Beranda/Keluarga Mantan Pacar/
Part 18
Part 18
Kabar Gembira
Kabar bahagia itu tentu saja langsung kami beritahu pada semua keluarga. Mama, Mami, dan Papa, mereka semua sangat senang mengetahui akhirnya aku hamil setelah satu tahun menjadi bagian dari keluarga mereka. Anggota keluarga Mas Zaki yang lain juga langsung mengucapkan selamat saat diberitahu kabar bahagia itu.
Esoknya, Mas Zaki bela-belain gak ngantor demi mengantar aku ke dokter untuk memeriksakan kandungan. Kami bersyukur tiada henti-hentinya karena benar ada zuriat yang dititipka Allah di dalam rahimku. Kondisinya baik dan semuanya normal.
Kami langsung ke rumah Mami setelah pulang dari dokter. Mami memelukku seperti biasanya. Begitu banyak wejangan yang diberikan supaya aku menjaga kandunganku sebaik-baiknya. Gak boleh begini gak boleh begitu. Aku manut saja, selagi itu wajar dan baik.
Mama juga tak kalah bahagia. Mama langsung berniat membeli banyak benang untuk dirajut. Mama mau cucunya nanti memakai kaus kaki dan topi hasil rajutannya. Aku pun tersenyum senang, Mama begitu antusias menantikan cucu pertamanya.
Sejak hari itu, rasanya dunia berubah. Morning sickness parah membuatku terpaksa harus lebih banyak diam di dalam kamar. Ternyata begini rasanya menjadi wanita hamil. Nikmat,meski penuh derita. Mau makan apa tinggal bilang. Enak, banyak yang manjain. Hahahaha ….
Namun hari itu, Mas Zaki pulang dari kantornya dengan wajah agak masam.
“Kenapa, Mas? tumben balik siangan? Mukanya asem banget, ada masalah apa di kantor?” tanyaku. Ia menghembuskan napas panjang.
“Bukan masalah, sih, sayang. Papa menyetujui kepindahan Tyas kembali ke Jakarta. Alasannya, supaya aku bisa lebih banyak waktu sama kamu, dan urusan di kantor biar Tyas yang urus. Tyas juga beralasan kalau ibu mertuanya sering sakit, katanya ibu mertuanya itu susah kalau berjauhan dengan anak lelakinya. Makanya Papa setuju.”
“Jadi mereka udah balik tugas di Jakarta?”
“Iya.”
“Gak apa-apa, lah, Mas. Malahan bagus, kan? Mas jadi lebih sering di rumah.”
“Iya, sih. Tapi tetep aja males kalau di kantor ada dia. Mas juga gak mungkin melepaskan semua urusan begitu saja.”
“Hahaha … bawa santai aja, batasi antara urusan pekerjaan dengan urusan pribadi.”
“Kamu udah makan?”
“Cuma ngemil buah aja tadi.”
“Masih mual parah?”
“Kalau siang begini lumayan bisa ditahan, tapi kalau malam, ampun, deh.”
“Vitamin jangan telat minum. Kamu mau makan apa sekarang?”
“Durian.”
“Eh, jangan!”
“Kenapa?”
“Gak boleh pokoknya.”
“Lah kenapa, Mas?”
“Mas gak suka baunya itu, sayaaang!”
“Tapi anak kamu suka, kok.”
“Pliis … minta yang lain aja, ya!”
“Gak mau, maunya durian.”
“Tar kalau kamu makan durian, Mas tidur di kamar lain aja, deh!”
“Nak, papamu tega bener sama kita,” rajukku sambil mengusap perut.
“Duuuh … iya, deh, iya! Tapi jangan banyak-banyak, ya.”
“Iya, janji!”
Mas Zaki langsung mandi dan berganti pakaian. Setelah itu, dia langsung pergi membelikan durian. Sejam dua jam aku menunggu, tapi dia tak kunjung pulang. Sampai aku ketiduran.
“Sayang! Bangun, ini duriannya. Dapetnya jauh, tauk?” ujarnya sambil menyentuh bahuku.
Aku mengerjapkan mata, kulihat ada durian kupas di dalam kantong plastik yang dia bawa. Tapi lucunya, dia pakai masker supaya gak mencium aromanya. Baunya enak begini, masa gak suka, sih?
“Alhamdulillah … akhirnya dapat makan duren kita, Nak.”
“Eits, makan nasi dulu, baru makan itu!”
“Ya udah, iyaa ….” Kami berdua turun ke lantai satu untuk makan. Terlihat suasana di luar mulai temaram.
“Makan yang banyak, ntar malem kamu gak bisa makan apa-apa lagi soalnya. Sukur-sukur gak keluar lagi tuh makanan.”
“Aku juga gak mau begini, Mas. Maaf, ya, jadi nyusahin kamu,” ujarku. Tiba-tiba perasaan jadi sensitif dan pengen nangis.
“Du du duuh … salah ngomong, deh.”
***
Malam itu, entah mengapa tidurku sama sekali tak bisa nyenyak, aku gelisah. Mata terpejam, tapi pikiran masih melanglang buana sampai terbayang ke masa lalu. Masa dimana Papa masih ada. Di saat malam itu, malam durjana, saat tiga orang lelaki bertopeng merenggut kebahagiaan keluarga kecil kami. Sekilas aku mengingat tato bergambar ular di pergelangan lelaki yang memegang pistol. Desing peluru lagi-lagi seolah nyata terdengar di telinga.
“Aaaaargghh ….” Tanpa sadar aku terduduk dan menjerit. Mengagetkan Mas Zaki yang sudah terlelap. Keringat membanjir di wajahku.
“Sayang! Kamu kenapa?” ujarnya, dengan sigap dia memberikanku segelas air putih yang sudah tersedia di atas nakas.
Aku tak bisa menjawab, kuteguk air minum beberapa kali. Lalu berusaha mengatur napas sebaik-baiknya.
“Kamu mimpi, ya?” Dia memelukku yang masih seperti orang linglung.
“Mimpi itu datang lagi, setelah sekian tahun lamanya.”
“Kamu mimpi apa?”
“Papa.”
“Sayang, mungkin kamu lupa kirim do’a untuk beliau. Ya udah, besok kita ziarah, ya. Mungkin kamu juga rindu sama Papa kamu.”
“Maaf, Mas. Jadi bikin kamu kebangun.”
“Ya udah, kamu juga tidur lagi, ya!”
Aku menurut, merebahkan kepala di atas lengan suamiku. Barulah aku merasa lebih tenang. Tuhan, kenapa kenangan itu kembali merasuk? Siapa lelaki bertato ular itu? Sampai saat ini kejelasan kasus kematian Papa masih belum terungkap. Kulantunkan sederet do’a sebelum akhirnya aku kembali terlelap.
***
Kini usia kandunganku sudah masuk bulan ketiga. Samar-samar aku sudah merasakan gerakan halus di dalam perutku. Rasanya lucu, sesekali membuat jantungku berdesir karena bahagia. Rasa mual juga sudah jauh berkurang, sekarang aku jauh lebih leluasa melakukan aktivitas. Kami juga sudah menempati rumah sendiri. Mami yang mengurus semua acara selamatan dengan mengundang anak-anak panti asuhan. Rasanya bahagia bisa berbagi dengan mereka.
Hari-hariku di rumah baru jadi lebih nyaman. Entah kenapa, hari itu aku begitu kangen ingin mengantar makan siang untuk Mas Zaki. Aku pun memberitahunya kalau aku akan menyusul ke kantor, dan ia pun setuju. Aku menyetir sendiri, biarpun lambat, namun akhirnya sampai juga di kantor.
Di area parkir depan gedung perkantoran itu, kulihat ada Mas Hendi yang sedang santai dengan rokoknya. Aku mengabaikannya, lalu langsung berjalan menuju ruangan suamiku. Ternyata di dalam ada Mbak Tyas. Begitu melihatku, roman wajahnya langsung berubah jadi kecut.
“Tyas, selesikan laporan ini secepatnya. Aku gak mau salah-salah lagi seperti ini. Kupikir kamu udah biasa ngurus beginian, tapi nyatanya ini sama sekali gak beres. Kayaknya sesekali kantor cabang Kalimantan harus di audit.”
“Mas, kamu berpikiran kalau aku korup? Hah?”
“Sudahlah, istriku sudah datang! Kamu lekas balik ke ruangan kamu. Betulkan semua yang sudah aku tandain ini. Lain kali kerja yang teliti!”
“Huh! Santai aja napa, sih! Mentang-mentang di depan bini!” gumam Mbak Tyas. Ia pergi melewatiku lalu keluar.
“Mas, kenapa dia?”
“Tau, tuh. Laporan aja bisa salah-salah. Gak profesional!”
“Jangan sampe tengkar, Mas! Gak enak sama Papa.”
“Ya abis mau gimana? Kan selama ini dia orang kepercayaan Papa juga. Kalau bikin laporan aja gak becus, kan jadi curiga.”
“Hmm … ya udah, lah. Udah jam istirahat juga ini, kasihan Mbak Tyas.”
“Kamu bawain apa, sayang?”
“Ini, nasi bakar, sama sambel kesukaan kamu, Mas. Kita makan, ya!”
“Waah … enak, nih.”
“Aku ambil piring dulu ke pantry, ya! Sekalian ambil air minum. Mas mau kopi sekalian?”
“Suruh OB aja, deh!”
“Tar gak sesuai selera, lagi?”
“Ya udah, deh, boleh. Kamu hati-hati!”
“Iya ….”
Aku berjalan keluar ruangan menuju pantry. Mengambil piring dan membuatkan secangkir kopi. Saat keluar, ternyata ada Mbak Tyas, dia berdiri di dekat tangga menurun, akses khusus untuk para OB.
“Kamu ngapain, sih? Ganggu urusan kantor aja!”
“Oh, maaf, Mbak. Gak ada maksud ganggu. Aku selalu datang waktu jam istirahat. Jadi gak ada yang aku ganggu. Meskipun ini kantor suami aku, tapi aku tahu aturan, kok.”
“Kamu ini dibilangin masih aja ngeyel! Betewe, kamu hamil, ya? Selamat, ya!” ujarnya, tapi tatapannya tetap saja tak suka padaku.
“Makasih, Mbak. Semoga segera menyusul dapat momongan. Permisi,” ujarku hendak berlalu. Tapi tiba-tiba saja kaki Mbak Tyas terangkat, ia berusaha menjegal langkahku. Untung aku sudah siaga, meskipun aku tidah jatuh, namun kopi panas yang aku pegang sempat bergoncang karena aku ngerem mendadak, dan kopi panas itu menyiram kaki Mbak Tyas.
“Aaaaawww … panaaasss ….” Mbak Tyas mengaduh kesakitan.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (119)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
ooooo
17/07
0bagus
03/07
0nice
21/12
0Lihat Semua