logo text

Bab 23 Kelakuan Jefri

Rengganis terkejut merasakan tubuhnya yang tiba-tiba melayang oleh kelakuan suaminya. Lelaki itu dengan tidak tau malu menggendong dan membawanya cepat pergi dari ruangan itu. Padahal tidak jauh dari mereka berbincang, ada Bibi yang sejak tadi pasti mendengar percakapan keduanya. Tapi, Arya sepertinya tidak peduli, lelaki itu dengan santainya membopong tubuh sang istri dan membawanya menaiki tangga.
"Mas. Aku mau turun," pinta wanita itu dengan wajah meram padam. Ia tau jika tadi dua orang pelayan yang sempat menyaksikan adegan mesra dirinya dengan Arya langsung menunduk dan memilih langsung menghindarinya.
"Diam. Apa kau ingin kita sama-sama jatuh?"
"Tapi aku malu. Ih.......!" Wanita itu masih saja meronta. Hingga tubuh suaminya tidak seimbang dan sempat hendak terjatuh.
"Kau benar-benar ingin kita berdua jatuh?" Kini Arya kembali mengulanginya, namun nadanya terlihat sedikit kesal. Bagaimana kalau ia benar jatuh? Padahal saat ini Rengganis tengah mengandung.
Akhirnya wanita itu memilih bungkam dan tidak lagi mempedulikan Arya yang hendak membawanya kemana.
Tiba di depan kamar, Arya mendorong pintu dengan salah satu kakinya. Lelaki itu merebahkan tubuh istrinya pelan, lantas kembali ke arah pintu untuk menguncinya.
"Diam. Atau aku akan menambah hukumanmu!"
"Mas, kamu mau kemana?"
Lelaki itu tidak menajwab. Arya kembali mendekat dan menatap wajah wanita itu dengan penuh damba.
"Mas, kamu mau apa...?" tanya Rengganis bingung. Pasalnya Arya sejak tadi hanya menatapnya dalam diam.
Arya menarik sudut bibirnya sekilas, lantas mencondongkan tubuhnya ke arahnya. Kini napas mereka saling beradu, membuat tubuh Rengganis seketika meremang, merasakan hawa panas yang tiba-tiba menjalar di sekujur tubuhnya.
"Apalagi kalau bukan menghukummu!"
Kembali Acara Pernikahan.
Rangga dan Andira kini sudah sah menjadi sepasang suami istri. Keduanya saat ini tengah menyalami para tamu undangan yang tak henti-hentinya memberinya selamat.
Rekan bisnis, sanak saudara, serta teman-teman yang mengahadiri acara tersebut silih berganti naik ke pelaminan hanya untuk melihat secara langsung kedua pengantin secara dekat. Andira memang terlihat cantik, tak jarang semua kerabat Rangga selalu memujinya. Bahkan ada juga teman Rangga yang sengaja menggodanya lebih dulu sebelum memberikan ucapan selamat pada lelaki itu.
"Selamat, Nak. Akhirnya kamu menikah juga." Jefri memeluk Andira dan bersikap seolah Ayah yang baik. Pria itu tak melirik ke arah menantunya sekilas, lantas berbisik pelan di telinga gadis itu.
"Bagaimana, apa kamu sudah membicarakannya dengan suamimu?"
Lagi-lagi Jefri menagih janji Keluarga Wijaya perihal mahar pernikahan yang akan di berikan pada Andira. Padahal gadis itu sendiri seolah tidak peduli dengan rumah mewah yang sebenarnya memang sudah di siapkan oleh pihak keluarga Rangga. Ia hanya merasa tidak enak jika terlalu banyak menuntut. Toh, dia masih beruntung tidak di suruh mengembalikan lebih dulu uang yang lelaki itu pinjamkan pada dirinya.
"Sabar, Yah? Dira juga masih berusaha mencari waktu yang pas. Saat ini Tuan Rangga masih banyak tamu. Aku tidak mungkin mengatakannya sekarang."
"Tapi, kamu harus benar-benar memintanya pada suamimu. Jika tidak, Ayah sendiri yang akan menagih pada mereka."
Ya Tuhan. Apa seperti ini sikap seorang Ayah. Selalu memanfaatkannya untuk meraih keuntungan sendiri.
"Iya. Dira janji, Yah."
"Ehm....!"
Deheman Rangga akhirnya mampu membuat gadis itu berpaling. Andira menatap ke arah wajah suaminya dengan sedikit tidak enak. Bagaimana pun saat ini mereka masih berada di kursi pelaminan. Banyak pasang mata yang memperhatikannya. Gadis itu sadar, sejak ayahnya naik dan mendekatinya, banyak dari mereka yang berbisik dan menatap curiga ke arah dirinya.
"Jaga sikapmu. Jangan membuat malu," ucap Rangga tanpa menatap ke arah gadis itu. Membuat Andira sadar jika berada di lingkungan sosialita memanglah tidak mudah.
"I– iya. Maaf, Tuan."
"Dan kau. Kembali ke tempatmu." Lelaki itu menatap ke arah Jefri dengan pandangan tidak suka. Lelaki itu menyayangkan sikap Andira yang terlalu penurut dan selalu menuruti semua ke inginannya.
Meski kesal. Jefri tetap menurut. Pria itu langsung turun dan melangkah kembali ke salah satu meja yang sudah di sediakan oleh para pelayan.
Suasana semakin larut, satu-persatu tamu undangan juga sudah terlihat berpamitan dan akan kembali ke kediamannya masing-masing. Tinggal Andira yang terpaku dengan wajah kebingungan. Gadis itu hendak pergi, tapi kemna? Apa ia harus pulang dan kembali ke rumah kediaman Jefri. Atau ia kabur saja agar tidak lagi merasa asing di dalam rumah itu.
"Kamu masih ingin di sini sampai pagi?" Teriakan Rangga mampu membuat gadis itu terkejut sekaligus melongo tidak percaya.
"Hahhh, apa?"
"Ikut." Rangga menarik tangan Andira cepat dan membawanya menuju lantai atas.
"Tuan, kita mau ke mana?"
Namun lelaki itu hanya diam. Rangga terus saja menarik Andira, hingga keduanya sampai di dalam sebuah kamar pengantin yang sudah di desain dengan sangat mewah.
'Kamar?'
Andira membulatkan matanya. Ia pikir pernikahan hanya status belaka, tapi kenapa sekarang lelaki itu mengajaknya ke kamar?
"Tuan, ini....? Kita mau apa?"
"Menurutmu?"
'Tidak. Ini pasti salah. Aku yakin Tuan Rangga tidak akan melakukan apapun padaku.'
Rangga melepas tangannya begitu saja. Melonggarkan dasi yang sejak tadi melilit lehernya, lantas berjalan menuju kamar mandi.
"Hilangkan pikiran kotormu itu." Seakan tau kegelisan dari Andira, lelaki itu juga melepaskan satu persatu apapun yang ia kenakan di tubuhnya.
"Tuan! Astaga....!" Gadis itu memekik perlahan. Merasa pandangannya telah ternoda oleh pemandangan tidak senonoh itu.
"Bisakah Anda melepasnya di kamar mandi saja?"
"Memangnya kenapa? Ini kamarku, terserah aku mau melakukan apa." Rangga masih saja bersikap santai. Tidak peduli dengan wajah gadis itu yang sudah terlihat panik. Rangga melirik sekilas, lantas lelaki itu bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.
'Akhirnya.....'
Andira yang sendirian hanya menatap punggung lelaki itu yang hilang di balik pintu. Kedua matanya menatap sekitar, mengabsen satu-persatu apapun yang ada di dalam ruangan.
"Ini kamar atau istana sih? Kenapa mewah sekali?" Andira sampai berdecak. Masih tidak menyangka jika kehidupannya akan berubah sedrastis ini. Jika membandingkan kamar yang selama ini ia tempati, bahkan tidak ada apa-apanya dengan kamar mewah yang saat ini mampu menghipnotisnya.
"Kamu tidak ingin mandi?" Hampir saja Andira mati terkejut oleh kemunculan Rangga yang tiba-tiba. Lelaki itu baru saja keluar dari kamar mandi hanya dengan selembar handuk yang melilit bagian bawahnya.
"Eh, Tuan?" Reflek. Andira menutup kedua matanya dengan tangan. Merasa tidak pantas melihat pemandangan aneh yang baru pertama ia lihat.
'Mata polosku ternoda....' desah gadis itu pelan.
"Mandilah, lalu istirahat." Tanpa mengatakan apapun lagi, Rangga melangkah menuju ruangan ganti dan meninggalkan Andira begitu saja.
Setelah sepuluh menit berlalu. Kini Andira keluar dari kamar mandi dengan sisa-sisa rambutnya yang masih basah. Gadis itu melirik ke sekitar, mencari keberadaan suaminya. Padahal jelas-jelas Rangga tengah berada di atas tempat tidur sejak tadi.
"Gunakan sofa itu untuk tidur." Rangga menunjuk sudut ruangan yang biasanya terdapat sebuah sofa berukuran sedang, tapi kini...?
"Sofa...? Maksud, Tuan?" Tentu saja Andira bingung, karena ia tidak melihat sofa atau apapun yang bisa ia gunakan untuk tidur nanti.
"Kemana sofa yang ada di ruangan ini?" Lelaki itu meneliti ke setiap sudut. Benar, benda itu menang sudah tidak ada. Mungkin sejak tadi ia masuk, hanya saja ia tidak terlalu memperhatikannya.
"Sial! Ke mana sofa itu?" Andira tak sengaja mendengar umpatan dari Rangga. Jika memang ia tidak di ijinkan untuk tidur satu ranjang dengannya, itu tidak masalah. Yang penting ia tidak merasa jadi penganggu kenyamanan orang lain.
" Biar saya tidur di sini," pinta wanita itu menunjuk ke bawah, tepat di hadapan ranjang empuk milik Rangga.
Andira meraih satu selimut tebal, beserta bantal yang akan ia gunakan sebagi alas kepalanya.
"Tidak! Kau di sini saja," pungkas lelaki itu menepuk ranjang sebelahnya.
"Tidak apa, Tuan. Saya di sini saja."
'Ah, ini lebih baik. Setidaknya aku tidak satu ranjang dengan dia, eh...'
"Kamu ingin orang lain menganggapku ini suami yang kejam. Begitu?" Rangga kembali bersuara. Membuat Andira yang hendak merebahkan tubuhnya lantas berhenti dan menatapnya dengan bingung.
'Tadi menyuruhku tidur di sofa, tapi sekarang menyuruhku tidur di sebelahnya. Dasar plin-plan.'
"Kau memakiku!" sentak Rangga tiba-tiba. Kini Rangga menatap Andira dengan tatapan curiga.
"Ti– tidak, Tuan. Mana mungkin saya berani melakukan itu."
"Kemarilah...!"
"Tapi, Tuan. Saya—....?"

Komentar Buku (162)

  • avatar
    81Joang

    menarik jalan ceritanya👍👍👍

    13/04/2022

      3
  • avatar
    Jes Ika

    sangat bagus cerita nya

    6d

      0
  • avatar
    TiuttTia

    bagus

    07/07

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru