logo text

BAB 89.BISA MEMAAFKAN TAPI TIDAK BISA MELUPAKAN

Mentari pagi kini telah terbit dari ufuk timur sinarnya menerpa dua insan yang kemarin baru saja melangsungkan pernikahan.
Diana terbangun karena sinar mentari menggangu tidur nyenyak nya. Berlahan dibukanya mata Diana dan melihat disebelahnya tengah berbaring seorang pria yang kini telah sah menjadi suaminya. Diana tersenyum melihat suaminya tidur dengan nyenyak.
"Jam berapa kamu tidur mas, sepertinya lelah sekali" Gumam Diana. Dikecup nya kening suaminya sebelum dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri. Beberapa menit kemudian Diana sudah rapi dan wangi, karena sekarang berada di hotel Diana tidak memasak untuk Rudi, dia duduk di samping suaminya sambil menunggu suaminya bangun.
Waktu telah menunjukan pukul delapan pagi, tetapi Rudi belum juga bangun, Diana sudah sangat lapar. Dia memutuskan untuk pesan makanan online untuknya dan juga untuk suaminya. Di Hotel yang Diana tempati tidak menyediakan makanan untuk costumer mereka, kecuali mereka memesan nya.
Tok Tok Tok
Diana membuka pintu kamar pengantin nya dan melihat keluar ternyata pengantar makanan yang mengetuk pintu.
"Seratus empat puluh ya mas, ini seratus lima puluh kembaliannya untuk mas saja" Kata Diana sembari memberikan tiga lembar uang lima puluh ribuan.
"Terima kasih mbak, permisi" Pamit pengantar makanan tersebut. Diana membawa makanan yang dia pesan kedalam kamar. Dan menyiapkan untuk dirinya sarapan. Tidak lupa menyiapkan untuk suaminya juga. Setelah selesai menyiapkan makanan. Diana membangunkan suaminya karena hari sudah semakin Siang.
"Sayang bangun yuk, sudah siang lo sarapan dulu ya" Bisik Diana.
"Emmm sayang lima menit lagi ya" Pinta Rudi yang masih terpejam.
"Tidak sayang ini sudah siang, kamu belum sarapan" Kata Diana sedikit tegas. Rudi bangun dan duduk diatas ranjang dengan mata yang masih terpejam.
"Sayang aku masih ngantuk" Gerutu Rudi.
"Pergi mandi nanti tidak ngantuk lagi mas Rudi sayang" Diana menarik lengan Rudi dan membawanya ke kamar mandi tapi naas kaki Diana tersandung oleh sepatu Rudi yang tergeletak didekat ranjang tidur mereka.
Bruuuk
Keduanya jatuh ke lantai dengan Diana berada dibawah.
"Aaauuuch" Teriak Diana. Seketika membuat Rudi bangun dan membantu Diana untuk berjalan.
"Sayang kamu tidak apa apa" Tanya Rudi yang melihat istrinya meringis menahan sakit.
"Punggung ku sakit mas"
Melihat istrinya kesakitan Rudi menggendong Diana dan dibawa ke ranjang tidur.
"Kamu berbaring saja dulu ya sayang. Maafin aku, kalau tadi langsung bangun pasti kejadiannya tidak seperti ini" Ucap Rudi penuh penyesalan.
"Tidak apa mas, aku yang teledor, tidak melihat kalau dibawah ada sepatu jadi"
"Astaga berarti tadi gara gara sepatu ah teledor nya aku" Gumam Rudi.
"Sudah mas, buruan mandi aku tidak apa apa, aku sudah lapar ini"
"Kamu ternyata masih sama ya sayang dari dulu tidak kuat menahan lapar" Ucap Rudi sambil cekikikan.
"Pagi pagi sudah menggoda awas ya" Gerutu Diana. Sambil tertawa lebar Rudi melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Tidak butuh waktu lama dia sudah kembali dari kamar mandi.
"Ih sayang kamu mandi gak sih kok cepet banget"
"Mandi dong sayang, ni cium harum kan" Diana menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Ayo makan setelah itu kita pulang" Ucap Rudi dia membawa nasi yang sudah disiapkan Diana tadi.
"Kamu pesan makanan tadi sayang" Tanya Rudi.
"Iya sayang, habisnya nunggu mas bangun lama banget, aku keburu kelaparan"
"Ya sudah ayo makan sini mas suapi" Mereka berdua akhirnya makan dengan khitmad. Rudi sangat telaten menyuapi Diana.
Sore ini Rudi dan Diana sudah berada dirumah. Setelah membersihkan dan menata tempat tinggal mereka, kini mereka sudah duduk manis di teras belakang. Teras yang menghadap kearah kolam renang serta taman yang begitu luas. Beberapa buah lampu taman sengaja Rudi nyalakan untuk penerangan disaat mereka duduk di sana.
"Dik mas pingin tau kisah kamu selama mas tidak ada disini" Rudi mengawali percakapan Diantara mereka.
"Sangat buruk mas, hidup tanpa kamu duniaku gelap"
"Ada apa sayang"
Diana menceritakan saat dia mendengar kabar kecelakaan Rudi kabar menghilangnya Rudi serta Rudi di nyatakan meninggal, dan itu semua membuat Diana depresi berat, hingga Harun harus membawanya ke rumah sakit jiwa. Karena pengobatan yang dilakukan di rumah tidak membuahkan hasil. Setahun penyembuhan hingga Diana pulih total. Walaupun terkadang Diana harus masih meminum obat dari dokter untuk mencegah depresi itu kambuh lagi. Apalagi disaat Diana mendapatkan masalah. Obat itu wajib dia minum.
"Mas Harun lah yang selalu setia menemaniku mas, juga merawatku hingga sembuh" Gumam Diana.
"Harun sangat mencintai kamu ya sayang"
"Iya mas, sangat"
"Lalu kenapa kalian tidak menikah" Tanya Rudi ingin tau.
"Karena ibu mas Harun tidak merestui kami, dua hari sebelum mas bertemu dengan ku, aku dengan mas Harun baru saja pulang dari Surabaya, dari rumah ibu mas Harun dan malam itu juga kami membatalkan tunangan kami.eh sorenya aku bertemu dengan kamu mas"
"Mungkin ini semua kehendak Tuhan sayang.ini jalan yang harus kita lalui untuk bersama"
"Iya mas, tapi mas juga harus tau satu hal"
"Apa itu sayang"
"Aku pernah melakukan hubungan bersama orang lain selain mas Harun dan kamu mas" Ucap Diana dia menundukan kepalanya.
"Dengan siapa dik" Tanya Rudi sedikit kecewa.
Diana menceritakan pertama kali pertemuannya dengan Roi di resto setelah lama tidak bertemu. Dan janji keluar malam tahun baru, serta nasehat Harun yang dia abaikan. Hubungan dengan penuh dosa yang mereka lakukan dimalam itu serta janji manis Roi yang kemudian Roi ingkari. Roi yang hilang tanpa kabar setelah mendapatkan Diana. Serta kemarahan Harun yang melihat Diana dihianati oleh Roi, rasa kecewa Harun terhadap Diana.
"Sudah dik lupakan semuanya, maafkan dia. Yang penting kita sudah bersama itu semua jalan yang Allah tunjukan buat kamu agar menemukan aku, kita harus berterimakasih kepada Allah dik, karena Allah lah kita bisa bersatu. " Kata Rudi sambil tangan kanannya merangkul pundak istrinya. Sedangkan tangan kirinya menggenggam jemari istrinya.
"Iya mas, aku pasti memaafkan nya tapi untuk melupakan semua itu rasanya berat mas. Aku tidak akan bisa melupakan penghianatan seperti itu aku merasa tertipu mas" Ucap Diana sembari memanyunkan bibirnya.
"Masih sore sudah manyun minta dicium ya" Goda Rudi. Seketika membuat Diana merasa malu, dia menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Rudi mengusap lembut rambut Diana. Diangkat nya kepala Diana hingga wajah mereka beradu pandang. Ciuman di sore hari dengan sinar senja menerpa air kolam yang membuat suasana sore semakin romantis. Hasrat yang mereka pendam dalam kerinduan sekian lama kini bangkit kembali. Rudi menggendong Diana memasuki kamar pribadi mereka, dan persatuan suami istri yang diridhoi Allah kini telah terjadi. Dua insan menyelami manis madu berdua dalam ikatan halal.

Komentar Buku (42)

  • avatar
    Almeera Azzahra

    bagus ceritanya tetap semangat berkarya Thor....

    17/04/2022

      1
  • avatar
    fithriaaayu

    bagus bangett

    21/09/2025

      0
  • avatar
    ClzFais

    menarik

    09/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru