Kaki kananku turun lebih dulu dari bus yang kuanggap sebagai bus terakhir bagi kebersamaan kami. Aku menyeberang jalan dengan setengah pikiran di mana-mana. Memiliki rasa yang sama dengan karib memang sangat menjengkelkan. Lebih-lebih, perasaanmu bertepuk sebelah tangan. Harga diri turun drastis ke jurang paling bawah. Aku melangkahkan kaki dengan setengah menyeret. Rasanya, hari ini sungguh melelahkan. Lebih melelahkan dari berolahraga. Lebih menyakitkan dari menerima pukulan. Lebih menyakitkan dari gagal ujian nasional. Kepalaku berusaha keras memainkan pikiran-pikiran yang tak berhubungan dengan Liana. Sementara itu, perasaan dalam diri ini terus mengusik dan menyakiti dirinya sendiri. Ketika kakiku menginjak halaman rumah, rasa lelah makin menjadi. Aku ingin segera tidur dan melupakan apa yang terjadi hari ini. Dengan perasaan kacau, aku menaiki anak tangga dan secepat mungkin menuju lantai atas, mengurung diri di kamar sampai waktu kembali pagi. ***
Decit burung yang saling bersahut-sahutan membangunkanku dari tidur yang panjang. Tak terasa, setelah pulang sekolah kemarin, hari akhirnya berganti. Pancaran sinar memantul tipis dari celah tirai yang tak tertutup rapat. Tak sampai semenit, kejadian kemarin ternyata masih sangat membekas di kepala.
Pagi ini, aku tidak boleh bersikap seperti kemarin. Cinta bertepuk sebelah tangan memang menyakitkan. Akan tetapi, aku harus menguatkan hati. Mereka berdua adalah teman sekelasku, dan kenyataan tersebut harus kuterima meski menyakitkan.
Aku berdiri di hadapan cermin. Raut yang kusut, kuusahakan pergi menjauh. Laki-laki tak boleh kalah dengan keadaan. Laki-laki harus kuat. Aku masih punya Genta dan silat. Bela diri yang bisa kujadikan sebagai pelampiasan akan kekalahan ini.
Sebelum bus ini berbelok menuju halte di seberang sekolah, aku berupaya untuk melemaskan otot-otot di wajah. Aku tak berwajah murung seperti kemarin. Sepertinya, Sela tahu kalau aku benar-benar merasa tidak nyaman di sekolah. Semua ketidaknyamanan itu memang terlihat jelas di wajahku. ***
Memasuki gerbang sekolah, perasaan di dada ini kupaksakan untuk bersiap diri menghadapi kenyataan. Dunia tidak selesai di sini. Masih hari ada hari esok. Lama-kelamaan, jika sudah terbiasa, serta waktu semakin merentangkan jarak akan peristiwa kemarin, kuyakin semuanya akan lebih baik.
Suara keramaian di kelas sudah terdengar ketika langkahku tiba di tangga terakhir. Kelasku yang berada di tengah ini memang cukup terkenal karena kebisingannya. Maklum saja, ada Beno dan Rikky di sana, serta Sela yang mudah bergaul dengan siapa saja.
Di ambang pintu, Beno sudah berdiri sambil menunjukkan wajah ramahnya. Sebisa mungkin, ekspresi yang biasa kuberikan sebagai jawaban, terlihat seperti biasanya.
“Semangat sekali wajahmu hari ini, Kawan!” sapanya tak setengah-setengah. Memang, sebisa mungkin aku menunjukkan raut yang bahagia. Apalagi kalau berada di hadapannya dan Liana.
“Tidurku cukup hari ini. Bagaimana denganmu? Lancar?” tanyaku seraya mengedipkan sebelah mata dan mengarahkan sorot mataku ke arah Liana.
“Pastinya. Sekarang, aku sudah memiliki tujuan lain berangkat ke sekolah. Bertemu dengannya saat ini lebih penting dari menyerap ilmu.”
“Semoga kalian dapat saling menjaga, ya. Aku berharap yang terbaik untuk kalian.”
“Terima kasih, Rian. Oh, ya. Apa kau senggang akhir pekan ini? Aku berencana akan mentraktir kalian. Maksudku, kalian bertiga, Rikky dan Sela. Apa kau bisa?”
Pertanyaan yang dilontarkan Beno sangat tidak terduga. Perasaan sesak hampir saja menampilkan mendung di wajahku. Kubuang jauh-jauh perasaan sesak ini. Semuanya pasti akan baik-baik saja.
“Hmm. Aku belum tahu. Mungkin besok akan kukabari. Atau nanti malam, bagaimana?” Sebetulnya aku ingin langsung menolak. Hanya saja, rasa tak enak jauh lebih besar mengingat Beno adalah karib pertama yang kukenal di kelas ini.
“Baiklah, kutunggu kabar baikmu, ya! Sela dan Rikky telah setuju dengan usul kami.”
Mendengar ‘kami’ dari kalimatnya, seolah-seolah benteng keras yang telah kubangun sedari pagi, hampir runtuh tak tersisa. Kupikir, rencana makan bersama itu tak dihadiri Liana. Ternyata, aku salah. Hari kedua mereka berpacaran sudah membuat suasana hatiku naik-turun. Benar-benar. Tak hanya sabar yang dibutuhkan, tapi juga kekuatan untuk bertahan pada kenyataan tak terduga.
*** Tugas menemaninya saat di bus, kini digantikan oleh. Beno. Benar dugaanku kemarin, bus yang kami tumpangi kemarin, adalah bus terakhir yang menjadi saksi bahwa kami pernah ada di dalamnya. Saat sedang menunggu bus di halte, suara klakson seolah memanggilku untuk berpaling sebentar ke arah suara tersebut. Beno dengan motor bebeknya melambai-lambai kesenangan. Tak mau kalah, aku pun langsung membalas lambaiannya. Di belakangnya, Liana duduk manis dengan memakai helm berwarna hitam. Tak sekali pun ia menoleh saat aku membalas lambaian tangan kekasihnya. Liana memang butuh lelaki gentle seperti Beno. Lelaki yang cukup serba bisa seperti mengendarai motor, melindunginya dari gangguan, bersikap humoris, lelaki yang berani mengambil tantangan dan menyatakan perasaan. Dilihat dari segi manapun, aku memang kalah kelak. Di satu sisi, ketidaknyamananku akan hubungan mereka sudah mencapai batas. Akan tetapi, di sisi lain, aku juga sadar kalau sudah selayaknya Liana mendapatkan lelaki yang bisa melindunginya. Mengendarai motor saja aku tak bisa. Bagaimana melindunginya? ***
Fokusku saat ini adalah berupaya sebaik mungkin dalam mempelajari pencak silat. Hanya silat, sesuatu yang bisa menyembuhkan luka di hatiku. Sesuatu yang bisa membuatku lupa akan beban yang mesti kutanggung di sekolah sampai akhir semester dua nanti.
Aku tiba lebih dulu di tempat latihan. Beberapa menit berselang, Kak Roni tiba dengan mengenakan kaos lengan pendek berwarna kuning. Jika diperhatikan, sepertinya Kak Roni habis melakukan sesuatu. Biasanya dari cerita Genta kemarin, ia selalu datang dengan kondisi sudah memakai seragam silat. Kenyataan itu pun kulihat sendiri selama dua kali ikut berlatih di sini.
“Ada yang aneh?” Kak Roni sepertinya sadar dengan mimik wajahku yang menunjukkan keheranan.
“Tumben, Kak. Biasanya pakai seragam silat kalau datang,” ujarku menjelaskan.
“Saya tidak sempat. Tadi macet di jalan, jadi mampir ke rumah hanya untuk mengambil seragam.”
“Oh, begitu,” kataku karena tak tahu lagi harus menjawab apa.
“Sudah pemanasan?”
“Belum, Kak.”
“Yuk, bareng sama saya.”
Kami merenggangkan tubuh di tengah matras berwarna hijau. Luas matras tersebut seratus meter persegi. Setelah pemanasan, aku berjalan selama lima belas menit, kemudian melompat-lompat sesekali untuk melemaskan otot tungkai yang akan bekerja sangat keras malam ini.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
semoga dapetnya cepet
23/07/2025
0bagus banget ceritanya
12/07/2025
0bagus ceritanee
23/06/2025
0Lihat Semua