Bab 89 Menyandera Siska

Bab 89
Semua yang ada di dalam ruangan itu terkejut. Terutama Freya. Padahal dia sudah membayar orang-orang untuk melindungi tempat ini. Lagi pula rumah ini berada jauh di dalam karena dibangun di belakang kebun. 
Lilis yang melihat Devan datang segera berlari ke arahnya. 
Freya yang melihat itu langsung berteriak, "Cepat tangkap dia! Jangan sampai dia berlari ke sana!"
Semua preman itu langsung berlari ke arah Lilis. Bukannya menangkap Lilis, mereka malah berdiri di sisi kanan, kiri, dan di belakang Devan. 
Freya langsung tercengang. Bagaimana bisa orang bayarannya malah berdiri di pihak Devan? Tubuhnya tiba-tiba gemetar. Sepertinya dia sudah tahu apa yang sudah terjadi. 
Jangan-jangan, Elan tidak dibawa ke tempat yang sudah dia rencanakan, melainkan sudah diselamatkan oleh mereka. Tetapi Freya masih mencari cara untuk menyelamatkan dirinya. 
Devan memandang Freya dengan pandangan yang sulit. Dulu mereka bertiga—dengan Fero—sangat akrab. Devan sudah menganggap Freya sebagai adik kecilnya. 
"Freya, aku benar-benar tidak menyangka kamu akan berbuat nekat seperti ini. Aku yakin se-arogan apa pun kamu, tapi kamu masih bisa berpikir logis. Bukan melakukan tindakan sampai seperti ini. Ke mana Freya yang dulu kukenal?" 
"Jangan bicara apa pun! Freya yang dulu memang tidak ada semenjak kamu selalu menolakku. Apa kurangnya aku dibanding dia?" Freya meraung. Telunjuknya sambil menunjuk ke arah Lilis.
Pertahanan Lilis pun akhirnya runtuh juga. Dia masuk ke dalam pelukan Devan dengan tubuh gemetar. Dari awal dia memang hanya berpura-pura tidak takut. Apa lagi emosinya diaduk-aduk selama bernegosiasi dengan Freya. 
Devan mengusap punggung Lilis untuk menenangkannya. Hal itu membuat Freya semakin sakit mata. Hidung serta wajahnya mulai masam. 
Evan melihat ke sekeliling. Dia merasa seperti kekurangan satu orang lagi. "Di mana Siska?"
Lilis yang wajahnya menghadap ke dada Devan langsung melepas pelukannya. "Iya. Itu tadi dia dibawa ke ruangan dalam oleh anak buah Freya."
Tiba-tiba saja Meisya keluar bersama dengan Siska yang berada dalam rangkulannya. Hanya saja, bukan rangkulan pertemanan, melainkan sedang menjadi sandra untuknya. 
Tangan kanan Meisya merangkul leher Siska di depannya, sedang tangan kirinya mengacungkan belati dengan jarak hanya lima senti meter di depan leher Siska. Ceroboh sedikit saja, belati itu bisa menggores leher mulus Siska. 
Wajah Siska sudah pucat, keringat dingin membasahi dahinya. Tubuhnya terus gemetaran. Dia memandang Devan, Lilis, dan Evan dengan pandangan meminta tolong. 
"Siska," ucap Lilis pelan.
Freya menatap Meisya dengan bangga, memang benar-benar setia padanya. Tidak sia-sia Freya mengangkat gadis itu menjadi pengawal pribadinya sejak mereka masih kecil. Usia Meisya dua tahun lebih tua darinya. Jadi ada perasaan sayang seorang kakak dari Meisya untuk Freya. 
"Bagus. Sudah sampai seperti ini sepertinya sudah tidak bisa menyembunyikannya lagi." Freya menatap Lilis dengan mengejek. "Kamu sepertinya pintar bernegosiasi, mau melakukannya lagi kali ini?"
Lilis berjalan ke depan dua langkah. "Apa yang kamu mau?"
"Mudah saja." Sudut bibir Freya terangkat. "Aku mau bertukar Siska dengan kebebasanku."
Kening Lilis, Devan, dan Evan berkerut. Kemudian Freya menjelaskan sedikit. "Anggap masalah ini tidak ada, aku bisa mengembalikan Siska dengan selamat. Kalau tidak mau? Aku tidak menjamin dia kembali dengan baik."
"Tidak bisa!" tolak Evan dengan cepat. "Bagaimana bisa dia bebas begitu saja? Atas nama Elan, aku keberatan."
"Kak Evan! Kamu pikirkan Siska juga. Kasihan dia."
Siska pun ikut berbicara, "Benar kata Tuan Evan. Jangan hiraukan aku. Beri keadilan untuk Tuan Elan." 
Selesai berbicara, Meisya mengencangkan rangkulan di leher Siska. Meski dia berpura-pura berani, tetapi matanya tidak bisa berbohong kalau dia sangat takut. 
"Siska, kamu tenang dulu. Kita akan pikirkan solusinya," ucap Lilis berusaha menenangkannya.
"Mau berpikir berapa lama? Apa kalian sangat betah tinggal di sini?" ucap Freya saat Meisya sudah berdiri di sampingnya. 
Tiba-tiba saja terdengar langkah lebih dari satu orang berlari dari luar. 
Tubuh Freya menegang. Jangan-jangan mereka sudah melaporkan ke polisi. 
Saat mereka sudah tiba, bukan polisi ternyata, melainkan kakaknya yang sudah beberapa bulan tidak ditemuinya. Napas Freya seakan tercekat ditenggorokan. Ini menjadi masalah lebih besar, lebih dari seorang polisi yang datang. 
"Freya!" teriak Fero panik begitu masuk ke dalam ruangan. 
Setelah melihat dengan seksama, matanya melebar terkejut melihat pengawalnya sedang menyandera seorang perempuan. 
Fero manyapukan pandangan ke sekeliling ruangan. Saat matanya sampai di mana Lilis sedang dalam pelukan Devan, hatinya bagai tersayat pisau. 
Memang dia sudah berjanji akan menyerah pada Lilis dan tidak akan mengganggunya lagi. Namun, melihat pemandangan seperti itu, ternyata hatinya masih belum mampu merelakannya. 
Freya segera memberi kode kepada Meisya agar melepaskan Siska. Meisya pun menurut begitu saja. 
Setelah terbebas, Siska langsung berlari menghampiri Lilis. Lilis memeriksa takut ada bagian dari tubuh Siska yang terluka. 
"Kak, tolong aku!" Freya langsung berakting seakan telah dianiaya.
"Fero!" Devan langsung menatap Fero dengan dingin. "Kamu pasti tahu yang sebenarnya, kan? Apa kamu masih mau melindunginya?"
Fero mengepalkan kedua tangannya dengan kencang. Sekali lagi, dia tidak bisa menjaga adiknya dengan baik. Dia tidak bisa menjadi contoh kakak yang berbudi. Freya menjadi semakin arogan sulit dididik. 
"Aku mohon biarkan adikku kembali bersamaku. Aku berjanji tidak akan kabur sampai masalah ini terselesaikan." Fero menatap Devan dengan pandangan memohon. 
Mata Devan sedikit tak percaya, bisa melihat pemandangan Fero yang tidak berdaya. Dia kemudian menatap ke arah Lilis. 
Lilis menggigit bibir bawahnya sedikit gugup. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Setelah mendengar cerita Freya dan memandang wajah Fero yang terlihat kacau, dia akhirnya menganggukkan kepalanya. 
Evan tidak terima, tetapi Devan segera memperingatinya. Mau tidak mau Evan menurut saja. 
Fero sedikit lega. Kemudian memerintahkan kedua anak buahnya. "Bawa Nona Freya kembali!" 
Meisya langsung menghadang di depan Freya.
"Menyingkir!" geram Fero. 
Meisya masih berdiri dengan tegap di depan Freya. Dia tidak akan membiarkan orang lain menyakiti majikannya, meski itu kakak dari majikannya. 
Fero memberi kode pada anak buahnya untuk tetap menangkap Freya. Kemudian terjadilah perkelahian antara Meisya dengan kedua anak buah Fero. 
Meski Meisya menguasai bela diri pun kalau harus melawan dua laki-laki yang ilmunya jauh di atasnya, dia akan kalah. 
Tidak sampai lima menit, Meisya bisa dikalahkan. Kemudian Fero membawa Freya kembali bersama dengan Meisya juga. 
Setelah mereka pergi, Devan menyuruh anak buahnya untuk segera membereskan preman-preman bayaran Freya dibantu oleh anak buah Evan.
Evan menghubungi orang tuanya untuk segera pergi ke rumah sakit di mana Elan dirawat. Siska yang mendengar tentang Elan pun langsung mendekati Evan. 
"Tuan Evan, bolehkah saya bertemu dengan Tuan Elan?" tanyanya dengan nada memohon. Matanya berkaca-kaca. 
Evan mengangguk begitu saja. Sebenarnya dia merasa tak enak sudah mencurigai Siska kemarin. Sudah seharusnya dia meminta maaf. Tetapi suaranya tetap tidak bisa keluar, kembali ditelannya lagi. 
"Siska, ayo kita ke rumah sakit jenguk kondisi Kak Elan!" ajak Lilis pada Siska. 
Mereka berempat pergi ke rumah sakit di mana Elan dirawat. Sampai di sana ternyata sudah ada orang tua Elan yang datang. 
"Om, Tante!" ucap Lilis dan Devan hampir bersamaan. 
"Pa, Ma!" Evan ikut menghampiri. 
"Pak, Bu." Siska berjalan paling belakang sendiri. Dia merasa tidak pantas berada di sana. Jadi dia hanya berdiri di pintu. 
Elan sudah sadar. Hanya saja dia masih harus istirahat, dengan selang infus menancap di tangan kirinya. 
Bu Maya yang melihat Siska hanya berdiri di pintu pun menyuruhnya untuk masuk. "Siska, kemarin, Nak!"
Dengan ragu-ragu Siska berjalan sangat pelan. Bu Maya mengusap kepala Siska dengan lembut dan tersenyum hangat. Siska mengangkat kepalanya. "Terima kasih, ya, sudah mau menolong Elan."
Siska menundukkan kepalanya lagi. "Saya tidak pantas, Bu." Siska menggeleng perlahan. 
Elan juga melihat ke arah Siska. Hatinya lega karena Freya tidak menyakiti siska. "Terima kasih."
"Hanya Siska yang mendapat ucapan terima kasih?" Evan menatap semua orang dengan acuh tak acuh.
"Terima kasih, adikku. Ternyata kamu sangat khawatir denganku. Bisakah aku memelukmu?" tanya Elan dengan kedua alis terangkat. 
Evan langsung mendengus. Bisa-bisanya kakaknya itu sempat bergurau dengannya. Padahal dia telah melewati bahaya? 
Evan memalingkan wajah, kemudian duduk menjauh di sofa yang ada di sana. 
"Lilis, kamu tenang saja Daffin bersama dengan ibumu.. 
Pak Rifan pun segera menyuruh mereka untuk pulang lebih dulu. "Kalian pulang aja sekarang kemudian bersih-bersih. Penampilan kalian sangat kacau. Kalau enggak nanti akan ada penjaga keamanan yang mengusir kalian."
Semuanya tertawa kecuali Evan. 

Komentar Buku (125)

  • avatar
    yudzmass

    bagus dan membantu

    22/06

      0
  • avatar
    Febri Black'Ant

    bagus sekali

    06/06

      0
  • avatar
    Ani Safitri

    keren

    03/04

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru