logo text

68. RUMAH SUNYI YANG SEPI

"Carilah teman yang banyak agar kamu tidak kalah dengan Nuri, selain Komar ia pasti sudah punya banyak teman di sana dan lupa pada janjinya padamu, Ben. My poor baby."
Ben hanya diam tak menjawab ucapan Aline yang membetulkan kerah jaketnya. Bocah lelaki yang begitu irit kata itu, tidak ingin menanggapi ucapan sang mama yang selalu mengatakan hal sama ketika mereka berdua harus berpisah karena Ben belajar di sekolah baru.
Di sekolah barunya ini, Ben jadi perhatian banyak mata bahkan para orang tua yang melihat sesopan apa Ben pada Aline begitu gemas.
"Belajar yang giat biar seperti papa-" Aline jadi diam, sementara Ben yang mendengarkan bisa melihat jadi setegang apa tubuh mamanya ini.
"Mama?"
"Ja- ... jangan tumbuh seperti papa," ucap Aline setelah mematung beberapa lama. "Tumbuhlah jadi lelaki yang tidak akan menyakiti-" Aline jadi diam saat menyadari tatapan sang putra yang mendengarkan tiap kalimatnya satu per satu ini begitu penuh perhatian dan mencoba memcerna tiap kalimat yang ia ucapkan.
Namun, putranya yang masih berusia 10 tahun ini tidak seharusnya tahu apa yang terjadi atau Ben akan tumbuh dengan luka, luka yang rasanya begitu menyakitkan bahkan untuk dirinya yang berkata ingin memulai segalanya bersama di tempat baru. Membangun semuanya dari awal lagi. Meninggalkan segala yang ia ketahui meski luka akibat perselingkuhan yang Sinu dan Liana lakukan terus saja mengikuti tiap pijakan langkah Aline yang rasanya tidak kuat menapak jika tidak ada Ben di sampingnya.
SADAR ALINE!
'Tidak seharusnya kamu tahu apa yang terjadi antara mama dan papa, Ben, tidak seharusnya,' batin Aline menunjukan senyumnya. Senyum yang hanya sebaris tipis dengan tatapan mata tak bahagia.
Senyum yang kini sudah Ben hafal, karena begitu seringnya Aline tunjukkan sejak mereka pindah rumah.
"Ng, aku akan jadi lelaki baik, Mama," jawab Ken tidak ingin membantah Aline yang lalu menariknya dalam pelukan.
"Anak Mama, anak kesayangan Mama," ucap Aline mengeratkan pelukan pada tubuh kecil Ben yang lalu ia suruh masuk ke dalam sekolah. Tidak lagi menyebut Ben anak kesayangan Mama dan papa. Hanya anak kesayangan mama.
"Nanti Mama jemput, jangan ikut orang asing yang meberimu Snack ataupun minuman."
Sekali lagi Ben mengangguk, membiarkan pipinya dikecup wanita yang memeluknya sekali lagi lalu pergi.
Ben hanya bisa menatap punggung Aline yang berjalan untuk sampai tempat pemberhentian trem karena dekat dengan sekolahnya kini. Sekolah yang isinya dipenuhi orang-orang asing dengan bahasa yang bisa Ben mengerti.
"Good morning, all," ucap miss Penn mengedarkan pandangannya yang kini tertuju pada satu-satunya anak yang pindah di mid-smester ajaran baru.
"Good morning, Ma'am!!" jawab siswa serempak tak perduli anak pindahan yang duduk sendiri, tidak ikut menjawab. Mata bulatnya bahkan terus menatapi lapangan yang kosong.
Sementara Aline yang akhirnya naik trem, berjalan dengan pandangan yang tidak menyisakan keramahan, namun dipenuhi dengan sendu yang bisa dilihat berpasang-pasang mata yang tidak ingin ikut campur ataupun bertanya.
Wanita yang rambut lurusnya digerai itu, bahkan melewatkan 'bus stop' tempat ia seharusnya turun. Entah ia sengaja atau benar-benar lupa.
Tapi, Aline tak memencet tombol agar siapapun yang sedang menyetir, menginjak pedal trem. Ia tetap memilih untuk duduk tak melakukan apapun bahkan tangannya hanya ia pangku bersama tas sementara trem terus melaju, menjauh dari apartemen tempat ia tinggal bersama Ben dan Sinu di kota asing yang penduduknya tak perduli pada rasa yang sedang memenuhi seluruh diri Aline.
Brakk!!
"Papa pulang!" seru Sinu masuk ke dalam unit apartemen dengan dua kamar yang pintunya sama-sama tertutup.
"Dek! Ben!" panggil lelaki yang tak mendapat jawaban dari dua orang yang ia harapkan sautannya.
Namun, rumah barunya ini begitu sunyi, tidak menunjukan kehidupan apapun di setiap sudutnya. Meskipun potret dalam figura memamerkan kebahagiaan yang tak menyebar dalam ruangan yang benar-benar sepi itu.
Sinu hanya melangkah, ia menatap pintu kamar yang lalu ia masuki satu-satu, "dek? Ben?" panggilnya lagi setelah matanya puas melihat kamar-kamar kecil yang kasurnya rapi.
Sinu keluar lagi karena dua orang yang ia cari tak ada di atas kasur ataupun kamar mandi yang pintunya lebar terbuka.
"Tidak ada orang di rumah? Ke mana mereka?"
Sinu jadi diam, ia yang seperti diingatkan sesuatu langsung berlari ke dalam kamar dan membuka lemari yang isinya ia pandangi lebar-lebar satu per satu.
Baju Aline masih tersimpan rapi dalam lemari, sementara koper yang ia lirik jumlahnya masih sama seperti sebelumnya.
Sinu menarik nafasnya lega setelah melihat tumpukan baju Aline masih bersisian dengan pakaiannya sendiri, "jangan buat aku olah raga jantung, Dek."
Lelaki yang sedang mengejar pendidikannya itu akhirnya memilih duduk di sofa ruang tamu yang menyatu dengan ruang makan dan dapur. Matanya berkeliling menatapi tiap sudut rumah yang tidak bisa ia sebut berantakan. Begitu rapi malah.
Nona muda yang ia nikahi ternyata wanita yang bisa menjaga rumah bersih sekalipun banyak hal yang harus Aline kerjakan. Hal yang mustahil dilakukan jika mereka akan terus menatap di rumah Laksmi. Mertua yang sampai akhir terus merutuki keberadaanya.
"Haa," Sinu menarik nafas yang ia hembuskan kuat, matanya menatap jam yang membuatnya gelisah karena langit cerah sudah berganti warna.
"Hari sudah semakin gelap, kemana kalian pergi, Lin?" Sinu merogoh tas ransel lalu mengeluarkan ponsel.
(The number your calling is not availeb-)
Lelaki yang matanya menunjukan sorot penyesalan tanpa bantah itu, mematikan ponselnya karena bukan suara Aline yang ia dengar. Meski beberapa kali ia hubungi ponsel Aline terus-terusan tidak terhubung.
"Apa kamu sedang bermain ke rumah teman barumu, Dek?"
Sinu mengusap wajahnya dengan gusar, tubuhnya yang bersender pada sofa terlihat begitu kesepian.
"Kapan kamu akan membuka diri untukku, Lin?" Lelaki yang wajah bersalahnya jelas tercetak itu memejamkan mata. Mengingat sang istri yang tidak lagi membagikan hari yang ia lalui bersama Ben dalam obrolan ringan yang bahkan tak pernah tercipta setelah mereka sampai di Belanda.
"Bagaimana aku akan tahu siapa sahabatmu di sini, Lin? Saat kita tak pernah benar-benar bicara kecuali berusaha menyamarkan kecanggungan saat bersama."
Sinu berdiri, ia masuk ke dalam kamar yang belum pernah menjadi kamarnya dan kamar Aline. Karena Aline lebih memilih tidur di kamar Ben. Sekalipun istrinya itu akan bangun sebelum putra mereka terjaga dari tidur malamnya.
Sinu kembali keluar lalu masuk ke dalam kamar mandi dengan handuk melingkar di pundak dan pakian rumahan di lengan.
"Cepatlah pulang," harap Sinu menatap pintu apartemen yang tertutup rapat, "rumah kecil ini terasa begitu sepi tanpa kalian berdua."
Lelaki yang berdiri itu masuk ke kamar mandi, membersihkan diri tanpa menyadari kepulangan Aline dan Ben yang masuk bersama dengan ponsel Sinu yang bergetar di atas sofa.
Drrtt! Drrttt!
"Mama, telpon papa bunyi," adu Ben menunjukan ponsel Sinu yang sudah ada dalam genggaman.
Bocah kecil yang tidak membaca siapa yang menghubungi papanya itu mendekat pada Aline.
"Siapa yang telepon?"
Ben jadi memandangi layar ponsel sang papa lalu menjawab, "tante Liana."
Prang!!
Suara gelas yang jatuh dan pecah itu terdengar bersamaan dengan susu murni yang membasahi ubin.
"Dek?" Panggil Sinu yang melongokkan kepalanya dari kamar mandi, mendapati Aline membisu tak perduli pada pecahan gelas yang tajam bercampur dengan dinginnya susu.
"Papa, tante Liana telepon," ucap Ben yang berpikir kebisuan Aline tercipta karena kaget gelas pecah.
"Si- siapa?" ucap Sinu terbata-bata.
"Tante Liana, Pa," jawab Ben dengan wajah polos tak tahu ucapannya membuat suasana rumah kecil yang sudah dingin semakin membeku.
Sementara manik mata Aline dan Sinu yang bertemu menciptakan kalimat menyesakkan.

Komentar Buku (218)

  • avatar
    hertiyanisheni

    kerennnn

    18d

      0
  • avatar
    Rhena Kiw

    pliss lanjut donk kak seru bgtt ihh

    01/12

      0
  • avatar
    M Nafii

    terimakasih

    18/11

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru