Sejak Daniel kecelakaan dan dirawat di rumah sakit, aku rutin menjenguknya. Aku akan membawakan makanan kesukaan. Lalu menyuapi dan menghiburnya. Tak jarang aku menginap di rumah sakit. Menemani Tante Santi yang kadang bergantian dengan Griselda atau saudara-saudaranya yang lain. Aku bersyukur kondisinya tidak parah dan semakin membaik. Namun perban di kepala serta tangan kanan membuatnya tidak bisa melakukan aktivitas tertentu. Seperti makan atau minum. Kakinya juga ada lecet di beberapa bagian. Hingga terasa sakit jika digerakkan. "Lama banget sih? Kemana aja?" tanya Daniel. Saat aku baru saja kembali dari luar, membeli makanan untuk makan malam. "Kenapa? Kamu lapar? Atau haus? Maaf, tadi antri." "Enggak. Cuma bosan kalau sendirian." "Sekarang 'kan udah sama aku." "Maaf, aku udah bikin Kakak repot" lirih Daniel. Aku tersenyum tipis. Menatap lekat laki-laki yang aku cintai itu. "Nggak ada yang direpotkan. Namanya juga musibah. Kita nggak tahu kapan akan datang." "Terima kasih udah mau sabar." "Kita akan melewati ini sama-sama. Jangan khawatir." "Aku bersyukur punya Kakak." "Terima kasih udah milih aku. Aku sayang kamu." Aku memeluk Daniel. Membenamkan wajah ke dada bidangnya. Dia mengelus rambutku dengan tangan yang masih diperban. "Ih, lepasin. Jangan lama-lama" kata Daniel. Meringis seperti kesakitan. "Kenapa?" Aku menjauhkan kepalaku dari badannya. "Masih sakit." "Yang diperban 'kan kepala sama tangan?" "Badanku masih ngilu." "Maaf." Aku menyantap nasi dengan lauk ayam bakar. Rasa lapar menyerang karena tidak sempat makan siang. Dari kafe langsung menuju ke rumah sakit. Malam hari selesai membantu Daniel makan dan minum obat, aku pamit pulang. Om Henry dan Tante Santi yang menjaga. Di pintu masuk bangsal, aku juga berjumpa dengan Harvey dan Griselda. Mereka benar-benar keluarga yang kompak. "Kamu nggak apa-apa pulang sendiri?" tanya Griselda. "Atau aku antar aja dulu?" tawar Harvey. "Eh, nggak usah. Kalian 'kan baru sampai. Aku bisa minta Pak Kardi buat me ...." "Biar Yoora pulang sama aku." Belum sempat menyelesaikan, seseorang memotong perkataanku. Kami menoleh ke arah sumber suara. Tampak Dokter Reinhard berjalan ke arah kami. Rupanya ia masih bertugas. Kukira poli anak hanya sampai siang atau sore. "Dokter Reinhard? Eh, nggak usah, Dok. Saya bisa minta jemput Pak Kardi." "Nggak apa-apa. Sekalian saya juga mau pulang." "Tapi ...." "Kenapa? Ayolah, Yoora, udah malem lho ini." Dokter Reinhard terus membujuk. "Iya, bener. Mending kamu pulang sama Kak Reinhard aja." "Iya, Yoora, bener apa kata Harvey. Daripada menunggu Pak Kardi, kelamaan" tambah Griselda. "Tenang aja. Aku bakalan anterin kamu sampai rumah." "Mmm ... iya, deh, Dok. Terima kasih sebelumnya." Akhirnya aku menerima tawaran Dokter Reinhard. Kami berjalan beriringan menuju ke parkiran. "Dokter masih ada tugas sampai jam segini?" Iseng-iseng aku bertanya. "Enggak sih. Kebetulan lagi jenguk teman aja. Kecelakaan juga." "Oalah. Semoga temannya cepat pulih. By the way, temennya seorang dokter juga?" "Haha, bukan. Teman SMA, teman nongkrong." "Ooh." Mobil yang distir Dokter Reinhard pelan-pelan meninggalkan area rumah sakit. Menembus jalanan malam hari yang masih ramai lancar. Aku merapatkan outer yang kupakai. Sesekali melihat ponsel dalam ge nggaman. Daniel mengirim banyak pesan. Baru ditinggal beberapa menit, bucinnya sudah tidak tertolong. "Kenapa? Ada yang telepon?" tanya Dokter Reinhard. "Eh, nggak, Dok. Ini, dari tadi Daniel kirim pesan." "Kangen, karena kamu tinggal." "Baru juga beberapa menit." "Namanya juga sama calon istri." "Ya nggak gitu juga, Dok. Kayak ABG aja." Dokter Reinhard terkekeh. Kembali fokus pada stirnya. Aku memandang luar jendela. Di atas sana, bulan bersinar dengan terangnya. Mungkin tanggal lima belas dalam penanggalan Jawa, karena bentuknya bulat sempurna. Beberapa menit berlalu. Mobil berhenti di depan pintu gerbang yang masih terbuka. Aku segera turun setelah melepas sabuk pengaman. "Terima kasih ya, Dok" ucapku sebelum melangkah masuk ke dalam rumah. "Iya, sama-sama. Aku permisi ya." Aku masuk ke dalam setelah mobil yang dikendarai Dokter Reinhard menghilang dari pandangan. Pak Kardi baru saja keluar dari garasi. "Lho, Mbak Yoora? Pulang kok tidak minta dijemput?" "Dianterin sama Dokter Reinhard, Pak." "Oalah. Ya sudah, Mbak. Cepetan masuk. Angin malam tidak baik buat kesehatan. Saya mau mengunci pintu gerbang dulu." Rumah sudah sepi. Mungkin sudah ada di kamar masing-masing. Aku menaikki tangga dengan gontai. Langsung melempar tas dengan sembarang ke ranjang tidur, begitu sampai di kamar. Menunggu orang sakit memang terlihat sepele, tapi membuat tubuh terasa lelah. Aku segera mandi dengan air hangat. Berharap rasa lelah ini segera sirna dan bisa tidur dengan nyenyak. Sengaja aku berlama-lama di kamar mandi. Guyuran air hangat yang membasahi seluruh tubuh, aroma sabun cair yang semerbak, seakan terapi jiwa. Membawa hawa tenang melalui indra penciuman. Lebih dari setengah jam berlalu. Aku sudah berganti pakaian. Piyama warna navy dengan bahan satin. Tak lupa melakukan rutinitas malam sebelum tidur, yakni memakai skincare. Selesai memakai skincare, aku mengambil ponsel dari dalam tas. Hendak membaca pesan yang dikirim oleh Daniel. [Hati-hati di jalan ya] [Jaga mata, jaga hati] [Kalau udah sampai rumah kabari ya?] [Aku kangen, mau telepon] Aku tersenyum membaca pesan dari Daniel. Lalu mengetik dan mengirim balasan. [Aku udah sampai rumah] [Tapi aku capek, mau tidur] [Kamu juga harus banyak istirahat, biar cepat sembuh] [Sampai jumpa besok ya] Pesan terkirim. Aku matikan data seluler dan meletakkan ponsel ke atas nakas. Lalu mematikan lampu utama, mengambil selimut dan bersiap untuk tidur. Entah sudah berapa jam aku tidur, aku terbangun karena merasa haus. Dan sialnya, aku lupa membawa air minum ke kamar. Mau tidak mau harus turun ke dapur. "Lho, Yoora, belum tidur?" Suara Bu Wira membuatku yang sedang menuang air ke dalam gelas menoleh. "Eh, Ibu? Ini, Bu, lagi ambil air. Haus." "Ooh, sama dong. Tapi Ibu juga lapar. Mau bikin mie instan. Kamu mau juga? Biar tak bikinin sekalian." "Eh, nggak usah, Bu." "Kenapa? Kamu nggak lapar ya? Atau kamu lagi diet karena mau jadi pengantin?" "Eh, enggak-enggak kok, Bu. Aku nggak pakai diet-diet segala. Begini aja, Daniel udah terima apa adanya." "Daniel memang laki-laki yang baik." "Iya, Bu. Saya beruntung dipilih dia." "Karena kamu memang jodohnya." Bu Wira mengambil panci, mengisinya dengan air dan meletakkan di atas kompor. Lalu kompor dua tungku itu dinyalakannya. Ia juga mengambil dua bungkus mie instan rasa ayam bawang, dua butir telur, sawi dan cabai rawit. Sambil menunggu air mendidih, Bu Wira membuka mie instan. Sementara aku membantu memotong sawi dan mencucinya. "Saya bakalan kangen sama kamu." "Nanti kita 'kan bisa teleponan, Bu." "Beda. Rasanya beda, Yoora." "Cuma sebentar kok. Nanti juga Ibu terbiasa." "Kamu sudah saya anggap seperti anak sendiri. Rasanya berat kalau berjauhan." "Saya 'kan ikut suami, Bu. Nggak lama kok. Beberapa tahun aja." "Beberapa tahun itu lama. Kamu janji ya, kalau pulang bawa cucu yang lucu-lucu buat Ibu." "Ih, Ibu ini lho. Nikah aja belum, udah bahas cucu." "Kenapa? Tinggal beberapa bulan lagi." "Hidup di luar negeri kayak gimana ya, Bu? Ada rasa takut juga." "Sama saja. Kamu harus jaga sikap dan tutur kata. Juga menghormati budaya-budaya mereka." "Menyesuaikan diri pastinya juga nggak mudah." "Sambil belajar. Ibu yakin, Daniel pasti bisa membimbing kamu, membahagiakan kamu. Doa kami selalu menyertai kalian." "Terima kasih ya, Bu?" Aku hanya tersenyum tipis. Memeluk wanita berpiyama maroon itu. Bu Wira sudah seperti ibuku sendiri. Sejak kehadiranku di rumah ini beberapa tahun yang lalu, ia seperti mendapat anugerah yang harus dijaga. Keinginannya untuk menjadikan Mbak Claudia seorang kakak harus pupus. Menurut cerita yang Bu Wira babarkan, lima belas tahun yang lalu, dokter di rumah sakit mengatakan bahwa sesuatu telah terjadi dengan rahimnya. Demi keselamatan, rahimnya kemudian diangkat. Pagi hari, aku berangkat ke kafe dengan naik taksi online karena hujan. Pun aku bangun hampir pukul tujuh, hingga melewatkan sarapan. Sampai di kafe, disambut dengan kehadiran Jerry. Ia sedang mengerjakan sesuatu di laptop-nya. "Jerry?" sapaku. Laki-laki berkemeja itu pun menoleh. Berdiri setelah menyadari aku yang menyapa. "Eh, hai, Kak Yoora." "Udah lama?" "Sepuluh menitan." "Aku ke belakang dulu ya? Mau siap-siap." "Kak ...." "Iya?" "Selamat ya, semoga lancar pernikahannya." "Terima kasih." Aku tersenyum tipis. Ada gurat sendu di wajah Jerry. Ia adalah laki-laki yang pernah bertahta di hati. Pernah menjadi yang terindah sebelum berakhir karena aku tak lagi percaya padanya. Tatapan matanya menyiratkan sebuah kerinduan. "Aku nggak pernah menyangka akhirnya seperti ini. Tapi aku yakin, Daniel bisa membahagiakan Kakak." Hening. Tangan Jerry terulur, memeluk erat tubuhku yang masih terdiam. Membiarkan laki-laki itu mengelus rambut dan punggung. Dunia seakan membeku. Membuat lidahku kelu. Kaku. Hingga tak ada respon apapun yang kuberikan saat ia hampir mendaratkan bibirnya di pipi. "Ehemmm ...." Deheman Arinda membuat pelukan terlepas. Kami menoleh ke arah mojang Bandung itu. "Maaf. Aku hanya ... aku hanya rindu." Aku diam, menatap Jerry dengan lekat. Sebelum berlalu meninggalkannya yang masih berdiri termangu. Namun, entah dorongan dari mana, aku menoleh. Dari kejauhan, aku melihat mantan kekasihku itu kembali duduk di kursi. Mengambil sesuatu dari dalam tas. Sebuah syal berwarna hijau tua ia lilitkan di leher. Aku pun baru menyadari, ia memakai jaket yang cukup tebal. Mungkin karena hujan yang baru saja kembali menderas, udara menjadi lebih dingin. ~💚Pricilla Hwang💚~
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
saya suka
13/05
0bgus
20/01
0bagus
13/01
0Lihat Semua