logo text

Bab 34 Bisakah Anda Menundanya?

"Apa...?"
Wajah Rangga memerah, menahan malu yang teramat sangat. Bagaimana Dokter itu menyangka jika sejak tadi yang ia lakukan dengan Andira di ruangannya adalah....
"Bisakah Anda menundanya untuk tidak berhubungan badan lebih dulu? Saya takut luka Nona Andira akan semakin bertambah parah." Suara Dokter Riani kembali terdengar. Anehnya perempuan itu mengatakannya tanpa rasa malu.
"Maaf, Dokter. Ini maksudnya bagaimana? Saya belum pernah...?" Baru saja Rangga akan menjelaskan, tapi Dokter muda itu dengan sigap memotong ucapannya kembali.
"Ini demi kebaikan istri Anda, Tuan. Saya harap Anda mengerti."
'Astaga. Kenapa jadi begini? Jangankan berhubungan badan, memikirkannya saja ia belum sempat.'
Rangga masih terdiam karena ucapan Dokter Riani yang selalu menyudutkannya. Entah dari mana perempuan itu memiliki pemikiran sampai ke arah sana. Yang pasti Rangga sama sekali tidak menduga jika keberadaannya sejak tadi di dalam ruangan, menimbulkan kesalahpahaman untuk Dokter muda itu.
Selepas kepergian sang dokter, Rangga bergegas melangkah ke arah Andira. Melihat gadis itu yang sejak tadi masih duduk sendiri di sofa ruangan pribadi miliknya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya lelaki itu, membuat lamunan Andira seketika buyar dan pergi entah ke mana.
"Eh, Tuan. Saya baik-baik saja," balasnya dengan sedikit gugup. Andira yang merasa tubuhnya sudah lebih baik lantas bangkit, meneliti penampilannya sekali lagi, lalu hendak melangkah ke arah pintu ruangan.
"Kamu mau ke mana?"
Andira hanya mengernyit heran. Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja keluar dan melanjutkan lagi pekerjaannya yang sudah ia tinggalkan.
"Saya ingin kembali bekerja, Tuan?" ucap gadis yang langsung di hujani tatapan tajam dari Rangga.
"Untuk apa bekerja? Masih banyak pegawai yang lain, yang bisa mengurusnya."
Eh apa tadi?
Andira sampai menghentikan langkah kakinya, "Tapi, saya bosan jika terus duduk dan menunggu? Apa saya bisa melanjutkan pekerjaan saya lagi?"
"Istirahatlah. Kamu sedang sakit, jangan memaksakan diri." Rangga mendahului langkah kaki gadis itu, ia menuju pintu dan langsung membukanya, "Bagas akan mengawasimu. Jika kamu memaksa, dia yang akan aku hukum."
Andira mematung mendengarkan ucapan lelaki itu. Bukan! Ini lebih tepatnya ancaman. Kenapa jadi seperti ini? Apa iya, dia akan diam saja dan membiarkan para pegawai bekerja keras, sedangkan jam-jam seperti sekarang tamu pastilah sangat ramai.
Andira berjalan perlahan, mengintip suaminya dari balik pintu yang ia sedikit buka. Gadis itu lega karena saat ini Rangga sudah benar-benar pergi dari restoran. Lantas ia berjalan ke luar, bergabung dengan para pegawai lain yang tengah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
"Sudah, aku saja yang mengantar." Gadis itu ngotot mengambil nampan dari tangan Fitria untuk ia antarkan langsung ke depan.
"Eh, No–na, Dira?"
Yang di sapa langsung melotot tajam, "Di–ra. Panggil aku Dira saja, Fit," ucap gadis itu penuh penekanan.
"Tapi, nanti aku yang kena hukuman Pak Bagas, Nona?"
Andira menggeleng tak percaya. Jika terus seperti ini lama-lama ia bisa gila sendiri. "Terserah kalian lah. "Andira melangkah cepat membawa pesanan makanan itu ke salah satu meja yang ada di depan sana.
"Nona Dira?" Bagas hampir saja mati terkejut saat melihat Andira selesai menyusun makanan di depan para tamu restoran. Ia yang mendapat pesan dari Rangga langsung untuk memastikan gadis itu beristirahat dengan baik langsung kelimpungan, "Kenapa Nona Dira repot-repot membantu?"
"Tidak apa-apa, Pak. Saya bosan dari tadi tidak melakukan apapun."
"Tapi, bagaimana kalau..... astaga!" Tidak tau akan semarah apa nanti sang bos, jika tau perintahnya tidak ia lakukan.
"Pak Bagas tenang saja, Tuan Rangga sudah tidak ada di sini. Jadi, tidak akan ada yang di hukum." Andira mengatakannya dengan mantap.
Malam hari, setelah restoran tutup, dan semua pegawai sudah pulang ke rumah masing-masing, Andira bergegas melangkah menuju mobil yang masih terparkir rapi di halaman tempat itu, lantas meminta pada Pak Supir untuk meninggalkan tempat itu.
Sepanjang jalan Andira terus melamun, membayangkan kembali hidupnya dahulu yang penuh dengan air mata. Bagaimana setiap hari ia harus bekerja, demi bisa membiayai hidupnya sendiri.
Sepeninggalan sang ibu yang secara tiba-tiba memang membuatnya sangat terpukul. Apalagi dengan sikap sang ayah yang belum berubah, dan masih saja sering memukulnya jika perintahnya tidak ia lakukan.
Ayah yang seharusnya melindungi, malah semakin menjadi beban hidup bagi gadis itu. Hingga hidupnya sampai di titik terendah, saat sang ayah menjualnya pada rentenir tua bernama Komar.
Andira membuang napas berat, bersyukur dengan kehidupannya saat ini. Meski ia belum tau bagaiman perasaan Rangga yang sebenarnya, setidaknya lelaki itu selalu memperlakukannya dengan baik.
"Kita sudah sampai, Nona." Suara Pak Supir seketika membuat Andira terlonjak. Gadis itu sampai tidak menyadari jika mobil yang ia tumpangi sudah sampai di depan kediaman Keluarga Wijaya sejak lima menit yang lalu.
"Eh, iya Pak." Gadis itu segera turun dan melangkah menuju pintu utama. Satu-satunya yang ingin ia tuju adalah kamar, Andira ingin cepat-cepat membersihkan diri, lantas mengistirahatkan tubuhnya yang sudah sangat lelah.
"Ekm....! Ternyata Tuan Putri baru pulang ya?" Sebuah suara yang tak asing seketika menghentikan langkah kaki gadis itu. Andira berbalik dan melihat ibu mertuanya tengah berdiri dan menatapnya dengan pandangan sinis. Memang seperti itu, kan, sikap Nyonya Yuni. Selalu berbicara ketus setiap kali bertemu dengannya.
"Mama...?"
"Cih....!" Perempuan itu hanya berdecih sembari terus memandang remeh ke arah Andira, "Jangan sok akrab. Aku tidak sudi memiliki menantu sepertimu! Kampungan!"
Andira hanya mampu memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang, lantas menghembuskannya perlahan. "Bagaimana kabar Mama hari ini?"
Bahkan saat ia sudah di hina habis-habisan, Andira tetap memaksakan senyum dan membalas ucapan perempuan itu dengan sopan.
"Tidak usah berpura-pura baik. Aku tahu, kamu hanya ingin harta keluarga kami saja, kan?" Ucapan Nyonya Yuni semakin membuat Andira tidak mengerti. Apa semua orang kaya seperti ini? Selalu merasa ketakutan jika hartanya akan di manfaatkan oleh orang lain.
"Maaf, Ma, jika Dira belum bisa jadi menantu yang baik. Tapi, ijinkanlah Dira membuktikan, jika apa yang Mama takutkan salah." Gadis itu berbicara menunduk. Ia tidak sanggup lagi menatap wajah sang mertua yang sejak tadi terlihat menantang.
Memang sejak awal Andira sudah merasa tidak pantas mengenal keluarga ini. Apalagi untuk masuk dan menjadi bagian dari meraka, sungguh tidak pernah ia bayangkan.
"Dasar, penjilat. Kamu sengaja 'kan menggunakan wajah polosmu itu untuk menjerat putraku?" Nyonya Yuni semakin menyakiti gadis itu dengan kata-katanya. Sungguh ia tidak menyangka akan mempunyai menantu seperti Andira. "Dan ayahmu, hanya pria tak berguna yang hobi sekali menghamburkan uang."
Andira menggeleng. Ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang baru saja ibu mertuanya itu ucapkan. 'Penjilat? Pria tak berguna?'
"Atau jangan-jangan, kau sekongkol dengan ayahmu untuk menguras harta keluarga kami?!"
"Ma...?"
"Diam! Kau pikir, aku tidak tahu siapa dirimu?" Perempuan itu melotot sembari berkacak pinggang. Merasa bodoh karena baru mengetahui mengenai asal-usul Andira setelah dia menjadi menantunya.
"Kau hanya–......?"

Komentar Buku (162)

  • avatar
    81Joang

    menarik jalan ceritanya👍👍👍

    13/04/2022

      3
  • avatar
    Jes Ika

    sangat bagus cerita nya

    5d

      0
  • avatar
    TiuttTia

    bagus

    07/07

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru