[**ri ...?] Lelaki gagah yang sudah membuka matanya itu tangannya seakan ingin meraih kepala kecil yang mata bulat nan jernihnya terlihat khawatir meski tertutup poni. Lelaki gagah yang rambutnya dipotong habis tanpa sisa itu matanya terlihat berat, namun seluruh kesadarannya menatap bocah perempuan kecil yang wajah bulatnya seakan ingin dia pastikan. Tatapan Sam seakan ingin memastikan, meski ia sendiri tidak yakin dengan apa yang ingin ia pastikan. Namun, meski tidak yakin dengan apa yang ingin dipastikannya, jemari Sam ingin menyentuh dan mengusap kepala kecil yang tidak tersenyum tapi dalam benak Sam terbayang senyum lebar bocah perempuan. [PAPA, PAPA!] Bocah perempuan yang wajahnya begitu samar. Sangat samar dengan rambut panjang bergelombang. [Papa, Papa!] Seolah lelaki gagah yang badannya terbaring di atas brankar itu hanya bisa melihat tawa lebar yang bahkan bisa telinganya dengar sekalipun bocah kecil di sampingnya tidak tertawa sama sekali. [Ha ha ha, Papa, **ri sayang Papa!] "!" Kepala Sam yang diikat perban berdenyut, rasa sakit yang menjalar dan menusuk membuatnya mengernyit meski tanpa keluhan yang terdengar. Matanya yang sudah begitu berat untuk terbuka kembali tertutup meki rasanya ia tidak rela. [Papa, Papa, aku dong, anak kesayanga papa sama Mama] Rasa tidak rela yang tak bisa dilihat dua wanita dewasa yang ada di sampingnya. Agni terus memegangi lengan Sam sementara Ningrum memperhatikan putra pertamanya tanpa kata. Sekalipun, yang diam dari perempuan bertubuh tambun dengan sanggul paripurna itu hanya mulutnya saja. Sementara satu-satunya bocah perempuan yang bisa melihat sorot mata macam apa yang sedang Sam tunjukan begitu ingin mendekat dan meraih jemari Sam yang bergerak tanpa kata. Marisa, bocah perempuan yang pemalu itu, tidak lagi menundukkan wajahnya. Ia begitu ingin melihat lelaki yang kepalanya diikat perban begitupun kedua kakinya. Lelaki dewasa yang bisa membuat mamanya terlihat tak seperti orang tanpa rasa, tanpa ekspresi, tanpa wajah marah dan kecewa! Marisa, gadis kecil yang poni lurusnya menutupi mata itu, perlahan maju. Tanpa perintah ataupun menunggu persetujuan, ia menjulurkan tangan kecilnya menyentuh telunjuk Sam yang rasanya ingin meraih entah apa. Gadis kecil dengan pipi gembil itu terlihat kaget saat Sam menunjukan senyumnya. Senyum yang ia ingat saat lelaki itu memberinya permen. Mungkin karena sikap Agni yang tidak biasa hati itu, Mamanya itu bersikap begitu tidak biasa dan langsung membuang permen yang Sam berikan padanya tanpa rasa ketika Sam sudah tak terlihat lagi meski Marisa bisa melihat kerinduan dalam mata Agni. "!" Marisa terkejut saat merasakan jemari kecilnya digenggam Sam. Gadis kecil yang tidak terbiasa disentuh apalagi sentuhan lembut itu begitu kaget. Dan mata bulatnya semakin melebar ketika Sam berucap. "Anak kesayangan Papa." Meski pelan bahkan hampir tak terdengar, telinga kecil Marisa bisa menangkap ucapan Sam. Sementara dua wanita dewasa di sampingnya-- gadis kecil itu tidak perduli Agni dan Ningrum mendengar ucapan Sam ataupun tidak-- Ucapan yang membuat Marisa merasa hangat sekalipun ia tidak femiliar dengan perasaan yang sedang ia rasakan. Mata bulat nan jernih Marisa yang biasanya malu ia perlihatkan pada siapapun, membesar. Telinga kecilnya terlihat senang mendengar ucapan Sam yang kembali memejamkan mata. Bocah perempuan kecil yang biasanya sangat pemalu dan butuh izin untuk melakukan segalanya ini, terus memegangi jemari Sam. Tak perduli pada ucapan dua wanita dewasa yang ada bersamanya dalam ruang VIP luas yang lebih tepat di sebut kamar hotel dari pada ruang rawat inap. "Papa," ucap bibir kecil Marisa begitu pelan, bahkan telinga kecilnya sendiri tak mampu mendengar. Apalagi telinga Agni mau pun telinga Ningrum. Dua wanita dewasa yang sedang membahas hal yang tidak mampu Marisa cerna ataupun mengerti. Apalagi bocah perempuan kecil ini tidak tertarik sama sekali dengan ucapan keduanya. Ia hanya ingin terus memegangi jemari Sam yang matanya kembali terpejam rapat. Bocah perempuan kecil ini terlihat begitu senang karena lelaki gagah yang kepala dan kakinya dililit perban itu menyebutnya 'anak kesayangan papa' kalimat yang tidak pernah ia dapatkan dari siapapun, apalagi dari Agni, mamanya sendiri. "Papa," ulangnya lagi dengan suara tidak kalah pelan. Matanya terlihat bersinar dan berharap lelaki gagah yang sudah mengambil hatinya tanpa usaha ini, cepat bangun dan membalas genggaman tangannya lagi. "!" Sementara di salah satu unit rusun tiga lantai yang gerbangnya tak berpagar, gadis kecil yang terbangun dari tidurnya langsung menatap berkeliling. Mata bulatnya yang jernih dan berair menatap tiap sudut kamar. Ia mencari, mencari dan terus mencari. Tapi, gadis kecil yang tidak menemukan apa yang ia cari meraih potret keluarga yang sengaja ia peluk sebelum tidur. "Papa," panggil Nuri lalu turun dari kasur. Begitu pelan gerakan Nuri, ia tak ingin membangunkan mbok Imah yang masih begitu lelap. Setelah berada di ruang tamu yang penuh dengan potret, Nuri duduk di atas lantai dingin. Tangannya terus memeluk figura yang bisa membuat rasa rindunya tersalurkan meski tidak lenyap. Setidaknya berdiam diri di antara potret orang-orang yang ia rindukan bisa mengurangi rasa rindu juga kebingungannya. Bocah berumur 10 tahun ini, masih belum mengerti apa yang terjadi dalam hidupnya. Yang ia tahu ia akan terus menunggu sampai Sam datang lalu memeluknya lagi karena ia sudah tidak boleh menemui sang papa. Lelaki gagah yang muncul dalam mimpi tapi menghilang saat Nuri bangun. "Mama, aku kangen papa, Ma." Nuri makin memeluk potret keluarga yang ada dalam dekapan, sampai matanya menatap buku di atas meja yang membuat manik hitam pekatnya membesar. Tangan Nuri langsung meraih buku, membuka lembaran-lembarannya lalu berhenti saat matanya melihat barisan angka. Gadis kecil itu langsung berdiri menghampiri meja makan dan meraih ponsel jadul milik mbok Imah. Tangan Nuri memenceti nomer dengan awalan +31 seperti yang Sam ajarkan. Meski heran kenapa ada tanda + di depan nomer, gadis kecil yang ingat dengan janjinya dan Ben tetap menempelkan ponsel pada telinga. Tut! Tut! Tut! gadis kecil yang belum paham dengan perbedaan waktu itu, terus menunggu dengan sabar. Sementara telinganya mendengarkan nada tunggu yang mulai dihafal telinga kecilnya. Sementara suara adzan subuh terdengar memenuhi penjuru kota yang ia tinggali. Tut! Tut! Tut! Cklek! "Halo?" Suara lembut khas orang yang tidurnya terganggu itu membuat Nuri memegangi ponsel mbok Imah dengan dua tangan. Matanya menatap dua nomer yang tertulis di atas kertas. Ini nomer mama dan nomer papa Ben. Tulisan tangan Ben yang begitu rapi membuat Nuri merasa lega karena ada yang mengangkat panggilannya meski jarum pendek jam masih menunjuk angka empat. "Ha- halo, halo! Tante, aku Nuri. Nuri mau bicara sama Ben boleh, Tante?" Tidak ada jawaban dari orang yang mengangkat teleponnya, sampai telepon tiba-tiba terputus dengan suara 'tuuut' panjang yang membuat Nuri menatapi ponsel jadul mbok Imah dengan pandangan bingung tidak mengerti kenapa suara helaan nafas wanita yang mengangkat teleponnya menghilang. "Ben, aku mau cerita banyak sama kamu." ucap Nuri yang panggilannya tidak lagi terhubung sebanyak apapun ia memenceti ponsel jadul mbok Imah.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
kerennnn
23d
0pliss lanjut donk kak seru bgtt ihh
01/12
0terimakasih
18/11
0Lihat Semua