logo text

16 - PNKA (Pengadilan Negeri Kos Anggrek)

Kafka:
Lo lagi apa?
Udah bangun belum hm?
Khanza:
Lagi guling2an di atas kasur Enaknya ngapain ya?
Kafka:
Gue bangun? langsung cuci baju
Send photo+
Nih, lagi jemur baju di balkon
Khanza:
Masya Allah, calon suami idaman g
Kafka
Jgn kemana-mana
Tetep di situ
Kafka:
Mau ngapain?
Khanza tak membaca atau membalas pesan terakhirnya . Kafka bersikap cuek, mungkin Khanza sedang ada urusan lain. la pun mengantongi kembali ponselnya dan lanjut menjemur pakaian.
Alasan Kafka lebih suka menjemur di teras atas selain cepat kering, tidak perlu susah-susah menggantungnya di hanger. Cukup dijemur diatas pagar. Karena hanger adalah salah satu benda langka di kosan ini.
Tiba-tiba terdengar suara orang mendesis. "Husst, Kafka."
Lelaki itu spontan menoleh ke samping dan kaget menemukan Khanza menyembul dari balkon sebelah sambil melambaikan tangan.
"Astagfirullah hal adzim, Khanza!"
"Hehe, lanjutin aja jemurnya. Mau lihat." Khanza memperhatikan sambil menyangga dagu pada pagar pembatas.
"Ngapain sih, Za, orang lagi jemur doang kok dilihatin?" Kafka mengibaskan pakaian sehingga airnya menyiprat kemana-mana.
"Kenapa sih, Kaf? Gue kan sekarang pacar lo. Emang gak boleh lihatin pacar sendiri?" protes Khanza bete.
Kafka menjawab sambil memeras pakaian di bak. "Masalahnya yang lo lakuin itu nggak guna. Daripada cuma bengong di sini, mending lo nyapu rumah sana."
Dua tahun hidup menjadi anak kos, menuntut Kafka untuk hidup mandiri. Termasuk dalam mengurus pekerjaan rumah.
Kafka mendengar suara orang lain tengah memanggil namanya dari dalam. la menoleh ke belakang menemukan Haris sedang berjalan
menuju ke arahnya.
"Khanza buruan ngumpet," titahnya.
"Apaan sih?"
"Ada Haris."
Ada cicak yang menempelkan diri ke tembok sambil menguping pembicaraan.
"Lo lagi ngomong sama siapa, Kaf?" Haris heran tidak menemukan siapapun di atas. karena la seperti mendengar suara orang lain dari sini tadi.
Kafka ngeles. "Nggak, tadi gue lagi telponan sama orang."
"Ah, masa? Minggir, gue mau lihat." Haris menyingkirkan Kafka dari jalannya. la melihat ke rumah sebelah, namun tidak ada siapa-siapa.
"Gue kira lo lagi ngomong sama tetangga sebelah."
"Enggak. Lo ngapain ke sini? Udah sana masuk." Kafka menariknya
mundur dari pagar.
"lya Papa."
"Papa, papa, emang gue papa lo," jutek Kafka.
Haris yang awalnya sudah menginjak pintu hendak kembali ke dalam, mendadak putar balik dan mengintip lagi ke arah yang sama.
"Udah sana masuk." Kafka menarik kausnya dan mendorong Haris
sampai hampir tersungkur.
"Papa jahat!" Haris mendramatisir.
"Bodo amat, gue kan papa tiri," balas Kafka.
Setelah memastikan Haris benar-benar pergi, Kafka menutup pintu akses menuju balkon agar tidak ada yang merecokinya lagi. Barulah
Kafka menyuruh Khanza untuk keluar dari tempat persembunyian.
"Sekarang lo boleh ke luar. Haris udah turun ke bawah."
"Huft, untung gak ketahuan." Khanza bernapas lega. "Lo nggak ada rencana hunting hari ini, Kaf? Mau pergi ke mana gitu?" tanya Khanza karena ia tidak mau menjalani hari dengan kegabutan.
"Nggak ada. Sampe sore nanti gue sibuk full nge-job."
"Kalau nanti urusan lo dah kelar, mau nggak gue ajak ke toko?"
Kafka menimang-nimang. "Emm gimana ya, tapi gue lagi hemat bensin."
"Gue isiin deh!" seru Khanza. Awas saja kalau masih banyak alasan.
Kafka tertawa. "Haha canda. Kalau cuma bensin doang mah gue masih bisa beli sendiri."
"Oke, entar sore ya. Kita ketemuan di depan gang."
Kafka bingung. "Lha kok di depan gang?"
"Kan biar nggak ada yang tau Kafka, kalau kita pacaran," jelas Khanza.
"Ya kalau orang tau emang kenapa?"
"Gue nggak mau diceng-cengin sama seisi anak kos lo itu. Mau ditaruh mana muka gue?"
Dikarenakan semua anak Kos Anggrek sudah pada tau alasan mereka putus dulu gara-gara apa. Khanza jadi gengsi kalau hubungan mereka diketahui.
Khanza mendengar Soraya memanggilnya di dalam. "Khanza!"
"lya, Ma?"
"Bantuin Mama pindahin meja di ruang tamu sekarang."
"lya, Khanza otw turun."
Sebelum pergi menemui Soraya, Khanza tak lupa memberi pesan pada Kafka. "Nanti ya, jangan lupa di depan gang. Mwuach." Gadis itu memberi flying kiss yang terakhir kali.
Kafka mengerjap mata sambil menggaruk kepala. "Sehat tuh anak?"
--SEBELAH KOS MANTAN--
"Lo yakin gak ada orang yang lihat lo pas lagi keluar?" tanya Khanza memastikan saat mereka berdua bertemu di depan gang sore harinya.
"Ya Allah Khanza, udah berapa kali gue bilang. Nggak ada siapapun di rumah. Aman." Kafka sampai lelah menjawabnya.
"Sini, mana helmnya."
Kafka memberikan helm ditangannya untuk dipakai Khanza lalu gadis itu naik ke atas motor. Saat hendak keluar komplek kebetulan sekali|
Haris datang mengendarai motorya dari arah berlawanan.
"Lho, itu bukannya Kafka sama Khanza?" Haris menajamkan penglihatan. "Wih, bener. Itu mereka. Woi!" panggilnya.
Khanza kelabakan sendiri mengetahui Haris memanggil mereka berdua. la menepuk-nepuk pundak Kafka menyuruhnya tancap gas. "Ayo cepetan Kaf, ada Haris lihat tuh."
Kafka menambah kecepatan laju motor, Itu membuat Haris menggerutu. "Sialan. Budek kali ya tuh anak? Dipanggil malah kabur."
la pun mulai sadar akan sesuatu. "Duo K balikan?"
-SEBELAH KOS MANTAN--
"Saudara Kafka Danish Mahendra, sudah siapkah Anda untuk diinterogasi?"
"Apa-apa -"
"Husst," Sultan menempelkan telunjuk pada bibir Kafka. "Di dalam sidang tidak boleh membuat kegaduhan atau Anda akan diberikan hukuman mengerikan.
Kafka mencoba melepaskan diri dari tali yang mengikatnya. la di dudukkan di sebuah kursi dengan badan di ikat tali. Sungguh keji.
"Selamat datang di Pengadilan Negeri Kos Anggrek alias PNKA. Di mana semua rahasia Anda akan terbongkar di sini. Termasuk urusan asmara." Sultan memberi kalimat pembuka ala-ala host acara gosip.
Semua bertepuk tangan, tapi Sultan meminta mereka semua diam.
"Stop! Tidak usah bertepuk tangan."
"Saya akan membacakan peraturan dalam sidang perkara kali ini. Yang pertama, jika hakim bertanya maka Anda harus menjawab 'iya' atau
'tidak' pilihannya hanya ada dua, tidak boleh menjawab selain itu.
Peraturan kedua," Sultan membaca peraturan selanjutnya.
"Tidak boleh ada satu hal pun yang ditutup tutupi dari hakim, jika anda tidak ingin hukuman yang Anda dapat menjadi lebih berat. Peraturan ketiga, kita sohib, Bro. Jadi nggak usah bohong."
"Pertanyaan pertama." Sultan mulai bertanya.
"Lepasin gue!" Entah kenapa Kafka jadi deg-degan parah.
"Apa pernah lo ileran pas lagi tidur?"
"Hah?"
"Jawab iya atau tidak!" bentak Sultan.
"Tidak." Kafka menjawab tegas.
Pertanyaan konyol.
"Oke, lanjut ke pertanyaan kedua." Sultan berjalan mondar-mandir di depannya. "Lo masih cinta sama Khanza?"
"Apaan sih? Gak usah kayak bocil gini mainnya." Kafka tak suka dengan sikap teman-temannya yang kekanak-kanakan.
"Jawab iya tau tidak. Jangan banyak cincong!"
"Tidak."
"Anda bohong. Beri dia hukuman."
Askara menyabut satu bulu kemoceng yang ukurannya paling panjang.
Kafka berontak tak mau. la pun tertawa terpingkal-pingkal saat bulu itu menggelitik telinganya.
"Mau lo apa sih? Gue udah jawab yang jujur." Kafka tergelak. Kupingnya sangat gatal sampai mati rasa.
"Kami hanya ingin kebenaran." Sultan berubah serius. "Jawab yang jujur, lya atau tidak? Kalau lo bohong, Askara nggak akan berhenti untuk ngegelitikin lo sampai lo ngompol."
"Ya. Kalau gue masih suka terus kenapa?" Akhirnya Kafka nyerah.
"Hm...sudah ku dugong." Sultan mengelus dagu. "Kalau kalian berdua sebenernya memang masih saling cinta."
Kegeliaan terhenti sesaat. Kafka mencoba mengatur napas karena banyak tertawa cukup menguras tenaga.
"Pertanyaan ketiga, Apa benar Anda telah balikan bersama mantan Anda yang bernama Khanza?" Sultan bertanya lagi.
Kafka melirik tajam seseorang yang kini bersembunyi dibalik George.
Tidak salah lagi, si ember itu pasti yang membeberkannya. "Tidak."
"Bohong. Gelitikin dia." Sultan memberi perintah.
Sebelum Askara sempat melakukan tugasnya, Kafka bersuara. "Ya. Gue balikan sama Khanza."
"Kan, apa gue bilang. Mereka itu udah balikan!" Haris menggebu gebu.
Semua orang menganga tak percaya. Si duta jomlo ini akhirnya pacaran lagi.
"Dengan ini, saya nyatakan sidang hari ini ditutup. Tuk! Tuk!" Sultan mengetuk gagang sapu ke lantai sebanyak dua kali layaknya palu hakim.
Kafka tak lagi mencoba kabur ketika melihat teman-temannya menatap penuh intimidasi.
"Oo jadi gini sekarang mainnya rahasia-rahasiaan?" kata Askara bersidekap dada.
"Gue kira kita teman, taunya cuma penghuni kos-kosan." si ember Haris bersuara.
"Kenapa lo nyembunyiin kenyataan ini dari kita semua, Kaf?" George ikut bertanya.
"Karena Khanza gak mau diceng-cengin sama kalian." Kafka muak di desak.
"Dia gak mau diledekin karena balikan sama mantan!"

Komentar Buku (109)

  • avatar
    WiqiKanza

    bagusss bangettt kakkk😁🫶😍

    13/12

      0
  • avatar
    서연박

    bgssss

    14/06/2025

      0
  • avatar
    mailoooo

    niceee

    13/03/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru