Beranda/Gadis Penebus Hutang/
Bab 94 Ambruk
Suasana pagi di kediaman Wijaya hari ini tidak seperti biasa. Para pelayan hilir mudik menaiki anak tangga menuju kamar Rangga dengan wajah yang terlihat cemas.
Nyonya Yuni yang sedang membaca majalah harian di buat heran, ada apakah di lantai atas sana. Hingga fokusnya benar-benar terganggu oleh suara salah satu pelayan yang berteriak memanggil yang lain.
"Cepat! Tuan Rangga sudah marah sejak tadi." Pelayan itu menyusul temannya yang berada di dapur. Mengambil alih minuman yang entah itu apa, lantas bergegas menaiki tangga lagi.
"Bik, sebenarnya ada apa? Kenapa sejak tadi ribut sih?" Perempuan itu sampai meletakkan majalah di tangan. Menatap kesal ke sekitar tangga, lalu kembali bertanya pada pegawainya tadi, "Siapa yang sakit? Kenapa kalian terlihat panik?"
Sebelum pelayan sempat menjawab, Tuan Wijaya sudah muncul lebih dulu dan melayangkan pertanyaan yang sama. Tapi bukan ke pelayan, melainkan istrinya sendiri, "Ada apa, Ma? Kenapa berisik sekali?" Aktifitas pagi Tuan Wijaya juga sedikit terganggu dengan suara berisik dari dalam rumah. Padahal sejak tadi ia berada di taman belakang dan tengah membaca surat kabar tadi.
Nyonya Yuni hanya mengangkat bahu tidak tahu, ia pun sama terganggunya dengan pria itu, "Entahlah. Mereka sibuk bolak-balik dari kamar Rangga. Apa dia sakit?"
Saat rasa penasaran mulai melanda, dua orang tua itu memilih melihatnya langsung. Berjalan beriringan menaiki tangga, dan melangkah menuju kamar putra satu-satunya itu.
Di dalam sana Rangga sedang berwajah panik. Sebenarnya sejak tadi ia sudah berpakaian rapi dan hendak melangkah keluar kamar. Tapi, sang istri tiba-tiba merajuk, membuatnya kembali memutar tubuh dan menghampiri wanita itu.
Pagi ini Andira semakin aneh. Rangga merasa jika istrinya bertambah manja saja. Apalagi sudah dua hari yang lalu wanita itu selalu menahannya saat ia akan berangkat ke kantor. Andira selalu mengatakan jika ia masih merindukannya, ia masih ingin di temani di rumah.
Meski ungkapan itu sukses membuat Rangga mengembangkan senyuman, tetap saja ia merasa bingung dengan perubahan sikap istrinya yang seperti itu.
"Bisakah kamu libur? Aku tidak mau sendirian di rumah," ucap Andira suatu pagi. Wanita itu terlihat sedih saat ia hendak berpamitan untuk berangkat ke kantor.
Rangga yang mendengarnya hanya menghela napas panjang. Sudah sejak dua hari yang lalu Andira selalu mengatakannya jika ia hendak berpamitan, hal itu memaksa Rangga untuk kembali meletakkan tas kerja dan berjalan ke arah tepian ranjang, "Kamu kenapa? Apa ada yang sakit?" Rangga memeriksa suhu tubuh istrinya yang terlihat baik-baik saja.
"Bisakah hari ini kamu tidak berangkat ke kantor?" Andira mengulang pertayaannya lagi. Ia sendiri merasa aneh dengan sikapnya belakangan ini yang seakan tidak ingin di tinggal oleh lelaki itu sedetik saja.
"Kamu kenapa?" Lagi-lagi Rangga membalasnya dengan pertanyaan lagi. Hingga membuat Andira kesal dan langsung memalingkan wajah, "Aku ingin di temani. Aku tidak ingin kamu berangkat ke kantor," ucapnya dengan ketus.
Rangga sampai melongo dengn permintaan aneh istrinya. Apa tadi, ingin di temani? Bukankan di rumah itu ia tidak hanya tinggal sendiri. Ada Mama, Papa, serta para pelayan yang siap kapanpun jika di butuhkan.
"Tapi aku mau kamu yang menemani?" Rangga yang sudah hampir terlambat terpaksa mengabaikannya. Ia hanya mengecup puncak kepala wanita itu sekilas lalu menggandengnya menuju meja makan.
Namun tanpa disangka. Waktu makan yang biasanya hening mendadak sedikit canggung karena rengekan wanita itu. Andira terus memohon pada suaminya agar meliburkan diri untuk menemaninya.
Hal itu sontak membuat Nyonya Yuni melotot tajam, perempuan itu sampai memaki menantunya sendiri di depan suami dan juga sang putra, "Dasar, wanita tidak tahu diri! Rangga itu banyak kerjaan, bisa kah kau tidak menahannya seperti itu?"
Rangga juga mendengarnya. Ia hanya mengusap punggung istrinya pelan untuk menenangkannya. "Tapi, aku mau suamiku menemaniku di rumah, Ma. Apa itu salah?" Sekali lagi Rangga heran dengan keberanian Andira yang membantah terang-terangan ucapan mamanya tadi. Biasanya wanita itu hanya diam dan memilih menghindar agar tidak sakit hati.
"Kau bilang apa! Hanya menemanimu di rumah?" Perempuan itu hampir saja meledakkan amarahnya, beruntung Tuan Wijaya segera mencegah dan membawanya menjauh.
Setelah kepergian sang mertua, Andira terlihat menunduk, kristal bening yang sejak tadi ia tahan luruh begitu saja melewati pipi. "Aku juga tidak tahu, kenapa aku jadi manja seperti ini," Andira berbisik pelan. Dengan air mata yang terus membanjiri wajah, wanita itu kembali berucap, "Maaf, jika aku hanya merepotkanmu." Setelah itu Andira bangkit dan membawa dirinya cepat menaiki anak tangga.
Pagi ini Andira tidak lagi merengek atau menahannya untuk ke kantor. Andira hanya masih betah memeluk Rangga saat lelaki itu sedang merapikan diri. Rangga tidak keberatan, meski ia sedikit kesusahan saat memasang dasi, lelaki itu berusaha sebisa mungkin untuk tidak mengecewakan istrinya.
"Aku berangkat. Kamu baik-baik di rumah." Rangga mengecup kening wanita itu lembut, dan menarik tubuhnya ke dalam pelukan.
Andira hanya diam menerimanya. Tidak protes atau berbicara apapun. Tapi saat Rangga hendak melepas pelukannya. Ia merasa ada yang aneh. Andira terlihat seperti menahan sesuatu. Wajah wanita iti sedikit pucat, dan keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya.
"Huek .... !" Andira tiba-tiba saja muntah dan mengenai pakaian kerja milik suaminya. Wajah wanita itu semakin memucat tatakala melihat ekspresi wajah Rangga yang seperti hendak marah, "Maaf ...?" Ia meraih tissu dan mencoba membersihkannya.
Tangan Andira masih sibuk membersihkan sisa muntahan di baju sang suami. Tapi, lagi-lagi perutnya seperti di aduk-aduk. Secepat kilat ia berlari memasuki kamar mandi, dan ...
"Huek ...!" Andira menumpahkan lagi semua isi perutnya yang tersisa. Wanita itu memijit tengkuk belakangnya sendiri dan menyandarkan tubuhnya ke arah tembok.
"Sayang, kamu kenapa?" Rangga masuk dengan wajah cemas. Apalagi melihat wanita itu yang memucat dan bersandar pada dinding.
Andira hanya menggeleng. Ia tidak ingin melihat suaminya panik dan berakibat membatalkan rencananya untuk ke kantor.
"Aku tidka apa-apa. Aku baik-baik saja." Meski sangat lemas. Andira mencoba menopang tubuhnya untuk tegak.
Rangga langsung membopong Andira dan membawanya kembali ke atas ranjang, "Tunggu, aku akan memanggil pelayan untuk membuatkan sesuatu untukmu." Lelaki itu berjalan cepat keluar kamar, dan tidak lama kembali lagi.
"Tuan, ini minuman hangat yang Anda minta." Pelayan mengantarkan rebusan jahe seperti permintaan Rangga tadi, lantas segera di sodorkan ke arah istrinya oleh lelaki itu, "Minumlah, ini akan sedikit mengurangi rasa mual."
Meski ragu, Andira tetap menerimanya. Di raihnya cangkir yang berisikan minuman tadi, dan meneguknya pelan-pelan.
Namun, lagi-lagi perutnya menolak untuk itu. Andira segera berlari dan memuntahkan lagi minuman yang baru beberapa detik ia telan.
Andira merasa sangat lemas. Ia benar-benar tidak bisa lagi menopang berat tubuhnya sendiri.
Yang di belakang sana juga tak kalah panik. Dengan tergesa Rangga menysul istrinya masuk ke dalam kamar mandi. Melihat Andira yang berpegang pada pinggiran washtafel dengan tubuhnya yang bergetar, jantung Rangga seakan hendak lepas dari tempatnya. Apalagi sedetik kemudian ia lihat tubuh itu sudah ...
Brukkkk!
Detik-detik menuju ending yah teman-teman.
Bagi yang ingin tau novel apa saja yang aku tulis, silahkan add fb MaLana dan tanyakan langsung.
Jangan lupa sawerannya dong😊
Thankkiuuuu😘Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (162)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
menarik jalan ceritanya👍👍👍
13/04/2022
3sangat bagus cerita nya
6d
0bagus
07/07
0Lihat Semua