Part 10

Part 10
Surpise
Malam itu, setelah acara selesai, kami kembali menuju hotel untuk istirahat karena besok kami sudah harus kembali ke ibu kota. Malam yang menyenangkan, karena akhirnya aku sudah tahu bagaimana aslinya mereka, keluarga mantan pacar. Orang yang selalu menganggap diriku ini rendah, dari kalangan kelas bawah. Mereka terkejut karena kenyataannya sudah berbeda.
Aku duduk di depan cermin, membersihkan sisa make up. Kulihat Mas Zaki baru saja keluar dari kamar mandi.
“Mas, sini, deh!”
“Ada apa, sayang?” Mas Zaki mendekat, mengusap lembut rambutku dan ikut menatap cermin.
“Apa aku ini segitu jeleknya, ya? Sampai-sampai mereka selalu saja menganggap kalau aku ini tak pantas bersanding denganmu? Apa tampangku begitu kampungan?”
“Hei, kenapa bilang begitu, sayang? Mereka yang kampungan! Seenaknya menghina istriku yang cantik ini. Cuma orang kampungan yang menganggap orang lain juga kampungan.”
“Tapi lebih cantik Mbak Tyas, lah! Penampilannya glamour, gaya pakaiannya modis. Gak kayak aku.”
“Huh, cantik tapi tak punya adab. Buktinya, di depan orang banyak dia masih berani merendahkan kamu. Dia pikir dia siapa?”
“Baiklah, mulai besok aku mau berubah.”
“Mau berubah jadi apa, sayang? Aku suka kamu apa adanya. Yang terpenting itu kamu selalu bisa menyenangkan hati aku, dan juga keluargaku.”
“Hmm … aku besok mau ke salon, mau perawatan kulit, terus mau shopping baju-baju mahal, perhiasan dan segala aksesoris yang bagus. Lama-lama capek juga selalu dianggap remeh.”
“Hahahaha … oke, besok kita shopping! Kamu mau beli apa, Mas anterin. Gitu, dong! Dari dulu juga udah dibilangin, masih aja ngeyel!” Mas Zaki mencubit pipiku dengan gemas.
“Betewe, selamat ulang tahun pernikahan kita yang pertama, ya, Mas.”
“Semoga kamu selalu sehat, sayang, keluarga kita bahagia terus selamanya,” sambung Mas Zaki.
“Aamiinn ….”
“Ada surprise kecil buat kamu,” ucap Mas Zaki.
“Apa?”
“Hmm … tutup mata dulu!”
“Hiih … pake tutup mata segala, sih?” Aku pun terpaksa ikut apa maunya. Kudengar detik-detik jam dinding terus berlalu.
“Lama amat, Mas? kamu ngapain, sih?”
“Bentar-bentar. Masih pake baju.”
“Hihihi … bukannya nanti mau dilepas jugak?” godaku.
“Hush! Belum saatnya. Bentar, yaaa ….”
Cklek! Terdengar suara pintu kamar dibuka.
“Mas, udah belooom?” tanyaku tak sabar.
“Udah! Buka mata!” perintah Mas Zaki. Terasa tangannya menyentuh bahuku, lalu memutar tubuhku agar berbalik.
“Tadaaaa … happy aniversary, sayaaang ….” Mami berseru. Ternyata Mami, Papa, dan beberapa sepupu Mas Zaki sudah ada di dalam kamar membuat keriuhan. Kalina, adik sepupu Mas Zaki memegang kue di tangannya. Mami memberikan buket bunga untukku. Eits, ini bukan bunga beneran, tapi duit yang dijadikan buket. Ya elah, Mami. Niat banget, yak? Hahahaha ….
“Papa, mana hadiah spesialnya?” tanya Mas Zaki.
“Oh, iya, nih!” Papa mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Kotak kecil berwarna merah hati. Mas Zaki pun menerimanya, lalu membukanya di depan kami semua.
“Untuk istriku tercinta, semoga hadiah ini membuatmu bahagia, dan akan selalu dikenang sepanjang masa. Ciee ileee ….” Mas Zaki malah terkekeh sendiri.
Dia menyematkan sebuah cincin yang sangat indah di jari manis tangan kananku. Karena jari manis tangan kiri sudah ada cincin kawin.
“Yeeeaaaayyy … selamat, ya, Rania.” Satu persatu sepupu perempuan Mas Zaki menyalami dan mencium pipiku.
“Terima kasih banyak untuk semua suprisenya Mami, Papa, sepupu-sepupu kece, dan yang paling tak terlupakan, suamiku.” Aku langsung dipeluk oleh Mas Zaki. Tepuk tangan dan sorak sorai pun terdengar lagi.
Ya ampun, andai saja Mama ada di sini. Pasti rasanya bahagiaku lebih lengkap. Ah, sudahlah, Mama memang tak pernah mau kalau dibawa bergabung dengan keluarga mertuaku. Mama takut, sebab Mama bukan sosialita seperti Mami.
“Eits, masih ada satu surprise lagi,” ujar Mami.
“Apa, Mi?” tanyaku penasaran.
“Tunggu, Zaki, tutup lagi mata Rania!”
“Oke, Mi!” Mas Zaki langsung meletakkan kedua telapak tangannya di mataku.
“Deeuuh … Mami ada-ada aja, deh,” ujarku. Tapi sebenarnya emang penasaran, surprise apa lagi, sih?
“Rania, ini surprisenyaaa ….” Mami berkata dengan nada bahagia, lalu disusul dengan Mas Zaki yang melepaskan kedua tangannya dari mataku. Aku mengerjapkan mata, saat aku melihat Mama di hadapanku.
“Mama ….” Ya Tuhan, ternyata mereka benar-benar menyiapkan semuanya dengan matang. Mama memelukku, aku menangis bahagia di bahu Mama.
“Selamat, sayang. Mama hanya bisa mendo’akan semua kebaikan untuk keluarga kecilmu, Nak.” Mama memegangi kedua pipiku.
“Yeeeeaaayyy ….” Kalina dan sepupu lain menghamburkan kelopak mawar pada kami. Suasana haru kembali jadi bahagia.
“Mami kamu emang paling pinter maksa. Mama diculik sama orang suruhannya, diajak ke sini,” ujar Mama. Kami semua pun jadi tertawa.
“Terima kasih, semuanya. Do’a kalian semua sangat berarti untuk Rania. Maaf kalau selama setahun ini Rania masih banyak kekurangan sebagai istri dan juga menantu, Rania janji, Rania akan berbakti sama Mas Zaki, do’akan juga semoga Rania bisa lekas kasih Papa Mami dan Mama cucu.”
“Aaamiinn ….” Mereka menyahut serentak.
“Kalau gitu, ayo kita makan kuenyaaaa ….” Lagi-lagi para sepupu membuat heboh. Malahan mereka dengan lucunya mencolekkan krim dari cake ke wajahku dan juga Mas Zaki.
“Ya ampuun … kita berisik begini menjelang tengah malam apa gak ganggu orang, ya?” ujar Mas Zaki.
“Gapapa, hihihi ….” Kalina dan yang lain langsung melahap cake sambil bercanda. Papa cuma tertawa sambil geleng-geleng kepala melihat ulah mereka.
“Udah malam, woy! Yok, balik! Udah kenyang, nih!” ucap Kalina.
“Mama juga mau istirahat aja, ya, Ran.”
“Ayo, Ma. Rania anterin ke kamar Mama, ya!” Mama mengangguk. Mami dan Papa juga pamit. Para sepupu sudah ngacir meninggalkan kerusuhan dan porak poranda di dalam kamar.
“Mas, aku antar Mama dulu bentar, ya!” Mas Zaki mengangguk. Aku pun pergi mengikuti Mama sampai di depan pintu kamarnya.
“Mama kalau butuh apa-apa kasih tau Rania, ya!”
“Iya, sayang. Besok kita pulang jam berapa?”
“Sorean aja, Ma. Kita belanja-belanja dulu. Rania pengen banget beli oleh-oleh khas kota Pekanbaru.”
“Ya udah, sampai ketemu besok. Kamu balik, gih!”
“Da Mama, istirahat yang nyaman, ya!” Aku mencium pipi Mama lalu berjalan kembali menuju kamar.
Sampai di kamar, kulihat Mas Zaki sedang membereskan sampah-sampah yang berserakan.
“Pintunya langsung dikunci aja, sayang!” ujarnya.
“Wokhay!” jawabku asal. Mas Zaki malah tertawa.
“Biarin aja, napa, Mas? besok juga dibersihin sama petugas hotelnya.”
“Gapapa, lah. Sedikit aja, kok. Ni kerjaan cewek-cewek usil. Pake nebar kelopak bunga segala. Untung bukan bunga yang bikin Mas alergi.”
“Hahaha … ya udah, sini aku bantuin!”
“Gak usah, udah sana siap-siap aja!”
“Ha? Siap-siap buat apa? emang mau kemana malam-malam begini?”
“Siap-siap, lah! Katanya pengen cepet-cepet kasih cucu buat Mama?”
“Hwaaa … kabuuur!” Aku berlari menuju ke dalam kamar mandi, tapi sayangnya aku kalah cepat. Tangan kekar itu sudah menangkap tubuhku lebih dulu.
“Sabar, bro! aku mau cuci muka dulu. Lihat, nih, masih ada sisa coklat dari krim yang dicolekin sepupu kamu tadi.”
“Gak papa, biar Mas aja yang bersihin.” Mas Zaki malah bercanda dengan menjulurkan lidahnya.
“Gak mauuuu … jorooook! Hahahahaha ….” Kami pun jadinya sama-sama tertawa.
Malam yang sungguh bahagia. Terima kasih Tuhan, sudah mengirimkan suamiku ini sebagai ganti dari lelaki yang dulu pernah hampir menjadikanku sebagai sapi perah untuk keluarganya.

Komentar Buku (119)

  • avatar
    GoodAdi

    ooooo

    17/07

      0
  • avatar
    SamsunAndi

    bagus

    03/07

      0
  • avatar
    mufaddholalfath

    nice

    21/12

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru