logo text

Bab 88 Freya yang Sebenarnya Terjadi

Bab 88
Beberapa hari berikutnya, Freya mau mengeluarkan suaranya. Hal yang pertama kali dia ucapkan adalah meminta Fero mencari siapa perempuan yang berlibur juga di puncak pada saat itu.
Akhirnya, setelah beberapa hari, Fero sudah menemukan keluarga mana yang pergi berlibur pada hari di mana Freya mengalami kejadian naas. 
Saat Fero ingin memberitahu Freya, dia malah mendapati adiknya sedang sekarat setelah meminum obat peng9u9ur kandungan lebih dari takaran. Hal itu membuat Fero syok karena ternyata Freya tiba-tiba mengalami pendarahan dan kemudian keguguran.
Karena pendarahan terus menerus, membuat rahimnya menjadi infeksi. Untuk meminimalisir munculnya kanker dan kerusakan pada organ lainnya, dokter menyarankan agar Freya menjalani pengangkatan rahim.
Freya jelas menolak. Baginya rahim adalah salah satu tanda perempuan sejati. Dari gadis saja dia tidak punya rahim, laki-laki mana yang mau menikah dengannya.
Tanpa sepengetahuan adiknya, Fero menyetujui operasi yang disarankan dokter. Dia lebih mementingkan keselamatan adiknya. Kalau tak ada yang mau menikahi adiknya, maka dia akan menjaga adiknya itu sampai akhir napasnya.
Fero sudah tahu akibat dari keputusannya ini. Dia menerima amarah adiknya dengan lapang dan tidak menyesal sama sekali.
Fero berkali-kali meminta maaf pada Freya, dan dia memanfaatkan permohonan maaf Fero padanya. Dia meminta Fero untuk membantunya balas dendam. Dengan berat hati Fero menerima permintaan adiknya, yang akhirnya malah berujung jadi boomerang untuknya. Fero menaruh rasa pada Lilis.
Hati Lilis bergetar mendengar cerita tentang Freya. Pantas saja dia menyimpan dendam yang sangat dalam pada Laras. 
"Kenapa kamu harus merusak rumah tangganya? Kak Evan tidak ada hubungannya dengan dendammu." Kali ini nada suara Lilis lebih lembut. Dia merasa prihatin dengan kehidupan lampau Freya.
"Memang tidak ada, tapi itu sudah jadi resikonya karena menikah degan kakakmu." Freya mengepalkan kedua tangannya. Matanya menyorot dengan tajam. Kemudian meraung lagi pada Lilis. "Atas dasar apa kakakmu bisa menikah dengan orang yang dicintainya, bahkan sampai bisa mengandung, sedangkan aku? Jangankan untuk menikah, laki-laki yang aku suka saja lebih memilih gadis tengik sepertimu dari pada aku."
Freya memejamkan matanya, kemudian tertawa pahit. "Seandainya kakakmu saat itu mau menolongku, atau mencari bantuan untukku, mungkin aku tidak akan mengalami hal seperti itu. Mungkin ... aku bisa menikah dengan Devan." 
"Jangan harap!" tolak Lilis dengan tegas.
"Oh, jadi kamu lebih senang menyerahkan kakakmu tersayang, dari pada menyerahkan Devan padaku?"
Amarah Lilis kembali meluap. Rasa simpatinya pada Freya tiba-tiba hilang. 
"Tidak keduanya." Lilis berusaha untuk terus mengulur waktu, sampai Devan datang, jika memang sesuai dengan apa yang dibicarakan oleh pengawal Freya tadi.
"Nyalimu lumayan besar juga." Freya menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu, bagaimana kalau aku mulai bermain dengan Elan?"
"Lepaskan Kak Elan! Bukankah dia juga tidak ada hubungannya dengan kamu?"
"Bagaimana tidak ada hubungannya denganku? Kamu pikir aku tak tahu apa yang kalian rencanakan sewaktu di kafe?" Freya menyeringai, sambil menikmati perubahan pada wajah Lilis.
Lilis menggenggam pinggiran sofa dengan kencang. Wanita di depannya ini benar-benar licik dan tidak bisa diremehkan. 
"Kalian pikir aku tidak tahu kalau Elan berpura-pura mendekatiku agar bisa mencari kelemahanku?" Freya mendengus, lalu melanjutkan bicaranya lagi. "Awalnya aku bisa saja tetap berlabuh pada Elan, tapi siapa sangka dia hanya berpura-pura. Malah dia sekarang menyukai anak pembantu?" 
Freya tertawa pahit. "Lihat! Lagi-lagi aku dikalahkan oleh perempuan yang tidak punya bakat seperti kalian." 
Mengingat semua yang sudah dilewatinya, Freya meremas dadanya sendiri. Dari kecil tidak pernah mendapat kasih sayang dari ayahnya sendiri, lalu saat menyukai seorang laki-laki langsung bertepuk sebelah tangan. Saat akan membuka hati pun kembali disakiti lagi. 
Lilis memandangi wajah Freya yang terlihat menyedihkan. Orang pasti tidak akan menyangka, dibalik sifat Freya yang licik dan arogan, dia bisa melihat wajah Freya yang seperti ini. 
Freya tidak suka dengan cara Lilis memandangnya. Dia tidak mau merasa dikasihani oleh perempuan yang sudah merebut laki-laki yang disukainya. 
"Berhenti menatapku seperti itu!" hardik Freya pada Lilis. 
Mendengar itu, Lilis malah menjadi punya ide. Freya ini angkuh dan arogan. Dia tidak suka dikasihani, karena merasa dia lebih dari segalanya. 
Lilis semakin menatap Freya dengan pandangan simpatik. Hal itu membuat perempuan di depannya semakin naik darah. 
•••
Dalam perjalanan, Fero duduk gelisah di dalam mobilnya. Untuk kesekian kalinya, dia bertanya apada anak buahnya yang duduk di bangku depan.
"Sudah mendapat lokasi Freya?" tanyanya dengan nada tajam.
Anak buahnya dengan sedikit gemetar menjawab, "Sudah, Tuan."
"Di mana?"
"Ini, di pinggiran kota Jakarta. Kalau dari sini, butuh sekitar setengah jam sampai di sana."
"Cepat ke sana segera!"
"Baik, Tuan!" jawab keduanya bersamaan. 
Dalam pikiran Fero, semoga saja Freya tidak melakukan sesuatu yang sangat merugikan dirinya. Takutnya, dia pun tidak bisa menyelamatkannya. 
Fero tiba-tiba teringat pada saat baru datang. Ada karyawannya bilang kalau Lilis datang ke sana. 
Jantungnya langsung berdetak sangat kencang. Jangan sampai dia mencelakai Lilis. 
"Sebenarnya apa yang sudah kamu lakukan, Fre?"
•••
Di luar kediaman, Evan sudah datang. Saat di perjalanan tadi, dia sempat menghubungi anak buahnya. Lalu, anak buah dari papanya juga menyusul. 
"Di mana Elan?" tanya Evan begitu sampai. Dia tidak melihat siapa pun selain Devan di dalam mobil. 
"Sudah kubawa ke rumah sakit terdekat oleh anak buahku," jawab Devan sambil menyiapkan peralatan yang akan dibawa masuk ke dalam sana. Hanya ada pist0l kecil dan pisau lipat yang ada di mobilnya. 
Devan yakin kalau peralatan ini kemungkinannya terlalu kecil untuk dia gunakan nanti.
"Lalu di mana Lilis?" tanya Evan khawatir. 
"Dia di dalam. Ditahan oleh Freya."
"Freya?" Mata Evan melotot. "Jadi, dalang semua ini dia?"
"Cepat kita harus segera masuk ke dalam. Kasihan istriku sudah mengulur waktu terlalu lama."
"Kamu menjadikan Lilis sebagai umpan?" Mata Evan melebar tak percaya.
Devan mendengus. Mana mungkin dia akan melakukan itu pada istrinya. "Dia bahkan datang lebih dulu dari pada aku."
"Kalau begitu tunggu apa lagi? Cepat kita berangkat!"
Devan mengangguk dengan mantap, kemudian berjalan ke arah rumah yang sedang dihuni Freya. Evan memerintahkan anak buahnya yang berjumlah sekitar sepuluh orang untuk mengikutinya di belakang. 
Begitu sampai di depan pintu rumah, Evan mengernyitkan keningnya. Dia merasa ada yang aneh. 
Kemudian menatap Devan dengan wajah bingung. "Kenapa sepertinya kita bisa masuk terlalu mudah? Apakah Freya tidak menempatkan penjagaan?"
Devan mengangkat kedua bahunya. "Mungkin anak buahku sudah sudah mengatasinya."
Seketika Evan ingin sekali menenggelamkan laki-laki yang menjadi suami Lilis ini. Memang selalu ada hal-hal yang absurd jika selalu berurusan dengannya. 
Untuk apa memintanya datang, kalau dengan anak buahnya saja dia sudah mengatasi keadaan?
 "Ayo kita masuk!" ajak Evan. 
Devan berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Dia berbicara dengan acuh tak acuh. "Apa kamu mau mengetuk pintu dulu? Masuk ya masuk aja." 
Menggunakan setengah dari tenaganya, Devan mendobrak pintu tertutup di depannya dengan kaki panjangnya.
Brakk!
Evan segera masuk ke dalam. Diikuti Devan dan anak buah Evan. 

Komentar Buku (125)

  • avatar
    yudzmass

    bagus dan membantu

    22/06

      0
  • avatar
    Febri Black'Ant

    bagus sekali

    06/06

      0
  • avatar
    Ani Safitri

    keren

    03/04

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru