logo text

79. SOROT MARAH MBOK IMAH

Aroma bubur ayam dengan toping lengkap kecuali daun bawang mampu membuat mulut kecil Nuri basah. Ia menghirup-hirup aroma yang begitu memanjakan hidungnya meski udara dingin berkat hujan semalam sedikit menusuk meninggalkan beku.
"Makan yang banyak, Cah ayu," Nuri menatap Sumirah dengan anggukan semangat, "kalau mau tambah nanti bilang saja."
"Ng, terimakasih, Ibu."
Panggilan itu membuat sepasang suami istri yang sudah menyiapkan gerobag dagangan mereka tersenyum. Apalagi saat melihat secerah apa wajah Nuri yang begitu menikmati tiap suapan bubur ayam yang masuk ke dalam mulut.
Mbok Imah yang keluar dengan tentengan tas yang hanya berisi beberapa lembar baju langsung membalas sapaan Santo yang juga sedang menikmati sarapan bubur ayam buatan kedua orang tuanya.
"Aku makan nanti saja, Le', rasanya tak nafsu sekali," jawab mbok Imah pada tawaran Santo yang bangun pagi meski semalam lembur. Ia ingin mengantar mbok Imah dan Nuri yang tak akan lagi tidur di rumahnya karena sore nanti mereka akan naik bus yang akan naik kapal untuk menyeberang pulau.
Selesai sarapan dan berbincang ringan, Sumirah menyisir rambut Nuri yang senang rambut panjang bergelombangnya dikepang dua. Sementara mbok Imah menyesap teh yang mampu menghangatkan usus dan perut tuanya.
Begitu lembut usapan tangan Sumirah yang rasanya sudah menyayangi Nuri seperti cucunya sendiri. Meski baru lima hari ia mengenal anak malang yang ditinggal ibu dan ayahnya. Anak malang yang senyumnya begitu lebar saat mata tua mbok Imah bertemu pandang dengan Sumirah yang rasanya ingin berkata agar mereka tinggal saja di sini, di rumah mereka yang tidak besar.
"Apa ini?" tanya mbok Imah menatap amplop warna putih yang Sumirah letakkan di tangannya.
"Tidak banyak, Mbak, tapi terimalah," ucap Sutarno yang mengusap kepala Nuri. Bocah perempuan yang tersenyum senang mendapat uang jajan agar bisa beli makanan di kapal nanti.
"Jangan ditolak, Mbak, uang ini pasti bisa sedikit membantumu untuk membeli buku dan seragam baru bagi Nuri."
Mendengar namanya di sebut Nuri mendongak. Sementara mbok Imah mengusap mata basahnya lalu memeluk teman yang mau membuka pintu rumahnya meski tanpa pemberitahuan ataupun peringatan saat ia benar-benar butuh tempat untuk mengistirahatkan tubuh demam Nuri yang begitu panas.
"Terimakasih, Sum, No. Terimakasih."
Hanya itu kalimat yang mampu mbok Imah ucapkan. Sementara Sumirah yang membalas pelukannya ikut menangis. Karena wanita penggemar sirih yang mendekapnya erat ini tidak lagi muda namun memilih untuk merawat anak yang tidak memiliki setetes pun pertalian darah, hal yang terkadang begitu dijunjung tinggi sampai merendahkan harkat martabat orang lain NAMUN tidak jarang pula jadi samar tak terlihat.
"Jangan lupa kabar-kabar, Mbak."
"Pasti, siapa tahu Sam nanti malah mencari alamat rumah kalian," jawab mbok Imah menghapus mata basahnya yang tak ingin ia perlihatkan pada gadis kecil yang memasukkan uang ke dalam saku rok.
"Mbok! Mbok! Aku Nemu uang!"
Seru Nuri yang baru hari ini memeriksa isi kantong seragamnya yang belum sempat dicuci, satu-satunya seragam yang tidak hangus terbakar bersama segala yang ia kenal di dalam rumah yang hanya meninggalkan abu. Sementara mbok Imah matanya membesar melihat dua lembar uang seratus ribuan yang Nuri keluarkan dari saku.
Dari selipan uang, selembar kertas jatuh, membuat Nuri menunduk, menjulurkan tangan dengan mata lebar menyadari tulisan tangan siapa yang tercetak dengan pulpen warnah hitam.
(Buat tambahan nabung, yang 10.000 buat jajan cilok. Baik-baiklah belajar di sekolah, anak kesayangan mama dan papa!)
Begitu lebar senyum Nuri tercetak saat ia merogoh lagi kantong roknya dan menemukan selembar uang sepuluh ribu rupiah. "Dari papa, Mbok," adu Nuri pada wanita tua yang menatapi dua lembar uang ratusan ribu yang tidak dipedulikan Nuri.
Uang yang Sam sematkan tanpa kata pada rok Nuri yang menolak jajan dan meminta dibuatkan bekal saja agar uang Sam cepat terkumpul sehingga mereka bertiga bisa naik pesawat untuk pergi ke rumah nenek.
Wajah mbok Imah mencetak begitu banyak rasa dan praduga. Matanya kembali berair saat ia yakin tidak mungkin Sam hanya meninggalkan tabungan sebesar dua ratus ribu rupiah di tempatnya bekerja. ITU SANGAT TIDAK MUNGKIN!
"Mbok, lihat. Papa ngasih Nuri uang buat jajan cilok."
Namun, tawa lebar Nuri membuatnya menghapus genangan air di mata lalu menunjukkan senyum meski tangan tuanya jadi bergetar saat mengusap kepala kecil bocah perempuan yang menyimpan uang untuk jajan cilok sementara sisanya ia serahkan pada mbok Imah.
Sumirah dan Sutarno yang nampaknya tahu apa yang mbok Imah pikirkan saling menatap. Mereka yang ingin bertanya apa perlu sekali lagi mastikan tentang uang tabungan ayah Nuri di tempat Sam bekerja, menelan kembali kalimat tanya mereka saat melihat jadi semenahan diri apa wanita tua yang sorot matanya menunjukan kemarahan. Kemarahan yang tidak ingin ia perlihatkan pada bocah perempuan yang begitu senang menyimpan sobekan buku tulis dengan tulisan tangan sang papa yang entah di bawa kemana oleh keluarganya. Meninggalkan Nuri, seolah mereka tidak perduli nasib macam apa yang akan anak Sam dan Nita jalani saat hari berganti!
"Hati-hati, jangan ngebut."
Santo mengangguk pada perintah sang ibu sementara pinggangnya didekap erat tangan Nuri yang berceloteh jika ia juga senang dibonceng Sam kemana saja apalagi pas berangkat sekolah seperti hari ini. Meskipun ini hari terakhirnya masuk ke sekolah sebelum naik ke bus yang akan menyeberang pulau dengan kapal.
Sumirah dan Sutarno, sepasang pasutri yang mencari penghidupan dengan berjualan bubur ayam itu terus melambai pada perempuan tua yang diam sementara pikirannya melayang kemana-mana, terutama untuk perubahan sikap Dahlan yang jadi begitu kasar bahkan membentaknya yang menginginkan penjelasan tentang tabungan Sam.
"Mbok?"
Mbok Imah menoleh pada gadis kecil yang kepalanya ditutupi helm kebesaran.
"Mas Santo tanya kita kemana dulu?"
"O-oh, kita ke sekolahmu dulu, Cah ayu."
"Siip, Mbok," jawab Nuri kembali menatap ke depan sementara matanya tertutup helm kebesaran, "Mas Santo, kita ke sekolahku dulu kata Simbok," ucap Nuri tidak tahu Santo yang pinggangnya ia peluk erat bisa mendengar ucapan mbok Imah yang bertukar senyum di dalam spion. Namun, tidak seorang pun mengatakan itu kecuali Santo yang terus tidur di sofa ruang tamu beberapa hari ini menjawab, "siiip."
Jalan utama yang sudah dipenuhi kendaraan semakin ramai dengan celoteh Nuri yang bisa menceritakan apa saja. Kalimat berulang namun terasa baru bagi para pendengarnya. Terutama cerita tentang Sam dan motor bututnya yang begitu gemar disapai paku-paku nakal, jajan yang selalu Sam bawa pulang, baso mang Kus yang ia makan bersama Sam dan mbok Imah, cerita tentang Nita yang selalu Nuri dengar dari Sam.
Rasanya, bocah kecil yang memakai helm kebesaran itu tidak pernah lelah atau bosan bercerita tentang Sam. Lelaki gagah yang yang juga tidak pernah lelah mengisahkan siapa cinta dalam hidupnya.
Meski saat mata Nuri yang menyebut nama sang papa dipenuhi dengan banyak kerinduan juga harapan agar papanya yang akan disembuhkan segera datang. Melihat dirinya yang tidak lagi boleh bertemu dengan Sam.
'Mama, Nuri kangen Papa.'
Sementara di tempat lain, keriuhan terjadi begitu Liana bangun namun tidak mendapati ada anak yang dipeluk Bima di atas kasur.
"BEN!!"
"BEN...."
Semua mulut memanggil nama yang sama,  namun tak ada jawaban dari bocah lelaki yang ketidakhadirannya membuat berpasang-pasang mata yang hatinya masih berduka untuk kematian Aline merasa takut.
Terutama Liana yang wajah pucatnya berkeringat sedangkan matanya menatap tiap sudut ruangan yang ubinnya ia pijaki tanpa alas kaki.
"Aline...." panggil Liana meski hanya telinganya sendiri yang mendengar.
[Aku tidak tahu, Tante.]
Sampai suara Ben yang berkata ia sama sekali tidak tahu siapa orang yang akan dirindukanya ketika pergi, menggema dalam gendang telinga Liana yang jadi tidak mendengar panggilan Bima karena Liana berlari ke kamar mandi karena perutnya bergejolak.
"Hoek!"

Komentar Buku (218)

  • avatar
    hertiyanisheni

    kerennnn

    28d

      0
  • avatar
    Rhena Kiw

    pliss lanjut donk kak seru bgtt ihh

    01/12

      0
  • avatar
    M Nafii

    terimakasih

    18/11

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru