Part 38

Part 38
Pacar Baru Mas Hendi
PoV Yuri
“Aduuuh … gara-gara belanja baju aku jadi kehabisan duit buat beli hape, Bu! Duit aku tinggal sedikit, nih! Mbak Maria juga, tuh, ganti duit aku, dong!” Kami keluar dari toko setelah drama rebutn di dalam.
“Eh, Yuri! Kamu juga salah! Ngapain nawar baju pake harganya dinaikin segala? Untung banyak tuh tokonya! Lagian aku cuma beli baju dua potong, kok! Tuh, Ibu yang banyak beli!” Mbak Maria malah tak mau disalahkan.
“Iya, kan, tetep aja tadi pakai duit aku bayarnya! Pokoknya entar ganti!”
“Iya! Dasar pelit!”
“Ibu juga, ya?”
“Diiih … kamu sama ibumu sendiri perhitungan banget! Kalau ibu minta semua biaya yang udah Ibu keluarin buat ngebesarin kamu, emang kamu sanggup bayar?” ujar Ibu tak kalah sewotnya.
“Terus, aku gak jadi beli hape baru, dong?”
“Salah sendiri, tadi ditanya mau beli hape dulu ato baju, kamu malah bilang beli baju!” sahut Mbak Maria.
“Ya, kan, aku pikir gak bakalan habis segitu banyak!”
“Ya udah, makanya kamu jangan sok-sokan jadi orang!” Mbak Maria menoyor kepalaku lagi.
“Huuuhuhuhuuu … sialan banget! Pasti ini semua gara-gara ketemu Mbak Rania, jadinya aku sial!”
“Lagian, ya? Ngapain dia ada di toko itu? Pake beres-beresin baju yang jatoh segala lagi?” Mbak Maria mengerutkan keningnya, berpikir.
“Jangan-jangan itu sebenernya toko baju punya dia?” ucap Ibu, matanya mendadak melebar.
“Hah? Masak, sih, Bu? Gak yakin, ah!”
“Yuri! Mana mungkin si Rania kerja di toko baju, secara dia mantunya orang kaya. Iya, gak, sih?” Kali ini Mbak Maria yang berasumsi.
“Terus? Masak kita beli baju jualannya dia, sih? Iiiih … mana aku udah bayar lima kali lipat lagi! Pasti seneng banget tuh si Mbak Rania lihat aku tadi! Sialan!”
“Ah, bodo amat! Yang penting dapat baju bagus dengan harga miring! Ayo lekas kita pulang, tuh taksi online pesanan aku deh kayaknya,” ujar Mbak Maria. Benar saja, akhirnya kali ini kami pulang naik taksi, bukan angkot seperti biasanya.
Sampai di rumah, kami melihat ada mobil Mbak Siska terparkir di depan rumah. Dia datang lagi? Ngapain? Ngebet banget pen ketemu Mas Hendi? Kesempatan bagus ini!
“Halo, Mbak Siska? Tumben dateng lagi? Ada yang ketinggalan?” tanyaku. Mbak Siska cuma senyum. Kegep dia udah mulai suka sama Mas Hendi.
“Kalian abis dari mana?” tanya Mbak Siska.
“Beli baju, Mbak. Kebetulan ada toko baru buka, banyak diskon!” sahutku jujur. Mas Hendi malah melotot. Apa, sih? Aku jujur, emangnya salah?
“Ooh ….” Mbak Siska hanya mengangguk. Ibu dan Mbak Maria malah udah ngacir duluan ke kamar masing-masing.
“Mas, aku gak jadi beli hape, tau?” aduku. Mas Hendi semakin melotot. Tapi mendadak senyum sewaktu Mbak Siska melihat ke arahnya. Apaan, sih? Aku gak ngerti, deh.
“Emangnya hape kamu kenapa, Yuri?” tanya Mbak Siska lagi.
“Hilang, Mbak. Dicopet di angkot.”
“Ooh … kasihan. Nanti Mbak belikan kamu hape baru. Tapi ada syaratnya.”
“Apa, Mbak?” tanyaku girang.
“Kan aku punya usaha toko bunga, kamu cuma tugasnya anterin bunga pesenan pelanggan aku aja. Entar aku kasih komisi cash! Mau?”
“Waah … yang bener, Mbak? Mbak pengusaha, ya? Pantesan kaya!”
“Hehehe … ya, gitu, deh!”
“Asyiiik … aku mau, Mbak!”
“Kamu besok dateng aja ke toko aku, ya!”
“Aku mau juga, dong!” Tiba-tiba saja Mbak Maria sudah keluar dari kamar. Huh, dengar soal duit aja cepet amat kupingnya jigrak!
“Boleh banget, Mbak. Semakin banyak yang bantu aku, semakin bagus. Gaji aku bayar cash setelah barang berhasil diantar.”
“Enak banget? Mas boleh juga, dong?” ujar Mas Hendi.
“Boleh, Mas. Kalau Ibunya Mas mau juga boleh. Soalnya pelanggan aku itu banyak banget.”
“Waaah … asyiiik … kerjaan enteng, dapet duitnya cepet lagi!” Mbak Maria bersorak kegirangan.
Esoknya, kami berempat langsung datang ke toko bunga milik Mbak Siska. Toko bunganya, sih, biasa aja. Gak terlalu besar. Ah, bodo amat, lah. Yang penting cuan is namberwan!
Hari pertama itu, aku dapat tugas mengantar dua buket bunga ke dua rumah megah di bilangan perumahan elit kota ini. Kayaknya ini rumah-rumah pejabat, deh. Gede banget!
Aku diberi kontak si pelanggan. Saat aku mengantar bunga, aku disambut langsung oleh si pemesan. Dia minta password gitu, tapi Mbak Siska udah kasih tau tadi, jadi gampang! Rumah pertama penerimanya cowok masih muda, ganteng lagi. Kayaknya masih mahasiswa gitu. Setelah dia bayar, aku langsung disuruh pergi. Aduuh, padahal masih pengen lama-lama ketemu cowok ganteng. Mungkin dia mau ketemu sama ceweknya, makanya pesan bunga. Tapi gelagatnya agak aneh, kayak orang flu.
Di rumah kedua, penerimanya wanita muda, sepertinya mama muda gitu, deh. Dia juga sama kayak orang lagi pilek gitu. Setelah aku dikasih duit, dia langsung tutup pintu. Aku pun balik ke tokonya Mbak siska untuk kasih uang setorannya.
Dari dua paket bunga yang aku antar, aku dikasih komisi dua ratus ribu. Ya ampuuun … gampang banget cari duit! Mbak Maria dan Ibu masing-masing juga dapat tugas anter dua paket, dan dibayar dua ratus ribu juga. Kami pulang dengan perasaan girang. Tinggal Mas Hendi yang belum pulang. Dia mah enak, pergi antar pesanan pakai mobilnya Mbak Siska.
Malamnya, kami langsung menyerbu Mas Hendi saat dia pulang.
“Gimana, Mas? kamu dibayar berapa hari ini?” tanyaku tak sabar.
“Lima ratus ribu! Anterin lima pesanan bunga!”
“Waah … enak banget, Mas?”
“Ah, enakan pura-pura sakit aja! Capek, tauk? Mana anternya ke alamat yang di gang sempit lagi!” Mas Hendi menggerutu.
“Aku anter ke rumah mewah, kok!”
“Mbak anter ke belakang kampus!” sahut Mbak Maria.
“Ibu ke rumah kontrakan biasa.” Ibu pun ikut berkomentar.
“Ternyata pelanggan Mbak Siska banyak juga, ya? Waaah … kalau sehari bisa antar sepuluh, satu juta! Sebulan? Tiga puluh jutaaaa ….” Aku membayangkan uang berhamburan di atas kepalaku.
“Mulai sekarang, bakalan banyak duit terus kita!” sahut Mbak Maria. Kami berdua joget-joget saking senangnya.
Mulai hari itu, kami pun jadi anak buah Mbak Siska untuk urusan antar pesanan bunga. Mbak Siska cuma berpesan supaya bunganya jangan sampai rusak saat sampai di tangan pelanggan. Harus utuh. Ah, itu mah gampang!
Malam ini, kami kembali menghitung uang pendapatan hari ini. Tapi hari ini kami cuma dibayar lima puluh ribu saja untuk satu pesanan yang berhasil diantar. Gara-garanya Mbak Maria ngerusakin satu paket. Untung aja Mbak Siska gak marah.
“Mbak, sih! Coba tadi jangan jatoh bunganya, kan kita dibayar seperti biasa!”
“Gue gak sengaja, tauk? Tapi gue heran, deh, masak iya di dalam bunga itu ada bungkusan kecil lagi. Isinya kayak tepung gitu, Yur!”
“Tepung? Apaan? Palingan itu pengawet biar bunganya gak layu, Mbak!”
“Oh, iya juga, ya? Mungkin, lah!”
“Kalau aku, sih, heran aja, semua pelanggan yang aku anterin semuanya lagi pada pilek! Makanya Mbak Siska nyuruh kita pake masker, ya? Mungkin biar kita gak ketularan, Mbak!”
“Iya, kamu bener! Si Siska baik juga ternyata!”
“Eh, tuh, Mas Hendi pulang! Yuk kita tanya dia dapet duit berapa?”
“Ayo!” Kami pun menghambur menyambut Mas Hendi yang pulang dengan membawa banyak bungkusan berisi makanan.
“Mas, dapet banyak, ya?”
“Yoi, coy!”
“Wuiiih … dapet berapa?" tanya Mbak Maria tak sabar.
“Dua juta! Aku anter paket besar.”
“Paket besar? Sebesar apa? papan bunga, gitu?”
“Ehm … eh, iya, buket bunga besar!” Mas Hendi menjawab dengan terbata-bata. Kenapa, sih? Aneh!
“Ooh ….” Lalu kami pun bercerita kalau hari ini hanya dibayar separuh, karena ada satu paket yang rusak akibat ulah Mbak Maria.
“Lain kali hati-hati! Jangan sampe orang lihat isi di dalam bunga itu!” ujar Mas Hendi serius.
“Emang kenapa?” sambar Ibu.
“Pokoknya hati-hati aja lain kali! Kita itu susah dapat uang seperti sekarang, jangan sampai si Siska kecewa, terus kita dipecat!”
“Ooh … gitu. Oke, deh!” Aku dan Mbak Maria mengangguk tanda mengerti.
***
Tak terasa, dua bulan sudah kami sekeluarga melakoni profesi baru ini. Aku sudah bisa beli hape yang bagus, dan juga semua keperluanku sendiri. Kerja enak sambil jalan-jalan, gajinya gede, siapa yang gak suka?
Hari ini, aku dapat tugas lagi mengantar paket buket bunga ke sebuah kost-kostan mahasiswa. Pasti yang pesan bunga lagi jatuh cinta. Aku pun langsung berangkat naik motor baru yang aku beli dengan cara cicil.
Sampai di tempat, aku langsung menghubungi si pemesan paket. Ternyata kost-kostannya terletak di belakang pusat perbelanjaan. Masuk gang lah sedikit. Lumayan sempit juga.
Akhirnya dateng juga orangnya. Aku pikir dia cowok anak muda, ternyata bapak-bapak sangar! Rambutnya gondrong, badannya tegep banget. Dia juga pakai kaca mata hitam.
“Ini, Bang!” Aku menyerahkan pesanan bunga itu padanya. Bukannya terima, dia malah mau nangkep tangan aku. Cepet-cepet, lah, aku mengelak.
“Jangan lari kamu!” katanya sambil ngeluarin pistol. Lah, aku salah apa? kok mau ditembak?
Aku pun langsung lari sekuat tenaga. Tak kupedulikan lagi motor yang tertinggal. Aku gak mau dibunuh sama penjahat itu! Dia mengejarku, sekarang malah berdua! Sial! Kenapa bisa Mbak Siska dapat pelanggan orang jahat begini, sih? Pasti mereka itu mau ngapa-ngapain aku! Secara, aku, kan cantik!
Aku terus lari di keramaian orang yang lalu-lalang. Aku sampai di depan Mall, tapi tampaknya mereka masih mengejar.
“Kami polisi, tolong bantu tangkap perempuan muda itu!” teriak dua orang itu.
‘Polisi? Lah, emangnya aku penjahat? Pasti mereka bohong!’ gumamku dalam hati. Aku terus berlari sekuat tenaga. Aku gak mau sampai ditangkap, lalu dituduh sebagai penjahat.
Bugh! Tiba-tiba aku menabrak seseorang. Aku langsung berdiri, dan berusaha lari lagi secepatnya. Aku tahu tempat aman di dekat sini.
“Yuri? Aaaww … sakiiit!” ujar orang yang tak sengaja aku tabrak. Aku menoleh sekilas, ternyata dia mbak Rania dengan kantong belanjaan yang berserakan. Kulihat itu adalah perlengkapan bayi.
Aarrrghh … bodo amat! Aku masih harus kabur secepatnya. Aku tak mempedulikan Mbak Rania yang kesakitan. Sampai di sela-sela antara dua gedung yang sempit, aku bersembunyi. Aku mengatur napas yang tersengal.
“Jangan bergerak! Kamu sudah kami kepung!” Tiba-tiba suara itu menggelegar dan membuat dengkulku terasa lemas. Aku ketahuan. Sontak aku mengangkat kedua tangan tanda menyerah.
“Apa salah saya, Pak?” tanyaku memelas.
“Kamu tanya salah kamu apa? kamu sudah jadi kurir narkoba! Lekas ikut kami ke kantor polisi!”
“Kurur narkoba? Bukan, Pak! Saya cuma anter bunga!”
“Kamu jelaskan saja nanti di kantor polisi!”
Mereka menggiringku keluar dari persembunyian. Lalu aku dibawa masuk ke dalam mobil patroli. Ya ampun … apa jangan-jangan selama ini yang aku antar memang narkoba? Mbak Siska pasti tau semua ini!

Komentar Buku (119)

  • avatar
    GoodAdi

    ooooo

    17/07

      0
  • avatar
    SamsunAndi

    bagus

    03/07

      0
  • avatar
    mufaddholalfath

    nice

    21/12

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru