"Jadi, menurutmu Bos Komar tadi sempat gagal bersenang-senang dengan wanita itu?" Keduanya tergelak bersama membayangkan wajah Komar tadi saat baru keluar dari ruangan. Nampaknya pria itu tangah menahan sesuatu yang belum sempat terselesaikan sebelumnya. "Jelas saja. Kau tidak lihat semarah apa Bos tadi. Ck! Kenapa bisa Bos mempunyai istri yang menyeramkan seperti itu?" Bergidik ngeri sendiri mengingat wajah Meri yang terlihat lebih mirip badut. Perempuan bermake up tebal itu seakan merasa paling cantik saja. Apalagi saat berjalan di depan para pria. Meri sengaja berlenggak-lenggok dengan tujuan menggoda para pria tersebut. "Entahlah. Aku pun sepemikiran denganmu. Bagaimana bos sampai mempunyai istri yang galak dan ....!" Rasanya tidak percaya saja. Padahal banyak sekali wanita cantik di tempat ini. Namun Komar malah memilih Perempuan sepertinya. "Mungkin kekayaan yang Bos miliki berasal dari mereka, atau mungkin ...?" "Sudah. Jangan membuat masalah. Yang penting jatah kita lancar, dan tentu saja kita bebas melakukan itu dengan para wanita di sini." Salah satu dari mereka menyunggingkan senyuman. Beruntung saja rasanya bisa bekerja dengan Komar. Selain gaji yang besar, mereka juga bebas mengencani wanita manapun yang di sukai. Sementara itu di dalam ruangan, Komar kembali melangkah mendekati ranjang dengan keadaan Andira yang belum sadarkan diri. Pria itu tersenyum lega, akhirnya masalah dengan sang istri selesai. Dan kini ia kembali ingin menikmati waktu malamnya dengan wanita itu. Komar sengaja mengganti pakaiannya lebih dulu, lantas ia mengambil sesuatu yang sudah ia persiapkan jauh-jauh hari. Komar meneguk sesuatu yang ia yakini akan membuatnya semakin merasa gagah saat berada di atas ranjang nanti seperti saran dari wanita itu. Ya, Laura telah meracuni otaknya habis-habisan. Wanita itu juga menyarankan pada Komar untuk menggunakannya sebelum ia melakukan pada Andira nanti. "Kau ingin terlihat gagah bukan? Kau ingin Andira tidak kecewa denganmu. Aku tahu, kau paling hanya bisa bertahan beberapa menit saja!" Cibiran Laura sungguh membuatnya tersinggung. Wanita itu bahkan dengan tidak tahu malunya menceritakan hubungan panasnya sengan pria lain yang bisa betahan hingga berjam-jam. "Kau mana tahu hal begituan. Aku yakin para wanita yang telah tidur denganmu hanya berpura-pura. Mereka seolah menjerit senang, padahal dalam hati mereka memaki, mengumpatmu karena permainanmu yang terlalu sebentar hahah ...!" Laura tergelak kencang. Rasanya puas sudah menghina pria itu habis-habisan. "Tidak! Aku masih gagah. Buktinya, ketiga istriku masih setia sampai sekarang." Komar membela diri, menceritakan bagaimana kesetiaan para istrinya. Meski mereka tahu Komar seringkali berganti-ganti wanita, tetap saja mereka hanya akan marah sebentar, lalu setelah itu memaafkan jika pria itu sudah memohon. "Dan kau percaya begitu saja? Hahahha ...!" Laura semakin tertawa keras. Hingga suaranya memenuhi ruangan itu. "Tentu saja! Mereka selalu memujiku dan memperlakukanmu bak raja." Komar semakin congkak, memamerkan setiap perlakuan istrinya setiap kali ia mengunjungi mereka. "Karena kau kaya, Komar! Karena kau punya banyak uang, makanya mereka memperlakukanmu dengan baik!" Laura menarik sudut bibirnya membentuk sedikit senyuman. "Untuk itulah mereka selalu memperlakukan bak apa tadi ... raja?" Ucapan Laura sontak membuat Komar berpikir jauh. Apa benar apa yang di ucapkan wanita itu. Tapi, setiap kali Meri datang ke sini, memang tujuan utama wanita itu hanya untuk ... uang, uang, dan uang. "Benar bukan apa yang aku katakan? Apa kau yakin mereka akan tetap memperlakukanmu dengan baik, jika kau tidak memiliki uang lagi?" "Tidak ... tidak!" Konar menggeleng keras. Menolak apapun yang di ucapkan wanita itu. Ia masih meyakini jika perlakuan baik para istrinya karena rasa cinta yang masih mereka miliki, bukan karena uang. "Tapi, jika memang mereka baik karena uangku saja, bagaimana nanti jika aku tidak lagi memiliki segalanya?" "Ingat Komar, selain uang, wanita juga butuh ...?" Laura menjelaskan dengan bahasa isyarat yang hampir saja membuat pria itu jatuh pingsan. "Kekasihku juga selalu menggunakan itu saat kami akan melakukannya," ucap wanita itu tak kenal malu. "Dasar, wanita sialan!" umpat Komar dengan dada naik turun. "Hahaha ...! Aku pergi. Seperti ucapanku tadi, jika kau tertarik, gunakan ini saat kau ingin bersenang-senang dengan Andira nanti." Laura melemparkan bungkusan sesuatu di depan Komar yang langsung di tangkap olehnya dengan tergesa. "Hei, apa ini?" Suara Komar tak lagi Laura hiraukan. Wanita itu sudah melenggang pergi begitu saja keluar dari ruangan miliknya tanpa menoleh sedikitpun. "Ya aku harus menggunakan ini." Komar mengangguk mantap. Ia akan coba saran dari wanita itu sebelum melakukannya dengan Andira. "Aku akan membuatmu menjerit senang, Sayang. Aku akan memuaskanmu. Aku pasti akan membuatmu tidak bisa lagi berpaling dariku." Komar tersenyu setelah berhasil menelan pil yang wanita itu berikan. "Ingat, tunggu beberapa saat sebelum kau melakukannya. Kau akan tahu nanti sensasinya seperti apa. Jangan lupa beritahu aku setelah kau menggunakannya nya nanti!" Pesan wanita itu sebelum ia benar-benar melangkah keluar. Komar masih menunggu reaksi dari sesuatu yang Laura berikan untuknya. Sesuatu yang katanya bisa membuatnya merasakan sensasi lain saat melakukan hubungan itu pada siapa pun. "Ternyata wanita itu begitu berpengalaman," gumamnya. Komar melirik Andira yang masih belum juga sadarkan diri. Ia memang sengaja memberikan obat tidur di minuman Andira dengan dosis yang sedikit ia tambahkan. Apalagi kalau bukan tujauannya untuk membuat wanita itu tertidur sedikit lama. Tentu saja Komar hanya ingin menikmati tubuh Andira tanpa perlawanan. "Aku benci saat kau selalu menolakku." Komar membelai lembut wajah wanita itu, "Dan lihat sekarang, aku akan mendapatkanmu dengan mudah." Tapi, ia sempat ragu saat pikiran itu tiba-tiba muncul. Bagaimana jika Laura malah membodohinya. Bagaimana jika wanita itu punya niat busuk, dan akhirnya ia sendiri yang rugi. "Akhhh ... kenapa juga aku langsung percaya pada wanita itu?" Komar mendadak bimbang. Ia lihat lagi bungkusan yang tadi Laura berikan. "Sial! Ini kan ....?" Ia terlalu percaya hingga tidak melihat dengan benar sesuatu yang wanita itu berikan. Komar tahu itu pil jenis apa. Tapi, ia sudah terlanjur menelannya. "Laura sialan!" Komar memaki, saat reaksi obat itu mulai ia rasakan. Pria itu tiba-tiba saja merasakan panas menjalar di sekujur tubuhnya. Komar hanya bisa mengumat dan terus mengumpat. Pria tua itu segera melangkah ke tepian ranjang, menatap tubuh wanita di depannya dengan tatapan lapar. Komar melepas pakaiannya secara asal, lantas melempar benda itu hingga mendarat entah ke mana. "Oh, sial ...!" Lagi-lagi ia mengumpat saat gairah itu benar-benar sudah tidak terbendung lagi. Ia melempar kain yang tadi menutupi tubuh bagian atas wanita itu, hingga pemandangan indah tergambar jelas di depan matanya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
menarik jalan ceritanya👍👍👍
13/04/2022
3sangat bagus cerita nya
6d
0bagus
07/07
0Lihat Semua