudian ditinggalkan kekasihnya?" Adriana tak bisa menjawab apapun, tubuh Andre yang berada di atasnya membuatnya sulit bergerak, bau alkohol dari mulut Andre membuatnya mual dan pusing. "Apa aku begitu kotor buat kamu sampai kamu harus berpikir dan membuatku tersiksa?"
"Aku nggak berpikir be-"
Adriana tak menyelesaikan kalimatnya ketika Andre tahu-tahu membekap mulutnya dengan sebuah ciuman, Adriana menutup kedua matanya, bau alkohol itu benar-benar mengganggu. "Bau ya? Siapa suruh bikin aku jengkel."
"Please, Ndre, kamu udah mabuk. Kita bicarakan besok," Adriana mencoba mendorong tubuh Andre untuk menjauh, tapi sia-sia, Andre tak bergerak dari posisinya. "Andre!" Adriana menggelengkan kepalanya ketika Andre terus menciumi dahi dan pipinya. "Andre, ih! Bau!"
"Aku bilang, aku akan memaksa, kan?" Andre meletakkan telunjuknya di bibir Adriana. "Apa kamu akan mengijinkannya?"
"Kamu mau apa?" Adriana bergidik ngeri mendengar kalimat Andre, entah apa yang ada di pikiran Andre. Andre menatap dirinya lain dari biasanya, ada gairah di dalam kedua matanya. "Kamu mau bunuh aku?"
"Enggak. Kamu pernah bilang, kamu akan menyerahkan kepada orang yang tepat, jika aku bukan orang yang tepat, maka aku nggak akan mengijinkan kamu menemukan orang yang tepat itu, karena aku akan memaksa, meminta, dan tak akan membaginya dengan yang lain," jawab Andre dengan dingin. "Aku nggak akan bisa melihat kamu bersama yang lain. Kenapa kamu nggak bisa mencintai aku?"
"Aku nggak mau jadi bayang-bayang Anggi."
"Kamu adalah kamu, kamu dengan segala kekuranganmu, aku mencintaimu dengan segala yang ada, tidak pernah menjadikanmu bayang-bayang siapa pun atau berharap kamu menjadi orang lain, apa itu nggak cukup, Adri?"
"Istirahatlah, Ndre. Nggak perlu kita bahas. Aku harap kamu bisa menghargai keputusanku, aku belum bisa."
Andre tak mengindahkan kalimat Adriana, dengan lembut diusapnya kepala Adriana dan dikecupnya dahi Adriana dengan lembut. "Biarkan aku memilikimu, agar tak ada yang bisa memilikimu selain aku, sampai nanti tiba waktunya, kamu memberikan jawaban yang aku inginkan. Meski aku sudah lelah menunggu, tapi aku tetap akan menunggu sampai titik nadir, Adri."
"Maaf, Ndre. Maafkan aku, karena-"
"Tidak perlu kata maaf. Aku-"
Tiba-tiba Andre ambruk tak sadarkan diri di atas tubuh Adriana. Adriana meringis menahan beratnya tubuh Andre. "Tadi ngamuk-ngamuk, sekarang malah mabuk lalu pingsan di badanku. Tak perlu menunggu terlalu, Ndre, aku hanya butuh waktu, tapi kamu memang keras kepala."
***
Andre terbangun, tak didapatinya Adriana di tempat tidur. Kepalanya terasa sangat berat, seperti tertimpa batu berton-ton. Tirai jendela di dalam kamar sudah terbuka, tak ada cahaya matahari yang malu-malu masuk ke dalam kamar, melainkan sisa-sisa gerimis yang meninggalkan titik-titik air di kaca jendela pagi tadi. Andre memerhatikan dirinya, pakaiannya semalam sudah tak ada di badan, berganti menjadi kaos putih tipis berlengan buntung dan celana pendek, apa Adriana menggantinya? Matanya menangkap setitik bercak merah yang menempel pada seprei. Apa mereka melakukan sesuatu semalam? Pikiran Andre benar-benar buntu, dia benar-benar tak tahu apa yang terjadi semalam, apa dia sudah melakukannya atau menyakiti Adriana? Andre kalap, melompat dari tempat tidur dan berlari keluar kamar. Ruang tamu, dapur, ruang makan, bahkan kamar mandi pun tak memberi tanda-tanda kehadiran Adriana di sana.
"Adri?!" Andre berteriak memanggil Adriana seperti kesurupan. Apa sih yang sebenarnya terjadi semalam? Apa yang sudah dilakukannya? Yang dia ingat, dia memang meminum hampir separuh isi botol vodka yang dibelinya. Andre berlari keluar ruangan, tak ada siapa pun di teras, hanya seorang tukang bersih-bersih villa yang sedang menyapu pelataran.
"Cari siapa, Pak?" tanya petugas bersih-bersih villa, seorang pemuda kurus, berkepala botak, mengenakan seragam hijau-hijau.
"Kamu lihat gadis yang sama saya?"
"Yang mana?"
"Yang satu ruangan sama saya, Mas."
"Saya di sini baru sejam lalu, saya nggak lihat ada gadis yang keluar dari ruangan itu. Memang kenapa, Mas?"
"Nggak apa," jawab Andre singkat.
Kamu ke mana, Adri? Lalu bercak merah itu apa? Apa yang sebenarnya terjadi semalam? Bangsat kamu, Ndre! Maki Andre dalam hati, merutuk diri sendiri.

Komentar Buku (7)

  • avatar
    RostianarostianaRostiana

    bagus banget

    30/08/2022

      0
  • avatar
    MaduraRiski

    bagus

    10/08/2022

      0
  • avatar
    AyudiaBaihaqi

    kak,,novel yg RAHASIA SANG CEO kok tiba2 ga bisa aq buka ya?aq udah baca sampe bab yg terakhir diupload.pengen buka ada lanjutannya apa ga,tp muncul tulisan **buku sudah dikeluarkan dari rak** padahal msh ada didalam rak buku q..kenapa ya kak?

    23/06/2022

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru