Part 25

Part 25
Harus Cerai
PoV Tyas
Pagi-pagi, udah kedengeran berisik banget di depan rumah. Ganggu banget, deh! Aku cuma ingin tidur sampe agak siang aja gak bisa. Untung Om Heru kasih aku libur hari ini. Aku izin ke Om Heru karena memang sengaja hari ini aku akan pergi ke pengadilan agama untuk memasukkan berkas gugatan cerai.
“Tyas … sayang … bukain pintunya, dong! Mas bawain sarapan untuk kamu, nih!”
Suara dia lagi! Gak kapo-kapok emang, ya, tuh laki-laki? Oh, aku ingat. Tadi malam aku sudah mengemasi semua pakaiannya ke dalam koper. Mumpung dia datang, langsung aja aku balikin tuh semua baju-bajunya dia. Aku pun keluar kamar dengan menyeret koper berisi baju-baju Mas Hendi.
Pintu terbuka, kulihat Mas Hendi tertawa senang melihatku bersedia menemuinya lagi.
“Sayang … kamu akhirnya mau bukain pintu. Ini Mas belikan sarapan, loh. Yuk kita makan bareng!” Kulihat isi kantong plastik hanya ada sebungkus makanan dengan wadah styrofaom putih.
“Makan bareng? Gak salah?” ujarku sambil melipat kedua tanganku ke dada. Aku menyandar di ambang pintu.
“Iya, ini bubur ayam kesukaan kamu.”
“Makan sebungkus berdua?”
“Iya, dong, biar romantis! Hehehe ….”
“Hh! Dasar suami gak jelas kamu, Mas! bilang aja kamu pelit! Nih, ambil baju-baju kamu!” Aku mendorong koper itu ke depan Mas Hendi.
“Ini apa, sayang?”
“Itu baju-baju kamu! Silahkan bawa pergi dari rumah aku!”
“Kamu gak bisa gitu, dong! Aku masih sah suami kamu!”
“Benar, tapi aku pemilik sah rumah ini.”
“Sayang … ayo, lah! Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan. Tolong kasih Mas kesempatan kedua!”
“Kedua kamu bilang? Hampir dua tahun aku bertahan dengan kamu, Mas! berkali-kali aku kasih kamu kesempatan. Apa selama ini kamu udah bener jadi suami?”
“Aku kurang apa, sih, sayang?”
“Berhenti panggil aku sayang! Kamu sadar, gak, sih? Selama kita menikah, apa pernah kamu kasih aku nafkah sekali aja?”
“Loh, kamu mau beli apa kan selalu aku kasih!”
“Iya, tapi kamu belinya pakai kartu kredit, dan itu aku yang bayar! Jadi jangan seenaknya bicara!”
“Ya ampun, sayang. Iya aku janji aku bakalan kasih kamu uang mulai sekarang. Asalkan kita jangan cerai, ya!”
“Gak! Keputusanku sudah bulat! Aku udah gak mau lagi hidup dengan benalu!”
“Terus nanti ibu aku gimana, sayang? Mas pasti bakalan dimarahin.”
“Bukan urusanku. Aku sudah capek jadi ladang uang keluarga kamu, Mas!”
“Kan emang kamu penghasilannya lebih besar. Terus apa salah kalau kamu bantu keluarga suami? Itu namanya berbakti, sayang!”
“Berbakti? Enak aja kamu, Mas! kalian emang sengaja, kan? Aku cuma dijadiin sapi perah?”
“Ya gak begitu, lah, sayang! Ibuku bangga banget, loh, kamu jadi menantunya!”
“Aku gak bangga punya mertua cerewet dan suka morotin!”
“Kamu jangan gitu, dong! Kamu kok malah bilang kalau ibu aku morotin, sih?”
“Emang kenyataannya begitu, kan? Sebulan sepuluh juta gak cukup. Gaya hidup kalian itu gak sesuai sama keadaan.”
“Kan ibu aku cuma mau menyesuaikan sama keluarga kamu, sayang. Emang kamu mau kalau ibu aku kelihatan seperti orang susah? Ntar kamu juga yang malu!”
“Banyak banget alasan kamu, Mas! aku gak kuat lagi, pokoknya kita pisah aja! Kamu sadar diri aja, deh! Kamu buat beli baju dan segala kebutuhan kamu itu pakai uang siapa?”
“Yah, jangan, dong, sayang! Aku masih cinta sama kamu!”
“Cinta kamu bilang?”
“Iya, aku masih cinta sama kamu!”
“Kamu cuma cinta sama uangku. Maaf, aku udah gak mau lagi berurusan dengan kalian. Aku sudah dipecat dari kantor, dan aku gak bakalan tinggal di rumah ini lagi. Mama papa aku suruh aku balik ke Kalimantan.”
“Kamu dipecat? Sialan banget bos di kantor kamu!”
“Kamu sebabnya, seenaknya pakai mobil bos untuk pacaran. Akibatnya aku yang kena getahnya, tau?” Aku sengaja berbohong supaya Mas Hendi dan keluarganya berhenti meminta uang padaku.
“Loh, kok malah nyalahin aku, sih? Jadi kamu udah gak punya kerjaan, dong?”
“Iya! Puas kamu, Mas?”
“Ya ampun … kenapa gak bilang dari tadi, sih? Capek-capek aja aku datang nganterin sarapan. Ternyata kamu udah pengangguran!”
“Bener, kan? Kamu cuma cinta sama uangku aja!”
“Ya udah, kalau gitu cepat aja kamu urus surat cerainya. Biar aku bisa segera cari istri pengganti!”
“Baguslah, kamu manfaatkan aja tampang kamu itu!” geramku. Benar, ternyata aslinya Mas Hendi ini cuma laki-laki matrealistis!
“Sepatu-sepatu aku, jam tangan mahal aku, semua game dan konsole punya aku mana? Kenapa cuma ini barang aku?” tanyanya tanpa rasa malu.
“Hh!barang kamu emang cuma itu, baju-baju butut! Semua barang mahal dan baju branded semuanya milik aku, karena dibeli dengan uang aku!”
“Gak bisa gitu, dong! Kamu bisa aku tuntut gono-gini!”
“Tuntut aja sana! Aku bisa buktikan ke pengadilan kalau itu semua dibeli pakai uang aku.”
“Bener-bener, ya, kamu! Istri gak tau diri! Kamu gak bakalan bisa dapetin pengganti laki-laki setampan aku, Tyas! Janda pengangguran kayak kamu itu nantinya siapa yang bakalan mau? Ngandelin harta orang tua!”
“Masih mending aku, Mas. Daripada kamu, sudah numpang hidup, gak tahu diri pula!”
“Aku bakalan dapetin istri yang lebih segalanya dari kamu, Tyas!”
“Silahkan, cari saja kalau emang bisa! Mulai sekarang silahkan kamu angkat kaki dari rumah ini!”
“Oke! Sekarang juga, aku talak kamu! Bye!”
Mas Hendi pergi dengan membawa serta koper miliknya. Sungguh sakit hatiku, aku sudah terlalu bod*h karena menjadikannya suami, menyanjungnya setinggi langit hanya karena wajahnya. Biarlah, sampai di sini saja rumah tanggaku dengannya. Aku sudah melihat aslinya dia. Lagi-lagi aku teringat Rania, dia pintar karena sudah membuang Mas Hendi sejak dulu. Mas Hendi tak ubahnya kerikil tajam yang tak berharga, yang hanya bisa menorehkan luka. Tuhan … berikan aku kekuatan!

Komentar Buku (119)

  • avatar
    GoodAdi

    ooooo

    17/07

      0
  • avatar
    SamsunAndi

    bagus

    03/07

      0
  • avatar
    mufaddholalfath

    nice

    21/12

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru