logo text

Bab 13 Kau Berarti Untukku

"Saya tahu semua. Satu pria bodoh sedang sekarat menyadari dosa-dosanya dan berharap mati dengan segera. Saya akan mencarikan donor untuk kamu. Lusa saya akan memberi rujukan ke rumah sakit besar, di sana saya juga bertugas, jadi lebih mudah mengawasi kamu. Kita akan memulai melakukan tes untuk mencari donor yang cocok bagi penyakitmu. Kali ini, kamu harus menuruti kata-kata saya, atau saya akan biarkan kamu menggelinjang dengan rasa sakit itu sekarang."
Kata-kata itu terus tengiang di telinga Rey. Ya, dia seorang pria sekarat yang siap menerima hukuman mati kapan saja dengan sensasi rasa yang mungkin melebihi api neraka. Tak ada yang mampu menyelamatkannya, tak ada. Rey melangkah gontai keluar dari klinik, sudah kedua kalinya dalam satu hari ini dia bolak-balik ke klinik menemui dokter yang sama. Hanya 35% harapan yang tersisa, dan bagaimana dia mampu bertahan, jika saat ini dia seperti dihantui dosa berkepanjangan.
Rey menyusuri trotoar, pandangannya menyapu seisi jalan, wajah-wajah bahagia dengan pasangan-pasangan mereka; saling melempar canda, berpelukan, tertawa riang, semuanya seolah menjadi sebuah tamparan bagi kesepian yang dirasa. Rey menghentikan langkah di depan sebuah toko pakaian, dengan tenang dia membuka pintu toko dan melangkah masuk ke dalamnya. Seorang pelayan wanita, masih sangat muda berusia sekitar 19-an menghampiri Rey yang sedang berdiri memandangi jajaran baju-baju yang sedang dipajang. Satu tangan Rey meraih sebuah gaun pendek berwarna merah maroon, dengan bagian belakang memperlihatkan bagian punggung, entah kenapa dia membayangkan Adriana yang mengenakannya.
"Sore, cari gaun ya, Beli?"
Rey tersentak, tersadar dari lamunan, "Oh, maaf, berapa harga gaun ini?" ditunjuknya gaun yang dipegangnya.
"Sembilan ratus lima puluh ribu rupiah, ada diskon khusus kalau sudah jadi member toko," jawab gadis pelayan berwajah manis.
"Saya bukan member, saya mau beli, tapi saya tidak tahu ukurannya."
"Kira-kira orangnya tinggi?"
"Sekitar 175 cm tingginya, ya, untuk ukuran seorang gadis dia kelewatan memang. Apa kira-kira gaun ini tidak terlalu pendek untuknya?"
"Saya rasa cukup, Beli. Kebanyakan yang beli orang-orang asing yang hobi party, dan mereka tinggi-tinggi postur tubuhnya," jawab pelayan itu sekali lagi sembari mengangkat satu tangannya-seolah sedang memberi gambaran tinggi para gadis-gadis asing tersebut.
"Saya ambil ini satu. Kamu tahu di mana yang jual sepatu high heels, atau sejenisnya?"
"Hmmm, banyak kok di sekitaran Jalan Kayu Jati, toko-toko yang menjual sepatu-sepatu, bisa pilih model. Untuk pacarnya ya?"
Pacar? Tak terbesit sedikit pun kini kalimat itu di otak Rey. Sahabat? Sepertinya Adriana tak menganggapnya demikian. Musuh? Tatapannya tak menandakan permusuhan kepada dirinya. Entah apa, tapi bagi Rey, Adriana adalah sesuatu, ya, sesuatu yang bernilai mahal, yang bahkan tak semua gadis memiliki keunikan yang ada pada dirinya. Dia, memiliki sesuatu yang membuat seseorang tak akan bisa memalingkan wajahnya ke arah lain, begitu juga untuk masalah hati, sepertinya dirinya yang masih tak mampu move on setelah sekian tahun. "Dia lebih dari sekadar pacar, sangat berarti bagiku. Bisa tolong bungkuskan gaun ini untuk saya?"
"Oke. Satu saja?" dengan cekatan, gadisi itu melepas gaun dari hanger dan membawanya ke meja kasir kemudian melipatnya. Rey mengangguk dan tersenyum.
***
"Kita mau ke?" tanya Adriana.
"Seperti yang kukatakan tadi, kita akan melepaskan penat ini bersama, aku yang akan bayar. Aku ...," Andre terdiam, kemudian menghentikan langkahnya, ditatapnya wajah Adriana, wajah itu, wajah yang tak pernah berhenti mengusik pikiran dan hatinya.
"Apa?" tanya Adriana sambil mencebik.
"Aku menginginkanmu," jawab Andre.
"Maksud kamu?"
"Adri, masa kamu nggak paham juga sih? Rasanya aku sedang berbicara dalam Bahasa Indonesia, bukan dengan bahasa asing. Aku mau kamu!" Andre memberi penekanan pada kalimat terakhirnya. Sudah cukup rasanya menahan perasaan yang selalu membuatnya mual dan ingin muntah, menahan perasaan baginya seperti sebuah penyakit kronis yang menahun, tidak dibuang semakin menjadi, dibuang belum tentu sembuh, sama dengan perasaannya, dikatakan takut ditolak, tidak dikatakan, maka membuat uring-uringan. Ini gila!
"Hahaha! Kamu bercanda, kan? Nggak lucu, Ndre," Adriana tertawa terbahak-bahak, kemudian mengeluarkan sebungkus rokok dan pemantik dari sling bag miliknya dan menyalakannya. Andre menepis rokok dan pemantik hingga terlempar cukup jauh. Adriana terperanjat dan membulatkan kedua matanya. "Kenapa rokok sama korekku kamu buang!" bentak Adriana.
"Lihat aku!" Andre meletakkan kedua tangannya di pipi Adriana dan menahan kepala Adriana. "Apa artiku buat kamu, jawab?!" Jantung di dalam tubuhnya seakan berhenti berdetak, kena setan apa tiba-tiba Andre menanyakan hal itu kepadanya. Tatapan yang diberikan Andre membuat Adriana tak berkutik. "Jawab aku, Adri."
"Kamu berarti buat aku," jawab Adriana pelan disertai sebuah senyuman. "Sangat berarti, apakah itu sudah cukup menjawab pertanyaanmu, Ndre?"
"Tidak akan pernah cukup, aku selalu ingin mendengarnya darimu, selalu."
"Tapi ..., aku perlu berpikir. Maaf ...."
"Ma-maksud kamu apa?"
"Memikirkan segalanya, Ndre. Saat ini, aku belum tahu apa yang perasaanku inginkan. Aku sayang sama kamu, tapi-"
"Tapi apa?" cecar Andre cepat.
"Aku tak bisa bilang, aku butuh waktu memikirkannya," jawab Adriana. Diturunkan tangan Andre yang masih di kedua pipinya, kemudian dia berbalik memunggungi Andre dan berjalan mendahuluinya masuk ke dalam sebuah bar. Tubuh Andre seperti tersengat listrik berkekuatan ribuan volt mendengar jawaban yang baru saja diberikan Adriana padanya. Apakah dia terlalu percaya diri sampai gila mengatakan perasaannya, berharap Adriana akan menerimanya? Atau dia terlalu naif? Lima tahun, dan hanya dalam hitungan menit, perasaan yang diutarakannya seolah lenyap bersama debu yang tersapu angin.
"Apa yang aku takutkan, pada akhirnya terjadi. Benar-benar memalukan, aku ... arrrghhh!!!" Andre memukul pilar di depan pintu masuk bar dengan kencang membuat orang-orang yang berada di sekelilingnya memandang dengan aneh dan ngeri.
***
"Apa kamu mencintai Andre?"
"Kenapa kamu menanyakan hal itu, Rey?"
"Kamu tahu kenapa Andre menjadi dingin seperti itu?"
"Tidak, aku tak pernah tahu. Ada apa?"
"Sebelum dia mengenalmu, dia memiliki seorang kekasih, dia mencintainya, sangat mencintainya. Mereka berpacaran semenjak kami masih di bangku SMP, Andre ... aku akui dia seorang lelaki yang aneh sebenarnya. Dia tak pernah mau ribut, tak pernah marah, entah bodoh atau bagaimana, dia terlalu baik, dan menciptakan hubungan yang terlalu monoton bagi Anggi, kekasihnya waktu itu. Pada tahun kedua kita kuliah, Anggi hamil dan keguguran, Andre tak pernah diberitahu berita kehamilan Anggi, semua itu diketahuinya ketika Anggi keluar dari rumah sakit dan menemuinya, meminta jarak untuk hubungan keduanya. Anggi yang kecewa karena Andre tak menemuinya di taman pada saat hari ulang tahunnya, di mana dia berniat menyampaikan berita bahagia itu, Andre terlambat datang, Anggi pun pulang meninggalkan Andre yang tiba di tempat tanpa menemukannya di sudut taman mana pun."
"Bagaimana Anggi bisa kehilangan bayinya?"
"Kecelakaan kecil di kamar mandi dan berakibat fatal. Aku tak tahu kenapa Andre bisa memiliki perasaan padamu, apa-"
"Hey, dia tak pernah memiliki perasaan apa pun padaku!"
"Aku tahu segalanya, Adri. Aku pun tahu perasaanmu kepada Andre. Aku bukan orang bodoh."
"Ma-maksudmu?"
"Andre mencintaimu dalam diamnya, sosoknya yang dingin menginginkanmu, tapi aku tak pernah tahu apakah dia mencintaimu karena ...." Rey menghentikan kalimatnya, Adriana yang penasaran mendesak Rey untuk menceritakan lebih lanjut apa yang tidak diketahuinya tentang Andre. "Karena...."
"Karena apa?!"
"Karena kemiripan sifat kamu dan Anggi. Aku mengenal Anggi sangat baik, dia sama seperti kamu, kalian berdua unik. Aku sempat berpikir mungkin saja dia ingin menjadikanmu sebuah pelarian dari rasa sepi yang selalu bersamanya, dia membutuhkanmu, untuk mengisi kekosongan semenjak Anggi meninggalkannya."
"Ucapan kamu terlalu kejam, Rey. Aku nggak pernah tahu kisah Andre, kenapa kamu membukanya saat aku sebenarnya tak perlu tahu?"
"Karena kamu perlu tahu. Aku hanya tak ingin dia membuat kesalahan yang sama ke kamu, itu saja."
"Apa ... perlu menceritakan masa lalunya? Kamu juga nggak perlu menebak-nebak isi hati aku, dengar ... belum tentu dia mencintai aku, paham?!"
"Oh ya? Apa perlu bukti kalau dia mencintai kamu? Sebentar ya, akan aku tunjukkan buktinya." Rey mengeluarkan handphone miliknya, membuka facebook dan memerlihatkan sebuah status yang sudah cukup lama dari akun facebook milik Andre. "Kamu baca, baca huruf kapital depan dari puisi yang dibuatnya."
Andre Saputra
August 13, 2014 at 4.38 am
Aku tanpamu, hancur,
Diriku hanya serupa serpihan,
Riak dalam hati mengusikku,
Ingin mengatakan yang sesungguhnya,
Apa daya saat lidah kelu tak mampu berucap,
Namamu ... tersemat dalam hati,
Anganku menginginkanmu,
Lama ... berapa lama aku harus menunggu?
Entah kapan aku mampu mengatakannya.
Enggan berucap, bukan aku tak mencinta.
- Ruang Hampa Dalam Hati - Jakarta -
Airmata Adriana seketika tumpah di hadapan Rey saat itu, namanya ada pada puisi sederhana yang dibuat Andre. Tidak, seharusnya Andre tak perlu menunggu mengatakannya dan membuatnya tersiksa dengan segala penantian selama bertahun-tahun, kenapa tak langsung mengatakannya dan selalu membuatnya tersiksa?
"Dia nggak mencintai aku, nggak."
"Dia mencintai kamu, bukankah seharusnya kamu senang?"
"Andre mencintai bayangan Anggi yang mungkin ada padaku, bukan aku seutuhnya. Jangan membuat aku menjadi benci terhadap kalian!"
"Kamu egois, Adri!"
"Aku? Aku egois?"
"Kamu egois, dari dulu sampai hari ini, apa kamu nggak menyadarinya? Kamu hanya memikirkan perasaanmu, bagaimana kalau memang Andre mencintai kamu, hah?! Oke, mungkin bajingan satu itu membuatku sama kamu akhirnya berpisah, tapi biar bagaimanapun, dia masih kuanggap sahabat. Kenapa kamu selalu memikirkan kepentinganmu sendiri, atau kamu itu berpura-pura tidak peduli? Kalau memang kamu tidak mencintai Andre, apa kamu akan menerimaku kembali jika aku memintanya, memperbaiki hubungan kita?"
"Aku ... aku nggak bisa menjawab. Cukup, Rey, cukup. Aku bukan orang egois, aku hanya belum siap menerima luka yang sama, seperti yang kamu berikan ke aku dulu. Apa kamu tahu, setelah kamu membuka semua hari ini, apa kamu pikir aku senang? Luka yang ada kini, semakin besar, karena aku nggak tahu harus percaya siapa. Andre dengan masa lalunya yang aku nggak pernah tahu, apalagi dia sangat mencintai Anggi, apa nggak mungkin aku hanya dijadikan pelarian jika aku jadi dengannya? Apa kamu bisa jawab? Beri aku penjelasan."
"Kamu pun meninggalkan aku tanpa mau mendengar penjelasanku. Mungkin ya, mungkin, aku memang dalam posisi bersalah, aku mengakuinya. Andre tahu semua dan mengadukannya padamu, aku tahu saat itu, dia menginginkanmu. Aku tak menyesal dia melakukannya, karena aku berpikir, mungkin dia bisa lebih membahagiakan kamu daripada aku. Tapi apa? Bertahun-tahun aku menghilang, dia masih juga dungu, apa kamu nggak tersiksa menahan perasaan dan tidak mengetahui perasaannya? Sakit bukan?"
"Diam, Rey."
"Aku nggak akan diam, karena ..., aku masih memiliki rasa yang sama."
***
Andre memesan satu botol Vodka, meletakkannya di atas meja, membuat Adriana kesal. Adrian membenci minuman keras, sangat benci.
"Bisa nggak usah minum?"
"Kamu nggak perlu mengatur apa yang perlu aku lakukan dan tidak, Adri. Apa pedulimu?" jawab Andre dingin sambil menuang isi botol ke dalam gelas berukuran kecil. Andre menenggaknya seperti minum air, rasa panas yang membakar kerongkongan tak dirasa, baginya apa yang dirasa di dalam hatinya lebih perih dari cairan yang baru saja membakar kerongkongannya.
Satu gelas habis.
Dua gelas.
Tiga gelas.
Sampai isi botol hanya tersisa separuh. Kedua mata Andre dan wajahnya memerah, menatap nanar ke arah Adriana.
Sebuah lagu melantun, menggema di dalam ruangan bar yang besar, pengunjung bar bertepuk tangan riuh ketika seorang penyanyi wanita yang berduet dengan seorang pria melantunkan lagu tersebut.
Without you, I feel broke
Like I'm half of a whole
Without you, I've got no hand to hold
Without you, I feel torn
Like a sail in a storm
Without you, I'm just a sad song
I'm just a sad song
"Without you I fall. It's like I'm leaving all my past in silhouettes up on the wall," Andre melanjutkan bait lagu yang dinyanyikan penyanyi tersebut. Adriana menutup kedua telinganya, rasa sesak, sakit, membuatnya ingin berlari keluar dari bar, "without you, I'm a beautiful mess, it's like we're standing hand in hand with all our fears up on the edge."
"Cukup, Ndre," ujar Adriana lirih.
"Why should I stop? You're not even want to spend your life with me, you screwed me," jawab Andre yang sudah setengah mabuk. Andre mendadak beranjak berdiri dari tempat duduk dan berjalan ke arah depan-di mana terdapat sebuah panggung tempat penyanyi wanita itu masih melantunkan lagu. Andre benar-benar sudah tak sadarkan diri, diraihnya mikrofon yang dipegang wanita itu dan melanjutkan lagu yang dibawakan wanita itu. Terlihat cengeng dan menyebalkan saat dirimu melihat seorang lelaki dengan tubuh kekar, berwajah tampan, seolah sedang mengemis agar perasaannya dibalas, dengan kedua mata yang berkaca-kaca. "You're the perfect melody. The only harmony, I wanna hear," Andre menyanyikan bait demi bait lagu tersebut. Pengunjung bar mendadak terdiam, ratusan mata mengalihkan pandangan menatap ke arah Adriana.
Adriana menutup kedua mulutnya, tak ada lagi yang mampu diajaknya berkompromi, hati, pikiran, juga tubuhnya menolak. Kedua matanya tak mampu menahan apa yang sejak tadi tak ingin dikeluarkan, cengeng benar-benar cengeng, ingin rasanya berlari keluar, berteriak sekencang-kencangnya memaki diri sendiri, apa benar dirinya egois, sedangkan dialah tokoh yang tersakiti dan terluka-menurut Adriana.
"Hey, Guys! Have you all seen that girl? She is the one who broke my heart, I'm dejected and devastated! I fucking love you, Adri!" Andre menunjuk ke arah Adriana, dia meracau tak jelas di depan dengan suara yang terdengar jelas ke mana-mana melalui pengeras suara yang tersambung pada mikrofon yang masih berada di dalam genggamannya. Sorak-sorai tamu di dalam bar terdengar serupa ejekan di telinga Adriana. "Dia tidak pernah mencintaiku, entah berapa ratus malam aku menunggunya, menunggu agar aku bisa memantapkan hati supaya mampu mengatakan apa yang aku rasakan. Malam ini, ketika hati dan logika menyatu sehingga bibir mampu berucap, dia menolakku."

Komentar Buku (7)

  • avatar
    RostianarostianaRostiana

    bagus banget

    30/08/2022

      0
  • avatar
    MaduraRiski

    bagus

    10/08/2022

      0
  • avatar
    AyudiaBaihaqi

    kak,,novel yg RAHASIA SANG CEO kok tiba2 ga bisa aq buka ya?aq udah baca sampe bab yg terakhir diupload.pengen buka ada lanjutannya apa ga,tp muncul tulisan **buku sudah dikeluarkan dari rak** padahal msh ada didalam rak buku q..kenapa ya kak?

    23/06/2022

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru