Beranda/Adik Ipar Malang (Hamil Anak Kakak Ipar)/
Bab 59 Paket Pengantin Baru
Bab 59
Beberapa hari sebelumnya ...
"Apa kabar Siska?"
Sebuah suara berada tepat di belakang Siska. Dia adalah orang yang dulu pernah menjadi dewi penyelamat, sebelum semuanya terbongkar oleh Devan.
"Ka–kamu ..."
"Ya? Kita bertemu lagi."
"Freya," bisik Siska.
"Ya. Ini aku, Freya. Kamu pikir aku akan sembunyi terus? Dendamku belum terbalas, tentu saja aku harus menuntaskannya." Freya terkekeh. "Sekarang kamu sudah masuk ke dalam keluarga Evan. Pasti sangat bahagia, ya? Sayangnya, aku terlambat mengetahui, kalau ibu kamu ternyata ada hubungan di masa lalu dengan keluarga itu. Kalau iya, pasti aku bisa memanfaatkanmu lebih awal."
Tanpa sadar, Siska mengepalkan kedua telapak tangannya. Meski dia belum lama masuk ke keluarga itu, banyak kebaikan yang sudah diberikan kepadanya. Terutama untuk ibunya.
"Kenapa? Kamu mau marah?" ejek Freya.
Siska menetralkan nafasnya. Dia berusaha untuk tenang, dan tidak terpengaruh dengan perkataan Freya. Memang Freya sedang berusaha memancing Siska.
Menghindar menjadi pilihan Siska, dari pada terus berhadapan dengan perempuan seperti Freya. Siska berbalik, dia ingin memutar jalan untuk pulang. Tak apa kalau jaraknya menjadi lebih jauh.
"Mau menghindar?" Freya segera berjalan kehadapan Siska, menghalanginya untuk pergi.
Siska masih enggan buka mulut. Dia takut salah kata saja bisa membuat dirinya atau keluarga Elan celaka.
"Kamu bisa menjalani hidup tenang di keluarga Evan. Apa kedua orang tuanya sudah tahu kelakuan kamu sewaktu di Bali? Menggoda Evan dan ingin tidur dengan Evan?"
Mata Siska melebar, tubuhnya menegang. Benar. Bu Maya dan pak Rifan belum tahu soal ini. Seandainya mereka tahu, bagaimana kira-kira tanggapan kedua orang itu mengenai Siska. Sekarang dirinya jadi merasa bersalah.
Sementara ini, yang menjadi pikiran bagi Sika adalah, apa Elan tahu soal ini? Sudah pasti sepertinya Elan mengetahui juga, dia kan kakaknya Evan. Namun, Siska masih belum yakin. Kalau Elan sudah tahu, kenapa Elan tidak memusuhi Siska?
Freya menjadi jengkel karena Siska hanya sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia sama sekali tidak menghiraukan keberadaannya. Freya mencoba peruntungannya lagi.
"Bagaimana kalau aku memberi tahu pada orang tuanya Evan? Mungkin kamu akan langsung didepak dari rumahnya." Freya tersenyum karena Siska sepertinya mulai terpengaruh dengan ucapannya.
"Apa kau tidak ingat, wanita licik mana yang sudah menyuruhku melakukan pekerjaan itu?" sarkas Siska.
"Oh, kamu masih ingat?" Freya terkekeh lagi. "Buktikan saja kalau memang kamu bisa."
Siska masih diam tidak berbicara dan hanya memandang Freya saja.
"Oh, ya. Aku lihat akhir-akhir ini Elan sangat peduli kepadamu." Freya merubah raut wajahnya menjadi berpura-pura sedih.
Berhasil. Mata Siska sedikit melebar saat Freya menyinggung Elan.
Lalu, Freya melanjutkan perkataannya. "Padahal dulu hubungan kita sangat dekat. Hampir saja kita resmi berpacaran. Bahkan, adiknya saja mengira kami sepasang kekasih. Sayangnya, setelah puas mendapatkan apa yang diinginkan dariku, Elan pergi begitu saja."
Kedua alis Siska bertaut dengan kedua bibirnya berkerut. Dalam hatinya bertanya-tanya tentang maksud perkataan Freya. Benarkah Elan seperti itu? Sepertinya tidak mungkin.
Freya puas dengan perubahan wajah Siska. Sepertinya Siska belum tahu tentang hubungannya dengan Elan. Semenjak kejadian itu, Elan jadi semakin susah didekati lagi. Seandainya rencana di Bali tidak gagal, meski sudah tidak bisa berhubungan dengan Elan, tetapi rumah tangga Laras dan Evan juga akan hancur. Itu sudah cukup untuknya.
Sekarang di depan matanya ada orang yang lincah, tetapi polos dan ceroboh. Kenapa tidak dimanfaatkan saja? Begitulah yang ada di pikiran Freya.
"Aku ini anak pengusaha. Orang terhormat. Bukankah aku juga seharusnya menikah dengan orang yang seimbang juga denganku?" Freya memulai aktingnya lagi. "Tadinya aku dekat dengan Elan, lalu tiba-tiba saja dia menjauh. Menurutmu, laki-laki itu sudah mendapatkan apa dariku?"
Tubuh Siska menegang. Dia tidak percaya kalau Elan laki-laki seperti itu. Selama dia mengenal Elan, sepertinya laki-laki itu tak pernah berbuat senonoh dengan perempuan.
Di kantornya banyak karyawatinya yang cantik-cantik, didukung tubuhnya juga tidak kalah dengan artis terkenal di televisi. Ada yang memakai pakaian tertutup, tetapi sangat ketat, sehingga bagian tubuhnya menonjol. Namun, yang Siska lihat, Elan tetap bisa menjaga pandangan dan omongannya.
Ada yang memakai pakaian seperti kekurangan bahan. Bukannya menarik perhatian Elan, malah dikasih uang. Katanya untuk membeli pakaian yang layak.
Akan tetapi, Siska kenal dengan Elan itu baru-baru ini. Jadi, dia tidak tahu bukan, kehidupan Elan yang dulu itu seperti apa.
Sampai di sini, Siska benar-benar bimbang. Kepalanya pening seketika.
"Aku sepertinya kurang enak badan." Freya berjalan ke arah Siska. Setelah berdiri tepat di samping Siska, dia berbicara dengan lirih, "Kalau kau berubah pikiran, kamu bisa datang kapan saja ke perusahaan Sukmajaya."
Setelahnya, Freya benar-benar berjalan pergi meninggalkan Siska sendirian.
Hari ini, cukup sampai di sini. Freya tidak akan melakukan kekerasan pada Siska, karena bisa saja ada yang melihat. Jadi, dia mau memainkan pikiran dan emosi Siska hanya untuk mengusiknya saja.
•••
"Kamu enggak dengar perkataanku? Atau kamu pura-pura enggak dengar?" Kali ini Elan sukses dibuat kesal.
Elan meminggirkan mobilnya secara mendadak. Tubuh Siska berguncang meski sudah menggunakan sabuk pengaman. Karena itu juga membuat lamunannya menjadi hilang.
"Kenapa berhenti?" tanya Siska setelah menetralisir dadanya. Kepalanya memerhatikan sekeliling.
"Kenapa berhenti?" Elan mengulangi pertanyaan Siska dengan nada mengejek. "Kamu pikir aku sopir, lalu kamu majikan? Aku ajak kamu itu untuk teman mengobrol selama perjalanan ke tempat Lilis. Bukannya menjadi sopir pribadi kamu."
"Maaf." Jadi ini alasannya. Sekarang Siska sudah tahu alasan Elan mengajaknya ke tempat Lilis.
"Kamu sedang memikirkan apa?" Ada nada tulus di dalam pertanyaannya. Hanya saja masih dengan intonasi kesal.
"Eng—enggak, kok. Saya ... saya hanya jadi kepikiran ibu saya. Itu saja."
Sebelumnya memang Elan menyinggung soal perubahan sikap Siska sepulang dari makam ibunya. Wajar saja membuatnya jadi kangen. Begitu yang ada dipikiran Elan.
"Ya sudah. Lain kali jangan diulangi lagi. Jangan sampai kamu kesambet karena kebanyakan ngelamun. Repot nanti aku."
Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini tidak ada yang berbicara sama sekali. Elan sudah tidak mood untuk mengobrol. Dia lalu menyalakan radio. Kebetulan sekali sedang iklan promosi makanan. Mungkin karena tadi hanya sarapan sekadarnya, perut Elan jadi tiba-tiba lapar.
Kemudian dia melambatkan laju mobilnya sembari mencari tempat makan yang enak dan nyaman. Kurang lebih sepuluh menit mencari, Elan membelokkan mobilnya ke sebuah tempat makan.
Siska bingung, tiba-tiba mobil berhenti di depan sebuah tempat makan bernama 'Saung Lesehan'. Pikir Siska mungkin Elan lapar. Dirinya juga sebenarnya lapar.
Siska tidak yakin kalau Elan mau makan di tempat ini. Jangan-jangan dia tidak tahu arti kata 'lesehan'. Lebih baik menurut saja lah.
"Tuan yakin mau makan di tempat ini?" tanya Siska setelah mereka keluar dari mobil.
"Iya. Kenapa?" Elan memerhatikan Siska. Sepertinya dia tahu apa yang ada di pikiran perempuan itu. "Kamu pikir aku tidak pernah makan di tempat seperti ini?"
Siska sedikit kikuk, jalan pikirannya sudah diketahui olehnya.
"Cepat. Aku sudah lapar."
Sampai di pintu masuk, mereka langsung disambut oleh pelayan. Hari masih cukup pagi, jadi belum terlalu banyak pengunjung.
"Selamat pagi. Untuk berapa orang?" tanya pelayan itu ramah. Tidak lupa senyum dua jari tersungging di bibirnya.
"Untuk dua orang," jawab Elan.
"Mau yang duduk di kursi atau duduk lesehan?"
"Aku mau yang duduk lesehan saja. Di dekat pemandangan yang bagus."
"Mari ikuti saya, Tuan."
Mereka berdua masuk lebih dalam. Ternyata mereka diantarkan ke meja yang berada di sebuah pondok. Jarak dari pondok satu ke pondok lainnya sekitar dua sampai tiga meter. Selain itu, pemandangan hamparan sawah menjadi objek utama rumah makan ini. Tidak menyangka, setelah sekian lama tinggal di kota, masih bisa melihat pemandangan seperti ini.
Setelah Elan dan Siska duduk dengan nyaman, pelayan itu menyerahkan buku menu.
"Mau pesan apa? Kebetulan di rumah makan ini sedang ada promo."
"Promo apa itu?" tanya Elan tertarik.
"Promo murah paket pasangan. Sepertinya Tuan dan Nyonya masih pengantin baru. Tinggal tunjukan bukti saja kalau kalian memang sepasang suami istri."
Elan, "..."
Siska, "..."Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (125)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
bagus dan membantu
22/06
0bagus sekali
06/06
0keren
03/04
0Lihat Semua