Gadis kecil yang tak lagi merasakan sakit baik di kepala maupun di badan kecilnya itu, menatap gerbang tanpa pagar rusun tiga lantai tempat ia tinggal. Ayunan yang ia duduki sama sekali tidak bergerak karena gadis kecil yang sudah tak demam itu, hanya fokus pada jalan raya. Berharap ada kendaraan masuk ke dalam halaman rusun. Gadis kecil yang mendongak saat ada angkot berhenti di depan rusun itu, mengangkat kepalanya tinggi. Mata bulat nan jernihnya yang bersinar dengan harap, terlihat kecewa. "Bukan," ucap bibir Nuri tanpa suara saat melihat siapa yang turun lalu masuk ke dalam gerbang tanpa pagar yang begitu sering ia pandangi, apalagi setelah ia diizinkan keluar dari rumah oleh wanita penggemar sirih yang duduk dengan beberapa ibu muda yang sedang menemani anak mereka bermain. Gadis kecil yang rambut panjang bergelombangnya tertiup angin itu, tidak menyerah. Ia terus duduk dan selalu memperhatikan siapa saja yang turun dari angkot, masuk ke dalam rusun dengan kendaraan baik roda dua maupun empat, atau hanya orang yang datang untuk bertamu dengan berjalan kaki. Pupilnya terus memperhatikan dan Nuri terus menunggu. Menunggu papanya yang sedang diobati kembali pulang. Gadis kecil yang sudah memilih masa depan bagi Sam itu, melakukan apa yang Barda katakan padanya. Ia harus menunggu karena tidak boleh mencari ataupun bertemu sang papa sebagai jaminan agar neneknya mau mengobati Sam yang terluka. "Cah ayu," panggilan mbok Imah membuat Nuri menoleh lalu menatap langit yang warna menjingganya sudah semakin gelap. "Ayo, pulang." Nuri hanya mengangguk untuk ajakan wanita tua yang berdiri dari tempat duduknya yang sudah sepi, tidak ada lagi tawa polos anak-anak yang bermain dan makan tanpa perduli wajah mereka cemong oleh bedak. Tidak ada lagi ibu-ibu penggemar gosip yang suka membicarakan manusia yang tak hadir dalam kawanan. Bahkan gerobag baso mang Kus pun sudah tak ia jumpai bekasnya ataupun aromanya. Nuri berdiri, kakinya menghampiri mbok Imah yang tangan tuanya ia sambut. Mbok Imah yang memegang erat jemari Nuri menoleh pada anak kecil yang kini jadi sangat irit kata, apalagi saat-saat mereka kembali setelah Nuri duduk berjam-jam di ayunan yang hanya ia duduki dengan pandangan fokus menatapi siapa saja yang masuk ke dalam rusun tiga lantai tempat mereka tinggal. "Apa cucunya Simbok ini sedang menunggu papa?" Nuri melirik mbok Imah, wajahnya diam tapi tidak dengan sorot matanya yang terpancar dengan kalimat yang membuat mbok Imah mengeratkan genggamannya pada tangan Nuri. "Tak apa, nanti kalau sudah sembuh papamu pasti akan datang dan jemput Nuri, Cah ayu." Wajah kecewa Nuri terlihat berbeda setiap kali wanita tua penggemar sirih ini mengatakan kalimat yang sama persis dengan Barda. Lelaki tua yang menghindarkan tubuh kecilnya dari motor yang kencang melaju. Semangat gadis kecil yang menaiki anak-anak tangga itu kembali terlihat. Bahkan senyum lebarnya mengembang dalam anggukan. "Naik tangga lagi," ucap mbok Imah membuat Nuri terkikik geli. "Kita naik tangganya satu-satu aja, Mbok," ucap Nuri membuat mbok Imah mengangkat bahunya untuk ucapan sama yang sekarang jadi sering telinganya dengar. "Kalo gak satu-satu kita bisa celaka, Cah ayu. Makanya kamu kalo lagi kepikiran sesuatu jangan mikirin hal lain. Nanti malah gak selesai." "Aku bisa ngerjain MTK di buku sama dengerin sinetron-nya Simbok." Mbok Imah tersenyum mendengar nada suara Nuri, gadis kecil yang ia bantu rawat sejak masih di dalam kandungan ini begitu pandai mengeles dan tawanya sudah terlihat lagi. "Kemana mereka membawa bapakmu berobat, Cah ayu?" Nuri jadi diam, ia mengingat wanita bertubuh tambun yang terang-terangan menolak panggilan 'nenek' yang ia katakan. Wanita yang terkadang muncul dalam mimpi dan membuat Nuri bangun dengan keringat sebiji-biji jagung dan nafas tersengal. Seakan mimpi buruknya begitu menyeramkan. "Istirahat dulu, Cah ayu." "Iya, Mbok," jawab Nuri menghentikan langkahnya lalu menunduk dan mengusapi dengkul mbok Imah yang tersenyum lalu mengusap kepalanya. "Bagaimana mungkin tabungan bapakmu hanya tinggal dua ratus ribu?" Nuri mendongak pada ucapan pelan mbok Imah yang mengusap kepalanya. "Simbok harus tanya lagi sama si Yono. Hutang mana yang membuat tabungan bapakmu ludes." Nuri menunduk, mengingat bos sang ayah. Lelaki yang tubuhnya hanya di balut kulit itu bahkan hampir memukul tubuhnya hanya karena ia tidak percaya Sam tidak akan kembali. Lelaki kurus yang tangannya sudah terangkat tinggi itu, bahkan memberinya uang 20.000 untuk membantu pengobatan Sam. Uang yang Yono lempar begitu saja tanpa rasa ataupun simpati untuk gadis kecil yang tetap mengambil uang yang Yono lempar karena sadar, Sam sedang membutuhkan uang yang banyak. "Atau simbok tanya saja sama Dahlan dulu, baru nemuin lelaki pelit yang kayak gak pernah makan nasi itu." "Pak boss?" tanya Nuri membuat mbok Imah mengangguk tanpa bantahan. "Iya, bosnya bapak-mu yang pelit itu, Cah ayu." Gadis kecil yang percaya Sam sama sekali tidak memiliki uang tabungan, kembali mengingat ucapan Yono padanya yang ingin uangnya kembali, uang yang dipinjam Sam dan jumlahnya tidak sedikit. "Lebih dari dua puluh ribu," pelan Nuri berucap. "Ayo jalan lagi," ajak mbok Imah yang kakinya sudah siap menaiki anak-anak tangga yang membuat persendiannya sakit. Nuri membantu mbok Imah berdiri, keduanya lalu melangkah naik dan bari berhenti di satu unit rumah susun yang begitu pintunya terbuka akan di perkenalkan pada siapa saja penghuni rumah dengan dua kamar tidur itu. Selain ada potret Nuri dan mbok Imah, ada dua orang lagi dalam potret yang sengaja dipamerkan. Potret Gadis yatim piatu yang tidak memiliki saudara dan pemuda gagah yang pesonanya tak luruh meski kulitnya menggelap berkat matahari. Pesona lelaki gagah yang terpancar tanpa saringan apalagi bagi anak pak RT yang masih memberikan tatapan tidak ramah untuk Nuri dan mbok Imah yang memintanya untuk menyerah pada rasa cinta yang tidak akan pernah terbalas. "Simbok mau telepon Dahlan lagi, mumpung inget. Kamu nutup jendelanya ya, Cah ayu." "Iya, Mbok," jawab Nuri menutup jendela. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat mobil sama yang penumpangnya tidak pernah turun. Sementara di belakang punggungnya, ia mendengar mbok Imah terlihat kesal pada senior sang papa, bang Dahlan. "Kenapa aku tak bisa nemuin, Yono? Dia kan yang tahu persis jumlah tabungan Sam dan uang Sam keluar untuk apa saja, kok, bisa-bisanya cuman sisi dua ratus ribu?" "Mbok, untuk apa Simbok minta bantuanku kalo ujung-ujungnya gak percaya kayak gini?" "Aku bukannya gak percaya sama kamu, Le'," balas mbok Imah yang suaranya terus Nuri dengarkan, "tapi, setidaknya Nuri berhak tahu untuk apa saja tabungan Sam digunakan." "Apa bedanya, Mbok? Kalo Simbok tak percaya pada omonganku buat apa Simbok minta bantuanku!" Mbok Imah menjauhkan ponsel jadulnya dari telinga, ia sangat tak percaya Dahlan membentaknya begitu keras. Sementara mata tuanya berusaha memastikan jika sambungan telepon benar-benar diputus sepihak oleh Dahlan. "Sejak kapan anak bau kencur kayak koen (kamu) berani membentak ku!?" Nuri yang menatapi mobil di depan gerbang yang sering ia lihat jadi menoleh pada mbok Imah yang memenceti ponselnya tidak sabar. "Tch! Baru saja hidup sudah mati lagi, dan sejak kapan kamu jadi anak super sopan seperti ini padaku, Dahlan?" Gerutu mbok Imah yang jadi benar-benar kesal.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
kerennnn
16/09
0pliss lanjut donk kak seru bgtt ihh
01/12
0terimakasih
18/11
0Lihat Semua