logo text

Bab 69 Lain Kali Langsung Pulang

Bab 69
Kedekatan Elan dan Freya sudah berlangsung hampir dua bulanan. Namun, kedekatan Elan dengan Siska malah mulai melonggar. 
Siska juga tidak bisa marah-marah, karena dirinya dan Elan memang tidak memiliki hubungan spesial selain majikan dan bawahan. Hanya itu.
Biasanya saat hari libur, Elan selalu ada di rumah. Dia akan mencari berbagai macam perintah aneh-aneh yang membuat Siska kesal sekaligus senang. Namun, sekarang sudah tidak lagi, semenjak Elan mendekati Freya.
"Kamu mau ke mana pagi-pagi begini, Elan?" tanya Bu Maya pada anak sulungnya. 
Tadinya dia hendak ke ruang baca suaminya untuk mengajak sarapan. Namun, dia malah melihat Elan sudah rapi dengan baju kasualnya. Di jari telunjuknya memainkan kunci mobil yang diputar-putar. Sepertinya anak sulungnya ini mau pergi. 
"Ke rumah teman."
Bu Maya mengerjapkan matanya. "Sama siapa? Siska, ya?"
Siska yang baru keluar dari kamarnya, hendak pergi ke meja makan pun berhenti. Dia melihat ke arah majikan dan anak majikannya dengan raut wajah bingung. Kenapa namanya tiba-tiba disebut?
Elan melihat wajah Siska sekilas, kemudian melihat ke arah mamanya lagi. Hal itu membuat hati Siska mencelos. 
"Bukan. Aku buru-buru, jadi tidak sarapan di rumah." Elan mencium kedua pipi mamanya, kemudian buru-buru pergi sebelum mamanya itu bertanya macam-macam lagi.
Siska kepikiran tentang perkataan Elan sewaktu mengunjungi anaknya Lilis. Dia bilang akan mendekati Freya kembali. Mungkin Elan sudah bertindak, tetapi dia bilang hanya akan pura-pura, bukan? Namun, di mata Siska malah terlihat sepertinya Elan benar-benar menjalin hubungan serius dengan Freya. Sampai-sampai dia jarang terlihat di rumah.
Bu Maya melihat wajah Siska yang sedih memandangi kepergian Elan itu buru-buru menghiburnya. "Siska, kamu ke meja makan saja dulu. Aku mau memanggil Tuan dulu di ruang baca."
"Baik, Bu." Siska langsung saja pergi ke meja makan. 
Hari ini Evan dan Laras tinggal di kediaman pak Arifin. Katanya Laras ingin seharian bersama dengan ibunya. Jadi, Evan juga mengikuti kemana pun istrinya pergi. Asal itu bisa membuat Laras senang, dan kandungannya baik-baik saja. 
Untungnya Siska sudah mulai masuk kuliah setiap hari Sabtu dan Minggu. Jadi, pikirannya tentang Elan bisa sedikit teralihkan. 
Hari ini kelas berakhir lebih awal. Salah satu dosen tidak mengisi kelas, dan diganti minggu depan. Teman-teman Siska mengajaknya pergi ke mall dulu sebelum pulang ke rumah. 
Teman-teman kuliah Siska ada banyak dari berbagai kalangan dan usia. Kebanyakan dari mereka adalah seumuran dengan Siska dan bekerja diberbagai macam perusahaan. Ada juga yang kuliah kelas karyawan hanya untuk mendapatkan ijazahnya saja supaya bisa ikut mencalonkan diri menjadi anggota Dewan. 
"Maaf, kayaknya aku enggak bisa ikut," tolak Siska dengan halus. Dia sedang tidak mood untuk pergi jalan-jalan. 
"Ayolah, Sis. Mumpung ada kesempatan. Bayangin gimana suntuknya kita setiap hari. Dari hari Senin sampai Jumat kerja. Sabtu dan Minggu kuliah dari pagi sampai sore. Belum lagi malamnya harus ngerjain tugas kuliah. Selagi ada waktu, kenapa enggak kita manfaatin aja?" bujuk Endah, teman yang bekerja di sebuah pabrik garmen sebagai admin.
"Hitung-hitung sedikit refresh otak lah. Biar waras terus." Kali ini Sandra yang berbicara. Dia bekerja di restoran cepat saji. 
Siska kembali memikirkan tawaran dari teman-temannya. Biasanya dia akan pulang kuliah jam lima sore. Sekarang masih jam dua, masih ada waktu tiga jam. Kalau dia sekarang pulang, apa yang akan dia lakukan nanti di rumah? Pastinya dia hanya memikirkan kembali perlakuan Elan yang semakin dingin padanya. 
Jadi, Siska memutuskan untuk ikut saja dengan teman-temannya. Toh enggak ada salahnya sedikit menyegarkan pikiran. "Ya udah, deh. Aku ikut, tapi enggak bisa lama-lama, ya?"
Sandra mengacungkan jempolnya. "Sip. Gitu dong."
"Eh, aku ikut boleh?" Seorang pemuda seumuran dengan Elan datang menghampiri mereka. Dia bekerja di sebuah pabrik pembuatan mesin mobil. Kebetulan dia mendapat promosi naik jabatan, syaratnya adalah dia harus punya ijazah strata 1. Baru bisa menduduki jabatan itu. 
"Hah? Rangga! Yakin? Kamu cowok sendirian loh nantinya. Kita bertiga cewek semua." Endah memandang Rangga dengan mata menyipit. 
Endah meski pun mulutnya suka blak-blakan, tetapi dia memiliki mata yang jeli. Jelas-jelas setiap kelas sedang berlangsung, Rangga diam-diam selalu mencuri pandang ke arah Siska. 
Meski Rangga ini termasuk kategori tampan, tetapi sepertinya Siska sama sekali tidak pernah meliriknya. Terkadang saat sedang diskusi kelompok, Rangga akan bertanya pendapat Siska, kemudian gadis itu hanya akan menjawab seperlunya saja. 
Rangga tersenyum canggung. "Ya enggak apa-apa. Berarti aku paling tampan di antara kalian."
"Huuuu!" Semua perempuan kecuali Siska menyorakinya.
Sampai di mall, food court adalah tujuan pertaman mereka. Setelah setengah hari menerima materi kelas, perut mereka berdemo meminta untuk diisi lebih dulu. 
Sebelum menuju food court, mereka lebih dulu melewati sebuah toko pakaian dengan merk lokal, tetapi kualitasnya juga tidak kalah dengan internasional. Desainernya juga sering membuatkan pakaian untuk para artis terkenal.
"Lihat itu kemeja yang ada di window etalase! Bagus banget, ya?" ujar Endah dengan takjub. 
"Iya benar. Itu cocok untuk kamu yang bekerja kantoran," tanggap Sandra memandang biasa kemeja di depannya. Dia bekerja di restoran cepat saji. Tentunya saat bekerja, dia akan menggunakan seragam yang sudah ditentukan dari pemilik restauran itu. 
Endah meletakkan kedua telapak tangannya di kaca, wajahnya juga dia tempelkan di sana. "Gil4! Harganya satu bulan gaji. Kalau aku beli ini, ibu aku bisa nangis tiga hari tiga malam."
"Udah lah. Kalau gitu, kamu belinya yang obralan di lantai satu aja itu," ledek Sandra.
"Sembarangan kamu. Awas ya kalau kamu lagi kebingungan sama tugas kuliah, enggak bakal aku bantu lagi." Endah melotot sambil berkacak pinggang. 
"Jangan dong." Sandra cengengesan. "Maaf deh. Ayo buruan! Udah lapar nih."
Sandra kemudian menarik tangan Endah. Sedang Siska dan Rangga jalan di belakang saling bersisian. 
Siska baru ingin melihat, kemeja seperti apa yang didambakan oleh teman perempuannya. Matanya malah langsung bertemu pandang dengan laki-laki yang sudah membuat hatinya menjadi galau akhir-akhir ini. Itu Elan.
Elan melihatnya dengan pandangan datar dari dalam toko tersebut. Keduanya hanya dipisahkan oleh dinding kaca bening dengan jarak tiga meter. 
Laki-laki itu tidak sendirian. Dia sepertinya sedang menemani seorang perempuan yang sedang memilih-milih baju. Terbukti dari tangan Elan yang memegang banyak sekali tas belanjaan. Siska tidak bisa melihat wajahnya karena perempuan itu membelakanginya. 
Begitu perempuan itu berbalik badan, Siska juga bisa langsung melihat dengan jelas perempuan itu. Itu Freya! Mata Siska melebar dengan jantung yang berdegup dengan kencang. 
Siska melihat, bagaimana Elan melayani perempuan itu dengan baik. Dia tidak pernah memperlakukan Siska dengan lembut seperti itu. Hanya perintah, perintah, dan perintah yang selalu keluar dari mulutnya. 
Saat Rangga berjalan mengikuti dua perempuan berisik di depannya, dia tersadar kalau Siska tidak berjalan bersamanya. Dia menoleh ke belakang.
"Kenapa bengong?" tanya Rangga sembari menepuk pundak Siska. 
Rangga mengikuti arah pandang Siska. Dia melihat seorang laki-laki yang sedang membantu perempuan memilih pakaian dengan lembut dan perhatian. Laki-laki itu juga membawakan semua tas belanja yang sepertinya milik perempuannya.
"Kamu pengen seperti dua orang itu ya? Ayo nanti aku temani belanja. Meski pun bukan dari merk ternama, tetapi aku bisa melayanimu seperti laki-laki itu."
Tanpa aba-aba, Rangga langsung merangkul pundak Siska dan membawanya pergi menyusul teman-temannya yang sudah berada di food court. Mau tidak mau Siska mengikutinya begitu saja. Dari pada dia harus sakit mata melihat Elan dan Freya saling senyum dengan mesra. Lebih baik dia pergi bersama teman-temannya. 
Siska sama sekali tidak sadar kalau tangan Rangga masih menempel di pundaknya. Hal ini membuat Rangga diam-diam tersenyum bahagia, merasa Siska tidak menolak.
Di dalam toko, Elan melihat itu dengan wajah gelap dan menggertakkan giginya. Tangannya yang memegang pengait tas belanjaan mengepal dengan erat.
•••
Sebelum makan malam, Elan sudah berada di rumah. Dia bersama dengan papanya dan Evan sedang menonton berita di ruang tamu. Sedang Siska, bu Maya dan Laras sedang berada di dapur, menyiapkan makan malam. 
Setelah makan malam siap, semua duduk di kursinya masing-masing. Mereka makan dengan tenang, itu sudah menjadi aturan yang diterapkan dari pendahulu keluarga pak Rifan. 
Bu Maya terus memerhatikan Elan yang sedang melihat Siska dengan pandangan tajam. Ada apa dengan anak sulungnya ini? Kemarin-kemarin mereka berdua masih baik-baik saja malah terlihat sangat serasi.
"Elan, kalau kamu melihat Siska seperti itu, dia akan kesulitan makan."
"Kenapa harus sulit untuk makan? Tadi saja dia dan teman-temannya makan di mall. Bukannya kuliah, malah jalan-jalan di mall bersama laki-laki."
Perkataan Elan ini terdengar seperti laki-laki yang sedang cemburu dengan pacarnya. 
"Siska, apa benar kata Elan?"
Siska menghentikan makannya. Dia menganggukkan kepalanya. "Benar, Bu."
"Tuh kan. Papaku membiayai kamu kuliah itu untuk belajar, bukannya untuk bolos dan bersenang-senang dengan teman-temanmu di mall."
"Elan! Kamu diam dulu. Kita dengar penjelasan Siska." Pak Rifan melihat ke arah Siska. "Siska, coba kamu jelaskan!"
"Hari ini jam terakhir kosong, Pak. Dosennya tidak berangkat karena sedang menemani istrinya melahirkan. Jadi, kelasnya diganti minggu depan dengan durasi dua kali lipat jamnya. Sebelum pulang, saya memang pergi ke mall dulu bersama teman-teman." 
"Apa kamu pergi bersama seorang laki-laki?"
"Iya, Bu. Kami berempat, tiga orang perempuan, dan satu orang laki-laki." Siska menundukkan kepalanya. "Maaf, lain kali saya akan langsung pulang."
"Kenapa harus minta maaf? Wajar dong kalau kamu main ke mall. Setelah bekerja, kemudian kuliah, belum lagi tugas-tugas kuliah yang banyak, kamu juga butuh refreshing. Itu artinya teman-teman kamu perhatian. Enggak kaya seseorang."
"Elan, kamu sudah dengar? Sekarang kalian semua selesaikan makannya."
"Aku sudah kenyang." Elan berdiri dari kursinya, kemudian berjalan menuju kamar. 
"Elan!" panggil bu Maya pada anak sulungnya yang terus diabaikan.
Dalam hati mereka—kecuali Siska—merasa kalau tingkah Elan seperti orang yang sedang cemburu. 

Komentar Buku (125)

  • avatar
    yudzmass

    bagus dan membantu

    22/06

      0
  • avatar
    Febri Black'Ant

    bagus sekali

    06/06

      0
  • avatar
    Ani Safitri

    keren

    03/04

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru