Beranda/HAI, PAPA! I AM OK/
70. PILIHAN DARI LUKA ITU
Sinu, lelaki yang duduk di tangga emergency itu menarik nafasnya dalam, berkali-kali. Perasaan gusar tercetak. egitu nyata di wajahnya yang ia usap kasat.
[PEMBOHONG! TIDAK SEHARUSNYA AKU MEMPERCAYAIMU!]
[PERGI AKU TIDAK INGIN MELIHATMU!]
"Lin," ucapnya dengan suara yang begitu pelan.
Lagi, Sinu menarik nafasnya dalam, lelaki yang hanya mengirim sebaris kalimat untuk mengakhiri hubungannya dengan kakak dari istrinya itu mengepalkan tangan yang ia gigit.
"Seharusnya aku menghubungimu untuk mengakhiri hubungan kita."
Sinu meremas ponsel dalam genggaman. Matanya menatapi layar ponsel yang lalu ia hidupkan lalu sentuh.
Tut! Tut! Tut!
Suara panggilan yang tersambung itu ia dengar dengan wajah kelabu. Sinu terus menunggu wanita yang ia hubungi mengangkat teleponnya kali ini.
Sampai ujung mata Sinu menatap dinding kaca yang bisa membuatnya melihat sesuatu melayang jatuh.
"!" Mata Sinu membesar sebesar-besarnya. Tubuhnya kaku sementara seluruh dirinya menjerit dalam bisu saat melihat apa yang melayang lalu jatuh dari dinding kaca yang memisahkannya dengan bagian luar gedung apartemen tempatnya tinggal bersama Aline dan Ben.
Brakk!!
Ponsel Sinu yang terlepas dari genggaman tangan memecah kesunyian yang membuat kakinya bergetar lemas.
"KYAA!"
"SOMEONE FALLING!"
"CALL AN AMBULANS!"
"IS SHE DEAD?"
"OH MY GOD!"
"SHE- SHE IS DEAD!"
Sinu yang kakinya lemas menatap nanar tubuh tergeletak yang jadi pusat kerumunan seketika.
Tubuh yang darahnya membasahi beton keras yang jadi merah.
Manik lelaki yang sudah mengkhianati istrinya dengan kakak iparnya sendiri itu, melangkah. Meninggalkan ponsel yang tergeletak di atas lantai bisu yang dingin.
Tut! Tut! Tut! Clekk!
"Ha- halo."
Suara yang rasanya dipenuhi dengan keraguan itu terdengar menunggu, menunggu balasan dari lelaki yang akhirnya berdiri di samping tubuh Aline yang bermandikan darahnya sendiri.
"Mas- Mas Sinu?" Kembali, suara dari ponsel terdengar. Tetapi tak ada yang menjawab, tentu. Karena si pemilik telepon tak bisa menyahut bahkan tak bisa mendengar suaranya karena kalah dengan suara dari hati yang kaget dan mata yang tidak percaya saat tangan dan seluruh tubuhnya bisa merasakan sehangat apa darah yang keluar dari tubuh Liana.
Sementara di salah satu unit apartemen dengan dua kamar, bocah lelaki berusia sepuluh tahun terus berdiri tanpa mengedipkan mata. Tangan kecilnya memeluk erat tas berisi dompet yang menyimpan potret Nuri.
Bocah lelaki yang detak jantungnya begitu keras, sampai suara keriuhan yang ia dengar seolah tak masuk ke dalam telinganya yang seakan jadi tuli! tidak ingin mendengar kalimat-kalimat yang terdengar riuh dari luar gedung apartemen.
Ben hanya terus menatapi balkon. Mata jernihnya yang bulat seolah berubah menggelap. Sementara benaknya menciptakan wajah sang mama yang tersenyum sebelum menghilang, benar-benar menghilang.
Wee-woo! wee-woo! wee-woo!
Sirine yang terdengar memekakkan telinga itu, terus berbunyi. Keriuhan yang terjadi bahkan semakin ramai. Sementara tubuh tergeletak tanpa nyawa dipeluk suaminya yang bahkan tidak bisa mengucapkan kalimat lain, selain berusaha membangunkan istrinya yang tak membalas.
"Aline, bangun, Dek, bangun. Jangan seperti ini. Bangun, Dek, kumohon. Bangun, Lin. ALINE! BANGUN, DEK, Bangun, Lin."
Sinu tak perduli pada tatapan orang yang melihatnya dengan banyak kata. Lelaki yang datang ke Belanda untuk melanjutkan pendidikannya itu, hanya ingin mendengar suara dari wanita yang darah hangatnya membasahi tangan juga pakaian yang ia kenakan.
"Bangun, Lin. Bangunlah. Kumohon bangun, Dek, bangunlah kumohon jangan begini. Kumohon bangun."
Tapi, wanita yang badannya basah dengan darahnya sendiri itu, tidak menjawab apapun. Kecuali tangannya yang lunglai bergerak mengikuti guncangan tangan Sinu yang memeluk tubuhnya yang tak lagi bernyawa.
Aline mati, dengan membawa luka yang tak mampu ia tampung. Wanita berwajah mulus itu juga mati dengan meninggalkan luka. Luka yang bahkan tidak akan pernah ia lihat sebesar apa karena ia sudah mati.
"BANGUN LIN, BANGUN! kumohon bangun, Dek."
Sementara saudari kembarnya terus menunggu jawaban dari lelaki yang badannya ikut basah dengan darah Aline, menunggu dengan sabar supaya panggilannya di jawab, "Mas Sinu, halo? Apa terjadi sesuatu? Halo?"
"Hallo?" Ponsel yang tergeletak di lantai itu berpindah pada tangan putih wanita bermata biru yang rambutnya pirang.
"Who- who are you?"
"Oh, sorry. Aku hanya mengambil ponsel yang terjatuh ini di lantai dan sedang on," jawab wanita asing itu.
"Di ... lantai?"
"Yes, on the floor, hanya ponsel sementara yang punya entah pergi kemana."
"What do you mean?" tanya Liana yang jantungnya berdetak keras bahkan terasa begitu sakit. Sangat sakit seolah sesuatu yang ia kasihi menghilang.
"Well, aku tidak tahu apa harus mengatakan hal ini atau tidak. Tapi, seseorang baru saja bunuh diri dan ada lelaki dengan bahasa Melayu yang sedang menangisinya."
"Su- suicide?"
"Yes. Oh, sorry, itu hanya kesimpulanku. Wanita itu jatuh dari atas, kurasa ia tak lagi tertolong meski ambulans sudah datang."
"Hallo? Are you still there?" tanya wanita yang terus memegangi ponsel yang ia temukan sementara matanya melihat keriuhan yang sedang berlangsung di depan gedung apartemen tempatnya tinggal.
Tak melihat suara wanita yang membalas ucapannya itu, jadi tidak terdengar lagi karena sedang berusaha memproses apa yang baru saja ia dengar.
'Bunuh diri?' batin Liana yang manik matanya bergerak gelisah. Jantungnya bertalu-talu bahkan dadanya naik turun seolah ia baru melakukan pekerjaan berat.
"Aline?" ucap bibir mungil Liana begitu saja sementara matanya terpejam menyingkirkan bayangan-bayangan buruk yang muncul silih berganti tanpa mau dicegah.
"Can-," Liana menjeda kalimatnya, tangannya meremas kuat telepon tanpa ia sadari, "bisakah anda memberi saya info lebih lanjut, Ma'am?"
"Oh, sure. Aku pikir kau sudah tak mendengar suaraku lalu memutus sambungan telepon."
"No ..., Ma'am," jawab Liana memegang ponselnya sampai buku-buku jarinya memutih. Sementara seluruh dirinya menyebut nama Aline. Saudara kembarnya yang tak lagi mau menerima panggilan telepon ataupun chatnya. Bahkan Aline memblokir nomernya.
Liana menggigit bibirnya keras, seluruh dirinya merasa kehilangan setiap kali wajah Aline muncul dalam benak, 'tidak! Tidak! Tidak! Itu bukan Aline dan Mas Sinu! Itu orang lain, wanita yang bunuh diri-'
Perut Liana langsung bergejolak namun ia menelan apa yang sudah naik ke tenggorokan. Wajahnya jadi pucat seketika. "Ma'am, bisakah- bisakah anda memberi saya info lebih lagi, saya mohon."
"Oh, sure. Apa mereka keluargamu?"
"I- ... saya- saya harap tidak," jawab Liana yang suaranya tercekat. Dadanya terasa begitu sesak.
'Aline!' sementara batinnya terus menyebut nama Aline.
"I hope so to, nanti akan ku kabari lagi."
"Thank ... you, Ma'am."
"It's ok, it's not a big deal. Kuharap wanita yang jatuh itu bukan keluargamu atau orang yang ponselnya sedang kubawa ini."
Liana terus memegangi ponsel yang sambungannya sudah terputus.
"Mbak? Mbak!"
Mata Liana membesar saat ada tangan yang melambai-lambai di depan matanya.
"Bagiamana, apa mbak jadi menggugurkan kandungan atau tidak?"
Mendengar pertanyaan itu Liana jadi sadar sepenuhnya. Ia langsung berdiri membuat wanita bertubuh tambun dengan sneli di badan itu mendongak.
"Saya- saya harus pergi," ucap Liana merogoh kantong celananya dan langsung keluar dari ruang praktek bidan yang hanya bisa menatapi lembaran-lembaran uang seratus ribuan yang Liana tinggalkan dengan mata hijau.
"Mas Bima," ucap Liana yang lalu menggeber motor besarnya tidak perduli pada panggilan tukang ojek yang mengantarnya ke tempat dimana ia bisa melakukan aborsi.
'Aline! Aline!' batin Liana terus menyebut nama kembarannya sendiri. Sementara motornya menderu memecah jalanan padat yang ia hiraukan.
'ALINE!'Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (218)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
kerennnn
19d
0pliss lanjut donk kak seru bgtt ihh
01/12
0terimakasih
18/11
0Lihat Semua