Beranda/Keluarga Mantan Pacar/
Part 16
Part 16
Apa hebatnya Rania?
PoV Tyas
Ngeselin banget, deh, si Tante Rosa. Bisa-bisanya bangga-banggain cewek kampungan itu di depan aku dan Mama. Meskipun dia udah jadi menantu konglomerat, tetap aja dia gak bisa disejajarkan dengan aku. Aku cantik, modis, dan berkelas. Beda jauh sama Rania.
Lagian, Mas Zaki juga bisa-bisanya jatuh cinta sama cewek model begitu. Apa, sih, istimewanya dia? Tampangnya biasa aja. Anak janda miskin pula. Harusnya tuh, ya, minimal dapat istri dari keluarga yang selevel, dong!
Mas Zaki, padahal dulu itu kamu selalu nurut apa kata aku. Kita tuh dikenalin sama Papa aku, emang niatnya Papa sengaja biar kita bisa pacaran terus nikah. Kan lumayan, kalau besanan sama papa kamu, kami bisa dapat sekian persen dari aset dan saham perusahaan. Lagian Papa aku juga berjasa cukup besar dalam perkembangan bisnis HS Group.
Dulu, kamu cuma laki-laki culun yang cuek banget sama penampilan. Kemana-mana harus dipaksa. Aku tuh, ya, kalau bukan mikir kamu anak orang kaya juga ogah dijodohin. Bicara aja irit banget, gak ada romantis-romantisnya jadi cowok. Belum lagi ponakan kamu yang nyebelin itu selalu aja ganggu kalau kita lagi ketemu di kantor. Lagian si Tante Rosa juga aneh, tu bocah punya Sus sendiri, tapi masih aja sering dibawa-bawa ke kantor. Ganggu banget! Aku, tuh, gak suka sama anak kecil. Ribet, manja, sukanya nangis. Pokoknya aku gak suka sama ponakan kamu itu!
Terakhir saat masih sama kamu, aku minta belikan mobil tapi kamu gak mau. Alasannya kamu belum resmi jadi suami aku dan juga belum resmi menjadi pewaris tunggal untuk seluruh kekayaan HS Group. Apa susahnya, sih? Tinggal minta duit aja sama papa mama kamu? Dasar anak Mami, gak punya pendirian! Nyebelin. Waktu aku ancam ngajak putus, kamunya juga malah cuma diem. Aku pikir kamu bakalan nyesel karena membiarkan aku mutusin kamu, Mas.
Aku ketemu sama Mas Hendi di sebual Mall. Dia emang ganteng banget waktu itu, jelas aja aku langsung kesemsem. Waktu aku ajak kenalan, eh, ternyata gayung pun bersambut. Lumayan, lah, bisa aku manfaatkan buat manas-manasin Mas Zaki. Biar dia tau rasa, kalau seorang Tyas ini bisa dengan mudah dapatkan laki-laki ganteng selain dia. Emang dia pikr dia bisa semudah itu melupakan aku? Lihat saja nanti!
Akhirnya aku dan Mas Hendi berpacaran selama beberapa bulan, lalu memutuskan untuk menikah. Papa awalnya menolak, sebab Mas Hendi gak punya gelar apa-apa. kuliahnya mantak di tengah jalan. Waktu itu aku gak mikir apa-apa, bagiku yang terpenting adalah punya suami ganteng mirip artis dan juga membuat Mas Zaki menyesal seumur hidup karena sudah melepaskan aku si cantik Tyas.
Saat aku ke kantor untuk membagikan undangan, ternyata aku melihat si Rania buluk itu lagi jagain ponakan kamu yang nakalnya minta ampun. Aku tahu dia mantannya Mas Hendi. Huh, cewek kayak dia emang lebih cocok jadi pembantu. Kebetulan banget aku sama Mas Hendi ketemu sama dia. Jadi sekalian aja kami kasih undangan, walaupun gak ngarep juga dia bakalan datang. Dia gak cocok berada di pesta mewah.
Di hari pernikahan itu, aku sama sekali tak melihat kedatangan Mas Zaki. Kemana dia? Hahaha … pasti dia lagi nangis darah di pojokan, sebab aku lebih memilih orang lain daripada dia. Salah sendiri, jadi cowok gak punya pendirian. Pelit, padahal duit keluarganya gak bakalan habis buat tujuh turunan.
Setelah menikah, ternyata kantor pusat memberikan keputusan mutasi agar aku pidah ke Kalimantan. Hahaha … jelas, Mas Zaki sakit hati padaku. Apalagi aku tahu, kalau Rania si gadis miskin itu mulai nempel-nempel sama dia. Kita lihat saja, apakah kamu bisa melupakan aku, Mas? Kamu cuma manfaatin Rania buat manas-manasin aku, kan?
Saat usia pernikahan baru beberapa minggu, Mas Hendi meminta jabatan pada Papa. Namun dengan tegas Papa menolak, mau dipekerjakan sebagai apa dia? Ijazah saja gak punya. Mau tak mau akhirnya Mas Hendi setuju saat Papa menyuruhnya bekerja sebagai supir khusus antar jemput petinggi perusahaan.
“Papa, emang gak malu menantunya dijadiin supir?” tanyaku waktu itu.
“Ngapain malu? Malu itu kalau kita gak mau kerja keras dan hanya mengharap belas kasihan orang lain! Biarkan saja dulu Hendi jadi supir, Papa ingin lihat kegigihannya. Kamu juga, sih, pilih suami asal aja. Modal tampang!”
“Papa … yang penting kan aku bahagia, Pa!” protesku.
“Terserah kamu saja!” Papa juga tampaknya malas berdebat.
Sebulan dua bulan pertama aku memang sangat bahagia. Namun setelahnya keadaan mulai berubah menyebalkan. Mas Hendi lebih sering mangkir dari pekerjaannya. Kerjanya hanya makan tidur dan main game saja. Padahal kami masih tinggal dengan orang tuaku, tapi Mas Hendi sama sekali tak peduli.
“Mas, kamu bisa dipecat kalau kayak gini terus!” tegurku waktu itu.
“Sayang, gaji kamu kan udah lebih dari cukup. Aku gak mau lagi jadi supir, capek!”
“Terus kamu mau kerja apa?”
“Bilang sama Papa kamu, dong. Aku minta kerja di kantor.”
“Mana bisa, Mas. Kamu aja kuliah gak selesai alias DO! Perusahaan cuma terima lulusan S1.”
“Ya, tinggal atur aja apa susahnya, sih? Papa kamu kan punya jabatan tinggi.”
“Gak bisa, Mas!”
“Ya udah. Kalau gitu aku cuma mau jadi supir antar jemput Papa kamu saja.”
“Jangan seenaknya gitu, dong, Mas! kamu mau kasih makan aku pakai apa kalau kamu gak kerja?”
“Hahaha … kamu gak mungkin kekurangan uang, sayang. Gaji kamu kan banyak.”
“Kamu, tuh, ya! Kamu sadar, gak , sih? Kamu itu gak bertanggung jawab namanya. Mana ibu, adik, sama kakak kamu juga kerjanya minta duit mulu!”
“Ya elah, kasih aja mereka masing-masing lima juta sebulan. Pasti cukup, lah.”
“Enak aja kamu kalau ngomong!”
“Sayang, kamu jangan perhitungan begitu, lah. Tar kalau aku ninggalin kamu, emang kamu mau?”
“Huh! Bisanya cuma ngancem!”
Aku memang tak rela Mas Hendi ninggalin aku. Dia itu gantengnya minta ampun, kalau pisah, belum tentu aku bisa dapat ganti yang lebih tampan. Aku jadi dilema. Tapi lama-lama keluarganya semakin menjengkelkan. Dikit-dikit telepon minta uang. Mereka pikir aku di sini pabrik uang? Sejak saat itu, perasaanku pada Mas Hendi mulai berubah. Lama-lama aku sadar, ganteng doang gak bikin aku bahagia.
Setelah hampir dua tahun di Kalimantan, akhirnya kantor kami akan buka cabang di Sumatera. Kesempatan itu aku manfaatkan untuk bisa bertemun kembali dengan Mas Zaki, sebab pastinya dia juga akan datang di acara penting perusahaan kami. Aku akan berusaha kembali menarik perhatiannya. Jika berhasil, sudah barang tentu Mas Hendi akan segera aku campakkan.
Niat hati pergi hanya dengan Mama Papa, tapi tiba-tiba Mas Hendi juga ikut. Mau bilang jangan, tapi aku takut dimarahi Papa gara-gara berantem dengan Mas Hendi. Mana dia maksa pula untuk bayarin tiket untuk Ibunya dari Jakarta ke Riau. Sialan banget, terpaksa aku belikan juga.
Saat acara pembukaan kantor cabang itu, semua pimpinan direksi berkumpul di sana. Aku bertemu kembali dengan Mas Zaki. Aku sangat takjub melihat perubahan penampilannya saat ini. Dia jauh lebih ganteng dan berwibawa sekarang. Aku senang bukan kepalang, tampaknya kesempatanku untuk bisa balikan sama dia terbuka lebar.
Namun semuanya hancur seketika setelah aku tahu kalau ternyata Rania, mantan kekasih Mas Hendi yang dulu cuma anak magang dan tampangnya kampungan, kini resmi jadi istrinya Mas Zaki. Mereka menikah setahun yang lalu tanpa aku ketahui. Sial, sial, sial!!
Mana ibu mertuaku juga selalu aja ngekorin aku di acara itu, dandanannya menor sok sosialita, bikin aku muak melihatnya. Aku pun sempat bersitegang dengannya. Aku gak mau dia nempelin aku kemana-mana, bikin risih aja.
Malam yang aku bayangkan akan menyenangkan karena ada Mas Zaki, justru berubah jadi panas. Apalagi tanpa diminta, Mas Hendi menyusul masuk ke dalam. Padahal aku sudah menyuruhnya untuk tetap menunggu di luar sampai acara selesai. Bener-bener, deh. Gak Mas Hendi, gak ibunya, sama aja nyebelinnya.
Esoknya di kantor, aku sudah berusaha mengintimidasi Rania saat kami hanya berdua di pantry. Aku pikir dia cuma perempuan gila harta yang melakukan segala cara untuk mendapatkan Mas Zaki. Pasti dia pakai guna-guna atau pelet makanya Mas Zaki mau sama dia. Tapi dia sangat sulit ditebak, setiap perkataanku selalu bisa dikembalikan olehnya, tanpa rasa takut sedikitpun. Bahkan aku yang sudah dibuat kesal sampai menyiramnya dengan segelas air biar dia tau rasa. Tapi tiba-tiba Mas Zaki sudah melihat perbuatanku itu, dan dia langsung marah-marah. Dia masih aja belain istrinya yang kampungan itu. Kesel, kesel, keseeelll!
Sekarang, Mas Zaki dan Rania malah asyik bernyanyi untuk mamanya yang sedang berulang tahun. Semua orang bertepuk tangan melihat keromantisan mereka, tanpa ada yang tahu, ada sebuah hati yang tersakiti di dalam sini, di dalam dadaku. Harusnya aku yang bersamamu, Mas, bukan Rania!
Apa sebaiknya aku gaet saja iparnya Mas Zaki, ya? Dia kan duda, walau tampangnya biasa aja, tapi paling tidak aku bisa masuk jadi anggota keluarga mereka. Ide bagus, Tyas! Tapi, gimana dengan anaknya yang nyebelin itu? Aduuuh ... Aku gak mau jadi ibu sambung anak nakal itu. Gimana, dong?Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (119)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
ooooo
17/07
0bagus
03/07
0nice
21/12
0Lihat Semua