Beranda/HAI, PAPA! I AM OK/
76. PILIHAN UNTUK ANAK-ANAK KECIL INI
"Jangan- ... jangan pergi seperti mama, Eyang."
Bocah lelaki yang berdiri di atas kaki tak beralasnya itu, menatap lurus. Manik matanya yang jadi tak berwarna menatapi Laksmi yang memegangi railing semakin kuat, sementara mata Laksmi yang sudah sembab dan basah meneteskan air yang merambat turun tanpa henti.
"Eyang," panggil Ben pada sang nenek yang biasanya begitu gemar bersuara keras. Begitu hobi membanting barang. Begitu suka merutuk dan mengeluarkan segala kekesalannya dengan membanting apa saja yang terjangkau tangan.
Namun kini, Laksmi tetap tidak menoleh padanya, tidak menjawab panggilannya, tidak bereaksi apapun kecuali hanya menunjukan punggung yang terus Ben pandangi.
JGERRR!!
Gelegar petir yang berbunyi bersama kilat membuat bocah lelaki yang bangun dari tidurnya yang hanya sebentar itu, semakin memeluk tas yang terus ia dekap. Jemari tangan kecilnya meremas kuat permukaan tas berisi potret sang sahabat yang tidak pernah bisa di hubungi karena mama tidak memiliki nomor Nuri yang punya nomor papa dan mamanya. Janji VC-an yang sudah ia buat dengan Nuri pun belum terjadi.
Namun, apa yang sedang Ben lihat saat ini?
Saat manik matanya lurus menatap punggung Laksmi, sementara kaki kecilnya yang tak beralas bergerak gelisah, ragu, terlihat ingin melangkah tapi tak mampu. Seolah ubin dingin yang sedang ia pijaki memiliki tali pengekang yang mengikat pergelangan kakinya begitu kuat!
"Bu," panggil Bima melangkah perlahan mendekat pada Laksmi yang pundaknya bergetar. Tangannya yang terangkat, ragu untuk menyentuh pundak sang ibu. "Apa ibu tidak kasihan pada cucumu yang lucu itu, Bu?"
Bima meremas tangannya sendiri kuat-kuat, menahan diri untuk berjalan lebih dekat dengan Laksmi yang masih menunjukkan punggungnya pada Ben, pada Sinu, pada Liana juga pada dirinya. Anak lelaki yang keluar dari rumah karena tak ingin melakukan hal sama seperti yang biasanya Laksmi lakukan jika emosinya tersulut.
"Dulu, Ibu selalu protes setiap kali Ben tak bisa mengatakan r dengan jelas, bukan? Tapi sekarang ia sudah bisa mengatakan kereta, rel, ular, rambut, Bu. Putra Aline ...," Bima menelan salivanya yang terasa pahit, seluruh dirinya menjeritkan kerinduan juga sesal yang tidak akan pernah ia perlihatkan kecuali pada diri, "putra Aline dan Sinu, putra mereka sudah tak lagi membuat ibu protes hanya karena ia tak bisa mengatakan r, bukan?"
Liana yang masih duduk di tempat yang sama menatap sang kakak yang tangannya masih di udara. Begitu ingin menyentuh ibu mereka namun tak bisa.
Sementara Sinu tak lagi melihat Aline dalam diri Laksmi. Suara yang telinganya dengar sendirian pun tak lagi terdengar.
Sementara bocah lelaki yang berdiri di belakangnya terus menatapi punggung sang nenek dengan tangan mendekap tas erat, sangat erat. Seolah Ben sedang mencari perlindungan tanpa kata.
"Apa Ibu tidak ingin melihat apa saja yang akan bisa Ben lakukan di masa depan, Bu? Melihatnya tumbuh dewasa, menjadi cucu yang bisa ibu pamerkan pada teman-teman Ibu."
Bima menarik nafasnya dalam, bukan karena Laksmi tak menanggapinya, tapi karena ia tidak senang dengan apa yang sedang berseliweran dalam benaknya tentang masa depan Ben yang mungkin akan di-setir neneknya ini untuk menjadi 'cucu kebanggan'.
Cucu yang bisa Laksmi pamerkan pada siapa saja, kapan saja, di mana saja. Bukannya menjadi anak-anak yang Laksmi katai gagal dalam hidup karena memilih jalan masing-masing, tidak mau menurut apa yang Laksmi arahkan, apa yang Laksmi inginkan!
"Bu," panggil Bima sekali lagi pada Laksmi yang tetap menatap lantai dasar rumah mereka. Rumah berlantai tiga dengan banyak ruangan yang mampu membuat pendatang tersesat jika dilepas sendiri.
Tangan Bima yang masih di udara, terjulur melewati tubuh Laksmi, "jangan lakukan ini, Bu, kumohon jangan paksa Ben melihat lagi apa yang sudah ia lihat."
Manik Laksmi yang basah membesar. Tangannya yang terus memegangi railing dengan kuat, meregang. Sementara tangan anak pertamanya terus terbuka. Berharap Laksmi menyambut.
Bima, dokter spesialis saraf yang kemampuannya tak lagi diragukan itu, berharap sang ibu yang begitu gemar merutuk dan membanting barang ketika marah, menyambut tangannya. Atau setidaknya Laksmi akan mundur dari pembatas kaca yang bisa membuat tubuh Laksmi terluka jika ibunya ini tetap melakukan apa yang sudah Laksmi ucapkan.
"Bu-"
"Mama," ucap Ben membuat Bima menoleh pada keponakannya yang berjalan menghampiri Liana.
Kaki kecil Ben yang tak beralas melangkah maju lalu berhenti di hadapan Liana yang mendongak, memperhatikan keponakannya yang menatap maniknya begitu lurus. Sedangkan Sinu yang tubuhnya Ben lewati jadi tertegun mendengar panggilan yang Ben ucapkan pada Liana.
"Mama?" ulang Ben membuat empat orang dewasa yang telinganya belum tuli memastikan telinga mereka tidak salah dengar.
"Kenapa mama baru pulang? Aku- ... aku sudah jadi anak baik dan terus nunggu mama. Aku gak kemana-mana sampai om Bima datang dan ajak aku pulang ke rumah Eyang."
Mata Liana membulat, sama sekali tidak berkedip, "Ben-"
Mulut Liana yang menyebut nama sang keponakannya ini menelan lagi panggilannya karena Ben menoleh pada Laksmi.
"Mama, Mama bilang sama Eyang. Bilang jangan pergi lewat situ, Ma," ucap Ben membuat empat orang dewasa yang memperhatikannya dengan bingung tak bisa berucap. Sementara bocah kecil yang terus berdiri di depan Liana terus memanggil Liana 'mama'.
"Mama ... Mama bilangin ke Eyang buat gak pergi lewat situ, Ma, bilangin ke Eyang, Ma."
Sampai suara Ben yang meminta dengan seluruh hatinya terdengar bergetar diikuti isak. Isak yang semakin mengeras saat tangan Ben melepas tas yang terus ia dekap lalu memeluk Liana.
"Mama, Mama, Mama waaa... Jangan pergi lagi, Ma, waaa... jangan tinggalin Ben sendirian lagi, Ma. Waaa... Waaa... Waaa...."
Ben yang memeluk Liana begitu erat terus memanggil tantenya dengan panggilan mama. Panggilan yang membuat pendengarnya tak mampu bersuara meskipun banya kata yang terucap dari mata mereka.
"Mama..., Mama..., Mama... Waa waaa waa...."
Liana yang merasakan sekuat apa dekapan tangan kecil Ben pada lehernya mengangkat kedua tangannya perlahan lalu memeluk bocah lelaki yang memeluknya begitu erat seolah jika Ben tidak melakukan itu ia akan pergi, menghilang dan tak akan kembali.
"Ben, tante-," Liana menggigit bibir bawahnya kuat, matanya yang sudah perih karena menangis kembali meneteskan airmata.
Wanita dewasa yang sudah membuat adik kembarnya memilih kematian itu, menatap manik Laksmi yang mulutnya membisu dengan pandangan bingung. Ia lalu menoleh pada Bima yang juga tak berucap. Sementara Sinu yang memperhatikan sekeras apa Ben menangis juga tak bisa berkata-kata.
Mulut Liana yang matanya basah menunjukan senyum. Senyum untuk dekapan erat tangan kecil Ben yang suaranya kembali terdengar.
"Mama jangan pergi, Ma, jangan tinggalin Ben sendirian lagi waa... waa... waa...."
Mata Sinu yang bertemu pandang dengan Liana, membuka mulutnya, tapi Liana yang menggelengkan kepala membuat Sinu menelan kalimat yang ingin ia sampaikan pada Ben, jika yang sedang Ben peluk dalam tangis itu bukan Aline, bukan mamanya yang sudah memilih kematian untuk salah yang sudah mereka perbuat.
Dan mata Sinu yang tidak berkedip sama sekali terus menatapi Liana, wanita yang mengusap punggung Ben lalu berucap, "Mama- ... Mama tidak akan ke mana-mana, Ben. Mama akan terus bersama kamu. Mama tidak akan pergi ke manapun."
Seluruh tubuh Laksmi menoleh, ia melepas genggaman eratnya pada railing lalu menatapi putri pertamanya yang memeluk Ben yang menangis sepenuh hati. Tangan Liana yang dirahah tato mengusapi punggung Ben dengan penuh kasih juga penyesalan yang tak akan pernah bisa ia tebus.
Dan Bima, ia tahu perubahan macam apa yang akan terjadi setelah malam ini. Malam dengan hujan pertama yang langsung turun deras disertai petir menyambar yang membuat Nuri makin bergelung dalam tidurnya yang kaget karena gelegar petir menyambar.
"Semua akan baik-baik saja, Cah ayu." Tangan tua mbok Imah mengusap tubuh kecil Nuri yang ia tepuki perlahan, "kita semua akan baik-baik saja, begitupun papamu yang pasti akan datang setelah ia sadar."
Mata tua mbok Imah menatap derasnya buliran hujan yang jatuh dari jendela kamar yang akan ia tinggalkan esok hari, kamar milik anak lelaki yang mengalah tidur di sofa rumahnya.
"Sam, aku akan menjaga anak kesayanganmu dan Nita dengan seluruh kemampuanku. Jadi, cepatlah sembuh dan temui anakmu yang akan terus menunggumu pulang."
Sementara dikamar yang aroma obatnya pekat, lelaki gagah yang matanya terpejam rapat tangannya bergerak, seolah sedang menggapai sesuatu atau mungkin seseorang yang membuat matanya terbuka.
Ujung matanya mencari, mencari keberadaan bocah perempuan yang namanya ada di ujung lidahnya.
"Papa!"
Sampai suara kecil yang menyentuh telunjuknya terdengar. Menunjukan senyum diantara poni lurus yang menutupi wajah bulatnya yang terlihat senang.
"Papa udah bangun?"
Mata Sam berkedip, menatapi gadis kecil yang tak lagi malu menatap.
"Papa mau apa? Biar Marisa ambilkan."
Mulut Sam yang terbuka kembali tertutup. Meski sentuhan tangan kecil yang memanggilnya papa ini terasa asing bibir Sam menunjukan senyum sebelum kembali menutup matanya.
Sementara matanya yang tertutup bisa melihat rambut panjang bocah perempuan yang bergelombang diterbangkan angin, sementara kaki kecilnya menghentak agar ayunan yang ia naiki berayun dengan tawa yang rasanya bisa ia dengar.
[Papa, Papa, apa ban motor Papa kena paku lagi hari ini?]Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (218)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
kerennnn
23d
0pliss lanjut donk kak seru bgtt ihh
01/12
0terimakasih
18/11
0Lihat Semua