logo text

Bab 3 Perlahan Melepaskan

Rangga merebahkan tubuhnya di atas ranjang setelah ia mandi dan mengisi perutnya yang sedari tadi keroncongan.
Menghela napas lega, lalu meraih ponsel yang sudah kembali nyala di atas nakas.
Ia memeriksa beberapa pesan yang masuk ke dalam ponsel, tak lupa mentransfer uang yang tadi ia janjikan pada rentenir.
Tadi, siapa nama gadis itu? Bahkan Rangga tidak mengingatnya sama sekali karena ia terlalu buru-buru untuk sampai di rumah.
Rangga kembali meletakkan ponsel di atas nakas, Rangga melirik foto berbingkai seorang gadis cantik tengah tersenyum.
Memandang sekilas, lalu ia bangkit dan meraih foto itu. Dipandanginya sejenak, lantas memasukkan ke dalam laci. Rangga terlalu takut jika perasaannya semakin lama semakin tidak bisa ia kendalikan.
Mungkin aku memang harus belajar melupakan Rengganis. Bisiknya dalam hati. (Terpesona Anak Pembantu).
Mengedarkan pandangan, Rangga menatap satu persatu foto yang menempel di dinding kamar. Mungkin tidak hanya satu atau dua buah, bahkan ada puluhan yang masih ia simpan. Rangga bangkit dan mengambil semua foto hingga tidak tersisa satu pun, lalu memasukkannya ke dalam boks dan menyimpan di sudut kamar.
Rangga merebahkan kembalinya tubuhnya ke atas ranjang, perlahan ia memejamkan mata, dan akhirnya terlelap saat waktu menunjukkan hampir pagi.
*****
Pagi menyapa dengan mentari yang masih tampak malu-malu di ufuk timur. Rangga menggeliat, melirik jam yang ada di atas meja. Bergumam pelan, lalu kembali menarik selimut kembali melanjutkan tidur. Dia tidak peduli, hari ini Rangga ingin sejenak melupakan tanggung jawabnya di kantor dan melanjutkan mimpi indahnya.
Pukul 09.00 Rangga turun dengan pakaian yang sudah rapi, ia melangkah menuju meja makan melewati dua orang tuanya yang tengah asik menonton tv.
Tanpa mempedulikan mereka, Rangga terus melangkah begitu saja.
"Dari mana saja kamu semalam!" Suara bariton Papa Wijaya terdengar dari arah ruang tengah yang ia lewati.
Rangga berhenti dan berbalik. "Ada urusan sedikit, Pa." Ia ingin melanjutkan langkahnya. Namun lagi-lagi suara itu kembali terdengar.
"Dengan menghabiskan uang sebanyak itu?"
"Pa...?" Nyonya Yuni langsung menahan pundak suaminya yang hendak bangkit. Ia tidak ingin melihat suami dan anaknya kembali bersitegang.
"Kamu tidak sedang mengencani wanita malam, kan?"
"Aku tidak seburuk itu, Pa!" Meraih segelas susu lalu meneguknya hingga tandas. Ia tidak habis pikir kenapa papanya bisa berpikiran sejauh itu.
"Lalu untuk apa kamu menghabiskan uang sampai 200 juta, kalau tidak untuk membeli wanita?" kali ini Tuan Wijaya sudah dengan suara normalnya, ia tidak ingin kembali emosi dan berakibat buruk untuk kesehatannya.
"Untuk membantu teman yang sedang membutuhkan."
"Teman...?"
Tuan Wijaya berpikir sejenak, mengira-ngira siapa teman yang di maksud oleh putranya, karena ia tau Rangga tidak memiliki banyak teman.
"Siapa..?"
"Papa tidak perlu tau."
"Apa dia kekasihmu..?" Tuan Wijaya terus saja bertanya tanpa mempedulikan wajah Rangga yang terlihat mulai jengah.
"Bukan."
"Lalu...?"
"Pa...?"Rangga meletakkan selembar roti yang baru saja ia gigit, napsu makannya tiba-tiba menghilang.
"Berhenti ikut campur urusan pribadi aku, Pa." Ia beranjak berdiri, meraih tisu di samping lalu mengusap kasar sisa makanan di sudut bibir.
"Kamu bilang urusan pribadi? Ingat Rangga, bagaimana perusahaan keluarga kita akan maju, jika kau selalu saja menghamburkan uang?"
Rangga langsung menghentikan langkah kakinya. Menghamburkan? Bahkan ia baru pertama kali menggunakan uang papanya, itu pun tidak seberapa jika di banding kekayaan yang mereka miliki.
"Apa kau ingin membuat perusahaan kita bangkrut?"
"Cukup, Pa. Jika memang Rangga tidak merasa mampu untuk memegangnya, kenapa bukan Papa sendiri yang mengurusnya langsung?"
"Rangga! Jaga bicaramu!" Mama Yuni menarik cepat lengan suaminya yang ingin beranjak menghampiri putranya. Jika terus di biarkan, bisa saja ayah dan anak akan terus bertengkar. "Ayo Pa, sebaiknya kita istirahat. Papa tidak boleh marah-marah, nanti jantung Papa kumat lagi." Mama Yuni menasehati suaminya.
"Dan kamu, Rangga! Jangan keterlaluan, Nak? Dia papamu sendiri. Papa yang selama ini sudah bekerja keras untuk kita berdua."
"Maaf, Ma..."
"Ingat! Jangan buat malu keluarga!" Tuan Wijaya menekankan kata keluarga, lalu beranjak mengikuti ajakan sang istri untuk istirahat.
Rangga hanya mendengus kesal. Kenapa keluarga yang selalu menjadi masalah. Padahal ia selalu berusaha menjaga nama baik keluarga dan tidak pernah sedikitpun berbuat ulah.
Hingga ia harus mengorbankan perasaannya, cintanya dan sekarang hidupnya harus selalu di atur oleh kedua orang tuanya sendiri.
Rangga melangkah melewati pintu utama, lantas berjalan menuju mobil yang sudah terparkir rapi di halaman depan.
[Iya, Tuan?] Respon seseorang dari seberang sana.
[Apa gadis itu bekerja dengan baik?] Yang di maksud adalah gadis yang ia selamatkan tadi malam.
[Iya, Tuan. Andira hari ini sudah mulai bekerja, dan dia lumayan rajin. Em.....____?]
[Siapa namanya?] Rangga mendengarnya kurang jelas, hingga ia meminta sang manajer restoran untuk mengulanginya.
[An–andira, Tuan.]
[Pastikan gadis itu bekerja dengan baik dan laporkan padaku jika ada orang asing yang menemuinya!]
[Ba–baik, Tuan.]
Rangga segera menutup sambungan telepon setelah memastikan keadaan gadis itu. Sebagai lelaki yang baik, ia hanya khawatir rentenir itu mengingkari janjinya, dan menculik gadis itu lagi.
Mungkin aku akan menebus semua penyesalanku dengan berbuat baik pada orang lain. Setidaknya hidupku akan lebih berguna. Gumam Rangga pelan.
Lelaki itu kembali menarik pedal gas menuju kantor membawa sejuta kenangan yang akan ia buang secara perlahan.
Rengganis.....
Maaf, kali ini aku akan mencoba melupakanmu...
Di tempat lain, Bagas sebagai manager di restoran masih bertanya-tanya mengenai siapa sebenarnya Andira. Gadis biasa yang tiba-tiba di pekerjakan di tempat itu.
Apa mungkin dia kekasih Tuan Rangga?
Ah tidak! Mana mungkin Tuan Rangga mau dengan gadis sepertinya.
Bagas memandang sinis ke arah Andira yang kebetulan saat ini tengah melewatinya. Gadis itu dengan cekatan membawa pesanan para pelanggan satu-persatu. Tak jarang juga ia melihat gadis itu membereskan piring bekas para tamu, membawanya ke belakang dan langsung mencucinya.
Gadis biasa. Cantikpun tidak, seksi apalagi. Bagas masih menelanjangi penampilan Andira yang memang sangat sederhana.
Aku yakin Tuan Rangga hanya kasihan, mungkin dia yatim piatu dan kebetulan di tolong, lalu di masukkan untuk menjadi pelayan di sini.
Sibuk hanya memandang Andira, hingga tak sadar jika salah satu pelayan tengah menagamatinya.
"Pak...?"
Pelayan yang bernama Fitri sudah mendekat sejak tadi. Namun Bagas masih belum juga menyadarinya. Gadis itu hanya ingin melaporkan stok bahan apa saja yang mulai menipis.
"Pak...!" Fitri berteriak lebih kencang, hingga pria itu nyaris melompat dari tempat duduk yang saat ini tengah ia tempati.
"Apa...!"
"Bapak melamun? Atau memperhatikan Dira sejak tadi?"

Komentar Buku (162)

  • avatar
    81Joang

    menarik jalan ceritanya👍👍👍

    13/04/2022

      3
  • avatar
    Jes Ika

    sangat bagus cerita nya

    6d

      0
  • avatar
    TiuttTia

    bagus

    07/07

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru