Bab 18 Mahar

"Mahar? Oh, iya mahar. Saya sampai lupa tidak membahasnya tadi." Tuan Wijaya tersenyum. Pria itu terlalu bersemangat membahas rencana pernikahan saja, hingga hal terpenting seperti itu ia lupakan.
"Andira...? Katakan, kamu menginginkan mahar seperti apa, Nak?" Tuan Wijaya menatap ke arah gadis itu. Ia ingin mendengar sendiri mengenai mahar yang harus putranya berikan untuk acara pernikahannya nanti.
Andira mendongak, menatap ke arah semua dengan perasaan bingung. 'Pernikahan? Mahar?' Bahkan dirinya belum memikirkan sampai sejauh itu.
"Emmmm... maaf, Tuan Wijaya, jika saya menyela." Suara Jefri terdengar lagi. Entah apalagi yang akan lelaki itu rencanakan. Andira merasa ayah tirinya semakin memanfaatkan kebaikan dari Keluarga Wijaya.
"Sebelumnya, Andira juga sudah menyerahkan semuanya pada saya sebagai ayah, sekaligus walinya saat ini. Benar begitu, Andira?" Jefri bersikap seolah Ayah yang baik. Ia berusaha sebijak mungkin agar keluarga Rangga semakin bersimpati kepadanya.
"Iya, silahkan Pak Jefri. Sampaikan saja semua yang telah Anda bicarakan dengan putri Anda. Ini memang kewajiban kami, bukan? Sebagai pihak lelaki, kami akan berusaha menyediakannya." Tuan Wijaya memberikan kesempatan sepenuhnya pada lelaki itu, membuat Jefri semakin senang karena bisa meminta apapun yang ia inginkan.
'Dasar miskin, tak tahu diri. Awas saja jika minta sesuatu yang berlebihan. Memangnya mereka siapa? Dasar penjilat!'
Dalam hati Nyonya Yuni terus saja memaki. Lebih tepatnya ia menyayangkan sikap suaminya yang terlalu tergesa mengambil keputusan. Dan lebih herannya lagi, kenapa putranya hanya diam dan menurutinya?
"Apa Anda bisa menyediakan rumah dan mobil, sebagai mahar untuk Andira nanti?"
Duarrr
Andira hampir jatuh pingsan mendengar mahar yang di minta Jefri. Bagaimana mungkin lelaki itu meminta rumah dan mobil dengan mengatasnamakan dirinya, padahal ia sama sekali tidak pernah membahas mengenai mahar atau apapun yang mengarah ke sana.
"Jangan keterlaluan kamu! Kamu pikir, kami akan mengabulkan begitu saja permintaan kalian? Dan kamu gadis tidak tahu diri!" Nyonya Yuni menunjuk Andira dengan sorot mata tajam, "Kamu sengaja ingin memanfaatkan kebaikan keluarga kami!"
"Ma....?"
"Apa! Papa akan mengabulkan begitu saja permintaan mereka? Dan kamu Rangga, kenapa diam saja? Apa kamu benar-benar akan menikahi gadis matre sepertinya?" tanya perempuan itu dengan penuh emosi.
"Ma, tahan dulu. Tidak perlu emosi seperti ini. Mereka memang berhak kok meminta mahar apa saja yang di inginkan. Dan kita sebagai pihak lelaki harus berusaha memenuhinya." Tuan Wijaya berusaha menenangkan istrinya yang masih di penuhi emosi. Sedangkan Rangga terlihat tidak peduli. Ia sudah paham dengan sifat ayah Andira yang sperti itu. Jika menjadikan anaknya sebagai penebus hutang saja dia tega, apalagi meminta pada keluarganya hal semacam itu.
"Rangga, kamu jangan diam saja, Nak? Katakan pada Mama, jika kamu ingin membatalkan pernikahan ini tidak apa-apa kok? Kami pasti akan mendukunganya." Kali ini Nyonya Yuni membujuk putranya, berharap lelaki itu berubah pikiran dan segera membatalkan rencana awalnya.
"Ma, cukup, Ma! Kenapa Mama malah meracuni Rangga dengan kalimat yang membuatnya bimbang?"
"Lalu Mama harus bagaimana? Papa dengar sendiri, bukan? Apa permintaan mereka? Belum jadi menantu kita saja sudah berani meminta seperti itu, apalagi nanti? Mungkin dia akan menguras kekayaan kita secara perlahan." Ucapan Nyonya Yuni semakin tidak terkendali. Suasana yang tadinya nyaman kini berubah tegang dan memanas.
Andira masih maju-mundur ingin bersuara. Gadis itu merasa tidak enak sendiri melihat pertengkaran mereka saat ini.
"Maaf, Tuan, Nyonya. Bisakah saya menyampaikan sesuatu?" Akhirnya gadis itu membuka suara. Ia meyakinkan pada dirinya sendiri bahwa ia harus segera menyelesaikan ketegangan ini. Andira tidak ingin dirinya semakin di cap matre oleh kedua calon mertuanya hanya karena permintaan ayahnya yang sudah keterlaluan.
"Sungguh, saya tidak menginginkan apapun. Apalagi menjadi menantu Keluarga Wijaya yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Saya hanya gadis biasa yang bekerja di restoran keluarga Anda. Jadi, mengenai rencana pernikahan ini, apa sebaiknya di batalkan saja?" Andira mengucap takut-takut, sembari melirik satu-persatu wajah di depannya.
"Nak, apa yang kau katakan? Di batalkan? Ini tidak mungkin. Mereka sudah menyetujui sebelumnya?" Jefri langsung menyambar kalimat gadis itu. 'Enak saja di batalkan. Ini satu-satunya peluang agar aku bisa hidup enak tanpa sudah payah.'
"Tapi, ini semua membuat mereka bertengkar, Yah? Dira tidak ingin semakin membuat kacau dengan masuk ke keluarga mereka." Andira menggeleng pelan. Menyampaikan penolakannya baru saja.
"Tapi, Nak— .....?"
"Sudah, sudah. Kenapa jadi ribut seperti ini?" Tuan Wijaya menarik napas pelan. Ia tidak ingin melanjutkan perdebatannya dengan sang istri yang nantinya akan membuatnya emosi.
"Pernikahan akan tetap berlanjut. Dan mengenai mahar, kami pasti akan memenuhinya."
"Pah—....?"
"Sudah, Ma? Papa tegaskan sekali lagi. Dengan atau tanpa persetujuan dari Mama, pernikahan Rangga dan Andira akan tetap di laksanakan!"
Jefri bersorak senang mendenagrnya. Tentu saja, itu 'kan yang ia harapakan. Namun tidak dengan Andira, jika benar ia menerima keputusan ini, itu artinya ia harus sanggup menerima semua konsekuensinya.
Menjadi menantu sekaligus bagian dari Keluarga Wijaya mungkin saja tidak mudah. Apalagi sikap calon mertua perempuannya yang belum bisa memberinya restu, di tambah lagi dengan calon suaminya, benarkah Rangga akan menerima dirinya begitu saja sebagai istri? Sedangkan perkenalan mereka belum cukup lama.
Akhirnya semua sudah di putuskan. Tanggal pernikahan, mahar, termasuk gedung dan semua persiapan pernikahan untuk keduanya telah mereka bahas. Di sini Jefri paling merasa di untungkan, selain berhasil meminta mahar yang mahal, ia juga tidak akan di rugikan sedikitpun karena semua biaya pernikah akan di tanggung oleh pihak Rangga.
Selepas mereka pergi, Jefri langsung tertawa terbahak. Ia begitu senang saat membayangkan kehidupannya yang sebentar lagi akan berubah. Ia tidak peduli kalau harus mengorbankan Andira lagi. Biarlah, toh dia bukan putri kandungnya, jadi untuk apa memikirkannya.
Selalu saja itu yang menjadi patokan. Padahal selama lima tahun ia hidup bersama Ibu dari Andira, Jefri sama sekali tidak bekerja. Setiap hari kegiatannya hanya nongkrong dan bermain judi. Setiap kali kalah ia akan memukul dan menyiksa istrinya hingga wanita itu menyerahkan semua uang yang ia dapatkan dari seharian bekerja.
Andira yang saat itu masih sekolah hanya bisa menangis. Gadis itu tidak tahu lagi harus berbuat apa saat melihat ibunya di siksa. Hingga hari itu, di mana sang ibu harus menghembuskan napas terakhirnya dan membuat dunianya hancur.
Andira bersusah payah mencari pekerjaan paruh waktu demi menyambung hidup, sekaligus membiayai sekolahnya yang sebentar lagi akan lulus. Meski berat dan penuh air mata, dengan sekuat tenaga ia bertahan. Namun lagi-lagi nasib buruk menimpanya, lelaki yang selama ini ia akui sebagai Ayah, rela menjualnya kepada seorang rentenir dan menjadikannya sebagai penebus hutang.
"Yah...? Andira menghampiri sang ayah yang tengah duduk di teras depan. Lelaki itu menghisap rokok yang terkepul di tangan, lalu menghembuskannya begitu saja.
"Harusnya Ayah tidak meminta semua itu pada mereka. Ayah tahu sendiri bukan, bagaimana sikap Nyonya Yuni tadi?"
Lelaki itu langsung diam. Ia menginjak bekas puntung rokok dengan kasarnya. Selanjutnya, tatapan Jefri menajam ke arah gadis itu, beda sekali dengan sikapnya tadi yang lembut saat di hadapan Keluarga Wijaya, "Ngomong apa kamu?" tanya Jefri lagi, lelaki itu bangkit dan melangkah mendekati Andira.
"Dengar, dan perhatikan baik-baik ucapanku ini." Jefri mencengkeram wajah gadis itu keras, memaksa kedua mata coklat bak biji kenari itu menatap ke arahnya.
"Jangan membantah apapun yang Ayah putuskan. Atau— ......?"

Komentar Buku (161)

  • avatar
    81Joang

    menarik jalan ceritanya👍👍👍

    13/04/2022

      3
  • avatar
    TiuttTia

    bagus

    07/07

      0
  • avatar
    Waoteyau Putri

    mantap kren pokonya hah

    29/08/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru