Beranda/HAI, PAPA! I AM OK/
72. MAAF YANG MALU DIUCAPKAN
JGERRR!!
Gelegar petir yang membahana membuat mata bulat bocah lelaki yang terus memeluk tas berisi potret Nuri, berkedip. Manik matanya yang gelap begitu kontras dengan wajahnya yang putih dan mulus.
Kilat yang kembali terlihat disertai gemuruh sama sekali tak membuat tangan kecilnya berpindah dari tas yang ia peluk pada telinga. Gelegar petir yang membahana sama sekali tak membuatnya bergerak.
Ia hanya terus berdiam diri menatapi balkon dari tepi ranjang, tanpa mengeluarkan suara.
Tanpa menyadari Sinu berdiri di ambang pintu memperhatikan punggung kecilnya dengan tangan mengerat pada gagang pintu yang ia pegang.
Lelaki yang wajahnya terlihat begitu dipenuhi dengan rasa bersalah itu hanya berdiri menatapi punggung Ben, anak yang keberadaanya benar-benar ia lupakan di hari Aline-
Greet! Tangan Sinu semakin kuat memegang gagang pintu, seluruh kesadarannya tak ingin berkata apa yang terjadi pada Aline. Seluruh dirinya sadar, hanya saja semua seperti mimpi buruk saat matanya lebar terbuka, saat seluruh inci tubuhnya bisa merasakan hembusan dingin kamar Ben yang pendingin ruangannya menyala.
Namun, seluruh rasa kehilangan dan juga penyesalannya begitu terlambat, begitu telat! juga SIA-SIA.
Segala niat untuk memperbaiki apa yang sudah ia rusak tak akan lagi bisa. Ia tidak lagi memiliki kesempatan itu, karena Aline sudah tidak ada. Istrinya sudah pergi ke tempat tangannya tak mampu menjangkau.
"Kh!"
Tanpa Sinu sadari tenggorokannya yang tercekat mengeluarkan suara, sementara matanya tergenang air saat melihat Ben terus diam menatapi balkon yang kini terang karena lampu dengan sensor menyala berkat langit gelap yang menurunkan hujan pertama di tahun ini.
Hujan yang turun langsung deras itu, tidak hanya meredam isak Sinu, tapi juga membaur dengan kebisuan anak lelakinya yang semakin erat memeluk tas berisi potret Nuri.
Ben, bocah lelaki yang kini sudah bisa mengucapkan huruf 'R' dengan jelas itu, semakin jarang berucap. Ataukah ia berkata, hanya saja tak ada yang mendengar kalimat yang ia ucapkan begitupun telinga kecilnya sendiri.
Puk!
Sentuhan pelan di pundak membuat Sinu menoleh pada dokter Bima.
Tanpa kata lelaki cantik yang wajah mulusnya begitu kelabu sementara tangannya yang bebas membawa sepiring nasi dengan ayam goreng yang sengaja ia bawa untuk Ben dari ruang makan, menatap mata Sinu yang juga menggelap bukan karena lampu kamar Ben tak menyala.
Tapi karena rasa yang sedang mereka rasakan untuk hal yang sudah Aline putuskan lalu lakukan.
Sinu bisa merasakan tangan dokter Bima yang meremas pundaknya sesaat bergetar, tangan putih yang akhirnya menjauh sementara kakinya yang panjang melangkah masuk ke dalam kamar Ben yang tak mampu ia masuki.
"Ben, lihat apa yang Om bawa untuk kita."
Sinu hanya bisa melihat kakak iparnya itu mendekati Ben, bocah lelaki irit kata yang menoleh tanpa suara balasan. Putranya itu, sama sekali tidak tertarik dengan ayam goreng yang dokter Bima bawa ataupun senyum yang dokter Bima tunjukan.
Namun, bocah lelaki yang mamang irit kata itu membuka mulutnya untuk tiap suapan yang dokter Bima lakukan di sertai cerita yang nyatanya sudah Ben dengar. Hanya saja, bocah lelaki yang masih memeluk tas berisi potret Nuri itu tidak ingin menyela cerita sang paman yang juga makan dari piring yang sama dengannya.
Sementara Sinu hanya bisa melihat, ia terus berdiri di ambang pintu. Tak perduli pada kakinya yang kebas sementara telinganya tak mendengar langkah kaki Liana yang berhenti setelah wanita dengan kepala plontos itu sampai di tangga paling atas.
Wanita dengan pakaian menutupi tiap tato di tubuhnya itu, menarik nafasnya dalam. Begitu dalam. Sementara tangannya yang terjulur menahan diri untuk menyentuh punggung kemeja Sinu. Punggung yang terlihat penuh rasa dan rasa bahagia sama sekali tak ada di sana, di punggung Sinu yang tidak menyadari kehadirannya.
Sedangkan di antara derasnya hujan, ia bisa mendengar suara sang kakak yang bercerita di sertai tawa. Tawa yang terdengar begitu menyedihkan untuk telinga Liana karena ia tahu, bukan tawa yang ingin Bima tunjukan saat ini.
Tap! Tap! Tap!
Liana kembali melangkah, ia melewati punggung Sinu yang begitu tenggelam tak ingin diganggu. Sekalipun, mata Liana bisa melihat pipi gembil Ben mengunyah tanpa balasan untuk canda yang Bima ucapkan.
Klekk!
Begitu pelan Liana menutup pintu kamarnya. Kamar gelap yang hanya terang dari lampu balkon yang memiliki sensor.
Balkon yang jadi Liana perhatikan sementara tangannya yang menggenggam jemarinya sendiri bergetar.
'Aline mati, Liana ... anak penurut itu mati. Saudaramu mati!'
Bibir Liana bergetar, suara dalam kepalanya terus mengatakan hal yang sama. Seperti kaset rusak yang hanya bisa mengulang-ulang kalimat sama.
Namun, Liana tidak ingin menghentikan suara dalam kepalanya. Ia justru menatapi kamarnya sendiri. Kamar yang jadi terasa begitu luas dan lebar. Begitu besar dan menjadikannya yang masih bersandar pada daun pintu jadi begitu kecil, kerdil!
Kamarnya yang dulu begitu senang Aline datangi saat sodaranya yang mati itu tidak ingin tidur sendiri. Kamar ini, seperti rumah ke-dua bagi Aline yang penurut dan pandai membuat hati ibu mereka berkurang emosinya.
Kamar yang tiap sudutnya memiliki cerita tentang Aline karena saudara kembarnya yang penurut itu begitu senang mengungsi ke kamar Liana.
"Kapan terakhir kali ia tidur bersamaku?" tanya Liana menatapi kasur yang terang berkat lampu balkon dan kilat dari langit.
Namun, Liana yang jadi diam dan berpikir semakin kuat menggigit bibir bawahnya karena tak mengingat kapan terakhir kali Aline tidur di sampingnya, membagikan cerita tentang Sinu dan Ben juga segala hal yang mau Aline bagi.
Tanpa sadar airmatanya mengalir meski tidak ada isak yang keluar dari mulut maupun bibir Liana. Sementara seluruh kesadarannya memanggil-manggil nama saudara kembarnya yang tak akan lagi menyahut sekeras apapun ia bersuara.
Aline mati, bunuh diri dan itu karena apa yang sudah ia lakukan.
Maaf adalah kata yang terlalu sulit untuk ia ucapkan. Tidak hanya untuk Aline, ibunya, kakak lelakinya, Ben bahkan Sinu juga anak yang sedang ia kandung.
Seandainya saja rintik hujan yang deras itu mampu meluruhkan sedikit saja penyesalan dan rasa bersalah yang sedang ia rasakan. Mungkin Liana tidak akan malu untuk mengeluarkan isaknya malam ini.
--Di saat yang sama namun tempat yang berbeda--
"Lagi ngeliat apa, Cah ayu?"
Suara mbok Imah membuat Nuri yang sedang menatapi rintik hujan, menoleh.
"Mbok, aku jadi ingat Ben, lagi apa ya dia?"
Jawaban Nuri membuat mbok Imah ikut menatap langit yang sedang mencurahkan anugerahnya, wajah bulat bocah lelaki irit kata yang selalu bermain dengan Nuri sampai saat ia harus pulang dengan sang paman berwajah cantik, terbayang dalam benak.
"Mungkin lagi belajar di sekolah, Cah ayu," jawab mbok Imah yang tak tahu perbedaan waktu antara Indonesia dan Belanda hanya beberapa jam saja.
"Belajar di sekolah? Malem-malem begini?" Tanya Nuri membuat mbok Imah mengangguk, "Ben sekolah malam?"
"Tidak malam, Cah ayu. Tapi di tempat Ben saat ini pasti masih siang."
Jawaban mbok Imah membuat manik hitam Nuri membesar.
"Simbok yang gak sekolah aja tahu, Cah ayu. Makanya kamu harus rajin belajar, ya, biar pinter."
Nuri memgangguk lalu kembali menatap langit malam yang begitu murah menurunkan hujan pertamanya di tahun ini.
"Papa, Ben tinggal di negara yang keren, pa," ucap Nuri lalu menarik nafasnya begitu dalam. Matanya yang menatap langit gelap seolah bisa melihat wajah Sam. Wajah yang begitu jelas tercetak dalam ingatan gadis kecil berusia sepuluh tahun yang sudah memilihkan jalan hidup untuk sang papa.
"Mbok?"
"Apa, Cah ayu?" jawab mbok Imah yang tangannya terjulur mengusap rambut panjang Nuri dengan syukur tubuh Nuri tak lagi demam setelah selamat dari motor yang menabraknya berdua Komar.
Namun, usapannya jadi berhenti pada kalimat Nuri selanjutnya.
"Kalau kita pergi, apa papa gak akan susah nyari kita nanti, Mbok?"Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (218)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
kerennnn
24d
0pliss lanjut donk kak seru bgtt ihh
01/12
0terimakasih
18/11
0Lihat Semua