Bab 47 Pindah

"Jadi, kapan kau akan melunasi hutangmu, Jef!" tanya Komar dengan tegas. Ini sudah kesekian kalinya ia menanyakan pada Jefri, tapi lelaki itu tetap bungkam dan tidak menjawabnya sama sekali.
"Jawab, bodoh! Jangan diam saja!"
"Tidak usah khawatir, nanti pasti akan aku bayar." Jefri menjawab santai. Seakan tidak sama sekali terbebani dengan hutang yang sudah semakin menumpuk.
"Nanti kapan? Aku sudah memberimu waktu dua minggu. Tapi, mana?" Pria berperut buncit itu mematikan rokoknya dengan kasar, lantas meneguk segelas minuman yang ada di depannya, " Kenapa kau tidak minta saja pada menantumu? Ck! Percuma saja punya menantu kaya, jika tidak bisa kau manfaatkan!"
Jefri hanya diam saja. Lagi-lagi pria itu mengajarinya untuk memanfaatkan kekayaan menantunya. Ahkkk, bagaimana bisa? Sedangkan kemarin saat ia datang ke restoran, ia malah di usir dan di maki-maki oleh managernya.
"Hei, kau melamun?" Komar tertawa dalam hati. Senang saja melihat wajah Jefri yang kebingungan. Kalau bisa ia akan membuat lelaki itu terusa saja berhutang padanya, hingga tidak bisa melunasinya lagi. Dan akhirnya, ia bisa mengambil apapun yang ia suka.
"Bagaimana aku mau meminta bantuan dengannya? Sedangkan aku di usir secara paksa oleh satpam yang menjaga tempat itu?"
"Hahaha ...!" Terdengar tawa sumbang yang memekakkan telinga. Pria itu tertawa hingga perut buncitnya terayun ke atas dan bawah seirama dengan gerakan tubuh.
"Bodoh!" Hanya itu yang Komar ungkapkan. "Harusnya, kau pakai otak! Gunakan otakmu, bodoh!"
Komar benar-benar sudah menghina Jefri habis-habisan. Tapi, sepertinya lelaki itu tidak sama sekali merasa tersinggung.
"Kenapa kau tidak bilang, jika ingin ke sana?"
"Hahhh ....! Memangnya, apa yang harus ku katakan?" Dengan bodohnya Jefri menanyakan itu padanya.
"Bodoh! Ternyata, kau benar-benar bodoh, Jef!"
"Hei! Berhenti mengataiku bodoh, sialan!" Kali ini Jefri sedikit merasa tersinggung. Jelas saja, berkali-kali pria itu mengatainya bodoh.
"Tenang bro, aku hanya bercanda. Jangan di ambil hati." Komar tersenyum sembari menepuk pundak lelaki itu. Meredam sedikit emosinya yang hampir meledak. " Bagaimana kalau aku membantumu?" ucap Komar tiba-tiba.
"Membantu?"
"Iya, membantu? Kau tidak mau, aku bantu mendapatkan uang dari menantumu yang kaya raya itu. Tapi, tentu saja melalui Andira, bagimana?"
Jefri terlihat berpikir sejenak. Lantas ia mengagangguk dan mendekat ke arah pria berperut buncit yang sejak dulu sudah menjadi temannya, "Bagaimana? Bagaimana aku bisa mendapatkannya?"
*****
"Sebenarnya kamu kemana, Mas?" batin Nayla dengan tatapan sedih. Sudah sejak dua jam yang lalu ia berdiri di depan pintu apartemen milik Yudi, tapi sampai sekarang ia belum melihat kedatangan lelaki itu.
Lelah sudah Nayla menunggu. Rasa lapar, serta haus yang sejak tadi ia tahan membuatnya sedikit lemas, hingga ia memutuskan untuk duduk dan beristirahat di sana.
Jam di pergelangan tangan menunjuk angka sepuluh malam. Nayla bangkit dan meneliti sekitar yang sudah semakin sepi. Namun, ia seperti melihat seseorang di sudut sana yang tengah melangkah ke arahnya. Nayla tersenyum, ia berharap orang itu adalah suaminya, Yudi.
'Akhirnya kamu datang, Mas...
Maaf, Mas. Ini demi Mutia, ini demi dia hingga aku sampai berani mendatangimu lagi...'
Nayla masih sangat ingat bagaimana Yudi sudah mewanti-wantinya untuk tidak datang atau menyusulnya lagi. Tapi, apa mau di kata, sang buah hati setiap hari menanyakan kapan kepulangan sang ayah. Membuat Nayla terpaksa harus menyusul demi menyenangkan bocah kecilnya.
Harapannya kembali hancur, saat ia melihat siapa orang yang tengah berjalan ke arahnya. Bukan Yudi, lelaki yang ia cari, melainkan seorang satpam yang tengah berkeliling untuk memeriksa keadaan sekitar.
"Maaf, Nyonya, Anda mencari siapa?" Satpam itu berhenti sejenak, mengamati penampilan Nayla dari atas sampai bawah.
"Maaf, apa Bapak tahu, ke mana orang yang tinggal di sini?" Nayla menunjuk pintu apartemen suaminya yang masih tertutup rapat.
"Maksud, Nonya, Tuan Yudi kah?"
Nayla mengangguk cepat, "Iya, Pak. Apa Bapak tahu di mana orangnya? Karena saya sudah sejak sore tadi menunggunya."
Satpam tadi terlihat diam sejenak, mengamati wanita itu lebih teliti.
"Pak, apa Bapak tahu di mana suami saya berada?" ucap Nayla lagi. Wanita itu sengaja memperjelas setatusnya dengan Yudi agar tidak di curigai oleh satpam yang bertugas menjaga tempat itu.
"Suami? Jadi, Tuan Yudi suami Anda?" tanya Pak Satpam dengan bingung. Pasalnya semenjak Yudi menempati apartemen itu, seringkali satpam melihatnya dengan seorang wanita, dan itu bukanlah wanita yang saat ini berada di depannya.
"Iya. Saya Nayla, istri dari Yudi yang menempati kamar ini."
"Tapi, Tuan Yudi sudah tidak tinggal di sini lagi, Nyonya. Apa Anda juga tidak tahu, jika Tuan Yudi sudah sejak dua hari yang lalu pindah?" ucap Satpam itu menjelaskan.
"Pindah...?" Nayla mengulang kembali ucapan pria paruh baya itu. Tubuhnya yang sejak tadi ia paksakan untuk berdiri, seakan hendak merosot dan hampir menyentuh lantai.
Ia sangat terkejut sekaligus tak percaya. Bagaimana bisa ia tidak mengetahui kepindahan suaminya? Dan kenapa juga lelaki itu tidak mengabarinya sama sekali...
"Nyonya, Apa Anda baik-baik saja?" Satpam yang melihat perubahan dari raut wajah wanita itu langsung merasa tidak enak sendiri. Ia takut jika sampai salah bicara.
"I–iya, Pak. Saya baik-baik saja." Nayla mencoba mengatur napasnya pelan. Tidak! Ia tidak akan menyerah begitu saja! Ingat Nayla, ini demi Mutia! Wanita itu menyemangati dirinya sendiri.
"Apa Bapak tahu, suami saya pindah ke mana?"
Pak Satpam terlihat berpikir lagi. Kemarin saat lelaki yang bernama Yudi akan pindah, kebetulan ia yang mencarikan mobil pik up untuk mengangkut barang-barangnya. Dan saat itu ia mendengar sedikit pembicaraan Yudi dengan pria pemilik mobil yang akan lelaki itu sewa.
"Sebentar, Nyonya, sepertinya saya mengingatnya. Tapi .... saya tidak begitu yakin."
Ada binar bahagia di wajah Nayla. Jika tadi ia sempat putus asa karena menghubungi nomer ponsel suaminya yang sudah tidak aktif lagi, kini harapan itu kembali muncul saat mendengar satpam mengetahui kira-kira di mana lelaki itu pindah ke tempat baru.
"Bapak bisa tolong catatkan di sini, Pak." Nayla menyodorkan ponsel miliknya ke arah pria itu, dan langsung di sambut baik olehnya.
Pak Satpam terlihat mengetikkan sesuatu sembari mengingat lagi. Cukup lama Nayla menunggu, hingga sepuluh menit berlalu, satpam tadi menyerahkan ponsel miliknya yang sudah berisi alamat keberadaan suaminya berada.
"Terima kasih, Pak," ucap Nayla dengan bahagia. Wanita itu membenahi tas, lantas segera berlalu menyusuri lorong menuju lobi apartemen.
"Tunggu, Nyonya ....?" Baru saja satpam tadi akan menanyakan sesuatu yang sejak tadi mengganjal di hati, tapi wanita itu sudah menghilang di balik tikungan lorong apartemen itu.
"Jika wanita ini istrinya, lantas .... siapa yang setiap hari bersama Tuan Yudi?"
Sawer ... Sawer ... Sayangku😍

Komentar Buku (162)

  • avatar
    81Joang

    menarik jalan ceritanya👍👍👍

    13/04/2022

      3
  • avatar
    Jes Ika

    sangat bagus cerita nya

    6d

      0
  • avatar
    TiuttTia

    bagus

    07/07

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru