Beranda/HAI, PAPA! I AM OK/
36. SENTUHAN YANG TERASA ASING
"Ben!"
Bocah lelaki yang mendengar namanya dipanggi itu menatap berkeliling. Mata bulat nan jernihnya menatapi tiap sudut bandara ramai yang terasa begitu besar untuk tubuh kecilnya yang berdiri di samping dokter Bima.
"Nuri?' ucap bibir kecil Ben yang tak mendapati pemilik suara yang begitu ia kenali meski mereka hanya bertemu beberapa kali dalam setahun.
"kamu cari apa, Ben?" tanya dokter Bima mengusap kepala Ben yang akhirnya mendongak.
"Om, Om gak denger ada yang manggil aku?"
Dahi dokter Bima mengernyit, ia menatap sekitar. Tapi, tidak seorang pun yang wajahnya ia kenali kecuali Aline yang akhirnya datang dengan membawa roti dan kopi.
"Sinu ke mana?' tanya dokter Bima pada Aline yang diam untuk beberapa saat.
"Kamar mandi," jawab Aline singkat dan mengecup pipi Ben, "Ini rotimu, Sayang," ucap Aline tidak ingin bertemu pandang dengan Bima yang menanyakan keberadaan Sinu.
"Makasih, Ma," jawab Ben menatap wajah Aline yang tertegun saat jemari kecil Ben terjulur dan menyentuh wajahnya.
"Mama hanya kurang tidur, Ben," ucap Aline menangkup tangan kecil Ben yang menyentuh pipinya.
Namun, siapa yang ingin ia bohongi. Saat dua pria beda usia yang melihatnya hanya diam melihat ujung bibir Aline terluka bahkan cetakan tangan Laksmi pasti terlihat jika Aline tidak menggunakan make up yang menutupi conciler.
"Tidak seharusnya ibu memukulmu."
Aline yang duduk dengan menyenderkan kepalanya pada pundak sang kakak hanya menggeleng, "aku sudah menyakiti hati ibu, Mas. Tamparan ibu tak lebih sakit dari hatinya yang sudah terluka dengan apa yang kupilih dalam hidupku."
Dokter Bima menatap Aline yang memberinya senyum tipis, lalu menarik nafsnya begitu dalam, "tetap saja, tidak seharusnya ia memukul anak perempuannya yang sangat penurut bahkan selalu menuruti keegoisannya."
Aline tertawa pelan dan makin mengeratkan genggamannya pada tangan sang kakak yang memangku putranya, "Mas, aku titip ibu, ya."
Bima hanya mengangguk saat airmata Aline menggenang di pelupuk mata dan dihapus cepat, "jangan terlalu sering membuar ibu marah karena aku tak ada untuk melerai pertengkaran kalian."
Bima mengangguk, mengusap kepala Aline yang terus bersender pada bahunya, "aku bisa lakukan itu dengan cara tak pulang, Lin."
"Jangan berkata seperti itu, Mas," ucap Aline menoleh pada Bima, "aku dan Ben sudah pergi, ibu pasti akan sangat kesepian jika kamu juga jarang pulang."
"Tapi, rumah itu akan damai sekali jika aku jarang pulang, bukan?"
"Aku bisa bayangkan itu, tapi berjajnjilah padaku kau akan sering-sering menanyakan kabar ibu meski hanya lewat telepon," pinta Aline.
"Apa kamu ingin gendang telingaku cepat-cepat tak mendengar gara-gara terus-terusan mendengar teriakan ibumu?"
"Ibu kita, Mas, Nyonya Laksmi itu ibuku dan ibumu."
"Andai saja aku bisa membantah hal satu ini, akan sedamai apa hidupmu, hidupku, juga hidup Liana."
Bima tak menyadari ucapannya membuat wajah Aline menegang. Apalagi saat Bima berkata kenapa Sinu begitu lama di kamar mandi.
"Perutnya sedang bermasalah, Mas," jawab Aline tak ingin memandang mata sang kakak dan lebih memilih untuk mengusap kepala Ben yang terlelep di pangkuan Bima.
'Selama mama punya kamu, semua akan baik-baik saja, Ben. Kita semua akan baik-baik saja.' Wanita yang bisa menutupi bekas tangan sang ibu dengan make up itu, menarik nafasnya dalam. Mengecupi tangan kecil Ben yang begitu pulas dalam pangkuan dokter Bima yang berkata ia akan sangat merindukan Ben, keponakan Bima yang begitu irit kata ini.
Sementara batin Aline terasa bergemuruh, berusaha mengenyahkan perasaan juga pemikiran-pemikiran buruk saat Sinu tak ada di sampingnya, 'aku bisa, aku bisa bertahan, aku harus bisa bertahan untuk Ben. kami akan bisa melewati ini di tempat baru. Kami pasti bisa membangun semuanya dari awal lagi karena aku dan mas Sinu menginginkan hal itu. Demi Ben, untuk Ben.'
Ucapan sama terus Aline perdengarkan pada diri. Ia berusaha meyakinkan diri. Meskipun, ada satu titik keraguan dalam sudut hatinya yang akan terus bertahan sebanyak apapun Aline meyakinkan dirinya.
Titik yang membuatnya meremas jemari lentiknya sendiri, karena satu titik itu tak mungkin bisa hilang, keraguannya akan kesetiaan Sinu.
Lelaki yang keluar dari kamar mandi dengan senyum di wajah saat memegang tangan Aline yang terus menyandarkan kepala pada pundak sang kakak yang memangku putra mereka.
"Kau harus menjaga Aline dan Ben baik-baik, Sinu."
"Pasti, Bima," jawab Sinu merangkul bahu Aline yang menggendong Ben.
"Om akan sangat merindukanmu, Ben," ucap Bima mengecup pipi lembut Ben yang masih terlelep. "Nanti, om sama tante Liana pasti akan datang buat nengok kamu, Ben," ucap dokter Bima membuat wajah Aline dan Sinu menegang.
Sekalipun, saat Bima menatap mereka, Aline menunjukan senyum lalu membalas pelukan Bima.
"jaga dirimu baik-baik, Lin, telepon aku jika kamu butuh apapun."
Aline mengangguk, "terimakasih untuk segalanya, Mas, untuk segalanya."
"Jangan berkata seolah kalian tidak akan kembali. Oh, jangan lupa hubungi Nuri sesekali. Ia menunggu VC-an bersama Ben."
Aline menatapi putra kesayangannya ini tanpa kata. Meskipun, hatinya berkata ia tak mungkin melakukan itu, kepala Aline tetap mengangguk. 'Aku tidak ingin kembali, Mas, jika bisa aku tidak ingin pernah kembali demi keluargaku.'
"ayo," ajak Sinu mengusap bahu Aline dan sekali lagi menjabat erat tangan dokter Bima yang terus menatap wajah Ben yang terlelep dalam gendongan Aline.
"Kamu mau aku yang menggendong Ben?"
"Tidak, tidak usah." Jawab Aline makin mengeratkan pelukannya pada tubuh Ben yang ia gendong.
Sinu mengangguk merangkul pundak Aline yang kembali terkejut setiap kali ia menyentuhnya. Seolah sentuhan tangannya jadi begitu asing dan tidak dikenali tubuh Aline yang berjalan di sampingnya tanpa kata. Rapat menutup bibirnya yang tipis dan terluka berkat tamparan Laksmi.
'Kuharap kita hanya butuh waktu, Lin. Kuharap kamu hanya butuh waktu untuk kembali terbiasa dengan sentuhanku lagi.'
Dokter Bima yang melihat punggung Aline menarik nafasnya dalam, ia mengambil ponsel yang ia ketiki layarnya.
send: kenapa kamu tidak datang? adik dan keponakanmu sudah pergi, jangan lupa hubungi mereka jika kamu sudah bangun.
ping: aku sibuk, Mas.
send: sampai tak bisa melihat keponakanmu yang lucu?
ping!
Bunyi pesan dari ponsel yang sedang Liana pegang membuatnya menarik nafas dalam. "Seandainya ada waktu pun, aku lebih memilih mendengar teriakan ibu daripada datang, mas Bima."
PRANG!!
Liana menarik nafasnya dalam lalu menutup pintu kamarnya lagi. Urung keluar saat bunyi barang pecah diikuti rutukan memenuhi lantai bawah rumahnya yang jadi benar-benar sepi karena tiga anggota keluarganya sudah memeilih pergi.
"Apa aku juga harus keluar dari rumah ini agar merasa tenang?' tanya liana menutup rapat pintu kamarnya lalu merebahkan diri di atas ranjang dingin yang baru saja ia tinggalkan.
Tangannya mengusap perutnya yang rata, "apa akan ada sesuatu yang tumbuh di dalam sini?" begitu pela suara Liana berucap lalu menarik nafanya dalam.
"Apa mereka baik-baik saja?" tanya Liana mengingat dua anak kecil yang selamat setelah tubuh kecil mereka sengaja ditabrak pengendara motor tanpa plat yang tangannya bertato.
"Aku ingin tahu apa aparat bisa menemukan orang yang wajahnya bahkan tidak diingat lelaki tua yang membuatkannya 8 gelas kopi?"
*
"Aku mau bayaran penuhku, Pak Yono," ucap lelaki yang wajahnya ditutupi topi, membuat leleki cungkring yang duduk di kursi kebesarannya berdiri tak menyangka dengan kedatangan lelaki yang rapat menutup pintu ruangannya yang pengap dan panas.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (218)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
kerennnn
26d
0pliss lanjut donk kak seru bgtt ihh
01/12
0terimakasih
18/11
0Lihat Semua