Ceklek, Rangga berjalan perlahan, meneliti ke dalam kamarnya yang terlihat sepi. Lelaki itu mengedarkan pandangannya ke sekitar, mencari sosok istrinya yang sejak tadi ingin ia temui. Pada akhirnya pandangan Rangga berhenti di ranjang miliknya, di sana terlihat Andira tengah berbaring. Wanita itu terlihat menatap ke arah gawai dengan ekspresi wajahnya yang kadangkala berubah. 'Apa sebenarnya yang ia lihat....' Rangga mendadak kehilangan kata-kata saat ia mengingat kejadian tadi siang. Saat ia harus merenggut kesucian wanita itu secara paksa hanya karena emosi yang sesaat. "Tu–tuan...?" Andira yang telah menyadari kedatangan suaminya langsung bangkit, ia mendudukkan tubuhnya cepat dan berdiri menghampiri lelaki itu. "Anda sudah pulang?" Bukannya menjawab, Rangga malah diam dan menatap Andira dengan lekat. Lelaki itu sempat ragu, namun detik selanjutnya Rangga memberanikan diri untuk bersuara, "Maaf...." Hanya itu yang bisa Rangga ucapkan. Detik selanjutnya lelaki itu membawa langkah kakinya menuju kamar mandi, untuk segera membersihkan tubuhnya. Sepuluh menit berlalu, Rangga keluar dari kamar mandi dan sudah mendapati pakaian ganti yang tersedia di atas tempat tidur. Lelaki itu menarik sudut bibirnya, lantas melirik ke arah Andira yang sudah terlelap di sana. Perlahan, Rangga melangkah dan merebahkan tubuhnya di samping wanita itu dengan hati-hati. Jarak yang lumayan dekat, membuat Rangga dapat mencium bau wangi khas dari wanita itu. Seketika tubuhnya menegang, mengingat percintaannya tadi siang. Akhh.... Rasanya Rangga masih mengingat betul bagaimana tadi ia menikmatinya. Meski dengan sedikit paksaan, namun tak dapat di pungkiri bahwa tubuh wanita itu seakan candu yang mampu membuatnya melayang. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba saja Andira berbalik, lalu tubuh wanita itu menghadap ke arahnya. Tanpa sengaja Rangga melihat bentuk tubuh bagian depan Andira dari balik kain tipis yang menutupinya. Astaga ... sungguh ini adalah godaan yang paling berat yang Rangga rasakan. Saat ia harus mati-matian menahan gejolak hasratnya yang tiba-tiba saja hadir. Apa yang salah, padahal ia melakukannya hanya sekali, itu–pun tanpa di sengaja. "Tuan...?" Tiba-tiba saja Andira membuka mata. Jarak yang begitu dekat membuat Rangga lagi-lagi harus menelan salivanya kasar. Pasalnya, Rangga dapat menangkap dengan jelas bagaimana benda kenyal berwarna merah muda itu terasa begitu menggodanya, bahkan deru napas Andira dapat ia rasakan dengan jelas, "Apa Anda membutuhkan sesuatu?" Bahkan setelah ia memperlakukannya dengan kasar, Andira masih bisa bersikap baik dan seakan tidak pernah terjadi apapun sebelumnya. "Apa Anda ingin makan, atau.....?" "Tidak. Tidurlah lagi, kamu pasti lelah, kan? Nanti jika aku memerlukan sesuatu, biar Bibik yang menyiapkan," jawab Rangga dengan canggung. Sungguh ia masih merasa bersalah dengan wanita di depannya itu. "Mengenai tadi siang .... aku.... minta maaf.... maaf, jika aku sudah memaksamu." Tanpa di sangka, Andira menggeleng pelan. Wanita itu malah tersenyum ke arah Rangga, dan membuat lelaki itu bingung, "Kamu ... tidak marah?" "Kenapa? Apa saya pantas marah? Bukankah sudah kewajiban saya melayani Anda?" Sejenak Rangga membeku di tempatnya. Tenyata kekhawatirannya seharian ini hanya sia-sia. Mungkin ia sebenarnya hanya tidak tega jika hanya di anggap memanfaatkan kepolosan wanita itu. "Tidurlah. Kamu pasti lelah." *** "Benar kan, apa aku bilang?" Serli berjalan penuh angkuh di depan kedua temannya. Ia yakin jika Andira tidak akan berani menghukumnya, apalagi memanggil polisi. Mustahil. Selain itu, Serli juga sangat puas sudah membongkar asal-usul wanita itu yang sebenarnya, dan ia yakin mulai saat ini Andira tidak akan berani lagi macam-macam. "Kamu yakin, Dira tidak akan memenjarakan kita?" tanya Nara sekali lagi. Gadis itu hanya ingin memastikan jika setelah ini ia akan baik-baik saja. "Bagaimana kalau Andira tidak main-main?" "Alah .... kamu tenang aja, mulai sekarang dia pasti tidak berani macam-macam lagi. Punya apa dia sampai berani memanggil polisi? Yang punya uang, kan Tuan Rangga, bukan Andira." Ck! Tidak tahu saja jika tadi sudah ada dua orang polisi yang datang ke tempat itu. Tapi, belum sempat mereka meminta kejelasan pada pemilik restoran, Bagas sudah lebih dulu memintanya untuk pergi dan berjanji akan menghubunginya nanti. "Emmm ... Ser...? Sebenarnya, kamu tau masa lalu Andira dari mana?" Kali ini Sinta yang membuka suara. Gadis yang sejak tadi diam itu–pun sangat penasaran, dari mana Serli tahu mengenai masa lalu Andira? Gadis itu tersenyum. Obrolannya yang tak sengaja dengan seorang perempuan paruh baya yang ia temui saat akan pulang dari restoran–pun kembali teringang. "Kau tau, siapa dia? Siapa wanita yang saat ini menjadi menantu Keluarga Wijaya? Wanita yang sok–sok'an berkuasa, padahal ia hanya gadis miskin. Gadis yang di jadikan penebus hutang oleh ayahnya sendiri." Serli sempat tidak mempercayainya. Namun, melihat siapa yang mengatakan itu, ia yakin jika apa yang baru saja ia dengar memanglah sebuah kebenaran. "Ba–bagaimana Anda mengetahui semua itu, Nyonya?" Perempuan itu hanya tersenyum, namun tidak memberikan jawaban apapun selain menunjukkan beberapa lembar foto yang mampu membuatnya terbelalak seketika, "Ini ... kan.....?" "Jadi maksudmu, Nyonya Yuni sendiri yang memberitahumu mengenai masa lalu menantunya?" tanya Nara memastikan. Penjelasan Serli yang agak berbelit membuatnya sedikit tidak mengerti. "Tentu saja. Dan apa kalian tahu, ternyata Nyonya Yuni juga tidak pernah menyukai Andira." Nara dan Sinta hanya saling pandang dengan tatapan mata yang sulit di artikan. Jika tadi mereka belum sepenuhnya mempercayai ucapan Serli yang memojokkan Andira. Tapi, sekarang mereka benar-benar yakin dengan kabar itu. "Jadi, kalian tidak perlu khawatir. Toh, masih ada Nyonya Yuni yang pastinya akan membantu kita," ucap Serli penuh percaya diri. Gayanya semakin sombong dan seakan lebih berkuasa di bandingkan siapa–pun. "Bagaimana dengan Pak Bagas? Apa dia juga akan mempercayai mu?" "Terserah! Percaya atau tidak, aku juga tak peduli! Hahaha ....!" Serli tertawa kencang, hingga suaranya memenuhi ruangan yang berada di dekat dapur yang sudah kosong. Restoran sudah terlihat sepi. Semua pegawai serta karyawan yang lain sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Kini hanya ada mereka bertiga di sana, atau mungkin Bagas yang masih mengurusi laporan keuangan di ruangannya sendiri. Terserahlah! Brukkk....! Tiba-tiba saja terdengar seperti sebuah benda terjatuh dari arah ruangan dapur. Nara langsung berinisiatif mencari ke arah sumber suara itu, dan.... "Kamu ngintipin kita lagi?" Nara langsung menahan pergelangan tangan gadis itu cepat, sebelum ia benar-benar kabur setelah mendengar percakapannya dengan kedua temannya tadi. "Ti–tidak. Saya hanya dari toilet," ucap gadis itu memberi alasan. Wajahnya sudah terlihat pucat karena sudah tertangkap basah tengah mencuri dengar percakapan mereka bertiga. "Sungguh, saya tidak mendengarnya. Tolong ... lepaskan saya." Nara hanya tersenyum sinis melihat pembelaan dari gadis itu. Dia pikir bisa mengelabuhinya begitu saja setelah apa yang di lakukannya kemarin. " Melepaskanmu? Ck! Jangan harap!"
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
menarik jalan ceritanya👍👍👍
13/04/2022
3sangat bagus cerita nya
14h
0bagus
07/07
0Lihat Semua