Beranda/Keluarga Mantan Pacar/
Part 8
Part 8
Sok Kaya
Hari itu, cuaca di luar cukup panas. Aku hanya berdua dengan Mbak Santi, Mbak yang bantuin aku di rumah. Aku cuma pakai daster panjang lengan pendek saja. Tiba-tiba bell di pintu rumah berbunyi. Aku pun bergegas mengambil sweater dan memakainya, lalu berjalan keluar.
“Mbak, saya kurir yang antar baju dari butik,” ucap pria muda dengan jaket khas ojek online.
“Ooh … iya, Mas.” Ia memberikan kotak berisi baju pesanan milikku dan juga Mami.
“Tanda tangan, Mbak,” ujarnya sambil menyodorkan nota untuk ditandatangani sebagai bukti terima. Aku pun menandatangani kertas tersebut, lalu menyerahkannya kembali. Dia memang ojek online tapi juga kurir langganan butik. Setahuku pengiriman barang dari butik bukan melalui aplikasi.
“Baik, terima kasih, Mbak. Biaya antar sudah dibayar pihak butik.”
“Oke, terima kasih, Mas.”
“Oh, iya, Mbak. Rumah sebelah itu apa benar rumahnya Ibu Hailey?” tanya si Kurir.
“Ooh .. Hailey, ya? Dia mah masih remaja, belum ibu-ibu. Iya itu rumah dia. Kenapa, Mas?”
“Orangnya pada kemana, ya? Tadi satu jam yang lalu saya sudah ke situ, tapi gak ada orangnya.”
“Mau antar pesanan juga, Mas?”
“Iya, Mbak, kebetulan banget dapat orderan satu kompleks ini.”
“Ooh … mungkin sedang pergi. Ya sudah, biar titipkan saja dulu di sini, nanti saya yang antarkan.”
“Tapi belum bayar, sih, Mbak. Ini COD.”
“Gapapa, saya talangin dulu. Berapa, Mas?”
Lelaki itu menyebutkan sejumlah nominal untuk makanan dan cemilan yang dipesan oleh Hailey. Aku pun masuk sebentar untuk mengambil uang lalu membayarnya.
“Terima kasih banyak bantuannya, ya, Mbak. Saya takut aja kalau dicancel, mana harganya lumayan.”
“Iya, gak apa-apa. Makasih, Mas.”
Lelaki itu pun berlalu. Sepertinya Hailey memesan makanan dan cemilan yang cukup banyak. Setahuku kalau jam segini dia memang belum balik dari sekolah.
Jam dua siang, aku akan mengecek rumah sebelah dengan mengintip apakah mobil yang selalu dipakai Hailey sudah ada atau belum di rumahnya. Baru saja keluar menuju depan rumah, panjang umur si Hailey. Mobilnya lewat dan langsung masuk ke garasi rumah itu.
“Hailey, ya?” sapaku saat ia keluar dari mobilnya.
“Iya, Mbak. Ada apa, ya?” tanyanya dengan bahasa Indonesia, namun aksen Amerikanya juga masih jelas.
“Ini orderan kamu, tadi abang ojeknya sudah ke sini tapi gak ada orang.”
“Oh, ya? Tumben cepet sampenya. Aku sengaja pesan pas masih di sekolah, biar pas sampai rumah nunggunya gak lama. Thanks, Mbak.”
“Iya, tadi juga kebetulan si Abang antar kiriman untuk saya.”
“Masa iya gak ada orang di rumah? Bukannya si Maria di rumah, ya?” ujar Hailey. Dia menerima bungkusan yang aku ulurkan.
“Hmm … kurang tau juga, sih. Gapapa, yang penting ini udah sampai.”
“Oke, Mbak. Emang dasar si Maria, pasti kerjanya molor! Eh, ini aku ganti uangnya, Mbak.” Hailey membuka tasnya untuk mengambil uang.
“Gak apa-apa, Hailey. Anggap saja salam perkenalan kita sebagai tetangga.”
"Beneran, Mbak? Emangnya Mbak gak apa-apa kalau bayarin orderan aku? Lumayan lho ini harganya.”
“Gak apa-apa.”
“Soalnya Maria bilang Mbak cuma ART di rumah itu. Ntar duitnya habis, lho.” Hailey berkata dengan sedikit mengerutkan keningnya.
“Hehehe … saya bukan ART. Saya memang cuma ngontrak sementara di rumah itu karena sedang renovasi rumah.”
“Ooh … dasar Maria tukang gosip! Betewe, makasih banyak udah bayarin orderan aku, Mbak. Aku masuk dulu, ya!”
“Iya, sama-sama. Aku juga mau balik, ya.”
“Bye ….” Hailey menaiki undakan tangga teras rumahnya lalu masuk ke dalam.
Baru saja aku melangkah menuju jalan depan rumah, tiba-tiba saja terdengar suara Mbak Maria memanggilku.
“Ran!”
“Lho, Mbak? Bikin kaget aja.”
“Elu ngapain? Ya ampun, kalo keluar tuh pake baju yang bagusan dikit napa? Jangan ditunjukin, dong, kalau kamu itu babu!” celetuknya.
Emangnye elu? batinku.
“Mbak tadi dari mana? Kang ojek mau anter pesenan Hailey gak ada orang.”
“Sengaja, gue ngumpet di dalem. Ogah gue mah disuruh nalangin pesenannya dia. Mana kalo pesen yang mahal-mahal!”
“Ya elah, duit segitu doank, Mbak. Apa, sih? Bagimu itu kecil, kan?” pancingku.
“Iya, sih. Cuman males aja, kebiasaan die mah.”
“Sama adiknya suami sendiri gak boleh gitu, Mbak!”
“Alah, biarin.”
“Suamimu yang mana, sih, Mbak? Kok aku gak pernah lihat, ya?”
“Lagi kerja di luar negeri, lah.”
“Ooh … pantes. Waah … enak, ya, punya laki bule, kerja di luar negeri, duitnya banyak.”
“Emangnya kamu? Huh! Makanya jadi cewek tampang pas-pasan aja jangan belagu!”
“Waduh, dimana letaknya belagu, Mbak?”
“Ya kamu, sih, bagus juga gak jadi kawin sama si Hendi. Eh, besok itu, si Hendi mau ada pertemuan besar perusahaan di Pekanbaru. Pembukaan cabang baru.”
“Ooh ….”
“Karena dia sibuk banget, jadinya dia gak sempet mampir. Jadi ni aku mau anter ibu aku ke bandara. Biar terbang ke Pekanbaru dan ketemu sama Hendi dan istrinya juga.”
“Ooh … hati-hati di jalan, Mbak!”
“Udah kamu masuk aja sono! Bentar lagi taksi online aku dateng.”
“Kok naik taksi? Kenapa gak minta anterin Hailey aja?”
“Ah, ribet.”
'Hiihihi ….’ Aku terkiki dalam hati.
“Maria! Mau kemana, loe?” terdengar teriakan Hailey di ambang pintu.
“Ran, udeh, sono elu balik aja, deh!”
“Oh, oke, Mbak.”
“Mau anter Ibu aku dulu bentar!” sahut Mbak Maria.
“Kebiasaan, loe! Pergi-pergi seenak udel! Gue laporin mami baru tau rasa, loe!” bentak Hailey lagi. Aku tambah terkikik dan masuk ke dalam rumah.
Esok paginya, aku bertemu Bu Mira di depan rumah.
“Hai, Rania. Udah rapi aja, mau ke mana?”
“Iya, Bu. Mau ikut suami urusan kerja di luar kota, Bu. Tapi ini lagi nungguin ojek anter sarapan.”
“Ooh … eh, kemarin itu saya dengar Hailey mencak-mencak sama Maria, kenapa, sih?”
“Hehehe, gak tau juga, Bu.”
“Hailey itu sebenarnya udah gak suka sama Maria, karena suka pergi-pergi tanpa pamit. Malahan maminya sering telepon saya tanya tentang Maria. Hailey sama anak saya itu temenan, jadi sering juga kalau malem main ke sini.”
“Ooh … begitu.”
“Kamu jangan terlalu akrab sama Maria, ya. Soalnya udah sering dia bikin masalah dengan tetangga baru.”
“Iya, Bu. Saya akan berusaha supaya jangan sampai bermasalah dengan siapapun.”
“Ya sudah, saya masuk dulu.”
“Iya, Bu.”
***
Menjelang sore, akhirnya kami sekeluarga sudah sampai di Kota Pekanbaru, kota bertuah kata orang melayu. Kami langsung menuju hotel untuk beristirahat sebelum acara malam nanti. Aku menikmati pemandangan kota dari jendela kamar. Kota ini cukup ramai meski tak sepadat Ibukota.
“Sayang,” ucap Mas Zaki, tiba-tiba saja dia sudah mendekap erat pinggangku dari belakang.
“Hmm? Tempat acaranya jauh dari sini, gak, Mas?”
“Dekat, sedekat hati kita berdua.”
“Ya elah, asem. Gombalan basi, ah!”
“Hehehe … digombalin susah amat!”
“Hihihi … aku siapin baju untuk nanti malam dulu, ya!”
“Nanti aja, mendingan sekarang ikut aku.”
“Ke mana?”
“Terbang!”
Mas Zaki menarik tubuhku sampai terhempas di atas ranjang. Dasar laki-laki! Hahahaha ….
***
Malamnya, kami sudah sampai di lobi gedung tempat acara berlangsung. Kulihat Mami sangat cantik dengan gamis dan kerudungnya.
“Baru kali ini Mami berpenampilan tertutup, kamu hebat bisa bikin Mami jadi terlihat lebih elegant,” puji Papa mertua padaku.
“Sudah sepatutnya kami para wanita dalam keluarga ini menjaga kehormatan keluarga dan juga nama besar bisnis, Pa.”
“Kamu bener-bener ajaib, bisa mengubah kebiasaan Mami kamu itu. Papa senang dengan perubahan penampilannya. Lebih enak dipandang dan anggun.”
“Istri siapa dulu?” celetuk Mas Zaki sambil memeluk pundakku.
“Eh, ayo, lekas masuk! Pada ngomongin apa, sih?” tanya Mami yang sudah jalan lebih dulu di depan kami. Kami tertawa lalu berjalan menjajari langkah Mami.
“Mas, clutch aku kayaknya ketinggalan di mobil, deh,” ujarku saat aku sadar hanya memegang ponsel tanpa clutch.
“Ya ampun, ya udah biar Mas ambilin.”
“Gapapa, biar aku aja. Kamu udah ditungguin di dalam. Mumpung gak jauh dari parkiran. Aku ambil sendiri aja, ya. Sini kunci mobilnya!”
“Beneran gapapa?”
“Gapapa, lah.”
“Ya udah, jangan lama-lama!”
“Iya, Maas ….” Aku menerima kunci mobil yang disodorkan Mas Zaki, lalu melangkah menuju parkiran mobil di depan gedung. Untung saja tadi gak parkir di basement.
Aku langsung menemukan clutch milikku di bangku sebelah supir, lalu kembali menutup dan menekan tombol lock di kunci. Aku kembali melangkah menuju lobi.
“Rania!” panggil suara itu. Suara yang dulu familiar. Aku pun menoleh.
“Mas Hendi?”
“Kamu ngapain ada di sini?” Dia menghampiriku sambil menatapku dari ujung kaki sampai ujung kepala.
“Kamu masih kerja di HS Group, ya?”
“Enggak penting untuk dibahas,” jawabku malas. Apalagi saat aku tahu Mbak Tyas sedang menghampiri kami. Di samping Mbak Tyas juga terlihat ibunya Mas Hendi dengan dandanan yang telalu menor. Aduuh … kenapa ketemu mereka lagi, sih?
“Mas, ngapain kamu di sini? Ketemuan sama mantan lagi!” ketus Mbak Tyas.
“Sayang, jangan marah-marah, dong! Kamu lihat sekarang si mantan aku ini. Gak ada perubahan berarti.”
“Rania, kamu di sini jugak?” tanya si Ibu.
“Iya, Bu. Apa kabar?” tanyaku basa-basi.
“Mas, kamu urus nih ibu kamu! Ngeselin banget!” Mbak Tyas melangkah cepat meninggalkan kami bertiga. Lho lho lho? Ada apa ini?
“Ibu, sih, pake maksa ngikut ke sini segala. Diem aja di hotel kenapa, sih?”
“Ibu juga kan pengen lihat acara mewah kantor kalian!”
“Mending Ibu sama Rania aja, nih, ntar duduk aja di sudutan! Jangan bikin malu aku sama Tyas! Tyas itu orang penting di perusahaan, jangan sampai reputasinya hancur gara-gara ulah Ibu!”
“Kamu ini, punya istri cantik dan kaya tapi nyebelin, gak ada hormatnya sama sekali!” gerutu ibunya itu.
“Maaf, aku masuk duluan aja, deh! Kalian selesaikan aja urusan kalian, ya!”
“Eh, Rania! Tunggu! Kamu bawa nih ibu aku!"
"Oh, maaf. Aku bukan menantunya apalagi babunya!"Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (119)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
ooooo
17/07
0bagus
03/07
0nice
21/12
0Lihat Semua