logo text

Bab 10 Maaf, Aku Mencintaimu

Wajah yang terbiasa menunjukkan keceriaan dan kekuatan yang lain dibanding perempuan lain, semenjak semalam hingga pagi hari ini terlihat begitu berbeda, dia bukan lagi Si Kuat yang berpura-pura di hadapanku. Semua benteng pertahanan yang telah dibangunnya rapuh dalam semalam, begitu juga dengan perasaanku yang … aku tak tahu bagaimana mengatakannya, tetapi aku merasakan sakit yang dirasakan Samantha, dan aku merasakan hancur, aku hancur karena aku tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa mendengarkan ceritanya, merasakan apa yang dirasakan dan membayangkan. Hati kecilku berkata, “Andre, perempuan ini lemah, tak sekuat yang kaubayangkan, tetapi dia hebat, bertahun-tahun mampu melewati kehidupan tanpa mengeluhkan apa yang dirasakannya.”
Mendengar dia diperkosa, ada keinginan, seandainya saja aku berada di sana saat itu, tentu Samantha tak akan menjadi seperti sekarang, aku pasti bisa menyelamatkan masa depannya, jika saja aku mampu mengubah masa lalu. Hatiku … kali ini … terkoyak, untuk pertama kali setelah bertahun-tahun aku tak lagi berusaha merasakan seperti orang lain pada umumnya, rasa iba.
Saat semalam aku memeluknya, biar bagaimanapun aku seorang lelaki normal, tetapi aku tak mampu melakukan hal lebih selain memeluknya, meski aku tahu, aku bisa memaksanya untuk memenuhi kebutuhan yang selama ini kulakukan secara terpaksa bersama Aura. Bangsat sepertiku selalu berpikir, sex bukanlah hal yang tabu untuk dilakukan jika memang suka sama suka, tetapi aku tak bisa melakukannya dengan Samantha, aku menghargainya, menghargai perasaan dan masa lalu yang masih menutup hatinya.
Seandainya kau tahu, Samantha, masa laluku, sama pahitnya dengan yang kAurasakan. Tetapi di posisiku, perasaanku yang diperkosa oleh keadaan, di saat aku menjadi seorang lelaki baik, yang bersedia memberikan seluruh hidup untuk perempuan yang dicintainya, tetapi kesetiaan, kepatuhan, itu diperkosan oleh sebuah keadaan yang membuatku terlahir kembali menjadi lelaki yang berbeda dari sebelumnya, membuatku dendam pada keadaan, bahkan aku dendam pada dunia, yang bagiku tak adil.
Samantha masih bersandar di pundakku, rasanya nyaman, sangat nyaman, hati kecilku tergelitik untuk melakukan lebih kepadanya, aku berusaha menahannya. Bersamanya seperti menanam bom waktu yang kapan saja siap meledak, karena aku sadar sulit menahannya.
“Bagaimana jika, suatu saat, ada lelaki yang bisa membuatmu membuka hati?” Pertanyaan bodoh, dan aku sudah tahu pasti apa yang akan dijawab Samantha, dia akan berpikir jika ‘laki-laki’ yang dimaksud itu aku.
Samantha mengangkat kepalanya, kemudian menatapku dengan satu alis terangkat, kedua bola mata coklat bening itu terlihat begitu menggoda ketika menatap, “Maksudmu?”
“Sudahlah lupakan saja perkataanku barusan,” aku mengelak, wajahku memanas, menahan malu. 
“Maksudmu, kau mau mencobanya?”
“Eh?”
“Kalimat barusan tertuju pada dirimu sendiri, bukan?” tebaknya dengan tepat.
“Tak ada salahnya, dua orang yang terluka saling memerhatikan, bukan?”
“Tidak, tidak salah, tapi kau paham resikonya, jangan pernah jatuh cinta padaku.”
“Aku tak mungkin jatuh cinta, karena … aku sudah tak tahu lagi, apa itu cinta, Sam.”
“Begitu juga aku, aku lupa seperti apa rasanya jatuh cinta.”
“Kali ini, apa kau ingin mendengar cerita bagianku?”
“Tentu saja, jika kau mengijinkan membuka luka.”
Membuka luka? 
Selama ini aku berusaha memaafkan diri, Tuhan membuatku sedikit mampu untuk bisa memaafkan kesalahanku. 
Apa kesalahanku?
Kesalahanku adalah, dulu aku tak sepintar sekarang, dulu aku terlalu bodoh, sehingga mereka dengan sukarela menghina bahkan menginjak-injak harga diriku, sampai perempuan yang kucintai pun rela melacur hanya demi uang, dan bisa saja uang itu pun aku ikut menikmatinya, di dalam keadaaan serba ketiadaanku. Perempuan yang kuberikan janji untuk menjaga, bahkan kuyakini menjadi pasangan hingga maut memisahkan.
Kesalahanku karena aku orang miskin.
Kesalahanku adalah karena aku menariknya kembali ke duniaku, membuatnya tak bisa lepas karena kesalahannya sendiri.
Kesalahanku … aku lupa seperti apa diri dan kebaikanku yang dulu.
“Aku pernah mencintai dengan seluruh hidup, seluruh keberadaanku, mengubah diriku menjadi pribadi yang setidaknya layak untuk dicintai,” aku memulainya dengan sebuah prolog yang sangat menyakitkan untuk dikatakan, sekarang aku tahu rasanya ketika Samantha menceritakan kehidupannya sebelum seperti sekarang. Sulur-sulur luka yang berusaha disembunyikan, kembali tertarik ke permukaan.
“Lalu?”
“Aku memiliki masa lalu yang buruk, aku seorang laki-laki yang dilahirkan dalam kemiskinan. Papa selalu mengajarkanku, laki-laki datang tampak muka, pulang tampak punggung, yang berarti saat kau melakukan sesuatu tunjukkanlah bahwa kau berani menghadapinya, dan saat kau selesai melakukan perbuatan itu, tunjukkan bahwa kau tidak pernah lari. Aku seorang pengedar di usiaku yang masih 14 tahun, aku melakukannya karena aku benci dengan kemiskinan yang kuhadapi, Sam. Biar bagaimanapun, aku seorang laki-laki, memiliki gengsi tinggi, meski aku tahu, keadaanku yang serba kekurangan.”Aku terdiam sejenak, kuperhatikan Samantha, kedua matanya memandang jauh ke arah pantai, seperti ada yang dipikirkannya.
Samantha tak menolak ketika aku memintanya lebih merapatkan diri ke dadaku, aku membutuhkannya, aku merasakan hal itu, saat ini. Tak kusangka, Samantha mengangkat satu tangannya, dan mengusap kepalaku, serupa ibu menyayangi anaknya. Perasaan damai, yang sudah lupa seperti apa rasanya, kembali kurasakan.
“Kenapa terdiam?”
“Aku berharap, hari ini tak pernah berlalu. Bersamamu, dua puluh empat jam terasa sangat singkat, seolah waktu tak ingin kita bersama berlama-lama, Sam.”
“Hmmm, begitu?”
“Iya, begitu. Aku tak akan memulangkanmu hari ini, aku akan menahanmu lebih lama bersamaku,” kataku. Samantha tak menjawab, dia kembali menyandarkan kepalanya di dadaku, mendekap bahuku, kemudian memejamkan kedua mata. “Aku khawatir dengan keadaanmu, apa itu salah?”
“Tidak, tidak salah sama sekali. Kita nikmati saja waktu yang ada dan masih tersisa untuk dinikmati,” balasnya, tanpa aku paham apa maksudnya. Apakah dia merasakan apa yang sedang kurasakan saat ini?
“Mau kulanjutkan? Atau kau sudah lelah mendengar dan ingin—“
“Lanjutkan selama aku masih memiliki waktu untuk mendengarkannya.”
Iya, aku akan melanjutkannya, sampai akhir meski bukan terakhir.
Aku mengagumi papa, meski aku berasal dari keluarga kurang berkecukupan, tapi papa dan mama, bahkan kakek dan nenek memerlihatkan aku betapa mereka menyayangi satu dengan yang lain, yang membuatku selalu merasakan kehangatan ketika berada di rumah. Tapi, biar bagaimanapun, materi selalu membutakan mata seseorang, aku memang memiliki kehangatan dari kebersamaan yang ada di rumah, tapi aku tak memiliki materi berlebih seperti teman-teman di sekolah. Aku yang serba kekurangan, mencoba mencari jalan pintas dengan menerima tawaran sebagai pengedar sabu-sabu, agar aku bisa terlihat dan tampil lebih layak di mata yang lain. Aku menciptakan fakta di atas kebohongan. Aku bisa menghasilkan uang lebih, bisa membeli apa yang kuinginkan, dari uang haramku sebagai bangsat di jalanan.
Bertahun-tahun hal itu kulakukan, hingga pada akhirnya aku bertemu dengan gadis yang membuatku ingin melepaskan noda hitam yang melekat di dalam tubuhku bertahun-tahun lamanya. Aku bukan seorang religius tapi aku masih memiliki iman aku percaya semua perbuatanku, semua hasil yang kudapat adalah pemberian Tuhan padaku. Aku bertemu gadis itu di gereja, pada saat kami paduan suara untuk Natal. Entah kenapa aku tertarik dengan gadis yang sekarang menjadi perempuan yang mengubahku menjadi seperti hari ini; Andre yang katanya dingin, Andre yang katanya tak mampu lagi ditebak apa yang ada di dalam hati, Andre yang tak pernah peduli dengan dirinya. Gadis itu menjadi seorang perempuan bernama Aura.
“Jika kau menyayangi seorang wanita, tetapi kau belum mampu mengangkatnya menjadi lebih baik maka kau masih seorang bocah laki-laki, bukan seorang pria, karena seorang pria akan mampu mengerjakan seluruh tanggungjawab hingga tuntas, tanpa peduli apapun rintangannya.”
Papa selalu berkata seperti itu, dan aku selalu menanamkan kalimatnya yang menurutku benar adanya.
Tanpa ragu aku menyatakan perasaanku pada Aura, memintanya menjadi kekasihku.
“Jadi perempuan itu masih bersamamu sekarang?”
“Tidak.” Maaf, aku berbohong, aku tak ingin kenyamananku bersamamu lenyap, aku harus berbohong, karena saat ini aku merasakan perasaan yang lain kepadamu, Samantha. “Aku meninggalkannya, karena aku sudah tak sanggup menahan sakit yang lebih sakit dari sebelumnya, dia selalu mengulangi kesalahan yang sama saat aku memaafkannya.”
“Benarkah?”
“Iya.” Aku berbohong lagi, apakah salah tiba-tiba aku merasa tak ingin kehilanganmu, Sam?
“Apa yang dia lakukan sampai kau begitu marah dan kaubilang merasa sakit?”
Sepertinya, aku akan mulai menciptakan kenyataan lain dari kebohongan yang kubuat, sama seperti dulu, tapi aku tak menyesal, sama sekali tidak, aku tak ingin kehilangan waktuku bersama Samantha sekarang, maupun nanti. Bersamanya, meski baru dua hari, aku seperti merasakan refleksi dari kehidupanku yang dulu ada pada Samantha. Salahkah jika aku harus berbohong lagi, meski aku tahu resiko yang nanti harus kuhadapi. Aku melakukannya bukan karena aku ingin mencari perhatian Samantha, tapi rasa nyaman itu, aku tak ingin hilang begitu saja. 
“Aku meninggalkannya saat dia melakukan kesalahan yang sama kesekian kalinya. Saat itu dia berusia 20 tahun, aku dan dia terpaut 6 tahun. Dia membohongiku, pergi bersama laki-laki lain, saat aku berusaha menembus hujan badai hanya karena ingin menemuinya, Klaten – Yogyakarta memakan waktu satu jam, dan aku hanya memiliki motor butut, aku tak peduli saat itu angin kencang, hujan besar, aku tetap pergi ke tempatnya. Saat aku tiba di sana, dia tak ada di kosannya, aku menunggu berjam-jam ketika dia pulang, dia kembali bersama laki-laki yang kukenal, teman gereja kami. Parahnya lagi, dia memerlihatkan sebuah handphone baru, dan aku tahu, aku tak mampu membelikan barang-barang mewah seperti yang diinginkannya, siapalah aku, seorang pemabuk, mantan pengedar, yang kemudian berusaha kembali ke jalan lurus, dengan kuliah kembali hanya dengan modal mengamen, mencintai seorang puteri yang mungkin baginya aku tak hanya sebuah kasut lusuh yang menjadi lap bagi kakinya.”
“Apa kau memutuskannya saat itu?”
“Tidak, itu baru awal. Kejadian berikutnya lah yang membuatku benar-benar terhina.” Aku menarik napas, 75% kejadian yang akan kuceritakan selanjutnya adalah sebuah kebenaran di antar plot kebohongan yang kurangkai nantinya. Menceritakan masa lalu, seperti menginjakkan kakimu di atas sebuah bara api yang hampir padam, tapi panasnya masih terasa.
“Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Andre, sepertinya sebentar lagi senja memaksa kita untuk pergi, atau kau mau tetap duduk di sini sambil melanjutkan ceritamu?”
“Kita kembali ke guest house, atau kau senang duduk di pantai?”
“Tak terasa memang, berjam-jam sudah kita bercerita, aku menyukai pantai, bahkan suasananya, jika kau tak keberatan kita menemani senja, ya sudah kita di sini saja sampai petang.”
Aku meraih tangan Samantha, meremas, kemudian menggenggamnya dengan erat, dia tak menolak sama sekali, tangannya terasa hangat, kuletakkan di dadaku, semakin terasa hangat. Perasaan aneh kembali kurasakan, apa mungkin perasaan yang seperti dulu kembali hadir melalui perempuan ini? Jika memang ini seperti yang dulu pernah kurasakan, maka ini adalah hal tergila dalam sejarah, aku yang sudah tak tahu seperti apa rasanya, bahkan hubungan ‘hambar’ dan ‘terpaksa’ yang kupertahankan hanya karena sebuah janji bersama Aura tak mampu mengembalikan perasaan itu, maka dari itu, Aura selalu bertanya-tanya, seperti apa yang kurasakan di dalam hatiku, dan aku tak menjawab pertanyaannya melainkan beranjak pergi, entah ke mana, setiap dia menanyakannya, meninggalkan Aura dengan tangis yang pecah mengiringi punggungku yang semakin menjauh darinya.
“Baiklah, kita nikmati saja senja ini dengan ceritaku. Setelah itu, kita cari makanan, bagaimana?”
“Terserah,” jawab Samantha melemparkan senyum, dan ….
“Eh?”
“Gak apa, kan?”
“Hmmm, nggak apa.”
Samantha mengecup pipiku, membuatku terdiam dan agak sedikit terkejut. “Aku—“ 
“Kenapa Sam?”
“Kita orang yang terluka, tak ada salahnya, aku membagi sedikit perhatian kepadamu, karena orang yang terluka terkadang lebih memahami yang lainnya, yang juga sama-sama terluka. Kau jangan berpikiran lain padaku, entahlah spontan saja aku ingin melakukannya.”
“Aku tak berpikir apapun, karena aku tak peduli,” jawabku.
*
“Kenapa kau melakukannya, Aura?”
“Kenapa? Aku butuh uang, apa kau bisa memberikannya untuk kebutuhanku? Aku ini seorang gadis, tentu banyak sekali kebutuhan yang harus kupenuhi, kau ingat bahkan gajiku habis untuk membantumu, beli rokok, beli makanan, sampai kadang kebutuhanku sendiri kuabaikan, jadi jangan menyalahkan aku, karena aku melakukannya.”
“Semua karena uang? Kau tahu hal yang paling kubenci? Melacur demi uang, dan kau melakukannya. Jika aku tak mengikutimu kemari, kau tetap akan mengatakan jika kau masih bersama mama untuk pergi arisan, iya kan?”
“Andre, nggak usah digede-gedein masalahnya. Toh, dia juga kakak iparku, bukan orang lain, jadi kau tak perlu takut aku tertular penyakit menular apapun,” jawab Aura enteng saat itu.
Gadis yang kucintai menjadi perempuan yang kesalahannya tak pernah bisa kulupakan, aku membenci sekaligus ‘mencintainya’ dengan caraku kemudian.
“Dia sebelumnya berbohong, saat aku bertanya dia ada di mana. Kau tahu, Sam, aku selalu menyisihkan sebagian uang yang kudapat setiap harinya dari hasil mengamen, hanya untuk mengajaknya makan di luar, memang bukan ke restoran mewah, hanya warteg biasa atau warung kaki lima di pinggir jalan, tapi aku melakukannya dengan tulus, dan dia menghancurkan ketulusanku, bahkan menghancurkan segala kebaikan yang ada pada diriku saat itu, sampai hari ini.”
“Berbohong, bagaimana kau bisa mengetahui kebohongannya saat itu?”
“Tempatku mengamen tak jauh dari dia dan kakak iparnya melakukan perselingkuhan di belakangku, hotel itu tak jauh dari alun-alun kota, di mana aku selalu berada di sana. Aku meneleponnya saat aku melihat dia bersama laki-laki itu, aku bertanya ada di mana dia saat itu, dan dijawabnya sedang bersama mama pergi arisan, aku tahu dia berbohong karena sebelum melihat dia, aku sempat menelepon ke rumah Aura, menanyakan ke mana Aura karena berkali-kali aku menelepon, dia tak mengangkat, dan yang mengangkat telepon rumah adalah mamanya. Aku ingat jumlah uang yang kudapat dan kusisihkan untuk mengajaknya pergi, lima puluh ribu rupiah, ya uang yang sangat berharga untuk mengajak gadis yang sangat berarti, hanya demi menyenangkan hati, dan yang kudapat adalah sebuah fakta menyakitkan, aku—“
“Berhentilah sejenak, kalau kau tak bisa melanjutkannya. Terkadang menceritakan sebuah kepahitan tak bisa hingga tuntas dalam satu hari, karena semakin kau berusaha menuntaskannya, kau hanya akan menyakiti dirimu semakin dalam, di mana kau sebenarnya berusaha mengubur semua itu.” Samantha bergeser sedikit dariku, kemudian menarik kepalaku, aku mengikutinya, diletakkannya kepalaku di atas pangkuannya, memainkan rambutku dengan lembut, aku merangkulkan kedua tanganku di pinggang kecilnya.
“Bisakah aku berhenti sejenak, menikmati saat-saat seperti ini bersamamu, melupakan yang tak bisa kulupakan?”
“Iya, Ndre.”
Aku menikmati kebersamaan ini, membuatku larut dalam lamunanku. Apakah salah dengan apa yang kami lakukan saat ini, apakah akan menjadi sebuah dosa, jika aku pada akhirnya kelak mampu merasakan rasa itu lagi, rasa yang sempat hilang?
“Dia melakukannya tak hanya sekali, Sam. Setelah kepergok olehku, dia masih menemui iparnya, menjual dirinya kepada iparnya yang berengsek, tanpa memedulikan perasaanku, tetap dengan alasan yang sama, membuatku semakin terhina, seolah seisi dunia menertawakan kenaifan diriku. Kemudian…,” aku terdiam sejenak, bagian yang kuceritakan adalah yang sebenarnya, dan aku merasakan kebencian itu kembali bangkit ke permukaan, “aku menyuruhnya pergi, menyuruhnya tak perlu lagi menemuiku.”
“Apakah dia pergi?”
“Iya, dia pergi.”
“Dia tak berusaha menemuimu?”
“Tidak saat itu.”
“Lalu bagaimana saat ini?”
“Saat ini? Maksudmu?”
“Apa saat ini dia tak mencarimu, atau menginginkanmu lagi?”
“Dia selalu menginginkanku, tetapi rasa itu sudah tak pernah sama. Aku merasa gagal saat itu, merasa aku yang miskin tak memiliki apapun, hingga rela pasanganku ditiduri demi mendapatkan rupiah, membuatku merasa aku manusia paling tak berguna. Kejujuran, kesetiaan, yang selama ini diperlihatkan kepadaku oleh mama dan papa, juga nenek dan kakek, sampai akhirnya kematian yang memisahkan mereka, sepertinya tak akan berlaku bagiku. I don’t think that I worth enough to get such loyalty and honesty.”
“Apakah dia ada meminta maaf dan meminta kembali padamu?”
“Iya, tapi aku menolaknya.” Aku tak menolaknya, aku berbohong lagi, Samantha. Aku memang menerimanya, tetapi dengan syarat, Aura akan menerima apa yang pernah dia perbuat, yang akan kubalas 17x lipat beserta bunga depositonya, agar dia bisa merasakan, betapa aku benar-benar tersakiti dan sulit melupakannya, biar bagaimanapun, sebuah luka memang akan sembuh, tetapi bekas dari luka itu tak akan pernah hilang, meski samar akan tetap terlihat.
“Apa itu benar? Lalu ….”
“Lalu apa, Sam?”
“Sudahlah lupakan saja, aku lupa mau mengatakan apa.”
“Katakan saja, I will listen.”
“Baiklah, lalu puisi yang kau buat di facebook, puisi itu untuk siapa?”
Puisi?
Aku lupa, apa pernah aku membuat puisi?
“Puisi yang mana?”
“Puisi teruntuk isteriku, beberapa bulan yang lalu, aku sempat membacanya. Di sana aku juga membaca seorang wanita berkomentar untukmu.”
Samantha membacanya?
Apa yang harus kukatakan?
Jika aku mengakui yang sejujurnya saat ini, apakah dia akan menjauhiku?
Aku belum siap kehilangan Samantha. Aku … ada alasan aku tak bisa berkata jujur, karena aku menikmati kebersamaan bersamanya.
“Oh itu, dia mantanku. Belum lama putus.”
“Oh,” jawabnya singkat. Beruntunglah aku, Aura tak memakai nama asli di akun facebook itu, kalau tidak … Samantha akan menjauhiku saat ini juga, dan aku tak akan rela.
“Kita lanjutkan ceritanya nanti, aku lapar, kita cari makan dulu ya?”
“Iya.”
Biarlah untuk sementara aku berbohong, berada bersamanya, membuatku nyaris waras, nyaris melupakan masa lalu yang sempat membuatku merasa seperti orang buangan. Bertahun-tahun aku tak menemukan rasa yang seperti sedang kurasakan saat ini bersama Samantha, aku tak mencari bahkan tak berusaha mencari rasa itu, karena bagiku rasa itu sudah mati, bersama diriku yang dulu. 
*

Komentar Buku (7)

  • avatar
    RostianarostianaRostiana

    bagus banget

    30/08/2022

      0
  • avatar
    MaduraRiski

    bagus

    10/08/2022

      0
  • avatar
    AyudiaBaihaqi

    kak,,novel yg RAHASIA SANG CEO kok tiba2 ga bisa aq buka ya?aq udah baca sampe bab yg terakhir diupload.pengen buka ada lanjutannya apa ga,tp muncul tulisan **buku sudah dikeluarkan dari rak** padahal msh ada didalam rak buku q..kenapa ya kak?

    23/06/2022

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru