Beranda/HAI, PAPA! I AM OK/
30. AROMA MENYESAKKAN
PLAKK!!
Tamparan keras dari tangan gemuk yang memakai cincin besar-besar itu menggema dalam pekarangan luas yang hanya bisa melihat tanpa bergeming kecuali hembusan angin.
"Aline!" Seru Sinu langsung berdiri di depan wanita yang kepalanya berdengung dan ia tarik dalam dekapan.
"Al-"
"SEMUA SALAHMU! KAU YANG SUDAH MENGHANCURKAN HIDUP PUTRIKU DENGAN MEMBUATNYA HAMIL! SEMUA SALAHMU!"
Laksmi memukuli punggung Sinu yang tidak bergeming dan lebih memilih menyentuh pundak Aline yang masih kaget pipinya ditampar sang ibu. Pandangan mata yang ia perlihatkan begitu kaget tidak percaya meski pipinya yang berdenyut-denyut nyata adanya.
"Aline, Lin."
Panggilan Sinu bahkan terasa sangat jauh meski ia berdiri begitu dekat dengannya, menyentuh pundaknya, menunjukan wajah khawatir juga kaget namun tak perduli pada pukulan-pukulan Laksmi yang membabi-buta.
Pipi Aline begitu panas, berdenyut-denyut, perih dan ia bahkan bisa merasakan ada darah yang memenuhi ruang mulutnya karena bagian dalam pipinya sobek.
"Lin? Mana yang sakit?"
"Yang ... sakit?" ucap Aline begitu pelan lalu memandang Sinu yang wajahnya begitu khawatir. Sorut yang Sinu perlihatkan begitu jujur, kecemasan dan kehawaturannya begitu tulus.
Namun, mata Aline nanar menatapi lelaki yang memegangi pundaknya ini, sementara Laksmi yang terus berteriak jadi tak terlihat sama sekali oleh mata Aline yang sembab.
Seluruh diri Aline merasa sakit, jiwanya, batinnya, tubuhnya, pipinya. Tapi, ia bahkan tidak bisa mengatakan bagian mana yang paling sakit pada lelaki yang berdiri di hadapannya ini.
Mata Sinu membesar melihat pipi Aline berdarah, mungkin kuku atau cincin besar-besar Laksmi sudah menggores pipi Aline yang hanya menatapinya dalam diam.
Istrinya ini pasti kaget sampai tak bisa mencerna apa yang terjadi, karena sekasar-kasarnya Laksmi tak sekalipun ia memukul putra ataupun putrinya. Meski barang-barang di dalam rumah harus sering di ganti dengan yang baru karena sang nyonya rumah tidak bisa menahan diri untuk membanting apapun saat perasaanya terusik. Dan perasaan Laksmi sangat mudah diusik.
"Bawa aku dan Ben pergi, Mas."
Manik Sinu membesar, ia tak menyangka Aline yang masih nanar menatapinya mengucapkan kalimat seperti itu. Namun, daripada menjawab Sinu langsung meraih tangan Aline, membawanya pergi tidak perduli pada teriakan Laksmi yang kembali memukulinya saat ia mengambil koper Aline yang tersimpan di bagasi mobil.
"KAU TAK AKAN MEMBAWA PUTRIKU KEMANAPUN! KAU TAK BOLEH MEMBAWA PUTRIKU KEMANAPUN! ALINE! KALAU KAU MAU PERGI PERGILAH SENDIRI! JANGAN BAWA PUTRIKU!"
Namun, teriakan Laksmi seolah hanya angin lalu bahkan saat tangannya menariki koper yang Sinu bawa lalu masukkan ke dalam mobilnya sendiri.
"ALINE ANAKKU KAU TAK BILEH MEMBAWANYA PERGI KEMANAPUN!"
"Aline juga istriku, Ibu."
"JANGAN MEMANGGILKU IBU! AKU TIDAK PERNAH SUDI MENJADI IBUMU!"
Sinu hanya menarik nafasnya saat Laksmi mengoyak kemeja yang ia pakai.
"ANAKKU TIDAK AKAN PERNAH BAHAGIA JIKA DIA HIDUP DENGANMU! KAU HANYA PEGAWAI RENDAH YANG MEMPERDAYA PUTRIKU!"
"Tapi, putrimu sudah memilih untuk pergi bersamaku dan putra kami, Nyonya."
Laksmi yang mendengar itu langsung berlari, memutari mobil Sinu. Tangannya yang dipenuhi cincin permata berusaha membuka pintu yang Aline kunci.
"BUKA NAK, BUKA. Jangan lakukan ini, jangan pergi meninggalkan ibumu. buka Aline! ALINE!" Laksmi menggedori kaca dengan tangan gemuknya. "Lelaki kere ini tak akan bisa membahagiakanmu seperti aku mengurusmu dan Ben, Lin. Tidakkah kau bisa melihat itu? Ayo turun, Nak, jangan lakukan ini pada ibu. Lin, Aline... ALINE!!"
Laksmi yang terus menggedori kaca berlari sia-sia saat mobil yang Sinu kemudikan keluar dari rumah besar dengan pagar tinggi menjulang. Panggilannya terdengar namun tidak didengar Aline yang terus menatapi spion, melihat ibunya menangis dengan terus memanggil namanya. Memintanya untuk tinggal.
Mata Aline yang sudah sembab kembali basah dengan airmata yang tidak mampu ia tahan lalu tergugu dalam dekapan Sinu yang menarik tubuhnya.
Anak kesayangan Laksmi ini, tak bisa mengatakan apapun kecuali isak yang keluar dengan airmata yang terus mengalir sepanjang jalan.
Aline sudah memilih, ia sudah menetapkan hati juga tekad dan tidak ada jalan kembali meski rasanya begitu sakit melihat Lakmi yang begitu penuh amarah seolah tidak berdaya bahkan memohon agar ia tinggal.
Apa ia egois karena memilih untuk tetap bersama Sinu?
Apa ia berubah jadi anak durhaka yang tidak tahu terimakasih karena membuat ibunya menangis meraung-raung memanggil-manggil namanya yang duduk dalam Isak?
Mungkin kedua jawaban dari pertanyaan itu IYA. Aline egois dan durhaka. Namun, tidakkah setiap manusia berhak memilih jalan hidup macam apa yang ingin ia jalani? Ingin ia lakoni? Ingin ia Selami?
Meskipun, mungkin dalam prakteknya hidup tidak selalu seperti apa yang kita inginkan. Karena hidup tidak akan jadi kehidupan jika sesuai dengan apa yang dipikirkan.
"Tidak, apa-apa, Lin. Menangislah sepuasmu."
Tanpa harus diminta, airmata Aline sudah membasahi pipi dan baju. Namun, ia hanya mengangguk dan makin menyembunyikan wajah dalam dekapan suami yang membawa aroma wanita lain yang jelas tercium oleh hidung Aline. Aroma kembarannya sendiri yang menempel pada tubuh Sinu.
"Semua akan baik-baik saja, kita akan baik-baik saja," ucap Sinu mencengkram kemudi, membiarkan airmatanya jatuh saat Aline hanya diam tak menjawab apapun kecuali isak.
Sinu mengenal Aline begitu baik, sangat baik! sampai ia tak perlu bertanya apa istrinya ini tahu apa yang sudah ia lakukan. Penghianatan macam apa yang sudah ia perbuat dengan kembaran Aline yang ia tinggalkan tanpa kata setelah bergumul begitu liar diatas brankar tempat Bima praktek meski ia dan Liana harus menahan suara.
Namun, Aline tetap memilihnya dan pergi dari sangkar emas yang selama ini menjadi kehidupan Aline dan apa yang sudah ia lakukan membuat Aline memutuskan pergi bersamanya.
"Aku akan menjagamu dan Ben, Lin. Aku akan menjaga kalian."
Aline masih tidak ingin menjawab, ia hanya ingin cepat-cepat bisa bernafas. Karena udara yang ia hirup begitu menyesakkan dan menyakitkan.
Ia ingin segera bertemu dengan Ben, bocah yang bisa membuatnya merasa tenang. Bocah yang bisa membuatnya berpikir semua akan baik-baik saja asal ia bisa memeluk tubuh kecil Ben.
Tubuh kecil yang akhirnya berdiri dari ayunan, karena namanya dipanggil dokter Bima.
Ben mengatupkan bibirnya kuat, menatapi gadis kecil yang juga ikut berdiri. Memandanginya dalam diam.
Baru kali ini anak cerewet yang biasanya punya banyak kata untuk diucapkan itu rapat menutup mulut. Baru kali ini gadis kecil yang rambut bergelombangnya tertiup angin ini tak bisa mengatakan apapun pada sahabatnya yang sudah harus pergi.
Pergi untuk waktu yang lama dan naik pesawat.
Dokter Bima hanya bisa memperhatikan dua anak kecil yang saling menatap tanpa bisa mengatakan apa yang mereka pikirkan. Sampai ia jongkok dan memegang tangan dua anak kecil yang jadi bertalian di antara tangan besarnya.
"Kita pasti akan ketemu lagi," ucap dokter Bima membuat Nuri dan Ben menatapnya, "nanti Ben sama Nuri bisa lakukan VC biar tahu keadaan masing-masing, terus cerita macam-macam, apa saja."
Ben melirik Nuri yang mengangguk lalu menatapnya.
"Aku akan kangen sama kamu, Ben." Mata Ben membesar saat Nuri melepas pertalian tangan mereka lalu memeluknya. Tangan kecilnya yang ragu terangkat memeluk tubuh Nuri yang sedikit lebih pendek. Sementara dokter Bima tersenyum lalu memeluk dua anak kecil yang sama-sama tidak tahu apa yang ingin mereka ucapkan.
"Tidak apa, mentarimu pasti akan datang lagi, Ben."
Hanya saja, kapan hal itu akan terjadi dokter Bima atau apa hal itu akan benar-benar terjadi? Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (218)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
kerennnn
28d
0pliss lanjut donk kak seru bgtt ihh
01/12
0terimakasih
18/11
0Lihat Semua