Wanita itu bergerak cepat menuju ke arah Rangga. Lalu dengan tidak tahu malunya langsung menabrakkan tubuhnya ke arahnya. Sejenak keduanya menjadi sorotan dan perhatian para pegawai kantor yang melihatnya. Hingga Rangga tersadar dan memaki wanita itu dengan keras, "Hei, lepas! Apa-apan kamu!" Hardik Rangga seraya mencoba melepaskan diri. Lelaki itu mencoba mendorong tubuh Laura agar wanita itu segera melepaskan pelukannya. "Kau mau ke mana?" tanya Laura dengan tubuh yang masih memaksa memeluk lelaki tadi. "Bukan urusanmu! Lepas, sia****!" Tanpa sadar Rangga sampai mengumpat, meluapkan emosinya yang tiba-tiba saja meledak. "Rangga. Maafkan Mama ya? Dia tidak sengaja mengatakan itu pada keluargamu?" "Aku tidak peduli. Lepas, Laura!" "Tapi, kau mau kemana?" Rangga tidak menghiraukan ucapan wanita itu lagi. Di tepisnya dengan kasar tangan Laura, hingga tubuh wanita itu terhuyung dan hampir saja menyentuh lantai. "Auwwww....! Rangga....!" Rangga berjalan cepat menuju mobil. Meninggalkan Laura yang masih menyeimbangkan tubuhnya kembali. Sungguh, ia muak dengan kelakuan wanita seperti Laura, yang rela mengobarkan apa saja hanya demi ketenaran "Tante, bagaimana ini?" Laura menangis di depan Nyonya Yuni yang saat ini tengah ia temui. Tadi, setelah Rangga meninggalkannya begitu saja, wanita itu langsung menghubungi Nyonya Yuni dan memintanya untuk segera bertemu. "Kamu tenang ya, sayang. Rangga pasti sedang terburu-buru, makanya dia meninggalkanmu sendirian," hibur perempuan paruh baya itu. Yah, apalagi yang akan ia katakan selain menghibur wanita itu. Nyonya Yuni masih sangat berharap Laura lah yang akan menjadi menantunya, bukan Andira atau gadis mana pun. "Tapi, Rangga selalu mengabaikanku, Tante? Bagaimana jika Om Wijaya benar-benar akan merestui hubungan mereka berdua?" Laura masih saja menangis, seakan dirinya sebegitu menyedihkan hanya karena di abaikan oleh seorang lelaki. "Kamu tenang ya? Om Wijaya pasti akan menuruti semua permintaan Tante. Lagipula kita belum tau 'kan siapa dia? Untuk itu kita harus bergerak cepat, dan mencari tahu siapa sebenarnya gadis itu." Laura tersenyum mendengar janji Nyonya Yuni tadi. Kesempatannya akan kembali terbuka lebar jika ia benar-benar bisa meyakinkan perempuan itu. Kini yang harus ia lakukan adalah mencari tahu siapa sebenarnya sosok gadis yang menjadi saingannya saat ini. ***** "Apa Papa serius dengan yang Papa ucapkan?" tanya Rangga yang baru saja tiba. Lelaki itu langsung masuk dan mencari keberadaan Papa Wijaya yang ternyata tengah duduk santai di pinggir kolam. Tadi setelah Rangga mendapat laporan dari anak buahnya, kalau papanya baru saja mendatangi restoran dan sempat berbicara berdua dengan Andira, Rangga langsung menghubungi Bagas dan menanyakan tentang kebenaran berita itu. Rangga di buat terkejut dengan apa yang Bagas sampaikan. Pria itu mengatakan jika ia harus memperlakukan Andira dengan baik, karena gadis itu sekarang calon menantu dari keluarga Wijaya. Rangga yang bingung lalu melajukan mobilnya menuju rumah, karena ingin mendengar sendiri kebenaran itu dari papanya. Tuan Wijaya langsung menengok saat mendengar suara Rangga yang tiba-tiba saja muncul dan berdiri di sampingnya. "Serius apa maksudmu?" Papa Wijaya menjawab santai sambil membuka halaman surat kabar di tangan. "Apa Papa sungguh-sungguh akan menjadikan Andira menantu?" "Kenapa tidak?" "Tapi, Pa...?" "Apa? Bukannya kamu sendiri yang mengenalkan gadis itu pada kami, dan kamu juga mengatakan kalian adalah sepasang kekasih. Lalu, sekarang apa masalahnya?" Pala Wijaya meletakkan surat kabar yang ia baca lantas menatap tajam pada Rangga yang kini duduk di hadapannya. "Kami...?" Rangga bingung harus menjelaskan dari mana. Haruskah ia mengatakan kalau hubungannya dengan Andira hanya pura-pura demi menghindari perjodohannya dengan Laura. "Kalian pura-pura menjadi sepasang kekasih?" tanya Tuan Wijaya, seketika membuat lelaki di depannya diam tidak berkutik. "Ke–kenapa Papa tau?" Brak!! Rangga langsung diam dan menunduk, ia terkejut karena respon papanya yang terlihat sangat marah. "Apa kamu pikir, sekarang waktunya bermain-main?" "Maaf, Pa ....?" Rangga merasa bersalah karena telah berbohong dan melibatkan Andira dalam urusan pribadinya. "Papa tidak mau tau, kamu harus menikahi Andira secepatnya!" ucap Papa Wijaya tegas, seakan perkataannya tidak bisa di bantah lagi. "Tapi Pa, kenapa harus Andir_____....?" "Apa kamu ingin, Mama menjodohkanmu lagi dengan Laura?" teriak Papa Wijaya murka. "Tidak, Pa." Rangga hanya bisa menunduk sambil mendengarkan apa yang papanya katakan. "Maka nikahilah segera. Papa lebih setuju melihatmu dengan Andira," ucap Papa Wijaya kemudian. Kali ini nada bicaranya sudah kembali normal. "Apa ini karena perkataan Nyonya Wilson, lantas sekarang Papa membencinya?" tanya Rangga ingin tahu. Pria paruh baya itu menggeleng. Memang bukan itu alasan yang sebenarnya, mengapa ia tidak ingin Rangga dengan Laura. Tapi Papa Wijaya memiliki alasan sendiri dan hanya ia yang mengetahuinya. "Mengenai perkataan Nyonya Wilson, memang sebenarnya kamu yang bersalah." Rangga menyadari saat itu ia memang bersalah, dengan membawa Andira dan memperkenalkan sebagai kekasih. Tapi itu semua Rangga lakukan untuk membatalkan niat Mama Yuni yang begitu kekeh ingin menjodohkannya dengan Laura. "Sekali lagi maaf, Pa?" "Bersiaplah. Besok kita akan menemui orang tua Andira untuk membahas rencana pernikahan kalian." "Besok?" Rangga mengulang ucapan sang papa baru saja. "Apa tidak terlalu terburu-buru?" Rangga berharap akan bisa membatalkan rencana yang di buat oleh papanya. Bagaimanapun ia tidak ingin menikahi gadis yang sama sekali tidak ia cintai. Sebaliknya, Rangga juga tidak ingin terlalu menyeret gadis itu untuk masuk dalam permasalahan keluarga besarnya. "Ini bukan tawaran, tapi perintah! Kamu harus segera menikahi Andira." "Ada apa ini?" Nyonya Yuni yang baru saja datang sangat terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar. "Papa bercanda, kan? Bagaimana mungkin kita merestui Rangga dengan gadis yang tidak jelas dari mana asal-usulnya?" "Tidak jelas bagaimana maksud Mama? Dia gadis baik-baik, dan Papa sudah berbicara dengannya langsung." "Jadi, Papa sudah bertemu dengan gadis itu lagi? Nyonya Yuni menatap tak percaya dengan apa yang di lakukan suaminya. Kenapa pria paruh baya itu bertindak sendiri, tanpa meminta persetujuan darinya lebih dulu? "Aku sudah memastikannya langsung Andira gadis baik. Jadi, Mama tidak usah khawatir," jelas Papa Wijaya sekali lagi. Pria paruh baya itu memang telah menyelidiki asal usul Andira langsung saat diriny kembali dari restoran tadi. "Tapi Mama tetap tidak setuju, Pa? Mama hanya ingin Laura yang menjadi menantu kita, bukan Andira atau siapa pun." "Memangnya kenapa? Mama tau sendiri, bukan? Kalau Rangga tidak menyukai Laura?" Kali ini ucapan Tuan Wijaya sanggup membungkam mulut perempuan itu. "Tapi, Pa— ....?" "Rangga? Papa tunggu keputusanmu sampai nanti malam. Jika kau memilih Andira sebagai calon istrimu, maka nikahilah segera. Tapi, jika kau masih saja menolak, maka dengan berat hati Papa harus mencoretmu dari daftar ahli waris." "Pa....!" Tuan Wijaya beranjak dan meninggalkan keduanya yang masih mematung di tempatnya berdiri.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
menarik jalan ceritanya👍👍👍
13/04/2022
3sangat bagus cerita nya
6d
0bagus
07/07
0Lihat Semua