Mendapat kesempatan dari Kak Roni untuk mewakili sekolah di ajang O2SN merupakan hadiah yang sangat istimewa. Aku tidak akan mengecewakan Kak Roni yang sudah memberikan kepercayaan itu kepadaku. Aku tidak mau lagi menghabiskan banyak energi untuk meratapi kekalahan yang kualami sebelum berperang. Ya, aku belum sempat menyatakan perasaanku, dan jujur saja, memikirkannya membuat cukup sakit kepala. Minggu telah berganti. Hari ini aku akan mengatakan secara langsung bahwa aku siap menjadi atlit yang akan mewakili sekolah. Sebelum latihan malam ini dimulai, Kak Roni mempersilakan kami duduk di matras. Posisi duduk kami membentuk sebuah lingkaran kecil. Dari wajahnya, aku tahu kalau banyak hal yang ingin disampaikan Kak Roni. “Malam ini, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan.” Kak Roni membuka suaranya. “Selama kalian latihan, saya memperhatikan apa pun yang kalian lakukan. Selain Rina, saya ingin kamu,” Kak Roni menatap wajahku. “Rian, saya ingin kamu mewakili sekolah untuk O2SN nanti.” Aku menelan ludah. Jujur saja, kukira pelatihku akan berbicara secara empat mata denganku. Akan tetapi, ia menyampaikan itu di depan anak-anak. Ada rasa bangga dan haru yang bercampur jadi satu. Dadaku bergetar cukup kencang. Tangan dan kakinya tiba-tiba bergidik bersamaan, nyaris tak percaya. Baru kali ini, aku merasa sangat dihargai. “Kak, saya siap berlatih dan akan berusaha sekuat tenaga untuk memberikan yang terbaik.” Tidak ada kalimat yang mampu kuucapkan selain jawaban itu. Aku benar-benar tersanjung. “Hmm.. Kalau begitu, saya akan menghadap ke kepala sekolah untuk meminta izin agar kamu ikut serta di O2SN nanti.” “Jangan, Kak,” kataku menolak. “Kenapa, Yan?” Kak Roni mengurutkan kedua alisnya. “Saya tidak ingin sekolah dan teman-teman saya tahu kalau saya berlatih silat saat ini. Saya tidak ingin mereka tahu.” “Tapi, Rian. Harus ada koordinasi antara sekolah dan perguruan kita. Kamu tidak bertanding atas nama perguruan, tetapi kamu membawa nama sekolahmu.” “Saya tahu itu, Kak. Sistemnya pasti sama dengan lomba-lomba lainnya bukan? Hanya saja, untuk saat ini, saya mohon..” “Belum lama ini Rian dipukuli oleh kakak kelasnya, Kak,” Genta ikut membantuku menjelaskan. “Mungkin Rian ingin memberikan efek kejut untuk sekolahnya.” Kak Roni mengangguk paham. “Baik, saya akan turuti keinginan kamu, Rian. Akan tetapi, satu bulan sebelum lomba tersebut dilaksanakan, saya akan datang ke sekolah untuk berkoordinasi.” “Hm! Saya setuju, Kak!” jawabku semangat. ***
Aku dan Rina dipisahkan dari kelompok. Kami berlatih mandiri dan menjauh dari anak-anak yang lain.
“Rian, kau ikuti apa pun gerakan yang kuperagakan, ya!” pinta Rina.
“Siap!”
Pelan-pelan, Rina memperagakan jurus-jurus tunggal baku satu persatu kepadaku. Awalnya, aku cukup kesulitan baik di dalam mempraktikkannya atau pun menghafal gerakan tersebut. Namun, dengan sabar, Rina membetulkan posisi gerakanku yang salah dan bersedia mengulang gerakan yang tidak kuingat.
Menggunakan tenaga, kelenturan, dan pikiran secara bersamaan membuatku energiku terkuras sangat banyak. Bulir-bulir keringat sebesar biji jagung mulai muncul di keningku.Sementara itu, aku baru menghapal dua jurus yang terdiri dari empat belas gerakan. Gerakan tunggal baku ini ternyata tidak semudah yang aku kira. Diperlukan kuda-kuda yang kuat dan kepalan tangan yang benar agar gerakan yang kuperagakan dapat terlihat sempurna dan sesuai dengan makna dari gerakan tersebut. “Rin, bisa kita istirahat sebentar?” Napasku mulai berat. Oksigen yang kuhirup seolah terhambat dan membuat napasku cukup terengah-engah. “Bisa, kok. Lagi pula, Kak Roni memang memberikanku tugas untuk mengajarimu 2 jurus saja. Bisa menghafal 14 gerakan dalam kurun waktu sebentar, kukira kau sudah cukup baik.” “Jadi? Latihan kita cukup menghafal 14 gerakan saja?” “Hmm,” ia mengangguk. “Malam ini cukup 14 gerakan. Lusa nanti, kau akan belajar 3 jurus. Totalnya lebih dari 14 gerakan. Jadi, hafalkan gerakan ini di rumah. Nanti malam, jangan begadang. Usahakan langsung tidur agar tubuhmu bisa beristirahat dan memulihkan diri.” “Terima kasih, ya. Kau bersedia mengajariku padahal kita baru kenal.” Aku cukup terharu dengan Rina yang begitu tulus mengajariku. Aku jadi ingat dengan semboyang silat yang berbunyi lahir silat mencari kawan, batin silat mencari Tuhan. “Jangan sungkan, Yan. Kita 1 perguruan. 1 perguruan artinya kita harus saling mendukung dan membantu.” “Aku setuju denganmu,” tutupku sambil menatapnya takjub.
Selesai beristirahat dan mengobrol dengan Rina, kami kembali menggabungkan diri kepada anak-anak yang lain.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Sekitar lima belas anak yang dilatih Kak Roni, berbaris rapi di atas matras. Latihan hari ini cukup. Kami melakukan beberapa gerakan pendinginan agar otot-otot yang tegang selama latihan bisa rileks kembali.
Beberapa anak mulai dijemput oleh orang tua, terlebih mereka yang masih duduk di sekolah dasar dan menengah pertama. Melihat anak-anak tersebut disambut dengan bahagia oleh orang tuanya, aku jadi ingat dengan ibu. Sampai hari ini, aku belum berbaikan dan masih menghindar.
Terbesit keinginanku nanti saat berlomba di O2SN ibu bisa hadir dan mendukungku di sana. Pasti, segalanya akan berbeda. Pasti, aku akan berusaha mati-matian untuk memberikan yang terbaik meskipun itu ajang pertamaku.
“Rian,” Kak Roni menghancurkan lamunanku.
“Iya, Kak?”
“Kamu belum mau pulang, kan?”
Sebelum menjawab, aku melirik ke arah Genta. Sebagai penumpang yang dibonceng motornya, rasanya tak sopan jika mengiyakan pertanyaan Kak Roni tetapi belum berkoordinasi dengan pengantarku. Sejurus kemduain, Genta memberikan kode anggukan dan bersedia menungguku di luar. Di gedung serba guna ini, tersisa aku dan Kak Roni.
“Ambil posisi push up,” ucapnya.
“Ha?” Nada suaraku cukup terkejut.
“Ya, ambil posisi push up.” Setelah memastikan perintahnya, aku buru-buru mengatur posisi tubuh.
“Satu,” katanya memberikan aba-aba. Aku langsung menurunkan tubuhku ke bawah dan segera menariknya ke atas sebelum Kak Roni memberikan aba-aba. Menahan beban sendiri dengan kedua tangan, sangat menyiksa. “Ulang lagi. Satu. Jangan tarik tubuhmu ke atas sebelum saya berganti hitungan.” “I—iyaaa, Kak,” jawabku dengan suara tertahan. Bicara sambil menahan bobot tubuh bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan. “Dua.” Aku langsung menurunkan lagi tubuhku ke bawah tanpa menyentuh permukaan lantai. “Tiga.” Tanganku mulai merasakan pegal yang luar biasa. Beban pada tubuhku tak mampu lagi kutahan hanya dengan sepasang tangan yang tak pernah berolahraga. “Empat.” Tubuhku ambruk ke bawah. Tanganku tak mampu lagi mengangkat tubuh sendiri. Seketika lengan dan bahuku terasa sakit.
“Lenganmu belum kuat menahan bobot tubuh sendiri. Saya memberikan tugas tambahan untuk dilakukan di rumah. lakukan push up seperti yang saya perintahkan tadi sebanyak 5 kali setiap harinya. Ingat, seperti yang saya perintahkan tadi,” Kak Roni menekankan nada bicaranya pada kalimat terakhir. “Bukan kuantitas yang diperlukan, tapi kualitas latihan yang menentukan performa pada tubuh kamu.” Sambil melangkah keluar, aku merasakan sekujur tubuhku sakit tak terkira. Apalagi, bahu dan lengan bagian atas yang diterpengaruh langsung karena gerakan push up tadi. ***
Setiba di rumah, aku melihat ibu sedang duduk di sofa ruang tamu sendirian. Matanya terbuka setengah. Tak ada Ayah atau pun adikku. Ibu sepertinya menunggu kedatanganku. Padahal, aku telah membawa kunci cadangan agar tak perlu merepotkannya.
“Bu..” Aku mengusap bahu ibu. Saat tanganku menyentuh bahunya dan sepasang mataku melihat wajah ibu yang mulai dihinggapi lelah, muncul rasa bersalah karena kejadian waktu itu.
Ada rasa sesal yang mencuat. Bagaimana mungkin anak yang sudah diurus sebegitu baiknya, malah membentak dan melawan ibu yang melahirkannya.
“Kamu sudah pulang, Nak?” tanya Ibu.
“Hm,” aku mengangguk. “Soal waktu itu....”
“Tidak apa. Ibu tahu ibu salah. Harusnya ibu tanya ke kamu, apa yang kamu suka. Bukan memaksa apa yang ibu inginkan.”
“Maaf, Bu...” bibirku bergetar saat mengucapkan kalimat itu. Berat sekali rasanya.
Ibu mendekatkan tubuhnya, lalu memelukku. Ia menepuk-nepuk bahuku seolah mengatakan bahwa tidak masalah dengan kejadian itu.
“Kamu serius ingin berlatih silat?”
“Hm!” Kepalaku mengangguk kuat.
“Ya sudah, lakukan apa yang menjadi kehendakmu. Ibu akan dukung, asalkan tidak ada patah tulang atau cidera lainnya!”
Kali ini, giliranku yang memeluk ibu. Mendapatkan restu saat melakukan sesuatu yang kita suka adalah hal yang sama berharganya dengan memenangkan sebuah pertandingan.
“Aku janji tidak akan terluka,” jawabku di dekat telinga Ibu.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
semoga dapetnya cepet
23/07/2025
0bagus banget ceritanya
12/07/2025
0bagus ceritanee
23/06/2025
0Lihat Semua