Beranda/Keluarga Mantan Pacar/
Part 36
Part 36
Mas Hendi Kecelakaan
PoV Yuri
“Ibuuk … bunyi apa itu?” Aku berteriak dan meloncat dari atas sofa. Aku berlari ke depan rumah. Ya Ampun, kulihat motor Mas Hendi terhimpit di bawah sebuah mobil sedan. Mas Hendi yang terjatuh meringis kesakitan.
“Hendi!” Ibu yang sudah menyusulku juga terkesiap melihat kejadian itu.
Orang-orang yang melihat jadi berbondong-bondong untuk menolong. Tampaknya tubuh Mas Hendi tak sampai terluka parah, hanya motornya saja yang ringsek tak berbentuk.
“Lapor polisi, lapor polisi!” teriak orang-orang. Kami melihat seorang perempuan cantik dengan pakaian seksi keluar dari dalam mobil. Ia pun ikut panik.
“Jangan! Jangan lapor polisi! Saya akan tanggung jawab!” Wanita itu memohon. Aku dan Ibu saling berpandangan. Ini yang dinamakan rezeki nomplok! Duit yang datang sendiri.
“Hendi, kamu apa yang sakit, Nak?” Ibu langsung tergopoh-gopoh mendekati Mas Hendi yang setengah terduduk dan menahan sakit. Lengannya tergores dan mengalirkan darah. Dikit! Kulihat Ibu bisik-bisik, lalu tiba-tiba saja Mas Hendi mengerang kesakitan lebih keras.
“Udah, bawa ke rumah sakit, cepat!” ujar orang-orang tak sabar.
“Oke, tolong bantu bawa ke dalam mobil saya! Saya akan urus Mas ini, saya janji saya akan tanggung jawab!” kata si wanita cantik itu. Mas Hendi pun dipapah masuk ke dalam mobil mewahnya. Ibu pun tak mau ketinggalan. Setelah mereka pergi, motor Mas Hendi dibantu diletakkan di halaman rumah kami yang sempit. Orang-orang pun membubarkan diri.
“Duuuh … untung aja gak sampe ada yang lapor polisi!” gumamku.
“Woy, ada paan tadi ribut-ribut?” Tiba-tiba saja Mbak Maria sudah berdiri di ambang pintu. Dasar Mbak Maria Mbak Kebo! Bisa-bisanya dia tidur gak tahu apa-apa lagi.
“Mbak, sih. Kemana aja? Merem doank kerjanya!”
“Ah, diem, lu! Terus kalau gak merem ngapain lagi?”
“Mas Hendi, noh, ditabrak orang!” Kutunjuk motor Mas Hendi yang ringsek di bagian depan.
“Hah? Terus? Mana dia? Idup apa mati?” Mbak Maria bisa panik juga ternyata.
“Dih, sembarangan amat kalo ngomong! Dibawa ke rumah sakit! Yang nabrak cewek cakep, dan kelihatannya orang kaya, Mbak.”
“Terus Ibu mana?”
“Ya ikut, lah! Biar Ibu yang urus.”
“Ya ampuun … motor sampe penyok begini. Sial banget si Hendi. Ini, kita harus minta uang ganti rugi juga untuk kerusakan motornya.”
“Owh, jelas, lah, Mbak.”
“Pokoknya kita harus minta duit biaya pengobatan sampai si Hendi bener-bener sembuh!”
“Halah! Gaya mendiang Om Tora juga deh yang dipakai! Hahahaha ….”
“Hush! Gak ada yang lapor polisi, kan?” bisik Mbak Maria.
“Kagak! Si perempuan itu sendiri yang bilang mau tanggung jawab. Pokoknya harus dimanfaatkan sebaik-baiknya,” balasku.
“Betul!”
“Asyik, aku bakalan bisa beli hape baru, deh!” Aku berjingkrak dan bertepuk jari saking girangnya. Namun Mbak Maria malah menoyor kepalaku.
“Kalo duit aja, mata lu ijo!”
“Adduuuh … sakit, Mbak!” Kami berdua pun masuk ke dalam rumah.
***
Esoknya, kami menyambut Ibu dan Mas Hendi yang pulang dari rumah sakit. Mereka berdua diantarkan oleh si perempuan cantik itu. Kulihat tangan kanan Mas Hendi dipasangi alat penyangga.
‘Yaelah, emangnya sampe segitunya, ya?’ batinku. Ah, bodo amat. Pasti mereka bakalan dikasih duit banyak, nih, nanti.
Aku dan Mbak Maria mempersilakan perempuan itu untuk masuk. Tampaknya dia lumayan sopan, dia duduk lalu matanya berkeliling melihat isi rumah.
“Perkenalkan, nama saya Siska,” ujarnya.
“Mbak Siska, ya? Saya Yuri, adiknya Mas Hendi.”
“Gue Maria, Kakaknya. Gimana keadaan adik gue?” ujar Mbak Maria ketus.
“Iya, Mbak. Sebelumnya saya minta maaf pada kalian semua. Tadi malam itu saya benar-benar gak sengaja menabrak Mas Hendi.”
“Gak sengaja, tapi kan kudu tetap tanggung jawab!” ketus Mabk Maria lagi.
“Mbak! Tenang aja, Siska baik banget, kok, dia tanggung jawab!” bela Mas Hendi. Kulihat Mbak Siska jadi salah tingkah dan mengangguk-angguk. Hmm … lagu-lagunya ni cewek udah kesengsem sama Mas Hendi. Bagus!
“Motor di depan gimana ceritanya?” lanjut Mbak Maria lagi.
“Oh, iy, Mbak. Nanti saya juga akan perbaiki motornya. Nanti orang bengkelnya akan datang untuk menjemput.”
“Jamin aman, gak, tuh?” cecar Mbak Maria lagi.
“Aman, Mbak. Saya tanggung jawab.”
“Baguslah kalau gitu. Seterusnya si Hendi juga bakalan dirawat sampai sembuh, kan? Liat tu tangan adek gue jadi pengkor!”
“Iya, Mbak. Mbak tenang aja. Untuk biaya pengobatan dan juga uang jajannya sampai sembuh akan saya tanggung! Yang penting, jangan sampai saya dilaporkan ke polisi, ya, Mbak!” ujarnya memohon.
“Tergantung, kalau sesuai, kamu aman! Kalau gak sesuai, kamu bakalan tetap kami laporin!” ancam Mbak Maria pula. Aku menyikut Mbak Maria. Dia malah melotot.
“Baik, Mbak. Sebagai bukti keseriusan tanggung jawab saya, ini saya ada uang lima juta. Semoga bermanfaat, ya! Ini diluar biaya kerusakan motornya. Motor biar jadi tanggung jawab saya!” Mbak Siska meletakkan seikat uang berwarna biru di atas meja.
Mbak Maria dan ibu langsung berebut mengambil uang itu. Duuuh … bikin malu! Kan jadi kelihatan banget matrenya!
“Uangnya ibu terima, ye, Nak Siska,” ujar Ibu, ternyata Ibu yang menang. Mbak Maria sewot.
Setelah basa-basi, akhirnya Mbak Siska pamit. Dia janji akan datang lagi besok. Kami langsung berebut menghambur pada Ibu.
“Heh, heh, heh! Kalian ini kenapa, sih?”
“Bagi, dong, Bu!”
“Enak aja, kan ibu yang sibuk ngurusin si Hendi di rumah sakit. Pasang akting biar Siska kasihan dan kasih duit. Kalian emang ngapain? Hiiih ….”
“Itu duit aku! Kan aku yang ditabrak!” gerutu Mas Hendi pula. Disambarnya uang di tangan Ibu dengan tangan kirinya.
“Hendi!” Ibu melotot.
“Bagi dua, Bu!”
“Diiih … kamu untuk apa pegang duit?” sewot Ibu.
“Duit ini juga ada bagian aku, Bu! Liat, nih, tangan aku sakit!”
“Alah, sakit kegores dikit doank!” seru Ibu.
“Tetep aja, Bu. Kalau bukan gara-gara si Siska nabrak aku, kita gak bakalan dapet duit ini!”
“Diiih … dasar anak-anak pada matre!” dengus Ibu.
“Ah, kan Ibu yang ngajarin!” sahut Mas Hendi. Mas Hendi menarik separuh uang dari dalam ikatan. Aku dan Mbak Maria cuma bisa ngences melihatnya. Sudah lama gak lihat uang segitu banyaknya.
“Nih, untuk beli cilok!” Mas Hendi memberikan aku selembar, dan untuk Mbak Maria dua lembar.
“Kok aku cuma satu lembar?” protesku.
“Kamu emang mau beli apa? udahlah, segitu cukup!” sahut Mas Hendi.
“Aku mau beli hape baru, Mas!”
“Besok, kan dia bakalan sering-sering jengukin Mas. Kita bakalan dapet duit lagi.”
“Bener, ya? Awas kalo boong!”
“Iyaaa … kamu lekas ambilin Mas minum! Haus, tauk?”
“Itu di kantong plastik apaan?” tanya Mbak Maria.
“Buah sama roti!” sahut Ibu tanpa menoleh. Ibu asyik menghitung uang miliknya. Mbak Maria langsung menyambar kantong plastik dan dibawa berlari masuk ke dalam kamar.
“Woooy, Mbaaak … bagi, dooong!” Kukejar dia sampai ke dalam kamar.
***
Sudah satu minggu ini, Mbak Siska sering datang ke rumah melihat kondisi Mas Hendi. Ternyata Mas Hendi bener-bener jago merayu perempuan itu. Kelihatannya si Mbak Siska udah mulai suka sama Mas Hendi. Setiap kali datang, dia bawain makanan enak-enak, terus pulangnya ngasih duit. Walau gak sebanyak yang pertama, tapi lumayan banget.
Mas Hendi juga pinter beralasan. Dia selalu bilang abis dari rumah sakit untuk kontrol, dan melaporkan biayanya pada Mbak Siska. Padahal dia cuma di rumah nonton tv doank. Mbak Siska tanpa curiga langsung aja mengganti uang yang disebutkan Mas Hendi. Enak banget jadi Mas Hendi. Segampang itu menggaet tuh cewek. Sampai-sampai dompetnya jadi tebel.
“Mas, bagi, dong! Mas kan janji sama aku!” rengekku pada Mas Hendi setelah Mbak Siska pergi.
“Cerewet amat! Beli hape yang murah aja, deh!”
“Diih … duit Mas Hendi kan banyak, dapet malak Mbak Siska!”
“Ini duit Mas juga perlu, Yuri!”
“Aku aduin Mbak Siska, nih, aku bilang aja kalau Mas boong, gak pernah kontrol ke rumah sakit!”
“E-eeh … jangan berani kamu, ya!”
“Makanya, bagi duit, dong!”
“Ya udah, nih! Satu juta!” Mas Hendi mengeluarkan uang dari dompetnya.
“Mana cukup! Tambahin!”
“Dua juta! Udah, ah! Jangan ganggu! Mas mau tidur!”
“Oke, deeh … gitu kek dari tadi! Cihuy, aku mau pergi beli hape baru!”
“Jatah gue mana?” Mbak Maria nongol, pasti dia dengar kalau soal duit.
“Ya elah. Mbak juga gak mau kalah. Buat apaan duit?”
“Buat shopping! Ada toko baju baru launching, banyak diskonan.”
“Huuh … nih!” Mas Hendi terpaksa memberikan beberapa lembar uang lagi untuk Mbak Maria.
“Kamu kan besok bisa minta lagi sama si Siska!”
“Iya, udah, ah. Ngantuk, nih!” gerutu Mas Hendi. Aku terkikik.
“Di mana toko bajunya, Mbak? Ikut, dong!” ujarku bersemangat.
“Bayar masing-masing!”
“Ashiap, boss!”
“Ibu ikut!” ujar Ibu tak mau kalah.
“Diih … kalau diskonan aja Ibu langsung nyamber!”
“Iya, dong. Ibu kan punya duit. Lagian udah lama gak shopping semanjak si Tyas gak kasih uang lagi.”
“Ya udah, kalian pergi aja sana! Aku mau tidur!” Mas Hendi bergelung di sofa dan menutupi wajahnya dengan bantal.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (119)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
ooooo
17/07
0bagus
03/07
0nice
21/12
0Lihat Semua