Sreeeekk! Wanita tua penggemar sirih yang menutup tirai penyekat itu keluar meninggalkan sepasang ayah dan anak yang terbaring di atas ranjang rumah sakit yang keras karena dibedakan oleh kelas. Ia keluar dan menutup pintu ruang rawat kelas tiga yang hanya Sam tempati sendiri sedari awal. Meskipun, bangsal-bangsal di sekitarnya terisi penuh berisi dengan pasien. Langkah mbok Imah mantap, meski sendi tuanya protes setiap ada anak-anak tangga yang harus ia lewati. Tubuh lelahnya sama sekali tidak ia perdulikan karena ada anak kecil yang saat ini benar-benar membutuhkan kehadirannya. Membutuhkan keberadaanya tidak hanya untuk menguatkan hati Nuri tapi juga menemani anak kesayangan Nita dan Sam itu. Anak yang nasibnya begitu sangat tidak beruntung, meski anak itu tahu sebesar apa cinta dan kasih Sam dan Nita kepadanya. Ditinggal ibu bahkan saat Nita masih bernafas dan kini ..., "haaa," begitu dalam helaan nafas mbok Imah terdengar saat wajah Sam yang tubuhnya terbaring dalam koma muncul dalam benaknya. "Bisa setidak ramah apa dunia kepadamu, Cah ayu?" tanya mbok Imah yang kakinya kembali menuruni tiga undakan tangga. Sementara suara riuh yang terdengar dari entah bagian mana rumah sakit membuatnya mendongak. Papan nama warna hijau jadi pegangannya untuk tahu letak apotek yang sedang ia cari. "Jauh juga," ucap mbok Imah yang akhirnya berhenti di depan apotek meski ia harus mengantri untuk membeli selembar obat penurun panas untuk gadis kecil yang suhu badannya begitu tinggi. "Ah, aku lupa Nuri belum menjawab siapa yang nganterin dia ke sini." Orang yang duduk di samping mbok Imah hanya melirik wanita tua yang menepuk jidatnya sendiri. Ia memberi senyum simpul saat mata mereka bertemu. "Nebus obat, Bu?" tanyanya sopan. "Nggak, Nak, mau beli plester yang nurunin demam." Wanita yang mengajak mbok Imah bicara itu mengangguk, lalu berdiri saat namanya di panggil. "Saya duluan, ya, Bu." "Iya, Nak," jawab mbok Imah yang hidung tuanya mencium aroma harum selain obat atau cairan antiseptik yang menyengat. "Apa beli makan siang sekalian, ya? Daripada nanti bolak-balik," mbok Imah mendongak saat tangannya disentuh wanita yang menyapanya. "Di sini lagi kehabisan stok plester penurun panas, Bu, yang jual di samping parkiran." "Oh, gitu, to?" wanita itu mengangguk pada tanya mbok Imah, "terimakasih sudah ditanyain, bisa-bisa aku seharian duduk di sini." "Sama-sama, Bu." Mbok Imah yang berdiri akhirnya berjalan keluar gedung rumah sakit yang lobinya begitu ramai dengan pengunjung, tidak jarang bocah-bocah yang ikut keluarganya berlarian kemana kaki mereka mau tanpa perduli dimana mereka bermain. "Sekalian beli bubur ajalah," ucap mbok Imah tak menyadari dari parkiran ada sepasang mata yang memperhatikan dirinya masuk ke dalam apotek yang ada di luar gedung rumah sakit. Sepasang mata itu bahkan terus mengawasi mbok Imah yang keluar dengan membawa satu kotak plester penurun panas, matanya terus mengikuti punggung mbok Imah yang masuk ke dalam warung yang aromanya mampu membangkitkan selera. Sementara dalam kamar rawat inap kelas tiga yang mbok Imah tinggalkan, tubuh kecil yang terbaring di brankar, wajahnya begitu tidak tenang meski matanya rapat terpejam. Gadis kecil yang dahinya berkeringat itu begitu tampak gelisah dalam tidur. Kakinya bahkan bergerak seakan berlari mengejar sesuatu. Sementara bibir keringnya terus meracau dalam tidur berteriak keras dengan tangan menggapai sesuatu. "PAPA!" Nuri langsung terbangun dengan nafas memburu, tangannya masih menggapai udara sementara tubuh kecilnya yang demam berkeringat dingin dalam ruangan yang pendingin udaranya menyala. Mata bulatnya yang berair langsung ia usap dan bangun tak perduli pada rasa sakit yang diteriakkan badannya yang penuh luka lebam dan goresan. Sungguh keajaiban gadis kecil yang kemarin tubuhnya terpelanting setelah ditabrak motor itu, bisa langsung bangun. Turun dari brankar lalu menyibak tirai. Wajah ketakutan yang dipancarkan seluruh diri Nuri menghilang saat matanya bisa melihat sang papa. Lelaki gagah yang belum juga bangun sejak ia kehilangan kesadaran. Tangan kecil Nuri masih memegangi tirai yang ia sibak tanpa sabar. Sedangkan matanya hanya tertuju pada sang papa. Lelaki gagah yang membuat Nuri melepas tirai. "Selamanya...," ucap bibir kecil yang langkahnya berhenti saat ia bisa menggenggam jemari Sam yang kasar. "Papa," panggil Nuri menghapus genangan airmata, "apa- ... apa Papa akan baik-baik saja kalau tidak lihat aku?" tanya Nuri menatapi wajah Sam yang tetap memejamkan mata, tidak membalas ucapannya ataupun genggaman tangan kecilnya yang berharap. "Aku- ...," ia tak yakin berucap, "kalo aku, aku akan sangat rindu sama Papa," ucap gadis kecil yang menahan diri untuk menangis meski matanya tergenang airmata. Rasanya ia sudah sangat merindukan Sam yang selamanya tidak boleh ia lihat agar Sam bisa sembuh. "Tapi- tapi aku akan baik-baik saja. Jadi Papa juga harus sembuh dan baik-baik saja walau tidak lihat aku." "Aku janji aku akan jadi anak baik, aku akan jadi anak pinter, aku akan jadi anak penurut, jadi ... jadi Papa harus sembuh, ya?" "Papa harus bangun dan sembuh walau Papa gak akan bisa liat aku lagi." Nuri menghapus mata ber-airnya. Wajahnya sendu karena ia tak ingin menangis untuk Sam yang akan sembuh lalu bisa berjalan dan berlari karena kaki Sam yang diperban akan disembuhkan. Disembuhkan wanita bertubuh gempal yang melarangnya bertemu dengan sang papa, wanita yang Sam kenalkan sebagai neneknya. Zreeegg! Nuri yang mendengar pintu di buka langsung bersembunyi karena orang yang masuk ke dalam bukan mbok Imah ataupun bang Dahlan. Gadis kecil yang bahkan menahan nafasnya ini hanya memilih untuk melihat wajah Sam, sementara empat orang berseragam yang masuk itu jadi tak terlihat saat tangan dan mulut mereka bergerak, berucap, bercengkrama. Nuri hanya terus memfokuskan diri pada Sam yang brankarnya didorong keluar oleh empat orang petugas yang tidak menyadari ada sepasang kaki kecil yang ikut berjalan mengikuti di belakang mereka.Mata bulat nan jernihnya tak sekalipun melepas pandangan dari brankar tempat Sam berbaring. Sekalipun, langkah Nuri jadi berhenti ketika brankar yang Sam tiduri berhenti di samping ambulans yang sudah menunggu. Gadis kecil yang rambut panjang bergelombangnya ikut mengintip hanya bisa melihat dari balik tembok. Menahan kakinya untuk berlari. Menahan dirinya untuk berteriak memanggil Sam yang bahkan tidak membalas genggaman tangannya. Nuri begitu diri untuk berkata 'jangan bawa papa.' karena itu satu-satunya jalan untuk Sam bisa sembuh. Gadis kecil berusia sepuluh tahun yang sudah memilih nasib untuk sang papa ini hanya bisa menatapi brankar Sam di naikan ke dalam ambulans. Matanya membulat saat Sam yang terus ia perhatikan tidak lagi bisa matanya lihat karena pintu ambulans yang ditutup. Dug! Dug! "Sudah semua." Ucapan itu diikuti mesin ambulan yang menyala lalu melaju itu terdengar. "Papa?" panggil Nuri yang tak sadar kaki tak beralasnya melangkah bersamaan dengan roda ambulan yang berputar. "Papa..." Langkah ragu Nuri berubah jadi pijakan kencang saat ambulans melaju semakin menjauh dari tempatnya berdiri. Nuri berlari, memanggil-manggil Sam yang dibawa pergi. "PAPA! PAPA...! PAPA!" Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut kecil yang tidak perduli pada apa yang ia injaki. Panasnya paving, tajamnya kerikil dan entah apa lagi yang menyapai kaki tak beralas Nuri. Gadis kecil itu hanya terus berlari memanggil-manggil Sam yang jari telunjuknya bergerak meski hanya sesaat. Seolah mendengar namanya dipanggil. "PAPAAAA...!"
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
kerennnn
23d
0pliss lanjut donk kak seru bgtt ihh
01/12
0terimakasih
18/11
0Lihat Semua