Beranda/HAI, PAPA! I AM OK/
80. SATU-SATUNYA YANG TERSISA
Liana mengeluarkan semua yang ia makan meski sejak kemarin ia belum memakan apapun kecuali jelly rasa jeruk yang mampu membuat dorongan rasanya terpenuhi. Dan kini perutnya begitu bergejolak tanpa mampu ia cegah.
Sementara Bima yang menyusul Liana hanya bisa diam saat Liana yang duduk memegangi kloset memandang matanya. Benar-benar memandang mata bima sebelum beralih dengan rasa yang membuat manik Bima bergerak tanpa kata lalu menatap perut rata Liana yang tato mawar berdurinya bisa ia lihat di balik pakian panjang yang Liana kenakan.
"Kamu ...," Bima tidak mampu melanjutkan kalimat yang sudah ada di ujung lidahnya. Ia sama sekali tidak bisa mengatakan apa yang berkecamuk dalam benak juga seluruh kesadarannya saat Liana terus menerus memuntahkan air yang bening dan kental.
Jemari Bima yang memegang kenob pintu bahkan mengerat sampai buku-buku jarinya memutih. Sementara bayangan Aline yang memanggil namanya hanya semakin membuat Bima beku dalam bisu meski telinganya masih mendengar panggilan untuk Ben yang keberadaanya belum juga diketahui.
"Lia-"
"Ada apa ini?" Bima menoleh cepat pada asal suara, "kenapa semua orang memanggil nama cucuku?"
Wajah Laksmi yang terlihat muram namun cukup tidur membuat Bima menutup pintu yang kenobnya ia pegangi erat. Ia tidak ingin memperlihatkan Liana yang sedang muntah-muntah pada sang ibu. Wanita yang mendapat cukup istirahat meski sorot kerinduan dan kehilangan tercetak begitu jelas di dalam manik Laksmi yang kembali bertanya hal sama, "kenapa semua orang mencari cucuku?"
Bima masih tertegun di depan pintu kamar mandi yang kenobnya ia pegangi kuat, bersyukur suara Liana yang sedang muntah tidak menyusup keluar dari celah pintu yang akhirnya ia jauhi.
"Kami sedang main petak umpet, Bu."
Bima terpaksa berbohong. Ia harus berbohong pada Laksmi yang semalam hampir melompat dari railing lantai tiga yang Bima lirik sebelum mendekat pada sang ibu lalu merangkul pundaknya.
"Apa ibu mau makan sesuatu? Biar aku siapkan."
Meski heran Laksmi melirik Bima juga pintu kamar mandi yang rapat tertutup. Mata Laksmi yang tajam tidak protes saat Bima sedikit memaksa dengan senyum yang membuatnya mendengus pelan.
"Ayo, Bu."
"Siapa yang mengajarinya main petak umpet di dalam rumah?"
Bima tersenyum meski mulutnya terasa pahit. Berharap keponakannya yang tidak terlihat keluar gerbang dari CCTV yang terpasang akan cepat ditemukan dalam rumah besar yang bisa membuat orang asing tersesat.
"Itu lebih baik daripada ia berdiam diri terus di dalam kamar dan menatapi jendela dalam diam, Bu."
Ucapan Bima membuat Laksmi menggigit kuat bibirnya. Sejak tahu apa yang menimpa putri bungsunya yang memeilih keluar dari rumah, Laksmi begitu tenggelam dalam rasa kehilangan untuk Aline sampai tidak memperdulikan Ben.
"Apa Ben sudah sarapan?"
Bima menelan ludahnya tanpa ia sadari, matanya menatap langit cerah yang mataharinya sudah nampak, keponakannya itu tidak akan makan kecuali seseorang mengingatkan atau menemani Ben sambil menyuapinya yang terus memeluk tas berisi potret Nuri.
"Cepat temukan Ben lalu suruh ia makan, ia harus makan banyak supaya cepat besar."
Bima hanya mengangguk, ia menelan makanan yang rasanya tak mampu menggugah selera. Pikirannya dipenuhi dengan sang keponakan yang tak lagi ia peluk saat Liana membangunkannya dengan wajah pucat, 'kamu dimana, Ben?' tanyanya dalam hati berharap penghuni rumah yang terus memanggil Ben bisa menemukan keponakannya itu.
Sementara di tempat lain. Suasana sekolah begitu ramai meski jam pelajaran sedang berlangsung. Suara-suara dari mulut-mulut kecil yang masih semangat belajar membuat Nuri yang duduk di bagian depan ruang TU bersama Santo menatap ke kelasnya.
Sesekali bocah kecil yang rambutnya dikepang dua itu membalas ucapan Santo dengan cerita panjang yang membuat Santo tersenyum. Meski saat tangannya terjulur mengusap kepala Nuri, ia bisa melihat kerinduan di dalam mata bulat nan jernih Nuri yang harus berpisah dengan teman sekolahnya, gurunya, gerobag cilok yang rasanya gurih dan manis, bahkan bangku dan meja yang Nuri duduki.
"Tenang saja, di sekolah baru kamu pasti bisa punya banyak teman."
Mendengar itu, Nuri yang menatap jauh menoleh.
"Tidak, kamu pasti akan punya banyak teman dimanapun berada, yang penting jangan mengganggu."
"Mengganggu?" tanya Nuri dengan wajah tidak paham.
Santo mengangguk, ia menatap langit cerah, berpikir jawaban mudah macam apa yang akan langsung dimengerti Nuri, "contohnya jika calon teman atau temanmu berkata tidak, kamu harus menurut."
Dahi Nuri berkerut dalam, bocah kecil yang mendengarkan ucapan Santo itu berusaha mencerna arti dari kalimat 'tidak dan menurut' yang dikatakan Santo.
"Apa Nuri pernah kesal kalau temanmu tidak mau tahu kamu gak mau jajan tapi tetap maksa kamu harus jajan?"
"Jajan cilok?"
Santo tak bisa menahan senyumnya meski ia mengangguk, "ya," jawabnya.
"Apa teman yang maksa aku jajan cilok itu mengganggu?"
Sekali lagi Santo mengangguk, "tidak hanya jajan, kalau temanmu berkata tidak artinya dia senang tidak mau, jadi jangan dipaksa atau ia akan marah."
"Kalo memaksa aku jadi pengganggu?"
"Iya, dan anak pengganggu jarang punya teman."
Nuri jadi diam, pupil matanya yang bergerak gelisah luput dari pandangan Santo karena begitu dalam kepala Nuri menunduk.
'Kalo aku tidak boleh ketemu papa, tapi maksa buat ketemu papa ... apa aku jadi pengganggu?'
Kepala Nuri menggeleng, ia tidak suka dengan apa yang ia pikirkan.
[Tunggu sampai papa neng datang]
Sampai suara Barda menggema dalam telinganya dan tangan kecil Nuri mengerat pada bangku.
"Aku akan nunggu papa pulang, Mas Santo. Biar gak ada yang manggil aku pengganggu."
Santo yang tidak mengerti arti dari ucapan Nuri terdiam beberapa saat sebelum menunjukan senyum untuk gadis kecil yang sorot matanya begitu yakin dengan apa yang ia ucapkan. Seolah kabut tebal yang sesekali mampu ia lihat dalam mata jernih Nuri, menghilang.
Meski tidak mengenal Sam secara langsung. Santo tahu lelaki yang dibawa keluarganya untuk berobat itu pasti akan secepatnya datang mencari Nuri.
"Ya, papa pasti akan pulang dan main lagi sama kamu."
Senyum Nuri semakin lebar, bahkan matahari yang teriknya sudah terasa, tak mampu menyamarkan wajah bahagia Nuri yang percaya. Percaya papanya yang tidak boleh ia temui pasti pulang. "Ng!" Semangat Nuri menjawab.
Mbok Imah yang duduk di depan guru wali kelas Nuri bersyukur tabungan Nuri yang terkumpul tidak hanya dua ratus ribu rupiah saja. Meskipun dalam hati ia terus bertanya apa yang terjadi pada uang tabungan Sam, perubahan sikap Dahlan, juga pabrik beras tempat Sam bekerja yang tutup begitu tiba-tiba.
"Ini surat pengantar dari sekolah, Simbok bisa mendaftarkan Nuri sekolah segera setelah menentukan dimana ia akan bersekolah. Semua sudah lengkap, tapi jika butuh sesuatu atau kesulitan Simbok bisa menghubungi nomer saya."
"Terimakasih, Bu Eni."
"Saya akan senang jika sesekali bisa mendengar kabar Nuri di sekolah baru."
Mbok Imah hanya tersenyum lalu bangkit dan menjulurkan tangan dengan ucapan terimakasih. Ia lalu pamit keluar bersama bu Eni yang mengusap kepala Nuri, "kamu belajar yang rajin di sekolah baru, ya."
"Iya, Bu guru."
Selama beberapa lama guru wali kelas Nuri menatapi punggung kecil yang tangannya digandeng mbok Imah. Tanpa ia sadari, matanya berair lalu tersenyum untuk rasa rindu bagi salah satu muridnya yang pandai dan begitu senang berceloteh. Bocah perempuan yang memakai seragam merah putih dihari anak-anak lain menggunakan seragam batik itu ucapannya terdengar riang, "haah" begitu dalam tarikan nafas bu Eni, "semoga kamu akan baik-baik saja di sekolah baru, Nuri."
Bu Eni sedikit tersentak saat Nuri menoleh seolah mendengar namanya dipanggil, ia lalu mengangkat tangan untuk membalas lambaian gadis kecil yang memakai helm kebesaran.
"Da-da, Bu guru, da-da."
"Kita mau kemana setelah ini, Mbok?"
"Ke rumah sakit, Le'."
"Ok."
Deru motor Santo kembali menggema memecah jalanan yang panasnya semakin terasa. Meninggalkan gedung sekolah yang Nuri lihat dari spion dengan tangan melingkar erat pada pinggang Santo yang tersenyum lalu mengusap tangan kecil Nuri.
Gadis kecil yang paham ia tidak akan lagi datang untuk belajar di sekolah yang Nuri kenali karena hari ini ia harus naik bus yang akan menaiki kapal untuk menyeberang ke pulau lain.
'Papa, cepatlah sembuh. Nuri kangen."
Tulilit! Tulilit!
Bunyi ponsel mbok Imah yang terdengar membuat Nuri menoleh, "om Bima?"
Namun, ucapan Nuri hanya menyatu dengan deru motor dan angin yang menerbangkan seragam merah putih yang ia kenakan. Satu-satunya seragam yang tersisa karena saat kebakaran seragam itu sedang Nuri pakai.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (218)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
kerennnn
27d
0pliss lanjut donk kak seru bgtt ihh
01/12
0terimakasih
18/11
0Lihat Semua