Pagi hari usai mandi, berganti pakaian dan berdandan ala kadarnya, aku turun ke lantai bawah. Melangkah ke ruang makan untuk menyantap sarapan. Perutku sudah sangat lapar. Maklum, semalam tidak makan malam karena masih kenyang di traktir Daniel. Aku yang sedang menikmati sarapan seorang diri, dikejutkan dengan kedatangan Jerry setelah Mbok Yah datang memberitahu, bahwa mantan pacarku itu sudah ada di depan rumah. Seraya menghela nafas panjang, aku letakkan sendok ke atas piring yang isinya masih separo. Bangkit dari duduk dan bergegas menuju ruang tamu. Benar saja. Terlihat Jerry sudah duduk di sofa berwarna hitam. Kedua tangannya menari-nari diatas benda pipih nan canggih itu. "Ada apa kamu kesini?" tanyaku to the point. Seraya duduk di hadapannya. Jerry menghentikan pergerakan tangannya dari ponsel seharga sebuah sepeda motor itu. Menatapku kemudian. "Mau ketemu Kakak. Aku kangen" jawabnya seolah-olah hubungan ini masih seperti semula. "Nggak usah kangen-kangenan. Ingat, kita itu udah nggak ada hubungan apa-apa lagi" kataku menegaskan. Jerry menaruh ponselnya di atas meja. Mendekatiku yang bersedekap. Tepatnya duduk di sampingku. Aku menatap mantan kekasihku itu. Wajahnya terlihat memelas. Percaya, dia pasti merindukan saat-saat bersamaku. Dan aku tidak boleh lemah. "Kak..." "Lebih baik kamu pulang sekarang." "Tapi aku mau ngomong sama Kakak." "Ngomong apa lagi sih?" Nggak ada yang penting kan?" "Aku nggak bisa kalau kayak gini terus." "Kamu lupa kalau hubungan kita udah berakhir?" "Itu menurut Kakak, tapi enggak buat aku." "Terserah!" "Kakak sekarang udah bener-bener berubah ya? Pasti karena Daniel." "Aku nggak pernah berubah. Masih sama kayak dulu. Kamu aja yang berlebihan. Dan, satu lagi. Jangan pernah ngelakuin hal-hal yang nggak pantes sama Daniel. Apalagi di depan umum." "Bener kan. Kakak itu sudah berubah. Apa Kakak juga suka sama Daniel?" "Suka atau enggak itu bukan urusan kamu." "Dia bukan cowok yang baik buat Kakak." "Ngomong apa kamu? Cowok baik? Memangnya kamu itu udah sempurna? Kamu sadar nggak sama kelakuan kamu sendiri?" "Kok Kakak ngomong gitu?" "Pikir aja sendiri. Jangan pernah kamu bawa-bawa nama Daniel lagi. Dia nggak salah" kataku tegas seraya bangkit dari duduk. "Termasuk soal dia yang mencintai Kakak?" "Semuanya." Aku berlalu dari hadapan Jerry. Kembali ke ruang makan dengan perasaan sedikit marah. Menghabiskan sarapan yang sempat tertunda. Tak peduli dengan Jerry. Mau pulang atau tidak itu urusan dia. Selesai sarapan, aku naik ke lantai atas untuk bersiap-siap berangkat kerja. Kulihat Jerry sudah tidak ada di ruang tamu. Itu tandanya dia sudah pulang. Syukurlah. Aku tidak akan menghadapi raut wajahnya yang mengiba. Aku memperbaiki dandanan melalui cermin. Lalu mengambil tas selempang warna coklat yang berisi ponsel, dompet dan juga beberapa alat make-up. Keluar kamar dan menuruni tangga dengan cepat. "Mbak Yoora udah mau berangkat?" tanya Mbok Yah saat aku sudah sampai di lantai bawah. "Iya, Mbok." "Ditungguin Mas Jerry tuh." "Jadi Jerry belum pulang, Mbok?" "Belum." Segera aku berlari keluar rumah. Kudapati Jerry yang sedang berdiri bersandar pada mobilnya. Pandangannya lurus menatap langit yang cerah. Aku menghampirinya dengan perasaan kesal. "Kamu ngapain masih disini?" Tanpa menjawab pertanyaanku Jerry langsung menarikku seraya membuka pintu mobilnya. Dia memaksaku untuk masuk. Tentu saja aku menolaknya. "Jerry, lepasin!" teriakku. Berusaha melepas cengkraman tangannya. Beruntung, tiba-tiba sebuah sepeda motor masuk ke halaman rumah. Membuat kami menoleh. Kesempatan ini aku gunakan untuk bisa lepas darinya. Namun cengkraman tangannya semakin kuat. Apalagi setelah melihat siapa yang datang. "Jangan kasar kalau sama cewek." Cepat, Daniel menarik dan menjauhkanku dari Jerry. "Eh, apa hak kamu ngatur-ngatur?" "Bukan urusan aku kamu ada masalah apa? Bisa nggak kalau sikap kamu itu lebih lembut lagi? Cewek itu dilindungi, bukan disakiti." "Nggak usah sok pahlawan. Nggak usah ceramah. Kamu pikir, kamu udah jadi orang yang benar?" "Benar atau nggak, biar Tuhan yang menilai." "Hhh, sok religius." Daniel diam. Tidak menanggapi. Beralih menatapku kemudian. Syukurlah dia lebih bijak. "Kita berangkat sekarang, nanti telat." Tanpa mempedulikan Jerry, Daniel mengajakku untuk segera berangkat kerja. Aku menurut. Mengikutinya menuju ke sepeda motornya. Dari ekor mata, kulihat tatapan Jerry begitu tajam. Dia cemburu dan kesal. Ah, biarkan saja. Toh, kita sudah tidak ada urusan lagi. Sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. "Kurang ajar banget si Daniel. Awas kamu!" Kudengar Jerry mengumpat. Kata-kata itu diucapkan dengan emosi. Meskipun aku tidak menoleh untuk melihat, tapi dari nada bicara yang meninggi itu aku bisa mendengar. Dalam perjalanan menuju kafe, aku tak tidak memikirkan kejadian tadi. Aku lebih menikmati suasana pagi khas kota besar. Walaupun udara terasa lebih panas dari kampung halaman. Tapi aku sudah terbiasa hidup dengan suasana seperti ini. Beberapa saat kemudian, sepeda motor Daniel sampai di halaman kafe. Aku segera turun, melepas helm dan menyerahkannya pada Daniel untuk ditaruh. Merapikan penampilan, termasuk tatanan rambut sebelum masuk ke dalam. "Nggak usah dibenerin, udah cantik kok" kata Daniel, lalu melangkah masuk ke dalam kafe. "Iya lah. Kan aku cewek" jawabku seraya seraya berlari menyusul langkahnya yang cepat. Kini, aku bisa mensejajarinya, meskipun tinggi badan kami yang jomplang. Perawakan Daniel seperti orang Asia Timur. Menurut sangat kontras, meskipun orang bilang warna kulitku juga terang. Sesampainya di dalam kafe, aku dikejutkan dengan kedatangan dua orang. Laki-laki dan perempuan, Harvey dan Griselda. Begitu kami datang, mereka menoleh dan menyuruhku duduk untuk bergabung. Tentu saja aku bingung. Aku pun menatap Daniel, meminta pendapat. "Kak Harvey mau ngomong sesuatu sama Kakak" kata Daniel. Kemudian berlalu dari hadapanku. Setelah punggung Daniel tak lagi terlihat, aku pun menghampiri dua orang yang dulu telah menyakitiku itu. Kulihat Harvey begitu santai. Sementara Griselda sedikit ada raut kecemasan, kekhawatiran dari wajah cantiknya. Aku memahaminya. Mungkin dia masih bersalah karena dulu telah merebut Harvey dariku. "Harvey...Grisel?" sapaku. "Oh, hai, Yoora" jawab Harvey santai. "Yoora?" Sementara Griselda kulihat dia kaget dan agak gugup. "Kamu gimana kabarnya?" tanya Harvey begitu aku duduk. "Seperti yang kamu lihat sekarang. Aku baik-baik aja" jawabku santai. "Syukurlah." "Kalian ada apa?" "Yoora, kita datang kesini sengaja mau ketemu kamu. Ada yang ingin aku sampaikan ke kamu." "Iya, Yoora. Kita datang kesini dengan niat baik. Aku harap kamu nggak marah" sahut Griselda. "Apa yang mau kalian omongin?" tanyaku tho the point. "Begini, Yoora. Seperti yang dikatakan Grisel tadi. Kita berdua datang kesini dengan niat baik. Kita mau minta maaf sama kamu. Kita mengakui kalau udah banyak salah. Udah nyakitin hati kamu. Kita benar-benar minta maaf. Tolong maafkan kesalahan kita berdua, Yoora." Harvey menatapku lekat-lekat saat menyampaikan permintaan maaf. Dari sorot matanya, aku melihat ada ketulusan disana. Aku bisa paham. Aku bisa mengerti. Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Mereka pernah salah, pernah melukai hatiku. Bukankah Tuhan saja Maha Pemaaf? Kenapa aku tidak? Toh, semua sudah masa lalu, sudah takdir. Dan aku sudah lama mengikhlaskannya. "Yoora, sekali lagi kita minta maaf ya? Kita sambut dengan lembaran baru. Kamu mau kan maafin kita?" Kali ini Gsriselda yang bicara. Aku tersenyum tipis pada dua orang di depanku ini. Tidak perlu datang. Pun aku sudah memaafkan mereka jauh sebelum mereka datang. Setelah aku paham apa arti dari ikhlas dan takdir. "Aku udah maafin kalian sebelum kalian memintanya. Semua udah masa lalu. Semua udah takdir. Aku udah ikhlas." Aku bangkit dari duduk. Hendak melangkah. Karena tak akan kuat jika berlama-lama dengan pembicaraan seperti ini. Bukan karena masa lalu, tapi karena semua hal yang pernah terjadi. Dan kini aku bahagia melihat mereka berdua. "Yoora..." Griselda meraih tangan dan membuatku menoleh. Dia langsung memelukku erat. Aku mengelus punggungnya yang kurasa juga berat. Karena memikul beban sebagai tulang punggung keluarga. "Terima kasih ya? Terima kasih kamu udah mau maafin kesalahan kita" katanya dengan terisak. "Jangan kayak gini. Aku ikut bahagia melihat kalian berdua bersama." "Terima kasih, Yoora. Kamu tahu bukan, beberapa hari lagi kita akan menikah. Kamu mau datang ke pernikahan kita kan?" Griselda melepaskan pelukan. Dia menatapku seraya mengusap kedua matanya yang basah. Sekali lagi aku tersenyum tipis. "Aku akan mengusahakannya." Griselda mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Lalu selembar undangan pernikahan diberikannya padaku. Harvey pun kini berdiri. Aku menerima undangan itu dengan tanpa beban. "Yoora, ini undangan buat kamu. Dan kita harap kamu bisa datang." "Terima kasih." "Kita yang harusnya berterima kasih. Kamu orang baik. Kelak pasti akan mendapatkan orang yang baik pula." Harvey mendoakanku. Sungguh, tak kusangka kalau dia adalah mantan tunanganku. Aku tersenyum tipis untuk yang ketiga kalinya. Tanpa sepatah kata, aku berlalu dari hadapan mereka. Melangkah ke belakang untuk bersiap-siap bekerja. Hatiku merasa lega. Cerita masa lalu yang menyakitkan telah kukubur dalam-dalam. Semua menjadi sebuah pelajaran dalam menjalani kehidupan yang fana. Yang akan membawa kita pada arti sebuah takdir dan keikhlasan. Untuk masa depan, aku serahkan semuanya pada kuasa Tuhan. Jodoh atau maut yang akan menjemputku lebih dulu. Aku harus siap. ~💚Pricilla Hwang💚~
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
saya suka
13/05
0bgus
20/01
0bagus
13/01
0Lihat Semua