Andira menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia pasrah jika hari ini adalah terakhir kalinya bisa melihat dunia. Bahkan dalam hati ia terus berucap, meminta maaf untuk mereka-mereka yang ia sayangi dan tak sempat ia temui. Saat mobil semakin mendekat, jantung wanita itu kian bertalu. Menanti detik-detik terakhir yang sebentar lagi akan tiba. Namun, pada hitungan ketiga, Andira tidak merasakan apapun. Mobil yang tadi hendak menabraknya juga tidak lagi terdengar suaranya. Andira jadi bertanya-tanya sendiri, apa ia sekarang sudah mati? Ternyata kamatian tidak sesakit yang ia bayangkan, batin wanita itu. Andira membuka mata, menarik kedua tangannya yang tadi ia gunakan untuk menutupi wajah. Ia membeku menatap sosok lelaki yang sudah berdiri di depannya. Dan lebih herannya lagi lelaki itu nampak tersenyum sembari membawa langkah kakinya mendekat. "Kenapa? Kau menganggap ini mimpi lagi?" Sosok itu bersuara, membuat wanita itu seketika membulatkan kedua matanya. Andira melihat sosok Rangga yang tersenyum ke arahnya, dan detik kemudian lelaki itu mendekat, dan semakin dekat. "Ayo pulang." Lelaki itu meraih tangan Andira, menariknya pelan agar mengikutinya ke mobil. "Tidak!" Ia masih waras. Bagaimana bisa Rangga tidak merasa bersalah sedikitpun setelah apa yang ia lakukan tadi. "Kenapa?" Andira mendengus kesal. Ia membuang wajah ke samping dan masih memepertahankan posisinya. "Jangan mengambil keputusan saat dalam keadaan marah." Rangga mengucapkan itu. Ia berbalik dan menatap wajah istrinya lekat. "Kenapa menyusulku?" Ucapan itu lolos begitu saja dari bibir Andira, membuat Rangga semakin melebarkan senyuman. Ia tahu istrinya itu tengah cemburu. Tapi jujur ia sangat menyukainya. "Karena kamu istriku. Tidak mungkin aku membiarkanmu pergi begitu saja." Jawaban itu belum cukup bagi Andira. Ia masih memandamg sinis ke arah lelaki itu. 'Aku tidak akan luluh lagi!' ucap Andira dalam hati. "Lalu, jika aku istrimu, lantas kamu bisa berbuat apapun, begitu?" Rangga semakin gemas melihat penolakan dari istrinya. Andai saja ia sedang tidak berada di tempat umum, pasti ia akan langsung ... "Berbuat apa? Ayo pulang, aku akan menjelaskan padamu di rumah." Rangga menjawab itu. Ia ingin sekali menjelaskan mengenai kejadian tadi, tapi nampaknya Andira sudah terlanjur marah. "Kenapa harus di rumah? Kenapa tidak di sini saja?" Andira masih pada pendiriannya. Keliatannya wanita itu sangat cemburu karena melihat ia dengan Laura tadi. "Jangan bandingkan dirimu dengan wanita itu, karena dia tidak ada apa-apanya." Rangga lebih mendekat, meraih kedua tangan wanita itu yang wajahnya masih di tekuk masam. "Tidak ada apa-apanya bagaimana? Jelas-jelas kamu menyukainya, hingga memeluknya!" Jawaban Andira sontak membuatnya tergelak kencang. Rangga semakin menikmati ekspresi cemburunya wanita itu. "Kenapa menemuiku? Kenapa tidak menemani dia saja?" Andira melengos. Ia sudah tidak tahan mengungkapkan sesuatu yang sejak tadi mengganjal di hati, "Temani saja dia. Temani, temani ... akhhhh!" Andira merasa tubuhnya yang tiba-tiba melayang. Rangga menggendong tubuh mungil itu dengan gerakan cepat, lantas membawanya masuk ke dalam mobil. "Diam, dan dengarkan penjelasanku dulu." Ia mendudukkan tubuh istrinya pelan, lantas menatap ke arah wanita itu lagi. "Penjelasan, penjelasan apa? Penjelasan kalau kamu masih menyukainya?" Rasanya Rangga senang sekali hari ini. Harusnya ia berterima kasih pada Laura, karena berkat perempuan itu ia jadi tahu bagaimana perasaan istrinya. "Lihat ini, apa aku terlihat menyukainya?" Rangga menyerahkan ponsel yang sudah terhubung dengan CCTV di ruangannya. Di sana memperlihatkan kejadian yang sebenarnya terjadi. Termasuk saat Laura pura-pura pingsan, lantas langsung bangun saat melihatnya sudah tidak ada lagi di ruangan itu. "Jadi ....?" Wajah Andira memerah, menahan malu yang tiada terkira, " A–ku ....!" Sari yang baru saja hendak mendaratkan tubuhnya di kursi mendadak harus bangkit lagi, ia membawa langkahnya cepat ke ruangan milik Rangga yang pintunya masih terbuka lebar. [Usir mereka. Pastikan jika mereka tidak membuat keributan di kantor lagi!] Pesan dari Rangga. Wanita itu menghembuskan napas berat. Kenapa juga ia harus berurusan lagi dengan wanita galak itu? Tapi, sebelum ia sempat masuk, dari dalam sana terdengar obrolan dari satu keluarga itu. "Jadi kamu sengaja pura-pura pingsan agar wanita itu kesal dan membenci Rangga?" Perempuan paruh baya itu tersenyum, merasa bangga dengan perbuatan Laura tadi. "Tentu saja, Ma. Aku sengaja memancing amarah Andira agar ia mau melepaskan Rangga." Yang ada di depan pintu mengeram kesal. Tarnyata dugaannya benar, Laura sengaja mengambil kesempatn untuk membuat hubungan keduanya semakin renggang. "Ayo pulang!" Tak lama juga terdengar suara Tuan Wilson. Sari buru-buru melangkah pergi agar keberadaannya tidak di ketahui oleh orang-orang di dalam sana. **** Di sebuah rumah sederhana, wanita cantik bersama dengan seorang bocah kecil yang baru saja berusia empat tahun tengah menyantap sarapan paginya. Di sebelah merek juga terlihat wanita paruh baya yang ikut duduk dan menikmati sarapannya dengan tenang. Semenjak sidang keputusan perceraiannya dengan Yudi, Nayla mengembalikan rumah mewah yang selama ini ia tinggali kepada pemiliknya. Ia memutuskan untuk tinggal di rumah sederhana yang baru saja ia beli dari hasil tabungan saat ia masih bekerja dulu. Nayla tidak ingin Yudi mengungkitnya. Apalagi jika suatu saat lelaki itu menikah lagi, bisa saja istri barunya tidak akan rela membiarkannya tetap tinggal di rumah itu. "Nay, bagaimana rencanamu selanjutnya?" Bu Sri membuka suara. Meski statusnya sekarang adalah mantan mertua, Nayla tetap mengijinkannya tetap tinggal dan membantunya mengurus Mutia. Wanita itu mendongak, meletakkan sendok yang sedang ia pegang, lantas membuka suara pelan" Aku akan cari kerja, Bu. Aku akan berusaha memenuhi kebutuhan kita semua." Nayla menatap wajah ibu mertuanya yang terlihat gelisah, "Ibu tidak usah khawatir lagi ya?" Bu Sri hanya menghembuskan panas perlahan. Sekarang ia benar-benar merasa menjadi beban untuk wanita itu. Kemarin setelah mereka resmi berpisah, sebenarnya ia ingin ikut dengan putranya sendiri. Tapi saat mengingat Mutia, Bu Sri jadi tak kuasa untuk jauh dari cucu satu-satunya itu. "Maafkan Ibu, Nak. Maaf, jika ibu merepotkanmu," ungkap wanita itu dengan wajah yang terlihat sungkan. "Kenapa Ibu berkata seperti itu? Aku sama sekali tidak pernah merasa di repotkan. Aku malah senang jika Ibu ikut bersama kami" Ungkapan Nayla sontak membuat kedua matanya berkaca-kaca. Ada kristal bening yang menggenang yang siap meluncur dari kedua sudut matanya. "Sekali lagi makasih, Nak. Ibu beruntung memiliki menantu sepertimu. Mungkin saja Yudi yang bodoh. Bodoh karena telah menyia-nyiakan wanita sebaik dirimu." Bu Sri hanya mengatakan itu dalam hati. Ia selalu tak kuasa jika mengingat kelakuan putranya yang sudah sangat keterlaluan. Bagaimana ia mengingat Yudi dengan senang hati mengabulkan permohonan dari Nayla. Bahkan tidak terlihat sedikitpun raut penyesalan di wajahnya. Bu Sri melirik Mutia yang masih asik menyantap sarapannya. Gadis kecil itu belum paham sama sekali dengan apa yang menimpa kedua orang tuanya. Hingga sesekali masih sering menanyakan perihal kepulangan sang papa. Gadis kecil itu mendongak, menatap wajah sang nenek yang sejak tadi memperhatikannya. Dengan mulutnya yang masih di penuhi oleh makanan, Mutia membuka suaranya, "Nek ...! Kapan kita menyusul Papa lagi?"
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
menarik jalan ceritanya👍👍👍
13/04/2022
3sangat bagus cerita nya
19h
0bagus
07/07
0Lihat Semua