Beranda/Adik Ipar Malang (Hamil Anak Kakak Ipar)/
Bab 90 Akhir dari Semua
Bab 90
Besoknya, Elan sudah diperbolehkan pulang. Mereka semua berkumpul di kediaman Pak Rifan untuk membahas tentang penyekapan Elan oleh Freya. Termasuk Pak Arifin dan Bu Ratna juga ada di sana.
"Kamu beneran enggak dianiaya sama mereka?" tanya Bu Maya khawatir pada Elan.
"Iya. Mereka hanya memborgol satu tanganku ke tiang besi. Supaya satu tangannya lagi bisa bebas. Selebihnya tidak ada."
"Syukurlah," lega Bu Maya.
"Lilis, kamu mau bicara sesuatu, kan?" tanya Devan tiba-tiba membuat semua orang mengalihkan perhatiannya pada Lilis.
Dengan gugup Lilis memandang semua orang. Dia berdiri, tetapi kemudian duduk lagi. Takut kakinya enggak akan kuat menopang saat sedang menceritakan kisahnya Freya.
"Sebelumnya aku mau tanya ke Kak Laras." Lilis menatap ke arah Laras. "Apa benar Kak Laras pernah melihat seorang perempuan sedang diganggu tiga pemuda, sewaktu kita berlibur ke puncak dulu?"
Mata Laras melebar karena terkejut. Kedua tangan yang ada di atas perutnya saling meremas. Ingatan beberapa tahun yang lalu itu kembali masuk ke dalam otaknya.
Kemudian dia memejamkan kedua matanya. Menarik nafas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan.
"Iya," ucap Laras lirih. Suaranya bergetar membuat siapa pun tahu kalau Laras sedang ketakutan.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Pak Arifin. "Ceritakan, Lis!"
Lilis pun menceritakan semua seperti yang Freya katakan. Dia tidak menambahkan atau mengurangkan. Semua yang mendengarkan ada yang tegang, sedih, kasihan, marah, menyesal, bercampur di ruang tamu ini.
Belum selesai Lilis bercerita, air mata milik Laras sudah keluar. Begitu Lilis selesai bercerita, terdengar suara tangisan Laras sangat keras sambil menutupi wajahnya dengan tangan.
Bu Ratna yang ada di sebelahnya langsung menarik Laras ke dalam pelukannya. Semua membiarkan menunggu sampai Laras meredakan tangisnya.
"Ya Allah, kasihan sekali Freya," komentar Bu Maya menutupi mulutnya merasa kasihan.
Begitu selesai menangis, Laras menatap Bu Ratna dan Pak Arifin dengan pandangan bersalah. Masih dengan menahan tangis, dia berbicara, "Ayah, Ibu, maafin Laras. Laras tidak bermaksud untuk enggak menolongnya. Saat itu ..."
Saat itu, setelah Laras selesai menerima panggilan, dia melihat ada satu gadis sedang dirundung oleh tiga orang pemuda. Dilihat dari gesturnya, sudah terlihat bahwa semua pemuda itu sedang dalam keadaan mabuk.
Laras merasa kasihan, dia juga ingin sekali menolongnya. Namun, dia hanya seorang perempuan sedang di sana ada tiga orang pemuda. Ada pun, dia tidak bisa bela diri. Bukannya menolong, yang ada malah dia nanti ikut terkena bahaya. Lalu, siapa yang akan mencari bantuan untuk mereka nantinya?
Laras pun lari, tetapi bukan kabur, melainkan mencari bantuan. Di tengah larinya, dia bertemu dengan penjaga vila yang disewa keluarganya. Laras meminta tolong pada penjaga vila itu untuk menolong gadis itu. Mereka berdua pun kembali ke tempat di mana Freya sedang diganggu.
Sampai di sana, ternyata mereka sudah tidak ada. Saat Laras meminta penjaga vila untuk masuk lebih dalam lagi, penjaga itu melarang. Karena takut ada hewan buas. Akhirnya, mereka berdua itu kembali ke vila dengan perasaan mengambang. Terlebih Laras yang merasakan perasaan menyesal sampai sekarang.
Selesai memberikan keterangan, Laras kembali menangis dengan kencang, dan masuk ke dalam pelukan Bu Ratna lagi. Lilis juga sudah berkali-kali menghapus air matanya selama mendengar cerita dari Laras.
Pak Arifin memijat pelipisnya dengan keras. Pantas saja waktu itu wajah Laras sangat pucat setelah kembali. Dia mengira kalau penjaga vila sudah melakukan hal yang tidak baik pada Laras. Karena setelah itu Laras sering menghindari penjaga vila.
"Bu, apa Laras salah?" tanya Laras dengan wajah sudah basah dengan air mata.
Bu Ratna buru-buru menggeleng. "Enggak, Sayang. Kamu enggak salah. Kamu sudah berbuat baik. Hanya saja memang takdir menggariskannya seperti itu. Kamu sudah berusaha dengan baik. Kamu tidak berniat meninggalkannya dengan begitu saja."
"Benar. Perempuan mana pun kalau mengalami hal seperti Laras juga pasti kurang lebih akan melakukan hal yang sama." Bu Maya ikut menambahkan.
"Sudah, kamu jangan menangis lagi." Bu Ratna membantu Laras mengusap air matanya.
Freya tidak tahu kalau Laras juga mencari bantuan saat pergi. Makanya dia berpikir kalau Laras merupakan orang yang menyebabkan dirinya menjadi seperti sekarang. Sedangkan nasib ketiga pemuda yang melecehkan Freya, mereka sudah tew4s di dalam sel sesaat setelah Freya keguguran. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Fero.
Lilis melihat Devan sedang menunduk sambil mengepalkan kedua telapak tangannya. Tangannya segera merengkuh telapak yang mengepal itu. Devan mengangkat kepalanya dan melihat senyuman hangat Lilis.
Semua yang ada di sana juga melihat ke arah Devan. Mereka tahu bagaimana perasaan bersalah yang Devan miliki.
"Devan, kamu enggak sepenuhnya salah. Bagaimanapun, kamu punya pilihan sendiri. Apa lagi ini untuk seumur hidup. Jangan karena orang memintamu melakukan ini, kamu juga harus menurutinya. Kamu itu milik diri kamu sendiri. Kamu berhak menentukan yang terbaik untuk dirimu." Pak Arifin selaku mertua Devan berucap dengan wibawa.
Pak Arifin harus mengembalikan semangat hidup menantunya itu. Kalau tidak, bagaimana dengan nasib anak bungsu dan cucunya nanti.
Beban berat yang dirasakan Devan tiba-tiba menjadi sedikit lebih ringan. Dia sangat bersyukur bisa memiliki keluarga seperti mereka. "Terima kasih, Ayah. Aku merasa tidak salah memilih istri. Apa lagi mendapatkan mertua dan keluarga yang baik seperti kalian."
"Lalu, bagaimana kelanjutan kasus ini? Apa akan dibawa ke jalur hukum?" tanya Evan.
Pak Rifan melihat putra sulungnya sedang menatap Siska dengan tatapan tidak biasa. Dia pun berdehem, lalu bertanya pada Elan. "Bagaimana menurutmu Elan?"
Elan yang merasa dipanggil pun langsung gagap. Dia sejak tadi terus memerhatikan Siska, sampai diskusi penting ini saja dihiraukannya. Siapa yang menyangka kalau dirinya akan ketangkap basah sedang memandangi Siska?
"Itu, aku ikut kalian saja," jawab Elan pura-pura serius.
Evan mendengus. "Memangnya kamu dengar pertanyaanku tadi?"
"Bukannya Papa yang barusan tanya, ya?" Elan melihat ke kanan kiri dengan canggung.
"Sudah nikahkan saja mereka berdua." Bu Ratna tertawa melihat tingkah Elan.
Sedang Siska, wajahnya sudah bersemu merah. Kemarin Lilis dan Devan mengatakan kalau selama Elan disekap Siska adalah orang uang paling merasa khawatir. Bahkan, dia rela mencari keadilan untuk Elan tanpa mempedulikan nyawanya. Elan pun sangat senang mendengarnya.
"Tidak semudah itu." Pak Rifan tiba-tiba menyela membuat wajah Elan dan Siska langsung berubah tegang.
"Kenapa, Pa?"
Tiba-tiba saja terdengar suara bel rumah berbunyi. Bu Maya segera beranjak ke depan untuk melihat siapa tamu yang datang.
Setelah melihat tamu yang datang, Bu Maya dengan wajah tegang membawa tamunya ke ruang tamu untuk bergabung bersama mereka.
Suasana yang tadinya riuh menjadi sunyi seketika, saat tamu itu sudah berdiri di hadapan mereka. Tamu itu adalah Fero. Dia masuk ke rumah sendirian. Bagaimanapun dia harus meminta maaf atas nama dirinya dan juga adik perempuannya.
Baru kemarin dia melihat Fero masih dalam keadaan bugar, sekarang mereka melihat Fero yang datang dalam keadaan kacau, dan kantung mata yang sangat jelas di bawah matanya.
Bruk!
Fero langsung berlutut dihadapan mereka. Mereka semua langsung terkejut dengan apa yang dilakukan Fero.
Devan buru-buru membantu Fero untuk berdiri. Fero menolak untuk berdiri, tetapi Devan langsung mengancam. "Kami tidak akan mendengarkanmu kalau kamu berbicara dengan cara seperti ini."
Akhirnya Fero segera bangkit. Kemudian berbicara dengan yakin. "Aku mohon, agar tidak membawa Freya ke jalur hukum. Izinkan aku merawatnya sampai dia sembuh."
Semua yang ada di ruangan ini mengerutkan kening. Tidak mengerti dengan ucapan Fero.
"Ada apa dengan Freya? Bicarakan pelan-pelan. Kami akan mempertimbangkan dengan baik," ucap Devan mewakili kebingungan yang lain.
"Freya menderita ODGJ sejak kejadian itu. Semalam penyakitnya kambuh lagi. Tapi kali ini lebih parah dari sebelumnya," jelas Fero dengan sedikit berat hati.
Suasana kembali sunyi senyap. Bahkan suara jam dinding menjadi terdengar bergema. Air mata kembali mengalir di mata Laras.
Freya depresi karena dia mengandung dari hasil perk0s4an, kemudian rahimnya harus diangkat gara-gara kecerobohannya meminum obat peng9u9ur kandungan dengan dosis yang tidak sesuai.
Kemudian Fero membawa Freya kembali ke Singapura untuk mendapat perawatan di sana. Hingga Freya datang ke Indonesia dalam keadaan normal, tetapi dia harus mengalami depresi lagi seperti sekarang.
"Di mana Freya sekarang?" Elan lebih dulu sadar dari situasi ini. Dia juga ingin meminta maaf atas perbuatannya pada Freya.
Fero kembali ke mobil. Dia dibantu dua perawat mendudukkan Freya di atas kursi roda. Kemudian dia mendorong sendiri kursi roda itu bersama Freya di atasnya.
Laras berjalan cepat dan berhenti di depan Freya. Dia memandangi wajah Freya yang diam menatap ke depan dengan pandangan kosong. Kemudian melihat ke arah tangan Freya. Dia ragu-ragu untuk menggenggam tangannya, tetapi dilakukannya juga.
"Freya, maafkan aku. Seharusnya aku tidak pergi terllau lama untuk mencari bantuan waktu itu. Seandainya aku bisa datang lebih cepat, kamu pasti tidak akan mengalami hal seperti ini." Tanpa bisa menahan isak tangisnya, Laras kembali menangis lagi.
Fero melebarkan matanya. Jadi selama ini mereka sudah salah paham. Ternyata Laras tidak kabur meninggalkannya. Melainkan pergi mencari bantuan untuk menyelamatkan Freya. Hanya saja saat itu waktu sudah malam, sehingga sulit untuk menjumpai orang di puncak sana.
Kali ini Devan yang menghampiri Freya. "Kamu akan selalu menjadi adik kecilku. Cepat sembuh, supaya kita bisa saling berbalas ejekan lagi seperti dulu."
Hidung semua perempuan sudah semakin asam. Mereka tidak mampu menahan air mata yang keluar.
Elan menghampiri Freya. "Aku tidak tahu apa saja yang sudah kamu alami selama ini. Tapi aku yakin kamu adalah wanita kuat dan tangguh di sisi lain aifat aroganmu itu. Cepat sembuh ya."
Kemudian Elan melihat ke arah Fero. "Kami tidak akan melanjutkan kasus ini. Kalian bisa kembali ke Singapura. Namun, aku tetap akan menempatkan beberapa orangku di sekitarmu."
"Terima kasih. Aku berjanji akan menjaga Freya sebaik mungkin. Dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."
Mereka mengantar kepergian Fero dan Freya sampai depan rumah. Setelah bayangan mobil menjauh, mereka baru kembali masuk ke dalam rumah.
"Alhamdulillah, setelah beberapa kejadian yang kurang mengenakan ini, akhirnya semua masalah sudah terselesaikan. Semoga ini semua menjadi pelajaran untuk kita semua."
Semua akhirnya bisa melihat senyum yang bahagia dari masing-masing orang. Kesalahpahaman, kecurigaan, dan dendam, semua itu tidak akan terselesaikan kalau hanya didengar dari satu sisi saja.
TAMATUnduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (125)
Share
Selesai
Rekomendasi untuk Anda
bagus dan membantu
22/06
0bagus sekali
06/06
0keren
03/04
0Lihat Semua